101 SCIENCE

Di Manakah Ujung Langit?

CNN Indonesia
Jumat, 19 Agu 2022 06:17 WIB
Apakah ada ujung langit? Bisakah kita ke sana bersama seorang astronaut yang tangkas dan juga pemberani? Para astronom punya jawabannya. Hasil foto titik semesta terjauh yang bisa ditangkap Teleskop James Webb. Adakah ujung semesta? (Foto: Arsip NASA, ESA, CSA, and STScI via web nasa.gov)
Jakarta, CNN Indonesia --

Alam semesta masih terus mengembang setelah titik awal, dentuman besar (Big Bang). Apakah artinya batas semesta alias ujung langit terus menjauh dari Bumi? Di manakah posisinya saat ini?

Jika berujung, pertanyaan lanjutannya adalah bisakah kita mengintip ke luar batas semesta itu? Para pakar menilai itu tak memungkinkan.

Robert McNees, seorang profesor fisika di Loyola University Chicago, AS, dikutip dari Live Science, mengatakan salah satu alasannya adalah karena "prinsip kosmologis".

Bahwa, distribusi materi di setiap bagian alam semesta terlihat kira-kira sama seperti di bagian lain mana pun, terlepas dari arah mana Anda melihat. Istilahnya, alam semesta adalah isotropik.

Prinsip kosmologis, kata dia, merupakan konsekuensi dari gagasan bahwa hukum fisika adalah sama di mana-mana. "Ada banyak variasi lokal - bintang, galaksi, cluster, dan lainnya, tetapi rata-rata di atas potongan besar ruang angkasa, tidak ada tempat yang benar-benar berbeda dari tempat lain," ujarnya.

Implikasinya, kata dia, adalah bahwa tidak ada "tepi", tidak ada tempat untuk pergi ke ujung alam semesta hingga kita bisa dapat melihat apa yang ada di baliknya.

Masih bingung?

Untuk mudahnya, para fisikawan sering menganalogikan alam semesta tanpa tepi ini sebagai permukaan balon. Semut bisa berjalan di permukaan balon ke segala arah dan akan terlihat seperti permukaan itu "tidak terbatas".

Semut itu mungkin kembali ke tempat awalnya, tetapi perjalanannya tidak akan berakhir. Jadi meskipun permukaan balon adalah jumlah unit yang terbatas, tidak ada tepi, tidak ada batas (karena Anda dapat pergi selamanya ke satu arah mana pun).

Selain itu, tidak ada "pusat", jadi tidak ada titik pilihan pada permukaan bola balon. Dan, alam semesta adalah versi tiga dimensi dari kulit balon.

Katie Mack, astrofisikawan teoretis di University of Melbourne di Australia, memilih untuk menganggap alam semesta semakin kurang padat alih-alih terus mengembang. Pasalnya, konsentrasi materi di alam semesta berkurang saat alam semesta mengembang.

Menurut dia, galaksi tidak bergerak menjauh satu sama lain melalui ruang, namun ruang itu sendiri yang semakin besar.

Lihat Juga :

"Jadi setiap alien di galaksi yang dilihat manusia semuanya akan sampai pada kesimpulan yang sama seperti yang dilakukan penduduk Bumi: segala sesuatu yang lain bergerak menjauh ke segala arah, dan galaksi lokal diam."

Terus mengembang usai dentuman besar

Sejauh ini, kata Mack, alam semesta yang dapat diamati adalah 46 miliar tahun cahaya ke segala arah, meskipun alam semesta baru dimulai 13,8 miliar tahun yang lalu. Apa pun yang di luar radius 46 miliar tahun cahaya itu tidak terlihat oleh penduduk Bumi, dan tidak akan pernah terlihat.

Sebab, jarak antar objek di alam semesta terus bertambah besar dengan kecepatan yang lebih cepat daripada yang bisa dicapai sinar hingga Bumi.

Mack juga mengatakan, laju ekspansi semesta belum seragam. Selama sepersekian detik setelah Big Bang, ada periode ekspansi yang dipercepat yang disebut inflasi, yakni saat alam semesta tumbuh dengan kecepatan yang jauh lebih cepat daripada pertumbuhannya sekarang.

Dengan asumsi inflasi atau pengembangan itu, alam semesta sebenarnya 1.023 kali lebih besar dari batas 46 miliar tahun cahaya yang dapat dilihat manusia itu.

"Jadi jika ada ujung alam semesta, jaraknya sangat jauh sehingga penduduk bumi tidak dapat melihatnya, dan tidak akan pernah melihatnya," ucap dia.

Dengan kata lain, banyak titik di alam semesta begitu jauh sehingga cahaya dari titik-titik ini belum cukup waktu sejak awal alam semesta terbentuk untuk mencapai bumi.

Karena tak ada materi yang bisa bergerak melebihi kecepatan cahaya, ini berarti tidak ada jenis informasi atau sinyal yang sempat mencapai Bumi dari titik-titik yang jauh ini. Lokasi-lokasi seperti itu pada dasarnya berada di luar lingkup pengamatan manusia.

Dilansir dari laman West Texas A&M University, Texas, AS, fisikawan Christopher S Baird mengatakan ujung langit di sini bukan berarti ada sebuah dinding energi atau jurang raksasa di tepi alam semesta kita yang dapat diamati.

"Tidak ada tepi alam semesta. Ruang angkasa menyebar tanpa batas ke segala arah," tulisnya.

Lihat Juga :

Ujung ini hanya menandai garis pemisah antara lokasi yang saat ini dapat dilihat penduduk bumi dan lokasi yang saat ini tidak dapat kita lihat.

Bagaimana bisa alam semesta tidak berujung jika awal mulanya adalah Big Bang? Baird mengemukakan bahwa alam semesta tidak dimulai dengan ukuran yang terbatas.

"Big Bang tidak seperti bom di atas meja yang meledak dan mengembang memenuhi ruangan dengan puing-puing. Big Bang tidak terjadi pada satu titik di alam semesta. Itu terjadi di mana-mana di alam semesta sekaligus," urainya.

Menurut dia, alam semesta merupakan ketidakterbatasan yang berbentuk "objek yang sangat besar dan telah berkembang menjadi objek yang jauh lebih besar".

"Sangat masuk akal dalam sains untuk entitas dengan ukuran tak terbatas untuk bertambah besar," tandas Baird.

(lom/arh)


[Gambas:Video CNN]
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER