Menguji Klaim Dokter Tifa Jakarta Tak Tenggelam Meski Es Kutub Mencair
CNN Indonesia
Sabtu, 20 Agu 2022 07:33 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Masjid Wal-Adhuna, Muara Baru, Jakut, perlahan tenggelam akibat kenaikan permukaan laut. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --
Aktivis Tifauzia Tyassuma alias Dokter Tifa mengklaim Jakarta dan kota-kota lainnya tak akan tenggelam akibat es di kutub mencair. Sementara, para pakar dan lembaga ilmiah punya fakta berlawanan. Simak ulasannya berikut.
Dalam sebuah utas pendek, Tifa, yang merupakan Doktor bidang Epidemiologi Molekular dan Filsafat, mulanya mengomentari pemberitaan yang berisi komentar Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria soal potensi Jakarta tenggelam pada 2050 berdasarkan data sejumlah lembaga internasional.
"Jakarta, hanya bisa tenggelam, kl bumi tiba2 dapat kiriman air dari planet Mars atau Jupiter," kicaunya, pada Selasa (16/8).
"Es yg mencair di Kutub, tidak akan bikin kota manapun di dunia ini, tenggelam," lanjut dia.
Dia, yang merupakan Presiden Advancing Health Literacy on Nutrion & Neuroscince Indonesia (Ahlina) Institute itu, menganalogikannya dengan gelas berisi air yang tak meluap meski es batunya sudah mencair.
"Pernah pesan Es Teh,lupa diminum? Batu2 es nyamencair, kan? Apakah lantas airnya jd tambahbanyak & tumpah? Tidak, kan. Volume air nya tetap,tdk bikinair dlmes teh itu jd lbh banyak," urainya.
"Es yg mencair di Kutub, volume airnyatdk berubah sedikitpun. Hanya beda bentuk," imbuh Tifa.
Unggahan itu ramai menuai respons netizen, terutama yang bernada skeptis, karena menganggap pandangan Dokter Tifa terlalu menyederhanakan masalah yang bukan merupakan bidang keahliannya.
Mari kita uji satu persatu pendapat Tifa itu.
Apakah es mencair tidak memicu kenaikan air?
Dikutip dari laman sains University of California, Santa Barbara, AS, mencairnya es justru akan mengurangi berat dan volume total air. Sebab, es memiliki tingkat kepadatan lebih rendah daripada air. Massa jenis es adalah 0,9167 gram/cm3. Sementara massa jenis air adalah 0,997 gram/cm3.
Contohnya, Anda memiliki 12 ons air + es batu dalam gelas (1 ons = 28,9435 gram). Ketika membiarkannya mencair, Anda akan mendapatkan kurang dari 12 ons, atau tepatnya 12 x 0,9167/0,997 = 11,034 ons air dalam gelas.
"Jika Anda mengukur ketinggian air, Anda tidak akan melihat perubahan. Namun, jika Anda mengukur volume keseluruhan air + es, Anda akan melihat penurunan secara total," demikian dikutip dari situs UC Santa Barbara.
Analogi es teh dalam kasus es kutub tepat?
Para saintis di UC Barbara mengatakan tidak pas menyamakan es di kutub dengan es batu di dalam gelas. Pasalnya, tak semua bongkahan es raksasa Bumi berada di lautan.
Contohnya, Kutub Selatan atau Antartika, Greenland yang adalah pulau terbesar di Bumi, serta gletser di Gunung Himalaya.
Para ilmuwan menilai lebih pas menganalogikan bongkahan es di Bumi dengan es batu yang diletakkan terpisah tepat di atas segelas air. Ketika suhu makin panas, es batu itu perlahan mencair dan membuat gelas makin penuh. Seperti itu pula pemanasan global yang melelehkan es di daratan.
"Alasan mengapa permukaan laut diperkirakan akan naik saat lapisan es mencair selama pemanasan global adalah karena fakta bahwa [masih ada] es yang belum mengapung di lautan," tutur keterangan UC Santa Barbara.
Kenaikan air laut menenggelamkan pesisir?
Polemik selanjutnya adalah apakah penambahan volume lautan akibat pencairan es itu bisa membuat kota-kota tenggelam atau tidak.
Dikutip dari situs lembaga antariksa AS (NASA), berdasarkan pengukuran satelit, kenaikan permukaan air laut secara global sejak 1993 hingga 2 Mei 2022 mencapai 101,2 mm (10,1 cm), atau 3,3 mm per tahun.
Kenaikan permukaan laut itu diperparah oleh faktor perluasan air laut saat memanas, yang juga terkait pemanasan global.
"Ekspansi termal air" itu terjadi ketika air menjadi lebih hangat yang menyebabkan volume air meningkat. Menurut NASA, sekitar setengah dari kenaikan permukaan laut global berasal dari faktor ini.
Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, mengungkapkan, berdasarkan data Pentagon, bahwa ancaman terbesar yang dihadapi Amerika adalah perubahan iklim. Sepuluh tahun lagi, katanya, Indonesia bahkan bisa jadi mesti pindah ibu kota karena faktor kenaikan air laut.
"Jika nyatanya permukaan laut naik 2,5 kaki (76,2 cm) lagi, jutaan orang akan bermigrasi, memperebutkan tanah yang subur," cetusnya, dalam pidato di acara National Counterterrorism Center Liberty Crossing Intelligence Campus McLean, Virginia, 27 Juli 2021, dikutip dari situs Gedung Putih.
"Apa yang terjadi di Indonesia jika proyeksi [kenaikan air laut]-nya benar, bahwa, dalam 10 tahun ke depan, mereka mungkin harus memindahkan ibu kotanya karena mereka akan berada di bawah air?" lanjut Biden.
Penurunan muka tanah di halaman berikutnya...
Terlepas dari itu, cukupkah angka kenaikan air tersebut membuat Jakarta tenggelam setidaknya 10 tahun lagi?
Salah satu indikator kuat tenggelamnya wilayah pesisir adalah banjir rob. Bencana ini terjadi saat air laut pasang naik masuk jauh ke wilayah daratan hingga menggenangi permukiman pesisir.
Banjir rob terbesar yang pernah menerpa DKI adalah yang terjadi di 20 titik pada 2007. Pakar menyebut itu lebih disebabkan oleh penurunan muka tanah ketimbang kenaikan muka air laut.
Pengajar Teknik Geodesi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas mengungkapkan kenaikan air laut sejauh ini 6 mm-1 cm per tahun. Itu berdasarkan pengukuran satelit altimetri selama 20 tahun.
"Berarti 100 tahun baru tuh 1 meter. Itu berarti naik pelan. Tadi ada yang bilang, [banjir rob] ini akibat dari global warming, sea level rise, itu terbantahkan. Tidak berkontribusi signifikan terhadap banjir rob di Jakarta," jelas Heri, beberapa waktu lalu.
Ada faktor lain?
Heri mengungkapkan faktor signifikan yang membuat Jakarta makin cepat tenggelam adalah penurunan muka tanah. Faktor ini membuat sekitar 20 persen wilayah DKI berada di bawah permukaan laut.
Untuk membuktikannya, Heri dan tim memakai global positioning system (GPS) untuk mengukur ketinggian daratan terhadap permukaan laut di titik yang sama secara berulang. Hasilnya, penurunan rata-rata mencapai 10 cm per tahun.
"Saya sudah 20 tahun mengukur di Jakarta, di titik koordinat yang sama, ternyata tingginya berubah," kata Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB itu.
"Ternyata penurunan [tanah]-nya ada yang sampai 10 cm per tahun, bahkan 20 cm per tahun. Dalam 10 tahun udah 1 meter. Kemudian kalau 100 tahun akan ada penurunan 10 meter. Inilah yang paling signifikan sebagai penyebab banjir rob. Karena kan tanah turun terus, lama-lama di bawah laut," papar Heri.
Apa penyebab penurunan muka tanah itu? Heri menyebut ada beberapa faktor, seperti beban dari bangunan, aktivitas tektonik, pengambilan air tanah yang berlebihan, hingga pemadatan tanah atau kompaksi secara alamiah.
Menurut perhitungannya, faktor-faktor di luar pengambilan air tanah berkontribusi kecil.
Juru Bicara Kementerian PUPR Endra S Atmawidjaja sepakat dengan para pakar bahwa penurunan muka tanah ini akibat kontribusi dari eksploitasi air tanah.
"Ada eksploitasi pengambilan air tanah yang berlebihan yang sudah berpuluh-puluh tahun untuk konsumsi masyarakat dan itu yang penyebabnya. Selain faktor lain yaitu sea level rise akibat perubahan iklim," paparnya.
Terlebih, sudah ada penelitian, termasuk dari ilmuwan di Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, yang sekarang diambil Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Robert Delinom bahwa permukaan tanah Jakarta Utara setidaknya turun 75 cm 30 tahun lagi. Dengan kata lain, 2050 makin banyak wilayah Jakarta tenggelam.
Di luar Jakarta, banyak wilayah yang tenggelam dengan faktor pemicu hanya kenaikan air laut akibat es kutub mencair. Misalnya, Kepulauan Marshall, sebuah negara kepulauan mungil di Samudera Pasifik.
Ketinggian rata-rata daratan di atas permukaan laut di Kepulauan Marshall hanya 2 meter. Kenaikan air laut secuil pun amat berarti pada eksistensi manusianya.
Pulau reklamasi picu banjir?
Dalam masalah ini, warga dan para pakar masih beda pendapat.
Puluhan nelayan yang tergabung dalam Forum Kerukunan Masyarakat Nelayan (Forkeman) Muara Angke, 2016, sempat mengatakan pulau reklamasi bisa menyebabkan DKI kian kebanjiran.
Sebab, pulau-pulau buatan itu membuat ketinggian sungai naik akibat terhambatnya aliran di muara.
Sementara, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jakarta Tubagus Soleh Ahmadi mengatakan penurunan muka tanah di pulau reklamasi dan daratan Jakarta dipicu oleh hal yang berbeda.
"Reklamasi akan mengalami penurunan tanah akibat abrasi dan lain-lain," ucapnya, "Kalau di dataran Jakarta akibat eksploitasi air dan beban dari bangunan."
Heri Andreas bahkan mengaku mengusulkan tanggul raksasa atau Giant Sea Wall berbentuk burung garuda sebagai solusi Jakarta tenggelam. Mega-infrastruktur ini terdiri dari tanggul pantai yang menempel ke kawasan pesisir, tanggul laut, serta pulau-pulau reklamasi.
Yang jelas, Jakarta sudah mulai tenggelam, sebagian. Faktor pemicunya adalah kombinasi es kutub mencair, pemanasan global, hingga penurunan muka tanah.
Aktivis Tifauzia Tyassuma alias Dokter Tifa mengklaim Jakarta dan kota-kota lainnya tak akan tenggelam akibat es di kutub mencair. Sementara, para pakar dan lembaga ilmiah punya fakta berlawanan. Simak ulasannya berikut.
Dalam sebuah utas pendek, Tifa, yang merupakan Doktor bidang Epidemiologi Molekular dan Filsafat, mulanya mengomentari pemberitaan yang berisi komentar Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria soal potensi Jakarta tenggelam pada 2050 berdasarkan data sejumlah lembaga internasional.
"Jakarta, hanya bisa tenggelam, kl bumi tiba2 dapat kiriman air dari planet Mars atau Jupiter," kicaunya, pada Selasa (16/8).
"Es yg mencair di Kutub, tidak akan bikin kota manapun di dunia ini, tenggelam," lanjut dia.
Dia, yang merupakan Presiden Advancing Health Literacy on Nutrion & Neuroscince Indonesia (Ahlina) Institute itu, menganalogikannya dengan gelas berisi air yang tak meluap meski es batunya sudah mencair.
"Pernah pesan Es Teh,lupa diminum? Batu2 es nyamencair, kan? Apakah lantas airnya jd tambahbanyak & tumpah? Tidak, kan. Volume air nya tetap,tdk bikinair dlmes teh itu jd lbh banyak," urainya.
"Es yg mencair di Kutub, volume airnyatdk berubah sedikitpun. Hanya beda bentuk," imbuh Tifa.
Unggahan itu ramai menuai respons netizen, terutama yang bernada skeptis, karena menganggap pandangan Dokter Tifa terlalu menyederhanakan masalah yang bukan merupakan bidang keahliannya.
Mari kita uji satu persatu pendapat Tifa itu.
Apakah es mencair tidak memicu kenaikan air?
Dikutip dari laman sains University of California, Santa Barbara, AS, mencairnya es justru akan mengurangi berat dan volume total air. Sebab, es memiliki tingkat kepadatan lebih rendah daripada air. Massa jenis es adalah 0,9167 gram/cm3. Sementara massa jenis air adalah 0,997 gram/cm3.
Contohnya, Anda memiliki 12 ons air + es batu dalam gelas (1 ons = 28,9435 gram). Ketika membiarkannya mencair, Anda akan mendapatkan kurang dari 12 ons, atau tepatnya 12 x 0,9167/0,997 = 11,034 ons air dalam gelas.
"Jika Anda mengukur ketinggian air, Anda tidak akan melihat perubahan. Namun, jika Anda mengukur volume keseluruhan air + es, Anda akan melihat penurunan secara total," demikian dikutip dari situs UC Santa Barbara.
Analogi es teh dalam kasus es kutub tepat?
Para saintis di UC Barbara mengatakan tidak pas menyamakan es di kutub dengan es batu di dalam gelas. Pasalnya, tak semua bongkahan es raksasa Bumi berada di lautan.
Contohnya, Kutub Selatan atau Antartika, Greenland yang adalah pulau terbesar di Bumi, serta gletser di Gunung Himalaya.
Para ilmuwan menilai lebih pas menganalogikan bongkahan es di Bumi dengan es batu yang diletakkan terpisah tepat di atas segelas air. Ketika suhu makin panas, es batu itu perlahan mencair dan membuat gelas makin penuh. Seperti itu pula pemanasan global yang melelehkan es di daratan.
"Alasan mengapa permukaan laut diperkirakan akan naik saat lapisan es mencair selama pemanasan global adalah karena fakta bahwa [masih ada] es yang belum mengapung di lautan," tutur keterangan UC Santa Barbara.
Kenaikan air laut menenggelamkan pesisir?
Polemik selanjutnya adalah apakah penambahan volume lautan akibat pencairan es itu bisa membuat kota-kota tenggelam atau tidak.
Dikutip dari situs lembaga antariksa AS (NASA), berdasarkan pengukuran satelit, kenaikan permukaan air laut secara global sejak 1993 hingga 2 Mei 2022 mencapai 101,2 mm (10,1 cm), atau 3,3 mm per tahun.
Kenaikan permukaan laut itu diperparah oleh faktor perluasan air laut saat memanas, yang juga terkait pemanasan global.
"Ekspansi termal air" itu terjadi ketika air menjadi lebih hangat yang menyebabkan volume air meningkat. Menurut NASA, sekitar setengah dari kenaikan permukaan laut global berasal dari faktor ini.
Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, mengungkapkan, berdasarkan data Pentagon, bahwa ancaman terbesar yang dihadapi Amerika adalah perubahan iklim. Sepuluh tahun lagi, katanya, Indonesia bahkan bisa jadi mesti pindah ibu kota karena faktor kenaikan air laut.
"Jika nyatanya permukaan laut naik 2,5 kaki (76,2 cm) lagi, jutaan orang akan bermigrasi, memperebutkan tanah yang subur," cetusnya, dalam pidato di acara National Counterterrorism Center Liberty Crossing Intelligence Campus McLean, Virginia, 27 Juli 2021, dikutip dari situs Gedung Putih.
"Apa yang terjadi di Indonesia jika proyeksi [kenaikan air laut]-nya benar, bahwa, dalam 10 tahun ke depan, mereka mungkin harus memindahkan ibu kotanya karena mereka akan berada di bawah air?" lanjut Biden.
Penurunan muka tanah di halaman berikutnya...
Kombinasi Es Mencair dan Penurunan Muka Tanah
Muara Angke, Jakut, Desember 2021. Tanda nyata Jakarta mulai tenggelam adalah banjir rob. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Terlepas dari itu, cukupkah angka kenaikan air tersebut membuat Jakarta tenggelam setidaknya 10 tahun lagi?
Salah satu indikator kuat tenggelamnya wilayah pesisir adalah banjir rob. Bencana ini terjadi saat air laut pasang naik masuk jauh ke wilayah daratan hingga menggenangi permukiman pesisir.
Banjir rob terbesar yang pernah menerpa DKI adalah yang terjadi di 20 titik pada 2007. Pakar menyebut itu lebih disebabkan oleh penurunan muka tanah ketimbang kenaikan muka air laut.
Pengajar Teknik Geodesi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas mengungkapkan kenaikan air laut sejauh ini 6 mm-1 cm per tahun. Itu berdasarkan pengukuran satelit altimetri selama 20 tahun.
"Berarti 100 tahun baru tuh 1 meter. Itu berarti naik pelan. Tadi ada yang bilang, [banjir rob] ini akibat dari global warming, sea level rise, itu terbantahkan. Tidak berkontribusi signifikan terhadap banjir rob di Jakarta," jelas Heri, beberapa waktu lalu.
Ada faktor lain?
Heri mengungkapkan faktor signifikan yang membuat Jakarta makin cepat tenggelam adalah penurunan muka tanah. Faktor ini membuat sekitar 20 persen wilayah DKI berada di bawah permukaan laut.
Untuk membuktikannya, Heri dan tim memakai global positioning system (GPS) untuk mengukur ketinggian daratan terhadap permukaan laut di titik yang sama secara berulang. Hasilnya, penurunan rata-rata mencapai 10 cm per tahun.
"Saya sudah 20 tahun mengukur di Jakarta, di titik koordinat yang sama, ternyata tingginya berubah," kata Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB itu.
"Ternyata penurunan [tanah]-nya ada yang sampai 10 cm per tahun, bahkan 20 cm per tahun. Dalam 10 tahun udah 1 meter. Kemudian kalau 100 tahun akan ada penurunan 10 meter. Inilah yang paling signifikan sebagai penyebab banjir rob. Karena kan tanah turun terus, lama-lama di bawah laut," papar Heri.
Apa penyebab penurunan muka tanah itu? Heri menyebut ada beberapa faktor, seperti beban dari bangunan, aktivitas tektonik, pengambilan air tanah yang berlebihan, hingga pemadatan tanah atau kompaksi secara alamiah.
Menurut perhitungannya, faktor-faktor di luar pengambilan air tanah berkontribusi kecil.
Juru Bicara Kementerian PUPR Endra S Atmawidjaja sepakat dengan para pakar bahwa penurunan muka tanah ini akibat kontribusi dari eksploitasi air tanah.
"Ada eksploitasi pengambilan air tanah yang berlebihan yang sudah berpuluh-puluh tahun untuk konsumsi masyarakat dan itu yang penyebabnya. Selain faktor lain yaitu sea level rise akibat perubahan iklim," paparnya.
Terlebih, sudah ada penelitian, termasuk dari ilmuwan di Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, yang sekarang diambil Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Robert Delinom bahwa permukaan tanah Jakarta Utara setidaknya turun 75 cm 30 tahun lagi. Dengan kata lain, 2050 makin banyak wilayah Jakarta tenggelam.
Di luar Jakarta, banyak wilayah yang tenggelam dengan faktor pemicu hanya kenaikan air laut akibat es kutub mencair. Misalnya, Kepulauan Marshall, sebuah negara kepulauan mungil di Samudera Pasifik.
Ketinggian rata-rata daratan di atas permukaan laut di Kepulauan Marshall hanya 2 meter. Kenaikan air laut secuil pun amat berarti pada eksistensi manusianya.
Pulau reklamasi picu banjir?
Dalam masalah ini, warga dan para pakar masih beda pendapat.
Puluhan nelayan yang tergabung dalam Forum Kerukunan Masyarakat Nelayan (Forkeman) Muara Angke, 2016, sempat mengatakan pulau reklamasi bisa menyebabkan DKI kian kebanjiran.
Sebab, pulau-pulau buatan itu membuat ketinggian sungai naik akibat terhambatnya aliran di muara.
Sementara, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jakarta Tubagus Soleh Ahmadi mengatakan penurunan muka tanah di pulau reklamasi dan daratan Jakarta dipicu oleh hal yang berbeda.
"Reklamasi akan mengalami penurunan tanah akibat abrasi dan lain-lain," ucapnya, "Kalau di dataran Jakarta akibat eksploitasi air dan beban dari bangunan."
Heri Andreas bahkan mengaku mengusulkan tanggul raksasa atau Giant Sea Wall berbentuk burung garuda sebagai solusi Jakarta tenggelam. Mega-infrastruktur ini terdiri dari tanggul pantai yang menempel ke kawasan pesisir, tanggul laut, serta pulau-pulau reklamasi.
Yang jelas, Jakarta sudah mulai tenggelam, sebagian. Faktor pemicunya adalah kombinasi es kutub mencair, pemanasan global, hingga penurunan muka tanah.