Ritual Agama Kuno di Peru Libatkan Dedaunan Pemicu Halusinasi

CNN Indonesia
Kamis, 30 Jun 2022 21:00 WIB
Masyarakat Chavin di Peru diduga melibatkan zat halusinogenik dalam ritual keagamaannya. Ilustrasi kuil kuno di Peru. Masyarakat Chavin diduga melibatkan zat halusinogenik dalam ritual keagamaannya yang berlokasi di kuil Chavin de Huantar. (Foto: Pablo PORCIUNCULA BRUNE / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ritual keagamaan di kuil Chavin de Huantar di Andes, Peru, diduga melibatkan zat-zat psikedelik alias obat yang memicu halusinasi. Hal itu diketahui setelah para arkeolog mengeksplorasi lorong-lorong dan galeri tersembunyi di kompleks kuil tersebut yang berlokasi di Andes.

"Ini adalah lorong berlapis batu, koridor, kamar, sel, dan relung, cukup besar untuk dilalui, beratap dengan balok batu," kata arkeolog Stanford University John Rick yang memimpin studi ini seperti dikutip Live Science.

Eksplorasi struktur-struktur tersembunyi ini adalah kali pertama dalam 3000 tahun sejak kuil itu disegel. Para arkeolog menduga, beberapa ruangan yang gelap dan terisolasi digunakan untuk deprivasi sensorik, sementara beberapa galeri yang lebih lebar sepertinya digunakan untuk memuja para idola.

Rick mengatakan ada total 36 galeri yang terhubung dengan lorong-lorong di Chavin de Huantar setelah 15 tahun ekskavasi. Namun jaringan lorong-lorong yang terakhir itu baru terdeteksi beberapa tahun lalu dan tidak tereksplorasi sampai tahun ini.

Lebih lanjut, Rick mengatakan lorong yang baru saja ditemukan tidak benar-benar seperti terowongan. Sebab, lorong-lorong itu tidak digali ke dalam tanah.

Sebaliknya, lorong-lorong itu sengaja dibangun di dalam ruangan kuil yang besar, seolah-olah itu dibangun antara tahun 1200 hingga 200 tahun Sebelum Masehi. Lorong-lorong yang baru ditemukan ditaksir panjangnya sekitar 100 meter, namun memiliki banyak kelokan dengan sudut miring ke kanan dan lantai ganda.

Para arkeolog berpikir Chavin de Huantar merupakan pusat keagamaan bagi masyarakat Chavin yang misterius. Mereka tinggal di bagian utara dan tengah dari wilayah yang kini menjadi Peru seitar 3200 dan 2200 tahun yang lalu.

Komplek kuil itu sendiri berlokasi sekitar 430 km sebelah utara dari ibukota Peru, Lima. Kuil tersebut berada di ketinggian lebih dari 3.000 meter dan merupakan situs religi bagi masyarakat Chavin terbesar yang pernah ditemukan. 

Kepercayaan masyarakat Chavin sendiri masih sulit diketahui. Namun lorong-lorong dan beberapa galeri yang baru ditemukan itu sepertinya bertujuan untuk upacara keagamaan, seperti kamar lain yang ditemukan di Chavin de Huantar. 

Mengutip Science Alert, lorong-lorong tersebut menuju galeri utama yang berisikan dua mangkuk besar untuk ritual. Satu mangkuk berdekorasi simbol kepala dan sayap burung kondor, burung karnivora Andean.  

Karena itulah, galeri utama itu kini disebut Galeri Kondor. Antropolog dan arkeolog Yale University, Richard Burger, yang tidak terlibat di eksplorasi ini, berpendapat dua mangkuk itu digunakan sebagai mortar untuk menggiling obat-obatan psikedelik demi keperluan perayaan keagamaan.

"Ada tradisi di masyarakat Chavin untuk menghisap daun-daun halusinogenik," kata Richard, yang menduga dedaunan itu dibuat dari pohon vilca, yang memang memuat kandungan halusinogenik yang sangat kuat seperti dimethyltryptamine atau DMT.

[Gambas:Video CNN]

(can/lth)
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER