Efek Badai Matahari Terjang Australia Sampai Rusak Komunikasi Radio

CNN Indonesia
Sabtu, 23 Apr 2022 03:10 WIB
Gelombang kejut dari lontaran massa korona Matahari berdampak ke Australia, Pasifik Barat dan Asia Timur. Matahari. (European Space Agency (ESA))
Jakarta, CNN Indonesia --

Badai Matahari terjadi sebanyak dua kali dan berdampak ke sejumlah wilayah di Australia, Pasifik Barat, dan Asia Timur, pada 20 April menyebabkan padamnya siaran komunikasi radio.

Situs pantauan aktivitas antariksa, SpaceWeather.com, melaporkan ada 19 ledakan badai Matahari secara keseluruhan, termasuk lima ledakan kelas menengah.

"Tak lama setelah badai Matahari, Angkatan Udara AS melaporkan ledakan radio surya Tipe II. Ledakan radio tipe II disebabkan gelombang kejut di tepi utama CME dan ini bisa menjadi yang besar," tulis SpaceWeather.com.

Berdasarkan citra dari Solar Dynamics Observatory NASA menunjukkan ada kelompok bintik Matahari besar yang dinamakan AR2993-94, siap berotasi ke jarak terdekat Bumi.

Tapi saat ini badai Matahari yang berasal suar kelas X dihasilkan dari bintik Matahari AR2992. NASA mengatakan Bumi tidak sepenuhnya terpapar badai Matahari karena bintik matahari berada di tepi ekstrem Matahari selama letusan.

Namun ada kemungkinan lontaran massa korona (CME) dari partikel bermuatan akan mengikuti dari situs yang sama dan CME akan menyebabkan kemunculan aurora meskipun para ilmuwan belum yakin apakah Bumi akan berada di jalur ledakan atau tidak.

Berdasarkan kategori, badai Matahari ada beberapa jenis klasifikasi. Kelas A merupakan ledakan yang terlemah dan kelas X yang terkuat, sedangkan kelas B-, C-, dan M berada di antaranya.

Ledakan badai Matahari diukur berdasarkan ukuran angka dan kelas, angka yang lebih kecil mewakili ledakan berdasarkan ukuran yang lebih kecil di kelas tersebut.

Sementara itu CME dapat menembakkan gumpalan partikel bermuatan. Jika CME diarahkan ke Bumi dapat menyebabkan aurora atau muncul cahaya yang disebabkan partikel bermuatan menabrak atmosfer Bumi.

Pusat Prediksi Cuaca Luar Angkasa di National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mengonfirmasi badai Matahari terjadi pada pukul 11:57 malam pada Selasa dan disertai dengan ledakan Tipe II.

Dikutip Live Science, Matahari saat ini masuk dalam fase aktivitas 11 tahunan yang diketahui sejak 2019. Diperkirakan puncak aktivitas Matahari terjadi pada 2025.

Di awal siklus, para ilmuwan memperkirakan secara keseluruhan siklus akan lebih tenang dari biasanya karena bintik matahari lebih sedikit.

NASA adalah salah satu dari sekelompok badan antariksa yang mengawasi matahari dari luar angkasa dan di Bumi untuk menghasilkan prediksi cuaca matahari.

CME biasanya tidak mengancam aktivitas di Bumi, karena hanya menciptakan aurora saat partikel bermuatan menghantam garis magnet Bumi.

Namun badai dengan ledakan kuat dapat menimbulkan masalah dengan infrastruktur, seperti saluran komunikasi satelit atau aliran listrik, dikutip Space.

(can/fea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER