BA.4 dan BA.5, Dua 'Sepupu' yang Jago Menyelinap Pertahanan Vaksin
CNN Indonesia
Minggu, 19 Jun 2022 07:47 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. BA.4 dan BA.5 disebut mampu menghindari sistem imun meski sudah divaksin. (Foto: iStockphoto/franckreporter)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kenaikan kembali Kasus Covid-19 di Indonesia dalam dua pekan terakhir diduga terkait Subvarian Covid-19 Omicron BA.4 dan BA.5. Apa istimewanya kedua varian 'bersaudara' ini?
Juru Bicara Kementerian Kesehatan Mohammad Syahril mengatakan transmisi BA.4 maupun BA.5 memiliki kemungkinan menyebar lebih cepat dibandingkan subvarian Omicron BA.1 dan BA.2.
Dari tingkat keparahan, BA.4 maupun BA.5 disebut tidak ada indikasi yang menyebabkan kesakitan parah dibandingkan varian Omicron lainnya. Berikut rincian kedua subvarian ini berdasarkan data Kemenkes.
6.903 sekuens (informasi genetik) dilaporkan melalui LSM Jerman yang fokus pada pengumpulan data genetik virus influenza Global Initiative on Sharing Avian Influenza Data (GISAID)
Ada di 58 negara
5 negara dengan laporan terbanyak: Afrika Selatan, AS, Britania Raya, Denmark, Israel
b. BA.5
8.687 sekuens dilaporkan melalui GISAID
63 negara
5 negara dengan laporan sekuens terbanyak: US, Portugis, Jerman, Britania Raya, Afrika Selatan
Dilansir Time, kedua subvarian baru ini berevolusi dari garis keturunan Omicron menjadi lebih menular dan dapat melewati kekebalan dari infeksi atau vaksinasi sebelumnya. Ini berarti orang dapat terinfeksi ulang bahkan jika mereka pernah terkena Omicron BA.4 dan BA.5.
Subvarian Covid-19 Omicron BA.4 dan BA.5 juga disebut bisa menghindari kekebalan tubuh seseorang yang sudah mendapatkan dua dosis vaksin plus booster.
Profesor Mikrobiologi dan Imunologi Universitas of Missouri Marc Johnson mengatakan ketiga subvarian memiliki mutasi serupa yang membedakannya dari versi Omicron sebelumnya.
"Jelas ada konvergensi tentang cara mengatasi sistem kekebalan tubuh," katanya.
Versi Omicron yang lebih baru ini dapat melewati antibodi yang dibuat oleh vaksinasi sebelumnya atau infeksi sebelumnya, kata Paul Bieniasz, seorang profesor di Universitas Rockefeller yang mempelajari evolusi virus.
Beberapa kelompok penelitian telah menguji antibodi dari infeksi Omicron sebelumnya terhadap BA.4 dan BA.5 dan menemukan antibodi tersebut menawarkan perlindungan beberapa kali lebih banyak terhadap Omicron BA.1 atau BA.2 dibanding BA.4 atau BA.5.
Subvarian Omicron baru juga dapat melewati perawatan antibodi monoklonal yang menggunakan protein sistem kekebalan buatan laboratorium yang dikembangkan dari galur SARS-CoV-2 sebelumnya.
"Sebagian besar antibodi yang telah dibuat sekarang sudah usang," kata Bieniasz.
Dilansir Medical News Today, Omicron BA.4 dan BA.5 memiliki mutasi yang identik pada protein lonjakan (spike protein)-nya, yakni bagian dari virus yang menempel pada reseptor di sel manusia yang membedakannya dari BA.2. Setiap subvarian memiliki mutasi yang berbeda di area virus lainnya.
"Kami telah belajar bahwa [varian penyebab COVID-19] lebih bisa berubah daripada yang kami duga sebelumnya. Secara berkala kami mendapatkan varian baru utama, itu perubahan besar," ujar Prof. William Schaffner, profesor penyakit menular di Fakultas Kedokteran Universitas Vanderbilt di Nashville.
"Tapi kami juga mendapatkan sedikit, apa yang kami sebut 'varian melayang.' Anda bisa menganggap mereka sebagai anggota keluarga yang sama, seperti sepupu," lanjutnya.
Kemiripan dengan varian lain di halaman berikutnya...
Dilansir dari GAVI, BA.4 dan BA.5 memiliki banyak mutasi yang sama dengan varian Omicron asli, tetapi memiliki lebih banyak kesamaan dengan varian BA.2. Mereka juga memiliki sejumlah mutasi tambahan, beberapa di antaranya dapat mengubah karakteristik mereka.
Kedua subvarian sering dibahas bersama karena mutasi pada gen protein lonjakan mereka identik, meskipun mereka berbeda dalam mutasi yang ditemukan di tempat lain. Protein lonjakan itu penting, karena inilah yang digunakan virus untuk menginfeksi sel manusia, dan karenanya menentukan seberapa mudah virus itu menular.
Kedua varian baru membawa mutasi L452R, yang sebelumnya juga terdeteksi pada varian Delta, dan diperkirakan membuat virus lebih menular dengan meningkatkan kemampuan virus untuk menempel pada sel manusia.
Itu juga dapat membantu BA.4 dan BA.5 untuk bisa sebagian menghindari kehancuran akibat sel-sel imun dari vaksin.
Mereka juga memiliki perubahan genetik, yang disebut mutasi F486V, di dekat tempat protein lonjakan yang mengikat sel manusia. Ini juga dapat membantu mereka sebagian menghindari respons kekebalan kita.
Berbeda dengan varian BA.2, sebagian besar urutan BA.4 dan BA.5 juga mengandung perubahan genetik yang mempengaruhi pembacaan tes PCR rutin tertentu, yang mengarah ke fenomena yang disebut putusnya gen S. Ini memberikan cara yang cepat untuk pelacakan subvarian ini di negara-negara di mana BA.2 dominan.
Selain itu, Omicron BA.4 dan BA.5 dapat menghindari antibodi dari infeksi Omicron. Penelitian menemukan bahwa antibodi yang ada beberapa kali kurang efektif melawan subvarian baru daripada melawan strain Omicron asli.
Namun, antibodi yang dihasilkan oleh 15 orang yang telah divaksinasi terhadap Covid-19 lebih efektif daripada mereka yang sembuh dari infeksi alami saja.
Kenaikan kembali Kasus Covid-19 di Indonesia dalam dua pekan terakhir diduga terkait Subvarian Covid-19 Omicron BA.4 dan BA.5. Apa istimewanya kedua varian 'bersaudara' ini?
Juru Bicara Kementerian Kesehatan Mohammad Syahril mengatakan transmisi BA.4 maupun BA.5 memiliki kemungkinan menyebar lebih cepat dibandingkan subvarian Omicron BA.1 dan BA.2.
Dari tingkat keparahan, BA.4 maupun BA.5 disebut tidak ada indikasi yang menyebabkan kesakitan parah dibandingkan varian Omicron lainnya. Berikut rincian kedua subvarian ini berdasarkan data Kemenkes.
6.903 sekuens (informasi genetik) dilaporkan melalui LSM Jerman yang fokus pada pengumpulan data genetik virus influenza Global Initiative on Sharing Avian Influenza Data (GISAID)
Ada di 58 negara
5 negara dengan laporan terbanyak: Afrika Selatan, AS, Britania Raya, Denmark, Israel
b. BA.5
8.687 sekuens dilaporkan melalui GISAID
63 negara
5 negara dengan laporan sekuens terbanyak: US, Portugis, Jerman, Britania Raya, Afrika Selatan
Dilansir Time, kedua subvarian baru ini berevolusi dari garis keturunan Omicron menjadi lebih menular dan dapat melewati kekebalan dari infeksi atau vaksinasi sebelumnya. Ini berarti orang dapat terinfeksi ulang bahkan jika mereka pernah terkena Omicron BA.4 dan BA.5.
Subvarian Covid-19 Omicron BA.4 dan BA.5 juga disebut bisa menghindari kekebalan tubuh seseorang yang sudah mendapatkan dua dosis vaksin plus booster.
Profesor Mikrobiologi dan Imunologi Universitas of Missouri Marc Johnson mengatakan ketiga subvarian memiliki mutasi serupa yang membedakannya dari versi Omicron sebelumnya.
"Jelas ada konvergensi tentang cara mengatasi sistem kekebalan tubuh," katanya.
Versi Omicron yang lebih baru ini dapat melewati antibodi yang dibuat oleh vaksinasi sebelumnya atau infeksi sebelumnya, kata Paul Bieniasz, seorang profesor di Universitas Rockefeller yang mempelajari evolusi virus.
Beberapa kelompok penelitian telah menguji antibodi dari infeksi Omicron sebelumnya terhadap BA.4 dan BA.5 dan menemukan antibodi tersebut menawarkan perlindungan beberapa kali lebih banyak terhadap Omicron BA.1 atau BA.2 dibanding BA.4 atau BA.5.
Subvarian Omicron baru juga dapat melewati perawatan antibodi monoklonal yang menggunakan protein sistem kekebalan buatan laboratorium yang dikembangkan dari galur SARS-CoV-2 sebelumnya.
"Sebagian besar antibodi yang telah dibuat sekarang sudah usang," kata Bieniasz.
Dilansir Medical News Today, Omicron BA.4 dan BA.5 memiliki mutasi yang identik pada protein lonjakan (spike protein)-nya, yakni bagian dari virus yang menempel pada reseptor di sel manusia yang membedakannya dari BA.2. Setiap subvarian memiliki mutasi yang berbeda di area virus lainnya.
"Kami telah belajar bahwa [varian penyebab COVID-19] lebih bisa berubah daripada yang kami duga sebelumnya. Secara berkala kami mendapatkan varian baru utama, itu perubahan besar," ujar Prof. William Schaffner, profesor penyakit menular di Fakultas Kedokteran Universitas Vanderbilt di Nashville.
"Tapi kami juga mendapatkan sedikit, apa yang kami sebut 'varian melayang.' Anda bisa menganggap mereka sebagai anggota keluarga yang sama, seperti sepupu," lanjutnya.
Kemiripan dengan varian lain di halaman berikutnya...
Punya Kesamaan dengan BA.2
Ilustrasi. Gejala BA.4 dan BA.5 tak beda jauh dengan varian lainnya. (Foto: iStock/Moyo Studio)
Dilansir dari GAVI, BA.4 dan BA.5 memiliki banyak mutasi yang sama dengan varian Omicron asli, tetapi memiliki lebih banyak kesamaan dengan varian BA.2. Mereka juga memiliki sejumlah mutasi tambahan, beberapa di antaranya dapat mengubah karakteristik mereka.
Kedua subvarian sering dibahas bersama karena mutasi pada gen protein lonjakan mereka identik, meskipun mereka berbeda dalam mutasi yang ditemukan di tempat lain. Protein lonjakan itu penting, karena inilah yang digunakan virus untuk menginfeksi sel manusia, dan karenanya menentukan seberapa mudah virus itu menular.
Kedua varian baru membawa mutasi L452R, yang sebelumnya juga terdeteksi pada varian Delta, dan diperkirakan membuat virus lebih menular dengan meningkatkan kemampuan virus untuk menempel pada sel manusia.
Itu juga dapat membantu BA.4 dan BA.5 untuk bisa sebagian menghindari kehancuran akibat sel-sel imun dari vaksin.
Mereka juga memiliki perubahan genetik, yang disebut mutasi F486V, di dekat tempat protein lonjakan yang mengikat sel manusia. Ini juga dapat membantu mereka sebagian menghindari respons kekebalan kita.
Berbeda dengan varian BA.2, sebagian besar urutan BA.4 dan BA.5 juga mengandung perubahan genetik yang mempengaruhi pembacaan tes PCR rutin tertentu, yang mengarah ke fenomena yang disebut putusnya gen S. Ini memberikan cara yang cepat untuk pelacakan subvarian ini di negara-negara di mana BA.2 dominan.
Selain itu, Omicron BA.4 dan BA.5 dapat menghindari antibodi dari infeksi Omicron. Penelitian menemukan bahwa antibodi yang ada beberapa kali kurang efektif melawan subvarian baru daripada melawan strain Omicron asli.
Namun, antibodi yang dihasilkan oleh 15 orang yang telah divaksinasi terhadap Covid-19 lebih efektif daripada mereka yang sembuh dari infeksi alami saja.