Pakar Cari Hubungan Hepatitis Misterius dengan Virus Corona

CNN Indonesia
Rabu, 18 Mei 2022 12:11 WIB
Sejumlah pakar menyebut beberapa kasus hepatitis misterius pada anak-anak berpotensi dipicu oleh respons kekebalan terhadap Covid-19. Salah satu sosialisasi masalah hepatitis misterius pada anak. Para pakar menyebut kasus ini bisa terkait Covid-19. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Serangkaian kasus hepatitis misterius pada anak-anak di berbagai negara kemungkinan dipicu oleh respons kekebalan terhadap Covid-19.

Diketahui, setidaknya 429 kasus penyakit hati ini ditemukan pada anak-anak di lebih dari 22 negara. Sejak pertama kali kasus ini terdeteksi di Inggris bulan lalu, 26 anak di antaranya membutuhkan transplantasi hati dan enam lainnya meninggal.

Para ilmuwan masih berusaha mencari tahu penyebab penyakit ini. Salah satu teori yang populer adalah bahwa kasus ini disebabkan oleh Adenovirus, jenis virus umum yang biasanya menyebabkan pilek.


Dalam korespondensi yang diterbitkan di The Lancet Gastroenterology and Hepatology, profesor imunologi pediatrik di Imperial College London Petter Brodin dan Direktur Pusat Penelitian Penyakit Menular dan Imunologi di Cedars Sinai Medical Center di Los Angeles  Moshe Arditi mengajukan teori baru.

Bahwa reservoir (semacam habitat) virus kemungkinan telah terbentuk pada anak-anak yang sebelumnya menderita Covid-19 dan mereka juga potensial memiliki Virus Corona di saluran pencernaannya.

Dikutip dari South China Morning Post, kedua pakar ini menuding superantigen, yang merupakan struktur molekul virus Corona dan mempengaruhi respons imun, sebagai akar masalahnya.

Respons imun ini bisa menjadi penyebab sindrom inflamasi multisistem pada anak-anak (MIS-C), yakni suatu kondisi yang dapat mempengaruhi banyak organ vital. Penyebabnya tidak diketahui, namun banyak anak dengan sindrom tersebut sebelumnya telah terinfeksi Covid-19.

Brodin dan Arditi menyarankan penyelidikan soal kemungkinan keberadaan Corona pada tinja anak-anak dengan hepatitis akut atau indikator lain. Tujuannya, demi melihat apakah mekanisme ini bekerja pada jenis inang adenovirus tertentu.

Jika itu terbukti, lanjut keduanya, dokter harus mempertimbangkan untuk merawat anak-anak dengan terapi imunomodulator, yakni pengobatan untuk memodifikasi respons sistem kekebalan.

Brodin juga menyerukan di Twitter untuk serangkaian studi kolaboratif untuk menguji teori tersebut. Namun, ia tetap menambahkan bahwa "belum ada yang pasti".

Masalah data pendukung di halaman berikutnya...

Belum Didukung Data

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER