5 Tahun Wafatnya Hawking, Jatuh Bangun si Jenius yang Tak Risau IQ
CNN Indonesia
Selasa, 14 Mar 2023 08:24 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Hari ini, lima tahun kepergian Ilmuwan Stephen Hawking. (AFP PHOTO / ANDREW COWIE)
Jakarta, CNN Indonesia --
Stephen Hawking, yang meninggal di usia 76 tahun 14 Maret 2018, tepat 5 tahun lalu, menjadi salah satu fisikawan teoretis paling cemerlang dengan hidup berliku; berjuang melawan penyakit, menghadapi hujatan, hingga jatuh bangun dalam percintaan.
Tulisan ini diterbitkan terkait lima tahun kepergian Hawking dan 144 tahun kelahiran Albert Einstein. Dua fisikawan yang dianggap memberi dampak amat besar pada cara manusia memandang semesta.
Tak pernah mengungkap IQ-nya, Hawking tetap dianggap sebagai orang terpintar di dunia pada masanya. Saat seorang reporter The New York Times bertanya kepada Hawking soal IQ-nya, dia menjawab dengan "Saya tidak tahu."
"Orang yang membual tentang IQ-nya adalah pecundang," cetus dia, dikutip dari The Atlantic.
Stephen William Hawking lahir di Inggris pada 8 Januari 1942, atau 300 tahun setelah kematian astronom Galileo Galilei.
Dia kuliah di University College, Oxford, mengambil studi fisika di saat ayahnya mendesak untuk fokus pada kedokteran. Hawking melanjutkan ke Cambridge untuk meneliti kosmologi, studi tentang alam semesta secara keseluruhan.
Hawking, saat bicara di Royal Albert Hall, 2012, mengaku tidak belajar membaca sampai usia 8 tahun. Kemalasan yang sama juga terjadi saat menjadi mahasiswa di Universitas Oxford.
Dia menyebut, dikutip dari The Washington Post, tugasnya tidak rapi dan tulisan tangannya merupakan "keputusasaan guru saya".
Kadar kerajinannya berubah usai didiagnosis penyakit pada awal 1963, tepat sebelum ulang tahunnya yang ke-21. Hawking didiagnosis mengidap penyakit neuron motorik, yang lebih dikenal sebagai penyakit Lou Gehrig atau amyotrophic lateral sclerosis (ALS).
Usianya diprediksi tak lebih dari dua tahun lagi. Menyelesaikan gelar doktor pun tampak tidak mungkin. Namun, Hawking menentang ketidakmungkinan itu. Dia meraih PhD pada 1966 dan dia terus bergerilya untuk memahami alam semesta beberapa dekade sejak itu.
Saat penyakitnya kian menyebar, Hawking kian sulit bergerak, mulai menggunakan kursi roda, hingga makin sukar berbicara. Pada 1985, trakeotomi (bedah via bagian depan leher) darurat menyebabkan dia benar-benar kehilangan kemampuan berbicara.
Ia pun dibantu perangkat penghasil ucapan yang dibuat Cambridge, dikombinasikan dengan program perangkat lunak, untuk memungkinkannya menghasilkan suara elektronik dengan memilih kata-kata dengan cara menggerakkan otot di pipinya.
Tepat sebelum didiagnosis penyakit ini, Hawking bertemu Jane Wilde, dan keduanya menikah pada tahun 1965. Pasangan itu memiliki tiga anak sebelum berpisah pada 1995. Hawking menikah lagi pada tahun yang sama tetapi bercerai pada 2006.
Setelah lulus, Hawking bekerja sebagai peneliti dan kemudian sebagai pengajar profesional di Cambridge. Pada 1974, dia dilantik sebagai anggota Royal Society, sebuah perkumpulan ilmuwan sedunia.
Pada 1979, ia diangkat sebagai Lucasian Professor of Mathematics di Cambridge, kursi akademik paling terkenal di dunia yang juga pernah diduduki Sir Isaac Newton, fisikawan anggota Royal Society.
Selama kariernya, Hawking mempelajari hukum dasar yang mengatur alam semesta. Dia mengusulkan bahwa, karena alam semesta memiliki awal lewat Big Bang, kemungkinan besar alam semesta akan memiliki akhir.
Kolab dengan sesama kosmolog Roger Penrose, dia mendemonstrasikan bahwa Teori Relativitas Umum Albert Einstein menunjukkan bahwa ruang dan waktu dimulai saat kelahiran alam semesta dan berakhir di dalam lubang hitam, yang menyiratkan bahwa teori Einstein dan teori kuantum harus bersatu.
Menggunakan dua teori bersama-sama, Hawking juga menetapkan bahwa lubang hitam tidak sepenuhnya gelap melainkan memancarkan radiasi. Dia meramalkan bahwa, setelah Big Bang, lubang hitam sekecil proton tercipta, diatur oleh relativitas umum dan mekanika kuantum.
Pada 2014, Hawking merevisi teorinya, bahkan menulis bahwa, dikutip dari Space, "tidak ada lubang hitam", setidaknya dengan cara yang dipahami para kosmolog secara tradisional.
Teorinya menghilangkan keberadaan 'cakrawala peristiwa' (event horizon), batas tidak ada yang bisa kabur dari lubang hitam. Sebaliknya, dia mengusulkan 'cakrawala tampak' (apparent horizon) yang akan berubah sesuai dengan perubahan kuantum di dalam lubang hitam.
Hawking juga mengusulkan bahwa alam semesta itu sendiri tidak memiliki batas, seperti halnya Bumi.
Meskipun planet ini terbatas, seseorang dapat melakukan perjalanan mengelilinginya tanpa batas, dan tak akan pernah menemukan tembok yang bisa digambarkan sebagai "ujung".
Karya
Hawking adalah seorang penulis populer. Buku pertamanya, 'A Brief History of Time' pertama kali diterbitkan pada 1988 dan menjadi bestseller internasional.
Lewat karyanya ini, Hawking punya misi untuk mengkomunikasikan pertanyaan tentang kelahiran dan kematian alam semesta kepada orang awam.
Hawking kemudian menulis buku nonfiksi lain yang ditujukan untuk non-ilmuwan. Ini termasuk 'A Briefer History of Time', 'The Universe in a Nutshell', 'The Grand Design', dan 'On the Shoulders of Giants'.
Dia dan putrinya, Lucy Hawking, juga membuat seri buku fiksi untuk anak sekolah menengah tentang penciptaan alam semesta, termasuk 'George and the Big Bang' (Simon & Schuster, 2012).
Hawking juga tampil dalam sejumlah acara televisi, termasuk memainkan hologram dirinya sendiri di 'Star Trek: The Next Generation' dan menjadi cameo di acara televisi 'Big Bang Theory'. Tak ketinggalan, ada miniseri pendidikan berjudul 'Stephen Hawking's Universe'.
Pada 2014, sebuah film berdasarkan kehidupan Hawking dirilis. Berjudul 'The Theory of Everything', film tersebut mendapat pujian dari Hawking, yang mengatakan film itu membuatnya merenungkan hidupnya sendiri.
"Meskipun saya sangat cacat, saya berhasil dalam karya ilmiah saya," tulis Hawking di Facebook pada November 2014.
"Saya bepergian jauh dan pernah ke Antartika hingga Pulau Paskah, turun dengan kapal selam dan naik penerbangan tanpa gravitasi. Suatu hari, saya berharap bisa pergi ke luar angkasa," tuturnya.
Pernyataan kontroversial di halaman berikutnya...
Ucapan-ucapan Hawking terbentang dari yang puitis hingga kontroversial. Berikut rinciannya:
"Bahkan jika hanya ada satu teori terpadu yang mungkin, itu hanya seperangkat aturan dan persamaan. Apa yang menghembuskan api ke dalam persamaan dan membuat alam semesta terpaparkan? Pendekatan sains yang biasa dalam membangun model matematika tidak dapat menjawab pertanyaan mengapa harus ada alam semesta untuk dideskripsikan oleh model. Mengapa alam semesta repot-repot ada?"
"Sains meramalkan bahwa banyak jenis alam semesta yang berbeda akan tercipta secara spontan dari ketiadaan. Ini adalah masalah kebetulan di mana kita berada."
"Seluruh sejarah sains menjadi nyata secara bertahap dengan peristiwa-peristiwa yang tidak terjadi dengan semaunya, tetapi mereka mencerminkan tatanan dasar tertentu, yang mungkin atau mungkin juga tidak diilhami oleh Tuhan."
"Musuh terbesar pengetahuan bukanlah ketidaktahuan, [tapi] itu adalah ilusi tentang pengetahuan."
"Tidak jelas bahwa kecerdasan memiliki nilai kelangsungan hidup jangka panjang."
"Orang tidak bisa benar-benar berdebat dengan teorema matematika."
"Sungguh membuang-buang waktu untuk marah tentang kecacatan saya. Seseorang harus melanjutkan hidup dan saya tidak melakukannya dengan buruk. Orang tidak akan punya waktu untuk Anda jika Anda selalu marah atau mengeluh."
"Saya menikmati kesempatan langka yang diberikan kepada saya untuk menjalani kehidupan pikiran. Tapi saya tahu saya membutuhkan tubuh saya dan itu tidak akan bertahan selamanya."
Daftar kutipan Hawking itu tidak akan lengkap tanpa menyebutkan beberapa pernyataannya yang lebih kontroversial.
Dia sering berkata bahwa manusia harus meninggalkan Bumi jika ingin bertahan hidup.
"Bakal cukup sulit untuk menghindari bencana dalam seratus tahun ke depan, apalagi seribu atau sejuta [tahun] berikutnya. Satu-satunya kesempatan kita untuk bertahan hidup jangka panjang bukanlah tetap melihat ke dalam planet Bumi, tetapi menyebar ke luar angkasa," ucapnya, Agustus 2010.
"[K]ita harus ... terus pergi ke luar angkasa demi masa depan umat manusia. Saya rasa kita tidak akan bertahan 1.000 tahun lagi tanpa melarikan diri ke luar planet kita yang rapuh," kata dia, November 2016.
"Kita kehabisan ruang dan satu-satunya tempat untuk dikunjungi adalah dunia lain. Saatnya menjelajahi tata surya lain. Menyebar mungkin satu-satunya hal yang menyelamatkan kita dari diri kita sendiri. Saya yakin manusia harus meninggalkan Bumi," Juni 2017.
Hawking juga mengatakan perjalanan waktu itu memungkinkan dengan syarat yang amat langka, atau bahkan mungkin tak pernah ada.
"Perjalanan waktu dulu dianggap hanya sebagai fiksi ilmiah, tetapi teori relativitas umum Einstein memungkinkan kemungkinan bahwa kita dapat membengkokkan ruang-waktu sedemikian rupa sehingga Anda dapat pergi dengan roket dan kembali sebelum Anda berangkat." katanya pada 2010.
"Saya adalah salah satunya dari orang pertama yang menulis tentang kondisi di mana hal ini mungkin terjadi. Saya menunjukkan bahwa itu akan membutuhkan materi dengan kepadatan energi negatif, yang mungkin tidak tersedia. Ilmuwan lain mengambil keberanian dari makalah saya dan menulis makalah lebih lanjut tentang masalah ini," lanjut dia.
Lain waktu, Hawking berkata, "Sains bukan hanya murid akal, tetapi, juga, salah satu romansa dan gairah."
Fisikawan teoretis ini juga khawatir bahwa robot tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga malapetaka bagi umat manusia.
"Automasi pabrik telah memusnahkan pekerjaan di manufaktur tradisional, dan munculnya kecerdasan buatan kemungkinan akan memperluas penghancuran pekerjaan ini jauh ke dalam kelas menengah, dengan hanya peran yang paling peduli, kreatif, atau pengawasan yang tersisa," tulisnya di The Guardian pada 2016.
"Pengembangan kecerdasan buatan secara penuh bisa berarti akhir dari umat manusia," katanya kepada BBC pada 2014.
Hawking menambahkan, bagaimanapun, AI yang dikembangkan hingga saat ini sangat membantu. Yang lebih merisaukannya adalah potensi replikasi diri AI itu sendiri.
"Itu akan lepas landas dengan sendirinya, dan mendesain ulang dirinya sendiri dengan kecepatan yang terus meningkat. Manusia, yang dibatasi oleh evolusi biologis yang lambat, tidak dapat bersaing, dan akan tergantikan," tuturnya.
"Jin sudah keluar dari botol. Saya khawatir AI dapat menggantikan manusia sama sekali," kata Hawking kepada WIRED pada November 2017.
Tentang Tuhan
Sebagai seseorang yang mendeklarasikan diri sebagai ateis, Hawking juga kadang-kadang mengarungi topik agama.
"Sebelum kita memahami sains, adalah wajar untuk percaya bahwa Tuhan menciptakan alam semesta. Tapi sekarang sains menawarkan penjelasan yang lebih meyakinkan."
"Yang saya maksud dengan 'kita akan mengetahui pikiran Tuhan' adalah, kita akan mengetahui segala sesuatu yang Tuhan akan ketahui, jika Tuhan ada, padahal tidak ada. Saya seorang ateis," cetusnya, dalam wawancara dengan El Mundo, 2014.
Mengambil dasar hukum gravitasi, ia menilai alam semesta dapat tercipta dengan sendirinya dari ketiadaan.
"Karena ada hukum seperti gravitasi, alam semesta dapat dan akan menciptakan dirinya sendiri dari ketiadaan. Penciptaan spontan adalah alasan mengapa ada sesuatu daripada tidak ada, mengapa alam semesta ada, mengapa kita ada."
"Tidak perlu memanggil Tuhan untuk menerangi kertas sentuh biru dan mengatur alam semesta," demikian dikutip dari The Grand Design, karya Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow.
Senada, Hawking juga tak menganggap ada kehidupan pasca-kematian.
"Saya menganggap otak sebagai komputer yang akan berhenti bekerja ketika komponennya gagal...Tidak ada surga atau akhirat bagi komputer yang rusak; itu adalah cerita dongeng bagi orang yang takut akan kegelapan," ucapnya dalam wawancara dengan The Guardian, 2011.
Jakarta, CNN Indonesia --
Stephen Hawking, yang meninggal di usia 76 tahun 14 Maret 2018, tepat 5 tahun lalu, menjadi salah satu fisikawan teoretis paling cemerlang dengan hidup berliku; berjuang melawan penyakit, menghadapi hujatan, hingga jatuh bangun dalam percintaan.
Tulisan ini diterbitkan terkait lima tahun kepergian Hawking dan 144 tahun kelahiran Albert Einstein. Dua fisikawan yang dianggap memberi dampak amat besar pada cara manusia memandang semesta.
Tak pernah mengungkap IQ-nya, Hawking tetap dianggap sebagai orang terpintar di dunia pada masanya. Saat seorang reporter The New York Times bertanya kepada Hawking soal IQ-nya, dia menjawab dengan "Saya tidak tahu."
"Orang yang membual tentang IQ-nya adalah pecundang," cetus dia, dikutip dari The Atlantic.
Stephen William Hawking lahir di Inggris pada 8 Januari 1942, atau 300 tahun setelah kematian astronom Galileo Galilei.
Dia kuliah di University College, Oxford, mengambil studi fisika di saat ayahnya mendesak untuk fokus pada kedokteran. Hawking melanjutkan ke Cambridge untuk meneliti kosmologi, studi tentang alam semesta secara keseluruhan.
Hawking, saat bicara di Royal Albert Hall, 2012, mengaku tidak belajar membaca sampai usia 8 tahun. Kemalasan yang sama juga terjadi saat menjadi mahasiswa di Universitas Oxford.
Dia menyebut, dikutip dari The Washington Post, tugasnya tidak rapi dan tulisan tangannya merupakan "keputusasaan guru saya".
Kadar kerajinannya berubah usai didiagnosis penyakit pada awal 1963, tepat sebelum ulang tahunnya yang ke-21. Hawking didiagnosis mengidap penyakit neuron motorik, yang lebih dikenal sebagai penyakit Lou Gehrig atau amyotrophic lateral sclerosis (ALS).
Usianya diprediksi tak lebih dari dua tahun lagi. Menyelesaikan gelar doktor pun tampak tidak mungkin. Namun, Hawking menentang ketidakmungkinan itu. Dia meraih PhD pada 1966 dan dia terus bergerilya untuk memahami alam semesta beberapa dekade sejak itu.
Saat penyakitnya kian menyebar, Hawking kian sulit bergerak, mulai menggunakan kursi roda, hingga makin sukar berbicara. Pada 1985, trakeotomi (bedah via bagian depan leher) darurat menyebabkan dia benar-benar kehilangan kemampuan berbicara.
Ia pun dibantu perangkat penghasil ucapan yang dibuat Cambridge, dikombinasikan dengan program perangkat lunak, untuk memungkinkannya menghasilkan suara elektronik dengan memilih kata-kata dengan cara menggerakkan otot di pipinya.
Tepat sebelum didiagnosis penyakit ini, Hawking bertemu Jane Wilde, dan keduanya menikah pada tahun 1965. Pasangan itu memiliki tiga anak sebelum berpisah pada 1995. Hawking menikah lagi pada tahun yang sama tetapi bercerai pada 2006.
Setelah lulus, Hawking bekerja sebagai peneliti dan kemudian sebagai pengajar profesional di Cambridge. Pada 1974, dia dilantik sebagai anggota Royal Society, sebuah perkumpulan ilmuwan sedunia.
Pada 1979, ia diangkat sebagai Lucasian Professor of Mathematics di Cambridge, kursi akademik paling terkenal di dunia yang juga pernah diduduki Sir Isaac Newton, fisikawan anggota Royal Society.
Selama kariernya, Hawking mempelajari hukum dasar yang mengatur alam semesta. Dia mengusulkan bahwa, karena alam semesta memiliki awal lewat Big Bang, kemungkinan besar alam semesta akan memiliki akhir.
Kolab dengan sesama kosmolog Roger Penrose, dia mendemonstrasikan bahwa Teori Relativitas Umum Albert Einstein menunjukkan bahwa ruang dan waktu dimulai saat kelahiran alam semesta dan berakhir di dalam lubang hitam, yang menyiratkan bahwa teori Einstein dan teori kuantum harus bersatu.
Menggunakan dua teori bersama-sama, Hawking juga menetapkan bahwa lubang hitam tidak sepenuhnya gelap melainkan memancarkan radiasi. Dia meramalkan bahwa, setelah Big Bang, lubang hitam sekecil proton tercipta, diatur oleh relativitas umum dan mekanika kuantum.
Pada 2014, Hawking merevisi teorinya, bahkan menulis bahwa, dikutip dari Space, "tidak ada lubang hitam", setidaknya dengan cara yang dipahami para kosmolog secara tradisional.
Teorinya menghilangkan keberadaan 'cakrawala peristiwa' (event horizon), batas tidak ada yang bisa kabur dari lubang hitam. Sebaliknya, dia mengusulkan 'cakrawala tampak' (apparent horizon) yang akan berubah sesuai dengan perubahan kuantum di dalam lubang hitam.
Hawking juga mengusulkan bahwa alam semesta itu sendiri tidak memiliki batas, seperti halnya Bumi.
Meskipun planet ini terbatas, seseorang dapat melakukan perjalanan mengelilinginya tanpa batas, dan tak akan pernah menemukan tembok yang bisa digambarkan sebagai "ujung".
Karya
Hawking adalah seorang penulis populer. Buku pertamanya, 'A Brief History of Time' pertama kali diterbitkan pada 1988 dan menjadi bestseller internasional.
Lewat karyanya ini, Hawking punya misi untuk mengkomunikasikan pertanyaan tentang kelahiran dan kematian alam semesta kepada orang awam.
Hawking kemudian menulis buku nonfiksi lain yang ditujukan untuk non-ilmuwan. Ini termasuk 'A Briefer History of Time', 'The Universe in a Nutshell', 'The Grand Design', dan 'On the Shoulders of Giants'.
Dia dan putrinya, Lucy Hawking, juga membuat seri buku fiksi untuk anak sekolah menengah tentang penciptaan alam semesta, termasuk 'George and the Big Bang' (Simon & Schuster, 2012).
Hawking juga tampil dalam sejumlah acara televisi, termasuk memainkan hologram dirinya sendiri di 'Star Trek: The Next Generation' dan menjadi cameo di acara televisi 'Big Bang Theory'. Tak ketinggalan, ada miniseri pendidikan berjudul 'Stephen Hawking's Universe'.
Pada 2014, sebuah film berdasarkan kehidupan Hawking dirilis. Berjudul 'The Theory of Everything', film tersebut mendapat pujian dari Hawking, yang mengatakan film itu membuatnya merenungkan hidupnya sendiri.
"Meskipun saya sangat cacat, saya berhasil dalam karya ilmiah saya," tulis Hawking di Facebook pada November 2014.
"Saya bepergian jauh dan pernah ke Antartika hingga Pulau Paskah, turun dengan kapal selam dan naik penerbangan tanpa gravitasi. Suatu hari, saya berharap bisa pergi ke luar angkasa," tuturnya.
Pernyataan kontroversial di halaman berikutnya...
Deret Pernyataan Kontroversial
Lubang hitam jadi salah satu fokus studi Hawking. (NASA’s Goddard Space Flight Center/Jeremy Schnittman)
Ucapan-ucapan Hawking terbentang dari yang puitis hingga kontroversial. Berikut rinciannya:
"Bahkan jika hanya ada satu teori terpadu yang mungkin, itu hanya seperangkat aturan dan persamaan. Apa yang menghembuskan api ke dalam persamaan dan membuat alam semesta terpaparkan? Pendekatan sains yang biasa dalam membangun model matematika tidak dapat menjawab pertanyaan mengapa harus ada alam semesta untuk dideskripsikan oleh model. Mengapa alam semesta repot-repot ada?"
"Sains meramalkan bahwa banyak jenis alam semesta yang berbeda akan tercipta secara spontan dari ketiadaan. Ini adalah masalah kebetulan di mana kita berada."
"Seluruh sejarah sains menjadi nyata secara bertahap dengan peristiwa-peristiwa yang tidak terjadi dengan semaunya, tetapi mereka mencerminkan tatanan dasar tertentu, yang mungkin atau mungkin juga tidak diilhami oleh Tuhan."
"Musuh terbesar pengetahuan bukanlah ketidaktahuan, [tapi] itu adalah ilusi tentang pengetahuan."
"Tidak jelas bahwa kecerdasan memiliki nilai kelangsungan hidup jangka panjang."
"Orang tidak bisa benar-benar berdebat dengan teorema matematika."
"Sungguh membuang-buang waktu untuk marah tentang kecacatan saya. Seseorang harus melanjutkan hidup dan saya tidak melakukannya dengan buruk. Orang tidak akan punya waktu untuk Anda jika Anda selalu marah atau mengeluh."
"Saya menikmati kesempatan langka yang diberikan kepada saya untuk menjalani kehidupan pikiran. Tapi saya tahu saya membutuhkan tubuh saya dan itu tidak akan bertahan selamanya."
Daftar kutipan Hawking itu tidak akan lengkap tanpa menyebutkan beberapa pernyataannya yang lebih kontroversial.
Dia sering berkata bahwa manusia harus meninggalkan Bumi jika ingin bertahan hidup.
"Bakal cukup sulit untuk menghindari bencana dalam seratus tahun ke depan, apalagi seribu atau sejuta [tahun] berikutnya. Satu-satunya kesempatan kita untuk bertahan hidup jangka panjang bukanlah tetap melihat ke dalam planet Bumi, tetapi menyebar ke luar angkasa," ucapnya, Agustus 2010.
"[K]ita harus ... terus pergi ke luar angkasa demi masa depan umat manusia. Saya rasa kita tidak akan bertahan 1.000 tahun lagi tanpa melarikan diri ke luar planet kita yang rapuh," kata dia, November 2016.
"Kita kehabisan ruang dan satu-satunya tempat untuk dikunjungi adalah dunia lain. Saatnya menjelajahi tata surya lain. Menyebar mungkin satu-satunya hal yang menyelamatkan kita dari diri kita sendiri. Saya yakin manusia harus meninggalkan Bumi," Juni 2017.
Hawking juga mengatakan perjalanan waktu itu memungkinkan dengan syarat yang amat langka, atau bahkan mungkin tak pernah ada.
"Perjalanan waktu dulu dianggap hanya sebagai fiksi ilmiah, tetapi teori relativitas umum Einstein memungkinkan kemungkinan bahwa kita dapat membengkokkan ruang-waktu sedemikian rupa sehingga Anda dapat pergi dengan roket dan kembali sebelum Anda berangkat." katanya pada 2010.
"Saya adalah salah satunya dari orang pertama yang menulis tentang kondisi di mana hal ini mungkin terjadi. Saya menunjukkan bahwa itu akan membutuhkan materi dengan kepadatan energi negatif, yang mungkin tidak tersedia. Ilmuwan lain mengambil keberanian dari makalah saya dan menulis makalah lebih lanjut tentang masalah ini," lanjut dia.
Lain waktu, Hawking berkata, "Sains bukan hanya murid akal, tetapi, juga, salah satu romansa dan gairah."
Fisikawan teoretis ini juga khawatir bahwa robot tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga malapetaka bagi umat manusia.
"Automasi pabrik telah memusnahkan pekerjaan di manufaktur tradisional, dan munculnya kecerdasan buatan kemungkinan akan memperluas penghancuran pekerjaan ini jauh ke dalam kelas menengah, dengan hanya peran yang paling peduli, kreatif, atau pengawasan yang tersisa," tulisnya di The Guardian pada 2016.
"Pengembangan kecerdasan buatan secara penuh bisa berarti akhir dari umat manusia," katanya kepada BBC pada 2014.
Hawking menambahkan, bagaimanapun, AI yang dikembangkan hingga saat ini sangat membantu. Yang lebih merisaukannya adalah potensi replikasi diri AI itu sendiri.
"Itu akan lepas landas dengan sendirinya, dan mendesain ulang dirinya sendiri dengan kecepatan yang terus meningkat. Manusia, yang dibatasi oleh evolusi biologis yang lambat, tidak dapat bersaing, dan akan tergantikan," tuturnya.
"Jin sudah keluar dari botol. Saya khawatir AI dapat menggantikan manusia sama sekali," kata Hawking kepada WIRED pada November 2017.
Tentang Tuhan
Sebagai seseorang yang mendeklarasikan diri sebagai ateis, Hawking juga kadang-kadang mengarungi topik agama.
"Sebelum kita memahami sains, adalah wajar untuk percaya bahwa Tuhan menciptakan alam semesta. Tapi sekarang sains menawarkan penjelasan yang lebih meyakinkan."
"Yang saya maksud dengan 'kita akan mengetahui pikiran Tuhan' adalah, kita akan mengetahui segala sesuatu yang Tuhan akan ketahui, jika Tuhan ada, padahal tidak ada. Saya seorang ateis," cetusnya, dalam wawancara dengan El Mundo, 2014.
Mengambil dasar hukum gravitasi, ia menilai alam semesta dapat tercipta dengan sendirinya dari ketiadaan.
"Karena ada hukum seperti gravitasi, alam semesta dapat dan akan menciptakan dirinya sendiri dari ketiadaan. Penciptaan spontan adalah alasan mengapa ada sesuatu daripada tidak ada, mengapa alam semesta ada, mengapa kita ada."
"Tidak perlu memanggil Tuhan untuk menerangi kertas sentuh biru dan mengatur alam semesta," demikian dikutip dari The Grand Design, karya Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow.
Senada, Hawking juga tak menganggap ada kehidupan pasca-kematian.
"Saya menganggap otak sebagai komputer yang akan berhenti bekerja ketika komponennya gagal...Tidak ada surga atau akhirat bagi komputer yang rusak; itu adalah cerita dongeng bagi orang yang takut akan kegelapan," ucapnya dalam wawancara dengan The Guardian, 2011.