Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) paparkan hasil analisis fenomena waterspout yang terjadi di Selat Bali beberapa waktu lalu.
Sebelumnya fenomena alam waterspout dilaporkan terjadi di wilayah Selat Bali pada pukul 12.30 WIB, Selasa (11/1).
Fenomena waterspout bukanlah fenomena yang asing, terlebih bagi masyarakat yang tinggal di wilayah dekat perairan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat Juga : |
Fenomena ini masih berkaitan dengan fenomena alam lainnya, yakni puting beliung.
"Apabila fenomena [waterspout] yang mirip puting beliung tersebut terjadi di perairan maka istilahnya dinamakan Waterspout, mekanisme pembentukan kedua fenomena tersebut adalah sama berasal dari sistem awan CB [Cumulonimbus]," kata Miming Saepudin, Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG kepada CNNindonesia.com, Selasa (11/1).
Puting beliung sendiri adalah fenomena angin kencang yang berputar dan berbentuk seperti belalai. Puting beliung keluar dari awan jenis CB dan terjadi di wilayah daratan.
Fenomena puting beliung terbentuk dari sistem awan cumulonimbus, namun tidak semua awan tersebut menimbulkan angin puting beliung.
"Puting beliung terbentuk dari sistem Awan jenis CB, tetapi perlu dipahami adalah tidak semua awan CB dapat menimbulkan fenomena puting beliung, ada kondisi tertentu lain yang menyebabkan terjadinya fenomena puting beliung," papar Miming.
"Seperti kondisi labilitas atmosfer yang melebihi ambang batas tertentu yang mengindikasikan udara sangat tidak stabil dan kondisi angin di sekitarnya," imbuhnya.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Imbauan BMKG pada Masyarakat
BMKG mengimbau kepada masyarakat yang berada di wilayah yang punya riwayat puting beliung. (AFP PHOTO / BAY ISMOYO)
Fenomena puting beliung dan waterspout umumnya terjadi pada periode masa peralihan musim, yakni sekitar Maret hingga Mei dan September hingga November.
Namun tidak menutup kemungkinan terjadi juga pada bulan-bulan lain, karena fenomena ini bergantung pada kondisi atmosfer.
Maka dari itu Miming mengimbau pada masyarakat di semua wilayah, terutama wilayah yang memiliki riwayat terjadi puting beliung untuk melakukan beberapa langkah mitigasi.
Lihat Juga : |
Pertama, Miming mengimbau masyarakat untuk menebang pohon rimbun dan tinggi yang berada dalam kondisi rapuh. Hal ini untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan jika terjadi angin puting beliung.
Kemudian ia juga mengimbau masyarakat untuk memperkuat atap rumah yang rapuh karena bagian tersebut akan sangat rentan terhempas oleh angin kencang jika puting beliung terjadi.
Selain itu, Miming juga mengimbau masyarakat untuk memperhatikan awan yang ada di wilayahnya, serta cepat berlindung di ruangan kokoh jika terjadi puting beliung.
"Apabila melihat awan yang tiba-tiba gelap, padahal sebelumnya cerah, sebaiknya untuk tidak mendekati daerah awan gelap tersebut," imbau Miming.
"Cepat berlindung dalam ruangan yang kokoh, hindari berdiri di dekat pepohonan yang berpotensi roboh, atau menjauh dari lokasi kejadian karena fenomena tersebut sangat cepat terjadi," ucap Miming menambahkan.


