Cerita 'Hujan Abadi' di Bogor, Antara Gunung dan Badai
Justin R Minder (Associate Professor Ilmu Lingkungan dan Atmosfer Atmospheric and Environmental Sciences, University at Albany (SUNY)), dan Gerard H Roe (Professor, Associate Chair di Departemen Ilmu Bumi dan Angkasa University of Washington, AS) menjelaskan proses hujan orografik.
Menurut keduanya, hujan orografik (orographic precipitation) dibentuk oleh berbagai proses non-linear yang berlangsung pada skala mulai dari badai berukuran 1.000 km dan pegunungan besar, hingga tetesan awan berukuran sub-mikron.
"Hampir semua pengaruh orografis terhadap presipitasi (curah hujan) terjadi akibat naik turunnya gerak atmosfer secara paksa oleh topografi," tulis keduanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gerakan ini dapat dipaksakan secara mekanis, karena udara yang mengenai gunung terangkat di atasnya, atau secara termal, karena lereng gunung yang panas memicu sirkulasi yang digerakkan oleh daya apung.
Gerakan naik, kata keduanya, menyebabkan udara mengembang dan mendingin.
"Jadi jika pendinginan cukup, udara jenuh dan uap air mengembun menjadi tetesan awan atau membentuk kristal es awan. Tetesan dan kristal ini tumbuh dengan berbagai proses hingga menjadi cukup besar untuk jatuh sebagai hujan dan salju," jelas Minder dan Roe.
Meski begitu, keduanya menekankan bahwa naiknya kelembapan karena faktor topografi saja biasanya tidak cukup untuk menghasilkan hujan.
"Efek orografis ini sebagian besar berubah jadi curah hujan selama badai yang sudah ada sebelumnya," tulis keduanya, "Sebaliknya, ketika udara turun itu menghangat dan mengering, dan awan maupun curah hujan jadi menguap."
Badai
Peneliti klimatologi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin memprediksi Bogor bakal terus diguyur hujan saat El Nino tiba. Hal itu akibat faktor lokal cuaca.
"Confirmed: Sore bahkan hingga malam ini kembali hujan di Lebak, Bogor, Cibinong dsk, karena efek lokal selatan Banten dan selatan Jabar yg menguat," kicaunya, Minggu (4/6).
"Maka, meskipun Juni-Juli merupakan bulan-bulan terkering untuk Jawa karena pengaruh El Nino lemah, Bogor tetap akan diguyur hujan."
Ia menunjukkan salah satu pola hujan yang terpantau di Bogor berpola squall-line (tipe badai yang memanjang) dan bersifat lokal hanya terjadi di Kota Bogor dan sekitarnya.
Selain efek lokal itu, Erma menyebut ada gabungan pengaruh Boreal Summer Intraseasonal Oscillation (BSISO), semacam fenomena atmosfer pada musim kemarau, dan dampak bibit siklon 98W di utara Papua.
Hal itu, kata dia, membuat atmosfer kembali lembap di Sumatra dan Kalimantan dan membuat hujan. "Sebagian Jabar juga terdampak hujan, khususnya di wilayah Bogor dan Jabodetabek."
(arh/lom/arh)Hujan yang merata sepanjang tahun meski ada fenomena El Nino menjadi salah satu alasan Bogor mendapat julukan 'Kota Hujan'. Apa penyebab air turun terus di wilayah ini?
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut El Nino, yang memicu penurunan curah hujan, punya peluang 80 persen muncul mulai Juni ini.
Namun, 16 persen atau 113 Zona Musim (ZOM) di Indonesia masuk zona satu musim. Artinya, daerah-daerah ini hanya mengenal hujan terus atau sebaliknya hampir tak pernah tersentuh gerimis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu daerah yang hujan melulu itu adalah Bogor.
Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Klimatologi BMKG Urip Haryoko mengungkap wilayah-wilayah satu musim ini tetap punya variasi cuaca.
"Berdasarkan data hujan yang panjang (klimatologi 30 tahun) daerah satu musim adalah daerah yg mengalami periode hujan terus menerus sepanjang tahun, dan tdk berubah pada tahun-tahun berikutnya. Yang berubah hanya variasinya, tetapi hujannya tetap di atas 150 mm per bulan," tuturnya, dalam keterangan tertulis kepada CNNIndonesia.com, Senin (5/6).
"Batasan musim hujan adalah jika curah hujan satu bulan mencapai lebih besar dari 150 milimeter," imbuhnya.
Hal sebaliknya juga terjadi pada wilayah satu musim yang mengalami musim kemarau. Ketika sebuah wilayah memiliki curah hujan di bawah 60 milimeter per bulan, curah hujannya dapat bervariasi tetapi tetap tidak sampai 60 milimeter per bulan.
Menurutnya, sebuah wilayah bisa memiliki satu musim dikarenakan "karakteristik kondisi iklim khusus dan interaksi atmosfer-laut dengan bentang wilayah yang unik menjadi salah satu faktor wilayah tsb hanya mengalami satu musim dalam setahun."
Meski demikian, wilayah-wilayah tersebut bisa mengalami cuaca yang dialami musim lain.
"Betul. Misal Bogor, walaupun pada bulan juli yg sebagian besar wilayah Indonesia kemarau, tapi Bogor tetap hujan," tutur Urip.
Selain itu, kata dia, wilayah satu musim juga "masih tetap terdampak anomali iklim global seperti El Nino atau La Nina yang berdampak pada dinamika cuaca di wilayah tersebut."
Beberapa pemicu Bogor jadi wilayah satu musim adalah sebagai berikut:
Hujan orografik
Dikutip dari situs resmi Pemkot Bogor, Kota Bogor mempunyai rata-rata ketinggian minimum 190 meter dan maksimum 330 m dari permukaan laut.
Kondisi iklim di Kota Bogor suhu rata-rata tiap bulan 26' C dengan suhu terendah 21,8' C dengan suhu tertinggi 30,4' C. Kelembaban udara 70 persen. Curah hujan rata-rata setiap tahun sekitar 3.500 - 4000 mm dengan curah hujan terbesar pada bulan Desember dan Januari.
Menurut keterangan Pemprov Jabar, Bogor terletak pada kaki Gunung Salak dan Gunung Gede sehingga sangat kaya akan hujan orografi.
Angin laut dari Laut Jawa yang membawa banyak uap air masuk ke pedalaman dan naik secara mendadak di wilayah Bogor sehingga uap air langsung terkondensasi dan menjadi hujan.
"Hampir setiap hari turun hujan di kota ini dalam setahun (70%) sehingga dijuluki 'Kota Hujan'," demikian keterangan Pemprov.
Keunikan iklim lokal ini dimanfaatkan oleh para perencana kolonial Belanda untuk menjadikan Bogor sebagai pusat penelitian botani dan pertanian.
Penjelasan soal hujan orografik di halaman berikutnya...
Hujan Orografik Hingga Badai
Ilustrasi. Bogor tetap bisa menikmati variasi musim meski banyak hujan. (ANTARA FOTO/Jafkhairi)
Justin R Minder (Associate Professor Ilmu Lingkungan dan Atmosfer Atmospheric and Environmental Sciences, University at Albany (SUNY)), dan Gerard H Roe (Professor, Associate Chair di Departemen Ilmu Bumi dan Angkasa University of Washington, AS) menjelaskan proses hujan orografik.
Menurut keduanya, hujan orografik (orographic precipitation) dibentuk oleh berbagai proses non-linear yang berlangsung pada skala mulai dari badai berukuran 1.000 km dan pegunungan besar, hingga tetesan awan berukuran sub-mikron.
"Hampir semua pengaruh orografis terhadap presipitasi (curah hujan) terjadi akibat naik turunnya gerak atmosfer secara paksa oleh topografi," tulis keduanya.
Gerakan ini dapat dipaksakan secara mekanis, karena udara yang mengenai gunung terangkat di atasnya, atau secara termal, karena lereng gunung yang panas memicu sirkulasi yang digerakkan oleh daya apung.
Gerakan naik, kata keduanya, menyebabkan udara mengembang dan mendingin.
"Jadi jika pendinginan cukup, udara jenuh dan uap air mengembun menjadi tetesan awan atau membentuk kristal es awan. Tetesan dan kristal ini tumbuh dengan berbagai proses hingga menjadi cukup besar untuk jatuh sebagai hujan dan salju," jelas Minder dan Roe.
Meski begitu, keduanya menekankan bahwa naiknya kelembapan karena faktor topografi saja biasanya tidak cukup untuk menghasilkan hujan.
"Efek orografis ini sebagian besar berubah jadi curah hujan selama badai yang sudah ada sebelumnya," tulis keduanya, "Sebaliknya, ketika udara turun itu menghangat dan mengering, dan awan maupun curah hujan jadi menguap."
Badai
Peneliti klimatologi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin memprediksi Bogor bakal terus diguyur hujan saat El Nino tiba. Hal itu akibat faktor lokal cuaca.
"Confirmed: Sore bahkan hingga malam ini kembali hujan di Lebak, Bogor, Cibinong dsk, karena efek lokal selatan Banten dan selatan Jabar yg menguat," kicaunya, Minggu (4/6).
"Maka, meskipun Juni-Juli merupakan bulan-bulan terkering untuk Jawa karena pengaruh El Nino lemah, Bogor tetap akan diguyur hujan."
Ia menunjukkan salah satu pola hujan yang terpantau di Bogor berpola squall-line (tipe badai yang memanjang) dan bersifat lokal hanya terjadi di Kota Bogor dan sekitarnya.
Selain efek lokal itu, Erma menyebut ada gabungan pengaruh Boreal Summer Intraseasonal Oscillation (BSISO), semacam fenomena atmosfer pada musim kemarau, dan dampak bibit siklon 98W di utara Papua.
Hal itu, kata dia, membuat atmosfer kembali lembap di Sumatra dan Kalimantan dan membuat hujan. "Sebagian Jabar juga terdampak hujan, khususnya di wilayah Bogor dan Jabodetabek."