Ahli Berencana Kubur Karbon Dioksida di Laut Lawan Pemanasan Global

CNN Indonesia
Jumat, 02 Des 2022 20:45 WIB
Ahli berencana mengubur karbon dioksida ke dasar laut untuk lawan karbon dioksida. Bagaimana caranya? Ilustrasi plankton. Ahli berencana menggunakan plankton untuk mengubur karbon dioksida di dasar lautan. Foto: iStockphoto
Jakarta, CNN Indonesia --

Beragam cara dan ide muncul demi menghadapi pemanasan global. Salah satunya adalah ide mengubur karbon dioksida ke dalam lautan.

"Pada titik ini, waktu sangat penting," kata Michael Hochella, ilmuwan spesialis Bumi di US Department of Energy's Pacific Northwest National Laboratory seperti dikutip Science Alert.

"Untuk melawan temperatur yang meningkat, kita harus mengurangi level karbon dioksida (CO2) dalam skala global. Memeriksa semua opsi kita, termasuk menggunakan samudra sebagai kuburan CO2, memberikan kita kesempatan terbaik mendinginkan planet," ujarnya menambahkan.

Lihat Juga :

Keberadaan phytoplankton di samudra menjadi salah satu alasan di balik ide ini. Ia merupakan mikroorganisme yang mengambang di permukaan samudra dan bertugas sebagai komponen yang mengambil CO2 dari udara dan menyimpannya di kedalaman samudra.

Phytoplankton membutuhkan mineral seperti zat besi untuk tumbuh dan berkembang. Namun jumlah mineral itu di permukaan samudra terbatas sehingga membatasi perkembangan phytoplankton.

Dengan berdasar kepada sistem fertilisasi yang membantu proses fotosintesis pada tanaman di darat, para ahli secara teoretis berpikir hal yang sama bisa ditawarkan oleh phytoplankton. Selain phytoplankton keberadaan paus juga membantu mengurangi jumlah karbon dioksida.

Para paus tercatat membantu mengurangi hampir 2 juta ton karbon dioksida per tahun. Hal tersebut mungkin terjadi karena pelepasan kotoran paus yang mengandung nutrisi untuk makanan phytoplankton.

Dengan menaruh bahan-bahan serupa kotoran itu, pertumbuhan phytoplankton bisa distimulasi untuk tumbuh dan bereproduksi. Alhasil, mereka dapat menghisap lebih banyak CO2 dari udara dan membawanya hingga mati.

CO2 yang disimpan di lantai samudra pada titik ini kembali ke tempat pelepasannya yang diakibatkan aktivitas manusia. Siklus ini bisa menyimpan karbon hingga ribuan tahun seperti yang dialami fosil-fosil yang kemudian menjadi bahan bakar.

Para ahli pun tidak bisa sembarangan menaruh nutrisi yang dibutuhkan untuk phytoplankton. Pasalnya, nutrisi berukuran besar tidak bisa berada cukup lama dipermukaan untuk dimakan oleh mereka.

Alhasil, para ahli pun beralih ke partikel nano semisal oksidasi besi, dan oksihidrosida besi yang merupakan zat penyubur alami di samudra yang dihasilkan oleh abu vulkanik dan sedimen tanah.

"Idenya adalah untuk meniru proses yang ada. Manusia telah menyuburkan lahan untuk menumbuhkan bahan pangan selama berabad-abad. Cara yang sama bisa kita gunakan untuk menyuburkan samudra," kata Hochella.

Hochella dan tim peneliti lainnya telah mempublikasikan hasil penelitian ini di jurnal Nature dengan judul Potential use of engineered nanoparticles in ocean fertilization for large-scale atmospheric carbon dioxide removal.

"Di sini, kami mengeksplorasi aplikasi dari rekayasa partikel nano (ENP) untuk mengatasi rendahanya fertilisasi artifisial di Samudra. Data dari 123 studi menunjukkan bahwa ENP mungkin meningkatkan pertumbuhan phytoplankton dalam konsentrasi yang masih aman untuk ekosistem laut," tulisnya.

[Gambas:Video CNN]

(lth/lth)
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER