Jakarta, CNN Indonesia -- Upaya CEO Tesla Elon Musk mengambil alih 100 persen saham Twitter dinilai sebagai bentuk usaha mencari perhatian sekaligus memperkuat citra diri di media sosial favoritnya itu.
Musk mulanya membeli 9,2 persen saham Twitter dan menjadikannya sebagai individu pemilik saham terbesar. Berdasarkan kesepakatan, dia akan ditempatkan sebagai anggota Dewan Direksi baru Twitter.
Dalam perkembangannya, Musk menolak ada di posisi Dewan Direksi Twitter. Tidak ada alasan jelas di balik penolakannya tersebut, meski ia tetap melontarkan kicauan-kicauan soal potensi perombakan di Twitter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga disebut memiliki ide untuk memperkuat kembali jaringan sosial Twitter, usai melakukan diskusi bersama pendirinya, Parag Agrawal dan Jack Dorsey.
Lewat kepemilikan saham tersebut, sejumlah pihak menilai Elon Musk akan mengubah kebijakan sesuai dengan keinginannya, khususnya kebijakan Twitter untuk memoderasi konten, salah satunya kebijakan sensor akun dan kicauan hoaks, atas nama kebebasan berpendapat.
Hal ini menjadi perdebatan global dan para karyawan, salah satunya karena bisa menghidupkan kembali akun provokatif macam mantan Presiden AS Donald Trump.
Selain itu, Musk dan Twitter juga memiliki catatan hubungan yang panjang dan rumit sebelumnya. Keduanya pernah terlibat perselisihan hukum dengan Komisi Bursa dan Sekuritas AS (SEC) atas kicauannya tentang keuangan Tesla.
Tak hanya itu, Elon Musk bahkan pernah melontarkan kritik pedasnya di Twitter yang mempertanyakan komitmen perusahaan atas kebebasan berpendapat di media sosial.
"Jika dewan [direksi] Twitter saat ini mengambil tindakan yang bertentangan dengan kepentingan pemegang saham, mereka akan melanggar kewajiban fidusia mereka. Kewajiban yang akan mereka tanggung akan sangat besar," kicaunya, di Twitter.
Tak berhenti di 9,2 persen saham, Elon Musk kembali membuat sensasi dengan mengajukan penawaran untuk membeli semua saham Twitter (TWTR) yang belum dia kuasai.
Menurut data pengajuan di SEC, Kamis (14/4), Musk menawarkan untuk mengakuisisi semua saham di Twitter yang bukan miliknya seharga US$54,20 atau Rp778.282(kurs Rp14,359 per dolar AS) per lembar saham.
Namun, misinya itu mendapat hambatan. Pangeran Al-Waleed bin Talal, yang merupakan salah satu pemegang saham terbesar Twitter, menolak mentah-mentah penawaran Elon Musk.
Penolakan itu berujung pada aksi saling balas cuitan di antara keduanya. Dimulai dari balasan Musk atas pernyataan Al-Waleed. Musk tak tinggal diam. Dia berkicau merepons Pangeran Saudi itu.
"Seberapa besar kepemilikan Kerajaan [Saudi] terhadap Twitter, langsung mau pun tidak langsung? Apa pandangan dari Kerajaan terhadap hak kebebasan berpendapat pada jurnalis?," sindir Musk, diduga menyindir pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki.
Terlepas dari itu, pertanyaan besar muncul ketika orang terkaya di dunia versi Forbes ini (dengan harta senilai US$219 miliar atau Rp3.148 triliun (asumsi kurs Rp14.376 per dolar)), masih ingin membeli seluruh saham sebuah platform media sosial, Twitter. Apa motivasinya?
"Semua orang masih akan menyalahkan saya dalam segala hal," kata Musk saat wawancara di TED, dikutip dari CNN.
"Jika saya mengakuisisi Twitter dan ada yang tidak beres, itu adalah kesalahan saya 100 persen. Dan saya pikir akan ada beberapa kesalahan," lanjutnya.
Bersambung ke halaman berikutnya...
[Gambas:Video CNN]
Tujuan Elon Bukan Uang, tapi Masa Depan Peradaban
Kantor pusat Twitter, California, AS. (Foto: REUTERS/Robert Galbraith)
Elon Musk telah berulang kali menekankan dalam beberapa hari terakhir bahwa tujuannya membeli seluruh saham Twitter adalah untuk meningkatkan kebebasan berbicara di platform dan bekerja untuk membuka potensi luar biasa yang dimiliki Twitter.
Perusahaan tampaknya bersiap untuk terjadinya drama akuisisi yang berlarut-larut. Dewan Direksi Twitter pada Jumat (15/4) mengumumkan menjalankan 'Rights Plan' para pemegang saham dalam durasi terbatas untuk merespons upaya proposal akuisisi Elon Musk senilai total US$43 miliar.
Strategi ini dikenal dengan istilah 'poison pill' yang biasa dilakukan untuk menangkal usaha pengambilalihan perusahaan dengan cara membatasi penjualan saham.
Dikutip dari Reuters, poison pill akan mencegah siapapun untuk mengumpulkan saham di perusahaan lebih dari 15 persen. Sebab, jika itu terjadi maka pemegang saham yang lain diizinkan menambah kepemilikan mereka dari harga saham yang terdiskon.
Meski begitu, ada keraguan sejumlah pihak terhadap kemampuan Elon Musk untuk mendapatkan uang tunai untuk membiayai kesepakatan hampir US$42 miliar itu meski berstatus orang terkaya sedunia.
"Saya tidak yakin saya benar-benar dapat memperolehnya," aku Musk.
Saham Twitter sedikit berfluktuasi pada Kamis (14/4). Namun, sebagian besar tetap flat dan ditutup sekitar US$45, jauh di bawah harga penawaran Musk sebesar US$54,20 per saham. Kurangnya antusiasme menunjukkan skeptisisme investor tentang kesepakatan yang akan dilakukan.
"Ini bukan cara menghasilkan uang. Perasaan intuitif saya yang kuat adalah bahwa memiliki platform publik yang dapat dipercaya secara maksimal dan inklusif secara luas sangat penting untuk masa depan peradaban," dalih Musk di konferensi TED.
Di sisi lain, para pengikut Elon Musk di Twitter menyebut tawaran pengambilalihan saham itu bertujuan untuk meningkatkan reputasinya sendiri dan mempertahankan suaranya di platform favoritnya itu.
Musk diketahui telah lama menggunakan Twitter untuk membangun mereknya dan berkomunikasi dengan lebih dari 80 juta pengikutnya, sekaligus menjelek-jelekkan orang-orang yang dia pandang sebagai pencelanya.
Dalam konteks itu, tawarannya akan sejalan dengan sejarah panjang orang kaya yang membeli properti media sebagai cara untuk menopang citra mereka.
"Penawaran Elon Musk untuk membeli Twitter adalah upaya putus asa bagi Musk untuk menarik perhatian. Dia hanya menawarkan untuk membeli Twitter karena Twitter adalah tempat di mana Musk paling populer," David Trainer, CEO firma riset New Constructs.
Bahkan, beberapa pengguna Twitter mengatakan harga penawaran Musk, U$54,20 per saham, berisi angka "420," yang biasa digunakan Musk untuk membuat lelucon terkait ganja. Sama seperti saat ia melontarkan kicauan palsu tentang pembelian 100 persen saham Tesla senilai US$420 per lembar saham.