Apa Jadinya 'Anak Muda' Disuntik Darah Orang Tua? Tikus Beri Bukti

CNN Indonesia
Selasa, 16 Agu 2022 10:00 WIB
Percobaan pada tikus menunjukkan bukti mengejutkan soal suntikan darah orang tua kepada yang lebih muda. Percobaan menyuntikan darah tikus yang lebih tua kepada yang lebih muda ternyata membawa efek penuaan ke tikus muda tersebut. Foto: Reuters
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah penelitian terbaru menemukan penyuntikan darah orang tua ke anak muda memberikan efek penuaan. Itu diketahui lewat beberapa percobaan terhadap tikus yang berusia berbeda. 

Dilansir dari Science Alert, percobaan baru yang dilakukan pada tikus muda menunjukkan mereka secara singkat mengalami penuaan ketika para ilmuwan menyuntikkan darah tikus yang lebih tua. Efek penuaan serupa terjadi ketika sel manusia direndam dalam plasma individu yang lebih tua.

Tikus muda berusia tiga bulan diberikan transfusi darah tikus berusia 22-24 bulan. Tikus muda tersebut kemudian mendapat pengujian kekuatan otot untuk melihat efek penuaan pada jaringan-jaringan tikus.

Lihat Juga :

Hasilnya, para peneliti menyebut tikus yang menerima darah dari tikus tua mengalami "penurunan kekuatan kedutan maksimal serta tingkat pengembangan kekuatan dan relaksasi yang lebih pendek secara signifikan selama kontraksi."

Selain itu, tikus yang menerima darah tua menjadi lebih cepat lelah dan berlari lebih pendek di treadmill saat penelitian. Tikus-tikus ini juga memiliki tanda-tanda kerusakan ginjal dan bukti penuaan hati.

Hal sebaliknya juga terjadi jika darah tikus muda disuntikkan ke tikus tua. Darah tersebut akan memberikan efek peremajaan, bahkan efek peremajaan akan meningkat signifikan jika yang diberikan adalah plasma darahnya.

Sebuah studi pada 2020 yang dilakukan peneliti di University of California, Berkeley menemukan suntik plasma darah tikus muda pada tikus tua dapat memberikan efek peremajaan.

Sebelumnya pada 2005, tim peneliti yang sama menemukan bahwa berbagi darah dan organ anak muda ke orang tua dapat memberikan efek peremajaan serupa. Penelitian yang dilakukan pada tikus ini memunculkan dugaan darah anak muda memiliki protein atau molekul spesial yang dapat memberikan efek muda.

Dalam studi pada 2020, tim peneliti menemukan bahwa mengganti setengah dari plasma darah tikus tua dengan campuran garam dan albumin memiliki efek peremajaan yang sama atau bahkan lebih kuat pada otak, hati dan otot dibandingkan pertukaran darah muda.

Albumin sendiri dalam proses tersebut berfungsi untuk menggantikan protein yang hilang ketika plasma darah asli dikeluarkan.

Penemuan ini menggeser metode peremajaan yang biasanya berupa transfer darah muda. Penemuan ini bahkan berpotensi menghilangkan faktor-faktor penuaan yang berpotensi berbahaya yang ada dalam darah tua.

"Ada dua interpretasi utama dari eksperimen awal kami: Yang pertama adalah, pada percobaan penggabungan tikus, peremajaan disebabkan oleh darah muda dan protein muda atau faktor yang menjadi berkurang seiring bertambahnya usia, tetapi alternatif yang sama mungkin adalah, seiring bertambahnya usia, Anda memiliki peningkatan protein tertentu dalam darah yang menjadi merugikan, dan ini dihilangkan atau dinetralkan oleh pasangan muda," kata Irina Conboy, seorang profesor bioteknologi di UC Berkeley yang merupakan penulis senior studi baru yang diterbitkan di jurnal Aging.

"Seperti yang ditunjukkan oleh sains kami, interpretasi kedua ternyata benar. Darah muda atau faktor tidak diperlukan untuk efek peremajaan; pengenceran darah lama sudah cukup," tambahnya, seperti dikutip laman penelitian Berkeley.

Pada manusia, komposisi plasma darah dapat diubah dalam prosedur klinis yang disebut pertukaran plasma terapeutik atau plasmapheresis, yang saat ini disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) di Amerika Serikat (AS) untuk mengobati berbagai penyakit autoimun.

Tim peneliti saat ini sedang menyelesaikan uji klinis untuk menentukan apakah pertukaran plasma yang dimodifikasi pada manusia dapat digunakan untuk meningkatkan kesehatan keseluruhan orang tua dan untuk mengobati penyakit terkait usia yang meliputi pengecilan otot, degenerasi saraf, diabetes tipe 2, serta deregulasi kekebalan. .

"Saya pikir perlu beberapa waktu bagi orang untuk benar-benar mengeluarkan gagasan bahwa plasma muda mengandung molekul peremajaan, atau peluru perak, untuk penuaan," kata Dobri Kiprov, direktur medis Apheresis Care Group sekaligus anggota tim penelitian.

"Saya berharap hasil penelitian kami membuka pintu untuk penelitian lebih lanjut dalam menggunakan pertukaran plasma - tidak hanya untuk penuaan, tetapi juga untuk imunomodulasi," imbuhnya.

[Gambas:Video CNN]

(lom/lth)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER