2022 Masih Saja Percaya Teori Konspirasi, Kok Bisa?
CNN Indonesia
Rabu, 06 Jul 2022 07:09 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Teori konspirasi subur karena memanfaatkan masalah psikologis warga. (Foto: Istockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Teori konspirasikian ramai dibahas oleh sejumlah kelompok masyarakat, dengan mengaitkan fenomena yang bersinggungan dengan manusia baik itu virus Covid-19maupun teori Bumi datar. Lantas mengapa orang bisa percaya atas pembahasan ini?
Karen Douglas, seorang profesor psikologi sosial di University of Kent di Inggris, mengatakan teori konspirasi merupakan keyakinan yang dituturkan oleh buah pikir individu dan disebarkan kepada publik.
"Teori konspirasi adalah keyakinan bahwa dua atau lebih aktor telah berkoordinasi secara rahasia untuk mencapai suatu hasil, dan bahwa [mengekspos] konspirasi ini adalah kepentingan publik," kata Karen seperti dilansir Live Science.
Menurut dia, teori tak masuk akal ini dipercaya karena bisa memenuhi rasa ingin tahu dengan cara sederhana.
"Penelitian mengungkap orang-orang tertarik kepada teori konspirasi ketika salah satu atau lebih kebutuhan psikologis mereka tidak terpenuhi. Salah satu dari kebutuhan itu adalah epistemik, kebutuhan untuk tahu kebenaran, kejelasan dan kepastian," jelasnya.
Menurut Karen, kebutuhan lain yang tak kalah penting adalah eksistensial. Kebutuhan itu berkaitan dengan rasa aman dan memiliki kontrol atas apa yang terjadi serta secara sosila berhubungan dengan kepercayaan diri dan rasa positif terhadap kelompok.
Penafsiran ini didukung oleh Hugo Drochon, seorang profesor teori politik di University of Nottingham di Inggris.
"Pada intinya, teori konspirasi adalah keyakinan bahwa ada sekelompok kecil orang yang mengendalikan segala sesuatu di dunia," ujarnya.
Daniel Jolley, profesor psikologi sosial Universitas Nottingham, mengatakan teori konspirasi bisa dibilang menawarkan solusi sederhana untuk masalah kompleks. Ia mengatakan gagasan seperti itu acap kali berkembang ketika orang membutuhkan jawaban di saat stres atau kondisi emosional tertekan.
"Teori konspirasi cenderung muncul ketika hal-hal penting terjadi yang ingin dipahami orang," katanya.
"Khususnya, mereka cenderung muncul di saat krisis ketika orang merasa khawatir dan terancam. Mereka tumbuh dan berkembang di bawah kondisi ketidakpastian," sambungnya.
Jolley mencontohkan teori konspirasi yang muncul ketika Covid-19. "Itu adalah fenomena signifkan yang coba dimengerti oleh banyak orang. Dasarnya sudah bagus karena Covid-19 membuat perasaan orang menjadi tidak pasti dan khawatir. Aspek-aspek itulah yang membuat teori konspirasi tumbuh subur," katanya.
Seperti diketahui, beberapa teori konspirasi sempat muncul ketika pandemi Covid-19. Salah satunya adalah teori bahwa Covid-19 disebabkan oleh jaringan 5G.
Kepercayaan itu sempat membuat menara 5G di Birmingham, Inggris dirusak massa. Berita di New York Times menyebut, ada 100 lebih insiden dalam sebulan pada April 2020 akibat dari kepercayaan itu.
Cara Melawan Teori Konspirasi di halaman berikutnya...
Carlos Diaz Ruiz, Asisten Professor dari HankenSchool of Economics, meneliti ratusan video konspirasi Bumi datar di Youtube. Ia mencoba menganalisis modus penyebaran teori itu berkembang dan mengapa banyak orang memercayainya.
Menurut dia, ada tiga tema yang menjadi perdebatan mereka yang percaya Bumi datar. Mengutip Space, debat pertama adalah soal eksistensi Tuhan.
Para pemercaya teori Bumi datar yakin Tuhan tinggal di surga yang berada di atas manusia. Hal itu hanya memungkinkan jika Bumi datar dan bukan bulat.
"Tema kedua adalah teori konspirasi yang menyebut beberapa orang melawan para penguasa korup dan selebritas. Pengetahuan adalah kekuatan dan teori ini meyakini, mereka yang memegang kekuasaan berkonspirasi untuk menjaga pengetahuan itu hanya untuk mereka sendiri dan mendistorsi realitas," kata Diaz.
"Benar bahwa secara kasat mata Bumi terlihat datar dan para pemercaya teori ini meyakini diri mereka sebagai bagian dari komunitas pahlawan yang melawan tirani elite," ujarnya menambahkan.
Sementara, tema ketiga adalah soal kebebasan berpikir, yang berasal dari debat soal ada atau tidaknya Tuhan dalam teks konstitusi Amerika Serikat (AS). Para kaum sekuler berpendapat, orang rasional seharusnya tidak percaya kepada otoritas atau dogma melainkan keyakinan dan pengalaman mereka sendiri.
Untuk melawan kelompok pendukung teori konspirasi, Diaz tidak menyarankan argumentasi dari ilmuwan pemerintah atau otoritas. "Sebaliknya, mungkin akan lebih mengena untuk menyertakan pengalaman sendiri yang bisa dialami juga oleh semua orang," katanya.
"Jika Anda bisa mengidentifikasi rasionalitas di balik keyakinan spesifik mereka, maka argumen pembalik bisa menggunakan logika yang sama. Anggota kelompok seringnya menjadi kunci dari hal itu, seorang juru bicara dengan kredensial luar biasa sebagai penganut Kristiani yang taat bisa mengatakan bahwa Anda tidak butuh seorang pemercaya Bumi Datar untuk tetap berada di keyakinan Anda," tandasnya.
Teori konspirasikian ramai dibahas oleh sejumlah kelompok masyarakat, dengan mengaitkan fenomena yang bersinggungan dengan manusia baik itu virus Covid-19maupun teori Bumi datar. Lantas mengapa orang bisa percaya atas pembahasan ini?
Karen Douglas, seorang profesor psikologi sosial di University of Kent di Inggris, mengatakan teori konspirasi merupakan keyakinan yang dituturkan oleh buah pikir individu dan disebarkan kepada publik.
"Teori konspirasi adalah keyakinan bahwa dua atau lebih aktor telah berkoordinasi secara rahasia untuk mencapai suatu hasil, dan bahwa [mengekspos] konspirasi ini adalah kepentingan publik," kata Karen seperti dilansir Live Science.
Menurut dia, teori tak masuk akal ini dipercaya karena bisa memenuhi rasa ingin tahu dengan cara sederhana.
"Penelitian mengungkap orang-orang tertarik kepada teori konspirasi ketika salah satu atau lebih kebutuhan psikologis mereka tidak terpenuhi. Salah satu dari kebutuhan itu adalah epistemik, kebutuhan untuk tahu kebenaran, kejelasan dan kepastian," jelasnya.
Menurut Karen, kebutuhan lain yang tak kalah penting adalah eksistensial. Kebutuhan itu berkaitan dengan rasa aman dan memiliki kontrol atas apa yang terjadi serta secara sosila berhubungan dengan kepercayaan diri dan rasa positif terhadap kelompok.
Penafsiran ini didukung oleh Hugo Drochon, seorang profesor teori politik di University of Nottingham di Inggris.
"Pada intinya, teori konspirasi adalah keyakinan bahwa ada sekelompok kecil orang yang mengendalikan segala sesuatu di dunia," ujarnya.
Daniel Jolley, profesor psikologi sosial Universitas Nottingham, mengatakan teori konspirasi bisa dibilang menawarkan solusi sederhana untuk masalah kompleks. Ia mengatakan gagasan seperti itu acap kali berkembang ketika orang membutuhkan jawaban di saat stres atau kondisi emosional tertekan.
"Teori konspirasi cenderung muncul ketika hal-hal penting terjadi yang ingin dipahami orang," katanya.
"Khususnya, mereka cenderung muncul di saat krisis ketika orang merasa khawatir dan terancam. Mereka tumbuh dan berkembang di bawah kondisi ketidakpastian," sambungnya.
Jolley mencontohkan teori konspirasi yang muncul ketika Covid-19. "Itu adalah fenomena signifkan yang coba dimengerti oleh banyak orang. Dasarnya sudah bagus karena Covid-19 membuat perasaan orang menjadi tidak pasti dan khawatir. Aspek-aspek itulah yang membuat teori konspirasi tumbuh subur," katanya.
Seperti diketahui, beberapa teori konspirasi sempat muncul ketika pandemi Covid-19. Salah satunya adalah teori bahwa Covid-19 disebabkan oleh jaringan 5G.
Kepercayaan itu sempat membuat menara 5G di Birmingham, Inggris dirusak massa. Berita di New York Times menyebut, ada 100 lebih insiden dalam sebulan pada April 2020 akibat dari kepercayaan itu.
Cara Melawan Teori Konspirasi di halaman berikutnya...
Cara Melawan Pemercaya Teori Konspirasi
Salah satu teori konspirasi populer adalah bumi datar. (Foto: Istockphoto/lukbar)
Carlos Diaz Ruiz, Asisten Professor dari HankenSchool of Economics, meneliti ratusan video konspirasi Bumi datar di Youtube. Ia mencoba menganalisis modus penyebaran teori itu berkembang dan mengapa banyak orang memercayainya.
Menurut dia, ada tiga tema yang menjadi perdebatan mereka yang percaya Bumi datar. Mengutip Space, debat pertama adalah soal eksistensi Tuhan.
Para pemercaya teori Bumi datar yakin Tuhan tinggal di surga yang berada di atas manusia. Hal itu hanya memungkinkan jika Bumi datar dan bukan bulat.
"Tema kedua adalah teori konspirasi yang menyebut beberapa orang melawan para penguasa korup dan selebritas. Pengetahuan adalah kekuatan dan teori ini meyakini, mereka yang memegang kekuasaan berkonspirasi untuk menjaga pengetahuan itu hanya untuk mereka sendiri dan mendistorsi realitas," kata Diaz.
"Benar bahwa secara kasat mata Bumi terlihat datar dan para pemercaya teori ini meyakini diri mereka sebagai bagian dari komunitas pahlawan yang melawan tirani elite," ujarnya menambahkan.
Sementara, tema ketiga adalah soal kebebasan berpikir, yang berasal dari debat soal ada atau tidaknya Tuhan dalam teks konstitusi Amerika Serikat (AS). Para kaum sekuler berpendapat, orang rasional seharusnya tidak percaya kepada otoritas atau dogma melainkan keyakinan dan pengalaman mereka sendiri.
Untuk melawan kelompok pendukung teori konspirasi, Diaz tidak menyarankan argumentasi dari ilmuwan pemerintah atau otoritas. "Sebaliknya, mungkin akan lebih mengena untuk menyertakan pengalaman sendiri yang bisa dialami juga oleh semua orang," katanya.
"Jika Anda bisa mengidentifikasi rasionalitas di balik keyakinan spesifik mereka, maka argumen pembalik bisa menggunakan logika yang sama. Anggota kelompok seringnya menjadi kunci dari hal itu, seorang juru bicara dengan kredensial luar biasa sebagai penganut Kristiani yang taat bisa mengatakan bahwa Anda tidak butuh seorang pemercaya Bumi Datar untuk tetap berada di keyakinan Anda," tandasnya.