Jakarta, CNN Indonesia -- Darurat demam berdarah dengue (DBD) di Singapura saat ini dinilai sebagai dampak langsung dari prubahan iklim yang memicu pemanasan global.
"Singapura saat ini menghadapi situasi demam berdarah yang serius," menurut pernyataan Badan Lingkungan Nasional Singapura, kepada dikutip dari CNN.
Lembaga ini juga menambahkan bahwa faktor "cuaca hangat, hujan dan lembab baru-baru ini" menjadi penyumbang besar terhadap lonjakan kasus tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diketahui, Singapura sudah menghabiskan puluhan juta dolar setiap tahun dalam usahanya menekan populasi nyamuk, seperti lewat pengasapan (fogging) di seluruh pulau, kampanye kesadaran publik, dan bahkan eksperimen baru menggunakan nyamuk hasil lab khusus.
Sejauh ini, negara yang luasnya beda tipis dengan Jakarta itu sudah memiliki lebih dari 11.000 kasus DBD, atau jauh melampaui angka total tahun lalu, yakni 5.258 kasus.
Para ahli pun memperingatkan bahwa kondisi serupa berpotensi menyebar ke luar Singapura, yang iklim tropisnya merupakan tempat berkembang biak alami nyamuk Aedes Aegypti pembawa virus.
Faktor perubahan iklim global dituding jadi biangnya. Bagaimana bisa ini terjadi?
"Studi pemodelan prediktif masa lalu telah menunjukkan bahwa pemanasan global akibat perubahan iklim pada akhirnya akan memperluas wilayah geografis (di mana nyamuk berkembang biak) serta durasi musim penularan demam berdarah," kata Ruklanthi de Alwis, peneliti senior di Duke-NUS Medical School dan pakar penyakit menular baru.
Badan Meteorologi Singapura mengatakan Singapura memanas dua kali lebih cepat dari negara lainnya. Suhu harian maksimal pun diprediksi bisa mencapai 37 derajat Celcius pada 2100 jika emisi karbon terus meningkat
Suhu baru-baru ini mencapai rekor tertinggi 36,7 derajat Celcius pada Mei.
"Sepuluh tahun terakhir sangat hangat [cuacanya]. Kami sekarang mengalami sekitar 12 hari yang lebih hangat dan 12 malam yang lebih hangat [dibandingkan] 50 tahun yang lalu," tutur pakar cuaca dan iklim dari Universitas Ilmu Sosial Singapura Koh Tieh Yong.
Senada, pakar iklim dari College of Integrative Studies di Singapore Management University, Winston Chow, membuka kemungkinan kasus demam berdarah di Singapura kian parah karena tren cuaca ekstrem; panas yang berkepanjangan dan hujan deras yang datang tiba-tiba.
"Kami tidak akan bisa memberantas demam berdarah [karena] cuaca ekstrem yang konstan menciptakan kondisi perkembangbiakan yang sempurna bagi nyamuk," jelasnya, yang telah dua kali terjangkit demam berdarah itu.
Chow mengatakan yang harus dipertanyakan saat ini kebijakan macam apa yang diperlukan untuk membuat perubahan untuk memperlambat perubahan iklim dan mempersiapkan konsekuensinya, seperti ragam penyakit.
"Perubahan kondisi lingkungan memperbesar tingkat perkembangbiakan nyamuk sehingga kecuali keadaan darurat iklim membaik, akan menjadi lebih sulit untuk menghilangkan risiko demam berdarah sama sekali," jelasnya.
Hubungan suhu dengan perkembangan nyamuk di halaman berikutnya...
Hubungan Suhu dan Perkembangan Nyamuk
Ilustrasi. Fogging dinilai tak efektif memberantas DBD. (Foto: ANTARA FOTO/RENO ESNIR)
Variasi cuaca dan iklim disebut dapat mempengaruhi nyamuk Aedes dan infeksi virus penyebab DBD terhadap nyamuk (DENV) melalui berbagai mekanisme.
Hal itu dikutip dari jurnal 'Dengue in a changing climate' yang ditulis oleh Kristie L. Ebi dari Departments of Global Health and Environmental and Occupational Health Sciences, University of Washington, dan Joshua Nealon, dari Sanofi Pasteur Asia Pacific Epidemiology, Singapura.
"Suhu adalah penentu penting dari kecepatan gigitan, perkembangan telur dan nyamuk yang belum matang, waktu perkembangan virus dalam nyamuk (masa inkubasi ekstrinsik), dan kelangsungan hidup pada semua tahap siklus hidup nyamuk," dikutip dari studi tersebut.
Studi laboratorium menunjukkan kisaran suhu ideal bagia nyamuk Aedes aegypti untuk bertahan hidup di semua fase kehidupan adalah antara 20 hingga 30 °C. Di beberapa lingkungan, suhu tinggi dapat meningkatkan laju kematian yang cukup dan menurunkan risiko DBD.
Masalahnya, nyamuk tersebut sudah belajar cara bertahan di semua lingkungan tempat tinggal manusia.
"Aedes sudah beradaptasi dengan lanskap manusia dengan bertahan di musim dingin di selokan dan mencari tempat teduh selama siang hari di lingkungan yang panas".
Di samping itu, suhu yang lebih tinggi membuat infeksi virus ke nyamuk lebih cepat. Studi ini menunjukkan bahwa waktu antara pemberian makan dan deteksi virus dalam air liur kelenjar Aedes aegypti adalah 9 hari pada suhu 26 °C dan 28 °C.
Angkanya menjadi cuma 5 hari pada suhu 30 °C untuk infeksi DENV-1 dan DENV-4.
Tak ketinggalan, suhu lebih tinggi juga memicu perilaku makan yang lebih sering, yang otomatis meningkatkan risiko penularan.
Kisaran suhu harian juga penting untuk penularan demam berdarah. Pemodelan termodinamis memprediksi bahwa pada suhu rata-rata rendah (<18 °C), peningkatan rentang suhu harian menyebabkan peningkatan transmisi DENV. Namun, efeknya terbali pada suhu rata-rata di atas 18 °C.
"Peningkatan kecil dalam potensi epidemi dengue terjadi selama 100 tahun terakhir."
"Sejak 1950, kisaran suhu harian meningkat dan besarnya siklus suhu tahunan meningkat 0,4 °C di daerah beriklim sedang, yang berarti kemungkinan berdampak pada risiko wabah demam berdarah jika tren ini berlanjut," tandas studi tersebut.
[Gambas:Video CNN]