5 Tips Terhindar dari Aplikasi Berbahaya di Android
CNN Indonesia
Jumat, 22 Jul 2022 06:07 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Foto: iStockphoto/bizoo_n
Jakarta, CNN Indonesia --
Mengunduh aplikasilewat saluran resmi seperti GooglePlay Store ternyata tak menjamin keamanannya. Beberapa aplikasi berpotensi mengancam privasi pengguna lewat sejumlah izin terhadap perangkat di ponsel mereka.
Biasanya saat memasang (install) sebuah aplikasi, aplikasi tersebut akan meminta sejumlah izin akses ke beberapa perangkat seperti kamera, mikrofon, dan GPS. Pengguna pun terkadang sukarela memberikan akses tersebut lantaran merasa aplikasi yang dipasangnya sudah aman.
Google sendiri selaku pengembang Android telah bekerja keras menyaring aplikasi yang berbahaya dan mengancam privasi penggunanya. Namun demikian, setiap pengguna tetap diminta waspada.
Melansir Make Use Of, berikut lima tips yang bisa diterapkan pengguna agar tidak sembarangan memasang aplikasi.
1. Hindari Memasang Aplikasi dari Sumber Tak Resmi
Google Play Store sejatinya bukan satu-satunya saluran untuk mendapatkan aplikasi Android. Ada saluran lain di internet yang bisa menjadi alternatif bagi pengguna.
Sayangnya, memasang aplikasi dari pihak ketiga berisiko membahayakan privasi. Apalagi jika aplikasi tersebut didapat dari sumber yang tidak diketahui.
Google Play Store sendiri memiliki mekanisme Google Play Protect. Fitur itu berguna untuk memindai aplikasi di Play Store dan yang berasal dari sumber yang tidak diketahui.
Mengutip situs resmi Google, pengguna bisa memakainya dengan cara mengklik Menu lalu Play Protect pada aplikasi Google Play Store masing-masing. Kemudian, cek status aplikasi yang baru saja dipindai (Recently Scanned Apps) kemudian nyalakan fitur deteksi aplikasi berbahaya (Improve Harmful Apps Detection).
2. Hindari Aplikasi dari Pihak Ketiga
Selain Google Play Store, toko aplikasi lain yang juga menjajakan aplikasi Android adalah F-Droid. Toko itu berbasis komunitas dan berasal dari beragam kontributor.
F-droid tidak dapat menggunakan hak milik dari Play Services, analitik, atau perpustakaan iklan. Mereka memiliki kebijakan spesifik sendiri dan pengujian aplikasi yang ketat.
APK Mirror pun mirip dengan F-droid yakni dijalankan dengan basis komunitas. Bedanya, APK Mirror bukanlah toko aplikasi.
APK Mirror mengkurasi hanya aplikasi yang berkualitas tinggi. Hanya saja, aplikasi tersebut tidak ada di Google Play Store karena batasan geografis.
Selain itu, APK Mirror juga menyediakan versi lebih lawas dari aplikasi yang populer beserta perubahan lognya. Ia juga menyediakan pembaruan instan untuk aplikasi yang sudah lelet.
APK Mirror dilengkapi kebijakan yang ketat dan model keamanan untuk aplikasi yang ada.
Pasang AppBrain dan Update Sistem
3. Cek Menggunakan AppBrain
Menggunakan AppBrain juga bisa menjadi alternatif. Aplikasi tersebut membantu mengecek sejumlah izin (permission) yang biasa diakses sebuah aplikasi.
AppBrain nantinya akan mendeteksi akses yang dianggap mengganggu semisal push notifications, spam di homescreen, dan aplikasi yang bersangkutan dengan privasi.
Untuk mengaktifkan AppBrain, pengguna bisa mengakses Edit Settings lalu Enable Live Mode pada aplikasi tersebut.
Pengguna juga ada baiknya melihat kembali apakah sebuah aplikasi benar-benar mengakses sesuai klaim yang dibuatnya. Terkadang, mendeteksi penyalahgunaan akses tidaklah mudah.
Perilaku dari sebuah aplikasi yang mencurigakan bisa jadi adalah dampak dari aplikasi lainnya.
Pengguna ada baiknya juga melihat penilaian dari pengguna lain di Google Play Store terhadap sebuah aplikasi. Jika nilainya bagus, namun banyak pengguna yang mengeluh soal akses, ada baiknya pengguna itu melakukan riset. lebih jauh.
Cara termudah adalah menyaring penilaian berdasarkan kriteria yang paling membantu serta paling baru.
5. Selalu Pasang Update Sistem
Setiap bulan, Google biasanya menambahkan pembaruan keamanan untuk Android. Idealnya, pengguna harus memasang pembaruan itu begitu ia keluar.
Namun tidak semua manufaktur ponsel merilis pembaruannya secara berkala. Jika hendak membeli ponsel baru, ada baiknya pengguna mengecek apakah ponsel tersebut menerima paling tidak dua tahun pembaruan penting plus pembaruan keamanan yang periodik.
Mengunduh aplikasilewat saluran resmi seperti GooglePlay Store ternyata tak menjamin keamanannya. Beberapa aplikasi berpotensi mengancam privasi pengguna lewat sejumlah izin terhadap perangkat di ponsel mereka.
Biasanya saat memasang (install) sebuah aplikasi, aplikasi tersebut akan meminta sejumlah izin akses ke beberapa perangkat seperti kamera, mikrofon, dan GPS. Pengguna pun terkadang sukarela memberikan akses tersebut lantaran merasa aplikasi yang dipasangnya sudah aman.
Google sendiri selaku pengembang Android telah bekerja keras menyaring aplikasi yang berbahaya dan mengancam privasi penggunanya. Namun demikian, setiap pengguna tetap diminta waspada.
Melansir Make Use Of, berikut lima tips yang bisa diterapkan pengguna agar tidak sembarangan memasang aplikasi.
1. Hindari Memasang Aplikasi dari Sumber Tak Resmi
Google Play Store sejatinya bukan satu-satunya saluran untuk mendapatkan aplikasi Android. Ada saluran lain di internet yang bisa menjadi alternatif bagi pengguna.
Sayangnya, memasang aplikasi dari pihak ketiga berisiko membahayakan privasi. Apalagi jika aplikasi tersebut didapat dari sumber yang tidak diketahui.
Google Play Store sendiri memiliki mekanisme Google Play Protect. Fitur itu berguna untuk memindai aplikasi di Play Store dan yang berasal dari sumber yang tidak diketahui.
Mengutip situs resmi Google, pengguna bisa memakainya dengan cara mengklik Menu lalu Play Protect pada aplikasi Google Play Store masing-masing. Kemudian, cek status aplikasi yang baru saja dipindai (Recently Scanned Apps) kemudian nyalakan fitur deteksi aplikasi berbahaya (Improve Harmful Apps Detection).
2. Hindari Aplikasi dari Pihak Ketiga
Selain Google Play Store, toko aplikasi lain yang juga menjajakan aplikasi Android adalah F-Droid. Toko itu berbasis komunitas dan berasal dari beragam kontributor.
F-droid tidak dapat menggunakan hak milik dari Play Services, analitik, atau perpustakaan iklan. Mereka memiliki kebijakan spesifik sendiri dan pengujian aplikasi yang ketat.
APK Mirror pun mirip dengan F-droid yakni dijalankan dengan basis komunitas. Bedanya, APK Mirror bukanlah toko aplikasi.
APK Mirror mengkurasi hanya aplikasi yang berkualitas tinggi. Hanya saja, aplikasi tersebut tidak ada di Google Play Store karena batasan geografis.
Selain itu, APK Mirror juga menyediakan versi lebih lawas dari aplikasi yang populer beserta perubahan lognya. Ia juga menyediakan pembaruan instan untuk aplikasi yang sudah lelet.
APK Mirror dilengkapi kebijakan yang ketat dan model keamanan untuk aplikasi yang ada.
Pasang AppBrain dan Update Sistem
Pasang AppBrain dan Update Sistem
ilustrasi aplikasi. Menginstall aplikasi resmi penting agar data-data pengguna tidak terancam Foto: iStock/solidcolours
3. Cek Menggunakan AppBrain
Menggunakan AppBrain juga bisa menjadi alternatif. Aplikasi tersebut membantu mengecek sejumlah izin (permission) yang biasa diakses sebuah aplikasi.
AppBrain nantinya akan mendeteksi akses yang dianggap mengganggu semisal push notifications, spam di homescreen, dan aplikasi yang bersangkutan dengan privasi.
Untuk mengaktifkan AppBrain, pengguna bisa mengakses Edit Settings lalu Enable Live Mode pada aplikasi tersebut.
Pengguna juga ada baiknya melihat kembali apakah sebuah aplikasi benar-benar mengakses sesuai klaim yang dibuatnya. Terkadang, mendeteksi penyalahgunaan akses tidaklah mudah.
Perilaku dari sebuah aplikasi yang mencurigakan bisa jadi adalah dampak dari aplikasi lainnya.
Pengguna ada baiknya juga melihat penilaian dari pengguna lain di Google Play Store terhadap sebuah aplikasi. Jika nilainya bagus, namun banyak pengguna yang mengeluh soal akses, ada baiknya pengguna itu melakukan riset. lebih jauh.
Cara termudah adalah menyaring penilaian berdasarkan kriteria yang paling membantu serta paling baru.
5. Selalu Pasang Update Sistem
Setiap bulan, Google biasanya menambahkan pembaruan keamanan untuk Android. Idealnya, pengguna harus memasang pembaruan itu begitu ia keluar.
Namun tidak semua manufaktur ponsel merilis pembaruannya secara berkala. Jika hendak membeli ponsel baru, ada baiknya pengguna mengecek apakah ponsel tersebut menerima paling tidak dua tahun pembaruan penting plus pembaruan keamanan yang periodik.