Alasan Pulau Jawa Hingga Nusa Tenggara Jadi 'Korban' Utama Kekeringan
CNN Indonesia
Kamis, 24 Agu 2023 07:12 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Kondisi Waduk Tandon di Wonogiri, Jateng, Selasa (8/8). Pulau Jawa jadi korban terparah kekeringan sejauh ini. (ANTARA FOTO/MOHAMMAD AYUDHA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara sudah lama tak tersentuh hujan di saat air masih cukup sering jatuh di bagian barat, utara, dan timur Indonesia. Ada apa?
Dalam Prospek Cuaca Seminggu ke Depan Periode 22 - 28 Agustus, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap wilayah-wilayah yang berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Yakni, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua
Senada, Peta Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut BMKG, dengan pembaruan data terakhir pada 20 Agustus pada 4036 titik pengamatan, mengungkap Jawa mendominasi titik-titik wilayah yang sudah lama tak tersentuh hujan.
Data tersebut dirilis dengan menggunakan klasifikasi berikut:
Warna hijau: 1-5 hari tanpa hujan (Sangat Pendek)
Warna kuning (Pendek): 6-10 hari (Pendek)
Warna coklat muda: 11-20 hari (Menengah)
Warna coklat tua: 21-30 hari (Panjang)
Warna merah muda: 31-60 hari (Sangat Panjang)
Warna merah: > 60 hari tanpa hujan (Ekstrem Panjang)
Berdasarkan peta tersebut, wilayah-wilayah yang masuk dalam skala jarang hujan (warna pink) adalah sebagai berikut:
Pulau Sumatera: sebagian kecil Lampung dan Sumatra Selatan
Pulau Jawa: nyaris seluruh Jawa tanpa hujan sejak lama
Pulau Bali: bagian utara terutama mengalami kekeringan
Nusa Tenggara Timur dan Barat: hampir sebagian besar
Pulau Kalimantan: sebagian Kalsel.
Pulau Sulawesi: sebagian besar Sulsel, sebagian kecil Sulbar, sebagian Sultra, sebagian Gorontalo, banyak wilayah di Sulut.
Maluku: sebagian Maluku dan Maluku Utara
Sementara, wilayah yang masuk kekeringan ekstrem (merah) antara lain:
Pulau Jawa: sebagian kecil Jabar, separuh Jatim
Nusa Tenggara: sebagian NTT dan NTB
BMKG pun mengungkap beberapa kondisi yang berpengaruh terhadap ketiadaan hujan terutama di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara. Berikut rinciannya:
El Nino
Kondisi El Nino, fenomena iklim di Samudera Pasifik yang mengeringkan hujan, kini sudah mencapai level moderat. Indikatornya ditunjukkan oleh Indeks NINO 3.4 yang sudah mencapai +1.17 dan nilai Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -11.7.
Selain itu, ada pengaruh Indian Ocean Dipole (IOD), fenomena sejenis El Nino di Samudera Hindia, menguat. Ini ditunjukkan oleh nilai Dipole Mode Index (DMI) yang mencapai +0.79.
"Kondisi El Nino Moderate dan Potensi Dipole Mode Positif menunjukkan potensi pengurangan curah hujan yang signifikan untuk wilayah Indonesia," menurut keterangan BMKG.
Lembaga ini juga sebelumnya sudah memprediksi wilayah-wilayah yang akan mengalami curah hujan bulanan dengan kategori rendah (0 - 100 mm/bulan), utamanya pada Agustus - September - Oktober.
Yakni, Sumatera bagian tengah hingga selatan, pulau Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku dan Papua bagian selatan.
Pengaruh gelombang atmosfer di halaman berikutnya...
Gelombang atmosfer
Berdasarkan analisis kondisi regional BMKG per 22 Agustus, beberapa fenomena atmosfer memengaruhi kondisi curah hujan hanya di luar Jawa, Bali, Nusa Tenggara.
Fenomena-fenomena itu meliputi Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang ekuator (Gelombang Rossby Ekuator, Gelombang Kelvin, Gelombang dengan low frequency, serta kombinasi ketiganya).
BMKG mengungkap deret fenomena regional itu bisa memicu menunjukkan kecenderungan peningkatan aktivitas konvektif alias awan pembentuk hujan di sejumlah wilayah.
Yakni, Laut China Selatan, Kalimantan bagian utara, Laut Sulawesi, Maluku Utara, dan Samudra Pasifik utara Maluku Utara hingga Papua.
Angin
BMKG juga mengungkap sirkulasi siklonik memunculkan daerah pertemuan atau perlambatan angin alias konvergensi di wilayah tertentu.
Fenomena ini meningkatkan kecenderungan pertumbuhan awan hujan di pesisir barat Sumatera dan Sumatera bagian utara, Kalimantan bagian utara, Sulawesi bagian tengah, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.
Kondisi lokal
Hasil analisis kondisi lokal/mikro BMKG juga menunjukkan kecenderungan peningkatan aktivitas konvektif atau pembentukan awan hukan akibat kondisi labilitas yang kuat di beberapa wilayah di luar Jawa hingga NTT.
Yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.
Jakarta, CNN Indonesia --
Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara sudah lama tak tersentuh hujan di saat air masih cukup sering jatuh di bagian barat, utara, dan timur Indonesia. Ada apa?
Dalam Prospek Cuaca Seminggu ke Depan Periode 22 - 28 Agustus, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap wilayah-wilayah yang berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Yakni, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua
Senada, Peta Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-Turut BMKG, dengan pembaruan data terakhir pada 20 Agustus pada 4036 titik pengamatan, mengungkap Jawa mendominasi titik-titik wilayah yang sudah lama tak tersentuh hujan.
Data tersebut dirilis dengan menggunakan klasifikasi berikut:
Warna hijau: 1-5 hari tanpa hujan (Sangat Pendek)
Warna kuning (Pendek): 6-10 hari (Pendek)
Warna coklat muda: 11-20 hari (Menengah)
Warna coklat tua: 21-30 hari (Panjang)
Warna merah muda: 31-60 hari (Sangat Panjang)
Warna merah: > 60 hari tanpa hujan (Ekstrem Panjang)
Berdasarkan peta tersebut, wilayah-wilayah yang masuk dalam skala jarang hujan (warna pink) adalah sebagai berikut:
Pulau Sumatera: sebagian kecil Lampung dan Sumatra Selatan
Pulau Jawa: nyaris seluruh Jawa tanpa hujan sejak lama
Pulau Bali: bagian utara terutama mengalami kekeringan
Nusa Tenggara Timur dan Barat: hampir sebagian besar
Pulau Kalimantan: sebagian Kalsel.
Pulau Sulawesi: sebagian besar Sulsel, sebagian kecil Sulbar, sebagian Sultra, sebagian Gorontalo, banyak wilayah di Sulut.
Maluku: sebagian Maluku dan Maluku Utara
Sementara, wilayah yang masuk kekeringan ekstrem (merah) antara lain:
Pulau Jawa: sebagian kecil Jabar, separuh Jatim
Nusa Tenggara: sebagian NTT dan NTB
BMKG pun mengungkap beberapa kondisi yang berpengaruh terhadap ketiadaan hujan terutama di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara. Berikut rinciannya:
El Nino
Kondisi El Nino, fenomena iklim di Samudera Pasifik yang mengeringkan hujan, kini sudah mencapai level moderat. Indikatornya ditunjukkan oleh Indeks NINO 3.4 yang sudah mencapai +1.17 dan nilai Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -11.7.
Selain itu, ada pengaruh Indian Ocean Dipole (IOD), fenomena sejenis El Nino di Samudera Hindia, menguat. Ini ditunjukkan oleh nilai Dipole Mode Index (DMI) yang mencapai +0.79.
"Kondisi El Nino Moderate dan Potensi Dipole Mode Positif menunjukkan potensi pengurangan curah hujan yang signifikan untuk wilayah Indonesia," menurut keterangan BMKG.
Lembaga ini juga sebelumnya sudah memprediksi wilayah-wilayah yang akan mengalami curah hujan bulanan dengan kategori rendah (0 - 100 mm/bulan), utamanya pada Agustus - September - Oktober.
Yakni, Sumatera bagian tengah hingga selatan, pulau Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku dan Papua bagian selatan.
Pengaruh gelombang atmosfer di halaman berikutnya...
Gelombang Atmosfer Hingga Kondisi Lokal
Prakiraan cuaca menunjukkan potensi awan hujan tak sampai ke Jawa. (Safir Makki)
Gelombang atmosfer
Berdasarkan analisis kondisi regional BMKG per 22 Agustus, beberapa fenomena atmosfer memengaruhi kondisi curah hujan hanya di luar Jawa, Bali, Nusa Tenggara.
Fenomena-fenomena itu meliputi Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang ekuator (Gelombang Rossby Ekuator, Gelombang Kelvin, Gelombang dengan low frequency, serta kombinasi ketiganya).
BMKG mengungkap deret fenomena regional itu bisa memicu menunjukkan kecenderungan peningkatan aktivitas konvektif alias awan pembentuk hujan di sejumlah wilayah.
Yakni, Laut China Selatan, Kalimantan bagian utara, Laut Sulawesi, Maluku Utara, dan Samudra Pasifik utara Maluku Utara hingga Papua.
Angin
BMKG juga mengungkap sirkulasi siklonik memunculkan daerah pertemuan atau perlambatan angin alias konvergensi di wilayah tertentu.
Fenomena ini meningkatkan kecenderungan pertumbuhan awan hujan di pesisir barat Sumatera dan Sumatera bagian utara, Kalimantan bagian utara, Sulawesi bagian tengah, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.
Kondisi lokal
Hasil analisis kondisi lokal/mikro BMKG juga menunjukkan kecenderungan peningkatan aktivitas konvektif atau pembentukan awan hukan akibat kondisi labilitas yang kuat di beberapa wilayah di luar Jawa hingga NTT.
Yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.