Ilmuwan Temukan Siput Laut Mirip Pisang

CNN Indonesia
Jumat, 05 Agu 2022 04:40 WIB
Ilmuwan dari NHM menemukan siput laut mirip pisang di Samudra Pasifik. Ilmuwan menemukan siput laut yang mirip pisang di Samudra Pasifik. Foto: iStockphoto/kokouu
Jakarta, CNN Indonesia --

Ilmuwan dari Natural History Museum (NHM) London telah menemukan kumpulan megafauna laut yang misterius jauh di dalam Samudra Pasifik, di antaranya siput laut yang mirip seperti pisang.

Dengan bantuan kendaraan yang dioperasikan dari jarak jauh (ROV) selama musim panas 2018, para ilmuwan menemukan 55 spesimen yang bersembunyi di tepi barat jurang yang terletak antara Hawaii dan Meksiko.

Penemuan itu ditemukan kira-kira 5.000 meter di bawah permukaan laut. Dari kumpulan keanehan di samudera itu, ada tujuh yang dikonfirmasi sebagai spesies yang baru ditemukan.

Para peneliti telah mengeksplorasi sisi timur jurang itu secara teratur. Akan tetapi, para peneliti belum melakukannya di wilayah barat, yang dikenal sebagai Zona Clarion-Clipperton Pasifik dan mencakup beberapa gunung bawah laut di dekatnya (pegunungan bawah laut) karena sulit dijangkau manusia.

"Sekitar 150 tahun yang lalu, ekspedisi Challenger [HMS] menjelajahi daerah ini, tetapi sejauh yang saya tahu, belum banyak penelitian yang dilakukan sejak saat itu," kata Guadalupe Bribiesca-Contreras, ahli biologi NHM departemen ilmu kehidupan dan penulis utama studi tersebut,

"Bagian laut ini hampir tidak tersentuh," sambungnya.

Selama ekspedisi 2018, para peneliti terus menemukan spesies yang menarik.  Tim menemukan antara lain teripang elastis berbentuk pisang yang dikenal sebagai tupai bergetah (Psychropotes longicauda) berukuran hampir 60 cm.

Tim juga menemukan spons laut dalam genus Hyalonema , yang tubuhnya menyerupai bunga tulip.

Dari potensi spesies baru yang ditemukan para ilmuwan,  boleh jadi menarik perhatian Bribiesca-Contreras adalah karang dalam genus Chrysogorgia .

Pasalnya, polip oranye pucat karang itu mirip dengan C. abludo, spesies yang biasanya ditemukan di Samudra Atlantik.

Namun para peneliti kemudian mengidentifikasinya sebagai spesies baru yang belum diberi nama. Ini menandai pertama kalinya karang dari genus ini ditemukan di Pasifik.

"Awalnya kami mengira itu adalah spesies yang sama, tetapi setelah penelitian molekuler lebih lanjut, kami mengetahui bahwa itu berbeda secara morfologis," kata Bribiesca-Contrerasshe.

Ia mengatakan, banyak spesies yang ditemukan itu tak berubah dalam waktu yang lama. "Banyak rupa dari spesies ini, kita lihat lewat fosil dan sekarang mereka masih terlihat sama seperti itu," katanya.

Sebelum ekspedisi NHM, banyak dari hewan ini hanya terlihat sekilas dalam foto atau video, atau diketahui dari sisa-sisa fosilnya.

Misi ini memungkinkan para ilmuwan untuk mempelajari spesimen saat mereka bergerak bebas melalui habitat laut, dan di laboratorium. Investigasi semacam itu memungkinkan para ilmuwan untuk lebih memahami ekosistem laut dalam yang terpencil dan tak tersentuh.

Ini menjadi tujuan penting karena industri pertambangan laut dalam terus berkembang di seluruh dunia, dikutip Live Science.

Museum NHM pertama kali dibuka pada 18 April 1881, tetapi inisiatif pembangunannya merentang sejak 1753 karena pengaruh Sir Hans Sloane, seorang dokter dan kolektor. Mengutip situs resmi NHM, Sloane berkeliling dunia sebagai dokter masyarakat kelas atas.Dia mengumpulkan spesimen sejarah alam dan artefak budaya di sepanjang jalan.

Ia kemudian memiliki 71 ribu item koleksi pada 1753. Namun dia berkenan untuk dibeli koleksinya kepada parlemen, dan akhirnya museum itu dimiliki oleh pemerintah Inggris.

(can/lth)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER