8 Hujan Meteor Desember, Mana yang Terpantau Jelas di RI?
CNN Indonesia
Kamis, 01 Des 2022 07:24 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Setidaknya delapan hujan meteor bakal berlangsung bulan ini. (Foto: AFP PHOTO / DANI POZO)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sederet hujan meteor bakal terjadi pada bulan Desember. Setidaknya, terhitung ada delapan fenomena, namun mana yang bisa terlihat jelas di Indonesia?
Andi Pangerang, Peneliti Pusat Riset Antariksa Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan hujan meteor adalah sejumlah meteor yang jatuh melewati permukaan Bumi dalam jumlah banyak sehingga terlihat seperti hujan yang turun.
"Meteor sendiri sebenarnya adalah ketampakan jalur jatuhnya meteoroid ke atmosfer Bumi," ujarnya dikutip situs resmi BRIN.
Ketampakan ini, kata Andi, disebabkan oleh panas yang dihasilkan tekanan ram, yakni tekanan pada objek yang melintas dengan kecepatan tinggi saat memasuki atmosfer Bumi.
Meteoroid, komet maupun planet yang memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi menyebabkan terjadinya hujan meteor.
Berikut delapan fenomena hujan meteor yang di antaranya bisa disaksikan langsung di langit Indonesia.
Phoenicid 2 Desember
Phoenicid merupakan hujan meteor yang titik asal kemunculan meteor (titik radian) terletak di konstelasi Phoenix dekat bintang Achernar (Alfa Eridani) konstelasi Eridanus.
Ia aktif sejak 27 November hingga 9 Desember dengan intensitas variatif antara 0-100 meteor per jam di zenit pada 2 Desember.
Andi mengatakan hujan meteor Phoenicid ini bisa disaksikan di seluruh Indonesia dari arah tenggara setelah Matahari terbenam pada 2 Desember, hingga terbenam di barat daya keesokan harinya sekitar pukul 03.00 waktu setempat.
Intensitas di kota Sabang dan yang selintang bervariasi antara 0-51 meteor per jam, sedangkan intensitas di Rote Ndao dan yang selintang bervariasi antara 0-74 meteor/jam.
"Hal ini dikarenakan ketinggian titik radian saat transit antara 31-48 derajat di atas ufuk selatan," ujarnya.
Puppid-Velid merupakan hujan meteor yang titik radiannya terletak di konstelasi Vela dekat bintang Regor (Gamma Velorum) yang berbatasan dengan konstelasi Puppis.
Meteor ini aktif sejak 30 November hingga 15 Desember dengan intensitas maksimum 10 meteor/jam saat di zenit pada 7 Desember.
Puppid-Velid berasal dari sisa debu komet 96P/Machholz yang mengorbit Matahari dengan periode 1,9 tahun. Kelajuan geosentrik meteor ini mencapai 144.000 km/jam.
Hujan meteor ini juga dapat disaksikan di seluruh Indonesia dari arah tenggara sejak 6 Desember sekitar pukul 21.00 waktu setempat (sesuai dengan zona waktu masing-masing) hingga meredup di arah barat daya sebelum Matahari terbit.
Intensitas di Indonesia hanya 6-8 meteor/jam. Hal ini dikarenakan ketinggian titik radian saat transit antara 39-56 derajat di atas ufuk selatan.
Monocerolid 8 Desember
Monocerolid Desember adalah hujan meteor yang titik radiannya terletak di konstelasi Monoceros yang berbatasan dengan konstelasi Orion dan Gemini.
Meteor ini aktif sejak 4-20 Desember dengan intensitas maksimum 3 meteor/jam saat di zenit pada 9 Desember, melesat dengan kecepatan 147.600 km/jam.
"Dapat disaksikan di seluruh Indonesia dari arah timur setelah adzan isya (8 Desember) hingga meredup di arah barat sebelum Matahari terbit (9 Desember)," ujarnya.
Intensitas monocerolid desember di Indonesia hanya 2 sampai 3 meteor/jam. Hal ini dikarenakan ketinggian titik radian saat transit antara 71-88 derajat di atas ufuk utara.
Sigma Hydrid 8 Desember
Sigma Hydrid merupakan hujan meteor yang titik radiannya terletak di dekat bintang Sigma Hydrae konstelasi Hydra, berbatasan dengan konstelasi Monoceros.
Aktif sejak 4-20 Desember dengan intensitas maksimum 7 meteor/jam saat di zenit pada 9 Desember. Meteor ini bisa disaksikan di seluruh Indonesia dari arah timur sejak 8 Desember pukul 21.15 waktu setempat hingga meredup di arah barat sebelum Matahari terbit.
Intensitas di Indonesia hanya 6-7 meteor/jam. Hal ini dikarenakan ketinggian titik radian saat transit antara 77-90 derajat di atas ufuk selatan (untuk 11 derajat LS-2 derajat LU) dan 86-90 derajat di atas ufuk utara (untuk 2-6 derajat LU).
Meteor ini berasal dari sisa debu benda langit yang tidak diketahui. Kelajuan geosentrik meteor ini mencapai 208.800 km/jam.
Geminid adalah hujan meteor yang titik radian terletak di konstelasi Gemini. Aktif sejak 3-20 Desember, berintensitas maksimum 150 meteor/jam saat di zenit pada 15 Desember.
Meteor ini dapat disaksikan di seluruh Indonesia dari arah timur laut sejak 8 Desember pukul 20.15 waktu setempat hingga meredup di arah barat laut sebelum Matahari terbit.
Intensitas di Indonesia hanya 86-107 meteor/jam. Hal ini dikarenakan ketinggian titik radian saat transit antara 46-63 derajat di atas ufuk utara.
Meteor ini berasal dari sisa debu asteroid 3200 Phaethon. Kecepatan geosentrik meteor ini mencapai 126.000 km/jam.
Coma Berenicid 16 Desember
Coma Berenicid adalah hujan meteor yang titik radiannya terletak di dekat bintang Denebola (Beta Leonis) konstelasi Leo berbatasan dengan Coma Berenices.
Meteor ini aktif sejak 11-23 November, berintensitas maksimum 3 meteor/jam saat di zenit pada 16 November dan bisa disaksikan di seluruh Indonesia dari arah timur laut setelah tengah malam (16 November) hingga meredup di arah utara sebelum Matahari terbit.
Intensitas di Indonesia bervariasi antara 2-3 meteor/jam. Hal ini dikarenakan ketinggian titik radian saat sebelum Matahari terbit antara 59-77 derajat di atas ufuk utara.
Meteor ini berasal dari sisa debu benda langit yang tidak diketahui. Kelajuan geosentrik meteor ini mencapai 234.000 km/jam.
Leonis Minorid Desember adalah hujan meteor yang titik radiannya terletak di dekat konstelasi Leo Minoris. Meteor ini aktif sejak 4 Desember-4 Februari, berintensitas maksimum 5 meteor/jam saat di zenit pada 20 Desember.
Fenomena ini bisa disaksikan di seluruh Indonesia dari arah timur laut menjelang tengah malam (19 Desember) hingga meredup di arah utara sebelum Matahari terbit (20 Desember).
Intensitas di Indonesia bervariasi antara 4-5 meteor/jam. Hal ini dikarenakan ketinggian titik radian saat sebelum Matahari terbit antara 49-66 derajat di atas ufuk utara. Berasal dari sisa debu komet C/1739 K1 (Zanotti). Kelajuan geosentrik meteor ini mencapai 230.400 km/jam.
Vesid 23 Desember
Vesid adalah hujan meteor yang titik radiannya terletak di konstelasi Ursa Minoris. Aktif sejak 16-26 Desember, berintensitas maksimum 10 meteor/jam saat di zenit pada 23 Desember.
"Sayangnya, hujan meteor ini memiliki ketampakan terbaik jika diamati dari belahan Bumi utara," ujar Andi.
Ia mengatakan bagi wilayah yang terletak lebih dari 5 derajat LS, hujan meteor ini tidak dapat diamati.
Intensitas untuk Kendari hingga Sabang bervariasi antara 1-3 meteor/jam dikarenakan ketinggian titik radian saat sebelum Matahari terbit antara 5-16 derajat di atas ufuk utara.
Meteor ink dapat diamati dari arah utara sejak 23 Desember pukul 01.00 waktu setempat (sesuai zona waktu masing-masing) hingga menjelang Matahari terbit.
Meteor ini berasal dari sisa debu komet 8P/Tuttle. Kecepatan geosentrik meteor bisa melesat hingga 118.800 km/jam.
Jakarta, CNN Indonesia --
Sederet hujan meteor bakal terjadi pada bulan Desember. Setidaknya, terhitung ada delapan fenomena, namun mana yang bisa terlihat jelas di Indonesia?
Andi Pangerang, Peneliti Pusat Riset Antariksa Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan hujan meteor adalah sejumlah meteor yang jatuh melewati permukaan Bumi dalam jumlah banyak sehingga terlihat seperti hujan yang turun.
"Meteor sendiri sebenarnya adalah ketampakan jalur jatuhnya meteoroid ke atmosfer Bumi," ujarnya dikutip situs resmi BRIN.
Ketampakan ini, kata Andi, disebabkan oleh panas yang dihasilkan tekanan ram, yakni tekanan pada objek yang melintas dengan kecepatan tinggi saat memasuki atmosfer Bumi.
Meteoroid, komet maupun planet yang memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi menyebabkan terjadinya hujan meteor.
Berikut delapan fenomena hujan meteor yang di antaranya bisa disaksikan langsung di langit Indonesia.
Phoenicid 2 Desember
Phoenicid merupakan hujan meteor yang titik asal kemunculan meteor (titik radian) terletak di konstelasi Phoenix dekat bintang Achernar (Alfa Eridani) konstelasi Eridanus.
Ia aktif sejak 27 November hingga 9 Desember dengan intensitas variatif antara 0-100 meteor per jam di zenit pada 2 Desember.
Andi mengatakan hujan meteor Phoenicid ini bisa disaksikan di seluruh Indonesia dari arah tenggara setelah Matahari terbenam pada 2 Desember, hingga terbenam di barat daya keesokan harinya sekitar pukul 03.00 waktu setempat.
Intensitas di kota Sabang dan yang selintang bervariasi antara 0-51 meteor per jam, sedangkan intensitas di Rote Ndao dan yang selintang bervariasi antara 0-74 meteor/jam.
"Hal ini dikarenakan ketinggian titik radian saat transit antara 31-48 derajat di atas ufuk selatan," ujarnya.
Puppid-Velid merupakan hujan meteor yang titik radiannya terletak di konstelasi Vela dekat bintang Regor (Gamma Velorum) yang berbatasan dengan konstelasi Puppis.
Meteor ini aktif sejak 30 November hingga 15 Desember dengan intensitas maksimum 10 meteor/jam saat di zenit pada 7 Desember.
Puppid-Velid berasal dari sisa debu komet 96P/Machholz yang mengorbit Matahari dengan periode 1,9 tahun. Kelajuan geosentrik meteor ini mencapai 144.000 km/jam.
Hujan meteor ini juga dapat disaksikan di seluruh Indonesia dari arah tenggara sejak 6 Desember sekitar pukul 21.00 waktu setempat (sesuai dengan zona waktu masing-masing) hingga meredup di arah barat daya sebelum Matahari terbit.
Intensitas di Indonesia hanya 6-8 meteor/jam. Hal ini dikarenakan ketinggian titik radian saat transit antara 39-56 derajat di atas ufuk selatan.
Monocerolid 8 Desember
Monocerolid Desember adalah hujan meteor yang titik radiannya terletak di konstelasi Monoceros yang berbatasan dengan konstelasi Orion dan Gemini.
Meteor ini aktif sejak 4-20 Desember dengan intensitas maksimum 3 meteor/jam saat di zenit pada 9 Desember, melesat dengan kecepatan 147.600 km/jam.
"Dapat disaksikan di seluruh Indonesia dari arah timur setelah adzan isya (8 Desember) hingga meredup di arah barat sebelum Matahari terbit (9 Desember)," ujarnya.
Intensitas monocerolid desember di Indonesia hanya 2 sampai 3 meteor/jam. Hal ini dikarenakan ketinggian titik radian saat transit antara 71-88 derajat di atas ufuk utara.
Sigma Hydrid 8 Desember
Sigma Hydrid merupakan hujan meteor yang titik radiannya terletak di dekat bintang Sigma Hydrae konstelasi Hydra, berbatasan dengan konstelasi Monoceros.
Aktif sejak 4-20 Desember dengan intensitas maksimum 7 meteor/jam saat di zenit pada 9 Desember. Meteor ini bisa disaksikan di seluruh Indonesia dari arah timur sejak 8 Desember pukul 21.15 waktu setempat hingga meredup di arah barat sebelum Matahari terbit.
Intensitas di Indonesia hanya 6-7 meteor/jam. Hal ini dikarenakan ketinggian titik radian saat transit antara 77-90 derajat di atas ufuk selatan (untuk 11 derajat LS-2 derajat LU) dan 86-90 derajat di atas ufuk utara (untuk 2-6 derajat LU).
Meteor ini berasal dari sisa debu benda langit yang tidak diketahui. Kelajuan geosentrik meteor ini mencapai 208.800 km/jam.
Peneliti dari BRIN Andi Pangerang menyebut hujan meteor merupakan jalur jatuhnya meteorit. (Foto: Arsip Pribadi)
Geminid 23 Desember
Geminid adalah hujan meteor yang titik radian terletak di konstelasi Gemini. Aktif sejak 3-20 Desember, berintensitas maksimum 150 meteor/jam saat di zenit pada 15 Desember.
Meteor ini dapat disaksikan di seluruh Indonesia dari arah timur laut sejak 8 Desember pukul 20.15 waktu setempat hingga meredup di arah barat laut sebelum Matahari terbit.
Intensitas di Indonesia hanya 86-107 meteor/jam. Hal ini dikarenakan ketinggian titik radian saat transit antara 46-63 derajat di atas ufuk utara.
Meteor ini berasal dari sisa debu asteroid 3200 Phaethon. Kecepatan geosentrik meteor ini mencapai 126.000 km/jam.
Coma Berenicid 16 Desember
Coma Berenicid adalah hujan meteor yang titik radiannya terletak di dekat bintang Denebola (Beta Leonis) konstelasi Leo berbatasan dengan Coma Berenices.
Meteor ini aktif sejak 11-23 November, berintensitas maksimum 3 meteor/jam saat di zenit pada 16 November dan bisa disaksikan di seluruh Indonesia dari arah timur laut setelah tengah malam (16 November) hingga meredup di arah utara sebelum Matahari terbit.
Intensitas di Indonesia bervariasi antara 2-3 meteor/jam. Hal ini dikarenakan ketinggian titik radian saat sebelum Matahari terbit antara 59-77 derajat di atas ufuk utara.
Meteor ini berasal dari sisa debu benda langit yang tidak diketahui. Kelajuan geosentrik meteor ini mencapai 234.000 km/jam.
Leonis Minorid Desember adalah hujan meteor yang titik radiannya terletak di dekat konstelasi Leo Minoris. Meteor ini aktif sejak 4 Desember-4 Februari, berintensitas maksimum 5 meteor/jam saat di zenit pada 20 Desember.
Fenomena ini bisa disaksikan di seluruh Indonesia dari arah timur laut menjelang tengah malam (19 Desember) hingga meredup di arah utara sebelum Matahari terbit (20 Desember).
Intensitas di Indonesia bervariasi antara 4-5 meteor/jam. Hal ini dikarenakan ketinggian titik radian saat sebelum Matahari terbit antara 49-66 derajat di atas ufuk utara. Berasal dari sisa debu komet C/1739 K1 (Zanotti). Kelajuan geosentrik meteor ini mencapai 230.400 km/jam.
Vesid 23 Desember
Vesid adalah hujan meteor yang titik radiannya terletak di konstelasi Ursa Minoris. Aktif sejak 16-26 Desember, berintensitas maksimum 10 meteor/jam saat di zenit pada 23 Desember.
"Sayangnya, hujan meteor ini memiliki ketampakan terbaik jika diamati dari belahan Bumi utara," ujar Andi.
Ia mengatakan bagi wilayah yang terletak lebih dari 5 derajat LS, hujan meteor ini tidak dapat diamati.
Intensitas untuk Kendari hingga Sabang bervariasi antara 1-3 meteor/jam dikarenakan ketinggian titik radian saat sebelum Matahari terbit antara 5-16 derajat di atas ufuk utara.
Meteor ink dapat diamati dari arah utara sejak 23 Desember pukul 01.00 waktu setempat (sesuai zona waktu masing-masing) hingga menjelang Matahari terbit.
Meteor ini berasal dari sisa debu komet 8P/Tuttle. Kecepatan geosentrik meteor bisa melesat hingga 118.800 km/jam.