Bukan Ulah Manusia, Hiu Tutul di Kulon Progo Mati Alami

kum | CNN Indonesia
Rabu, 27 Jul 2022 17:00 WIB
Hiu tutul yang terdampar di Kulon Progo, Yogyakarta ternayata mati alami meski ditemukan bekas luka. Ikan hiu tutul yang mati di pinggir pantai. Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikJateng
Yogyakarta, CNN Indonesia --

Hiu tutul yang ditemukan terdampar di muara Sungai Bogowonto, Pantai Congot, Kulon Progo diduga kuat mati alami dan bukan karena ulah manusia.

Personil Polisi Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY Gunadi menuturkan, berdasarkan hasil pemeriksaan dokter rekanan instansinya diperoleh petunjuk kuat bahwa hiu malang itu mati karena sakit.

"Hasil membuka perut, beberapa organ lambung dan usus sudah kosong hanya berisi gas. Itu indikasi dia sudah tidak makan berhari-hari atau berminggu-minggu," kata Gunadi saat dihubungi, Rabu (27/7).

Perubahan paling spesifik pada organ dalam, menurut Gunadi, adalah hati atau liver yang mengalami pembengkakan. Kata dia, kondisinya sudah sangat rapuh.

"Yang mengindikasikan hiu ini sudah mengalami gangguan hati kronis dalam waktu yang lama dan mungkin ini yang menjadi penyebab dia tidak mau makan berminggu-minggu sampai terjadi kematian," paparnya.

Dugaannya, hiu tutul betina dewasa berukuran panjang 8,7 meter dengan rata-rata usia harapan hidup 40-50 tahun ini mati karena penyakit yang diidapnya. Bukan akibat ulah manusia.

Mengenai luka pada bagian luar tubuh hiu diperkirakan tak berasosiasi dengan penyebab kematian. Dugaannya, timbul karena bergesekan dengan pasir maupun batuan. Kondisi mata dan insang pun dipastikan masih terlihat normal.

"Diduga penyebab kematian karena gangguan pada hati, yang pada hewan laut itu penyakit-penyakit infeksi itu sangat jarang. Jadi ada beberapa kemungkinan misalnya polutan, plankton yang dimakan itu ada racunnya," sebut dia.

Jumlah racun yang terkonsumsi kemungkinan tak terlalu banyak. Namun, berpotensi menumpuk atau mengendap jika tertelan setiap harinya sehingga membuat fungsi hati sebagai penetralisir kelebihan beban.

"Ketika jumlahnya terlalu hanyak, hati tidak kuat, hati jebol dan rapuh. Jadi ini jangka panjang. Karena di laut yang asin, semua agen-agen infeksi itu tidak bisa berkembang. Kebanyakan kalau terhadap kematian lebih ke metabolik, gangguan fungsi organ, racun, maupun kondisi-kondisi yang lebih ke organ dalam," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

(lth/lth)
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER