BSPL Ungkap Sebab 7 Mamalia Laut Terdampar dan Mati di Bali
CNN Indonesia
Sabtu, 27 Nov 2021 04:45 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) menyebut terdapat tujuh mamalia laut terdampar dan mati di Perairan Bali. (Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Ia juga menyatakan, sebenarnya bila para mamalia tersebut mencari makan di daerah laut dalam atau perairan lepas tentu mereka aman. Namun, kadang mereka juga mencari makan di sekitaran laut pesisir yang kemungkinan sudah tercemar dan berbahaya bagi mereka.
"Jadi yang keliru itu, adalah kegiatan kita. Ini yang banyak di perairan pesisir yang membuat laut itu tercemar. Semakin, dia ke pesisir semakin dia tidak aman. Kalau dia ke laut lepas ke dalam sana dia relatif tidak banyak gangguan, kecuali ditangkap," ujarnya.
"Semakin ke daerah-daerah (perairan di kawasan) kota padat. Di pantainya itu macam-macam yang dibuang ke laut itu. Itu, yang membuat resiko kerentanan semakin tinggi dibandingkan di laut dalam perairan lepas sana," ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga menyatakan, kalau melihat di statistik mamalia itu terdampar dan mati karena sakit, dan bila sakitnya dilihat bisa karena empat penyebab yang tadi dan hal itu karena faktor manusia yang tidak menjaga lingkungan dan akhirnya mengotori laut.
"Kalau, presentasi karena sakit tinggal sakitnya dilihat. Apakah, yang menyebabkannya, ini medianya air, penyakit itu di dalam air karena tadi, laut kita itu banyak kotorannya. Semacam bakteri atau sampah, ini akibat kita juga secara tidak langsung, iya faktor manusia," ujarnya.
"Sama kayak kita, umpamanya kita meninggal karena sakit gula. Tapi, bukan sakit gulanya yang dijadikan penyebab tapi kan pola makan. Sama dengan paus atau lainnya karena dia hidup di laut dan segala macam dimakan," ujar Yudiarso.
Sementara, dari catatannya pada tanggal 12 Januari 2020 ada Paus Pilot yang terdampar di Pelabuhan Benoa, Denpasar.
Lalu, pada tanggal 19 Juni 2020 ada seekor Paus Sperma Kerdil yang mati di Pantai Lembeng, Kabupaten Gianyar, dan pada tanggal 23 Juni 2020, seekor Lumba-lumba Hidung Botol di Pantai Sawangan, Kabupaten Badung, ditemukan luka dan terdampar dan masih hidup.
Kemudian, pada tanggal 14 Juli seekor Lumba-lumba Hidung Botol ditemukan mati di Pantai Sindhu, Kota Denpasar. Lalu, pada tanggal 1 September 2021 seekor Lumba-lumba ditemukan mati dan membusuk di Pantai Perancak, Kabupaten Jembrana.
Selanjutnya, pada 10 September 2020, seekor paus ditemukan terdampar di Pantai Bukti, Kabupaten Buleleng, Bali, dan masih hidup dan berhasil dievakuasi. Lalu, pada 17 November 2020 di Pantai Mertasari, Denpasar, seekor Paus Sperma ditemukan mati dan membusuk dan terakhir pada tanggal 10 Desember 2020 di Pantai Blue Point Kabupaten Badung, ditemukan Paus Pilot mati.
Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar mencatat sepanjang tahun 2020 ada tujuh mamalia laut yang terdampar hidup dan ada juga mati di Perairan Bali.
Tujuh mamalia laut itu terdiri dari ikan paus dengan berbagai jenis serta lumba-lumba.Kepala BPSPL Denpasar Permana Yudiarso mengatakan, untuk penyebab kematian mamalia ada beberapa macam penyebab kematian.
"Penyebabnya harus satu-satu yang kita lihat. Karena, banyak metode yang harus kita lakukan dan kita harus mengetahui satu-satu," kata Yudiarso, saat dihubungi Kamis (25/11).
Pertama, untuk penyebab kematian mamalia tersebut bisa karena luka yang diakibatkan diburu hewan lain. Lalu, kedua diduga karena pencernaan mamalia itu kemasukan plastik, seperti senar tali plastik, kail pancing dan benda-benda macam-macam lainnya.
Ketiga, bisa juga karena terjerat jaring nelayan akhirnya luka dan mati, dan keempat karena pencemaran air laut yang kelihatan maupun tidak kelihatan.
"Karena air di sekitar lokasi tercemar atau mungkin dia makan sesuatu yang tercemar. Contohnya, misalkan yang baru-baru ini di Tabanan itu penyu mati, karena ada minyak kayak oli dan itu tumpahan di laut terus dia mati di mulutnya keluar minyak itu," ujarnya.
"Atau mungkin, dia makan di padang lamun rumput di dalam laut yang terkena zat kimia. Misalkan flooring (yang) buangan kamar mandi yang biasanya menyikat pakai flooring dan nempel di padang lamun dimakan akhirnya keracunan," ujarnya.
Sementara, untuk kematian Lumba-lumba pihaknya juga menemukan mati karena senar pancing dan ketika dilakukan nekorupsi ada semacam infeksi di paru-parunya.
"Satu kematian itu dugaan bisa (4 penyebab) yang tadi. Bisa karena sakit dia kena ombak (terdampar) atau luka digigit hiu atau ikan lain. Kalau, plastik itu bentuknya bisa senar plastik, tali-tali dan lainnya," ujarnya.
Dari pengamatannya mamalia banyak ditemukan mati di Perairan Selatan Bali, seperti di Perairan Tabanan ke Kuta hingga di Perairan Denpasar Selatan.
Faktor yang membuat mamalia laut mati dari penilaiannya karena faktor manusia, seperti terjadinya pencemaran air laut karena ada tumpahan minyak atau adanya sampah yang membuat kotor perairan sehingga ada zat kimia yang berbahaya di laut.
"Jadi, satu sisi ketika dia (mamalia) menjauh dari daratan itu rata-rata relatif aman tapi kalau dia mendekat dan kondisi alam yang kurang bagus cuaca buruk, banyak sampahnya itu (tidak aman). Seperti dugong dan penyu (cari makannya) itu di daerah-daerah pantai persisir itu yang menyebabkan dia rentan," ujarnya.
Simak lanjutan berita di halaman berikutnya..
Langsung Maupun Tak Langsung, Ulah Manusia
Ilustrasi. Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) menyebut terdapat tujuh mamalia laut terdampar dan mati di Perairan Bali. (Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Ia juga menyatakan, sebenarnya bila para mamalia tersebut mencari makan di daerah laut dalam atau perairan lepas tentu mereka aman. Namun, kadang mereka juga mencari makan di sekitaran laut pesisir yang kemungkinan sudah tercemar dan berbahaya bagi mereka.
"Jadi yang keliru itu, adalah kegiatan kita. Ini yang banyak di perairan pesisir yang membuat laut itu tercemar. Semakin, dia ke pesisir semakin dia tidak aman. Kalau dia ke laut lepas ke dalam sana dia relatif tidak banyak gangguan, kecuali ditangkap," ujarnya.
"Semakin ke daerah-daerah (perairan di kawasan) kota padat. Di pantainya itu macam-macam yang dibuang ke laut itu. Itu, yang membuat resiko kerentanan semakin tinggi dibandingkan di laut dalam perairan lepas sana," ujarnya.
Ia juga menyatakan, kalau melihat di statistik mamalia itu terdampar dan mati karena sakit, dan bila sakitnya dilihat bisa karena empat penyebab yang tadi dan hal itu karena faktor manusia yang tidak menjaga lingkungan dan akhirnya mengotori laut.
"Kalau, presentasi karena sakit tinggal sakitnya dilihat. Apakah, yang menyebabkannya, ini medianya air, penyakit itu di dalam air karena tadi, laut kita itu banyak kotorannya. Semacam bakteri atau sampah, ini akibat kita juga secara tidak langsung, iya faktor manusia," ujarnya.
"Sama kayak kita, umpamanya kita meninggal karena sakit gula. Tapi, bukan sakit gulanya yang dijadikan penyebab tapi kan pola makan. Sama dengan paus atau lainnya karena dia hidup di laut dan segala macam dimakan," ujar Yudiarso.
Sementara, dari catatannya pada tanggal 12 Januari 2020 ada Paus Pilot yang terdampar di Pelabuhan Benoa, Denpasar.
Lalu, pada tanggal 19 Juni 2020 ada seekor Paus Sperma Kerdil yang mati di Pantai Lembeng, Kabupaten Gianyar, dan pada tanggal 23 Juni 2020, seekor Lumba-lumba Hidung Botol di Pantai Sawangan, Kabupaten Badung, ditemukan luka dan terdampar dan masih hidup.
Kemudian, pada tanggal 14 Juli seekor Lumba-lumba Hidung Botol ditemukan mati di Pantai Sindhu, Kota Denpasar. Lalu, pada tanggal 1 September 2021 seekor Lumba-lumba ditemukan mati dan membusuk di Pantai Perancak, Kabupaten Jembrana.
Selanjutnya, pada 10 September 2020, seekor paus ditemukan terdampar di Pantai Bukti, Kabupaten Buleleng, Bali, dan masih hidup dan berhasil dievakuasi. Lalu, pada 17 November 2020 di Pantai Mertasari, Denpasar, seekor Paus Sperma ditemukan mati dan membusuk dan terakhir pada tanggal 10 Desember 2020 di Pantai Blue Point Kabupaten Badung, ditemukan Paus Pilot mati.