Hujan Masih Ramai di Akhir Juni saat El Nino Tak Juga Signifikan
CNN Indonesia
Senin, 26 Jun 2023 18:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Meski belum meluas, kekeringan sudah melanda sejumlah daerah termasuk sebagian Jateng. (AP/John Locher)
Ketiga, suhu muka laut atau sea surface temperature (SST) mencapai anomali +0.5 ⁰C sampai +1.7 ⁰C.
BMKG menyebut ini dapat meningkatkan potensi penguapan (penambahan massa uap air) di Samudra Hindia barat Aceh, Selat Malaka, Laut Natuna, Selat Sunda, Laut Jawa, Selat Madura, Laut Bali, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Teluk Bone, Teluk Tomini, Laut Flores, Laut Seram, Teluk Cendrawasih dan Samudra Pasifik utara Papua.
Keempat, Indeks Seruakan Dingin (Cold Surge), yang merupakan massa udara dingin dari Asia, mencapai -2.4 yang berarti tidak signifikan.
Kelima, Bibit Siklon Tropis 93W terpantau berada di Samudera Pasifik sebelah utara Papua. Kecepatan angin maksimum mencapai 15 knots, dan tekanan udara minimum 1007.0 mb.
Meski potensinya menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan dalam kategori rendah, nibit siklon tersebut membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) dan pertemuan angin (konfluensi) memanjang di Samudra Pasifik Utara Pulau Halmahera, dan Samudra Pasifik Timur Filipina.
Keenam, Sirkulasi Siklonik terpantau di Samudra Hindia Barat Sumatra Barat, dan di Samudra Hindia Selatan Jawa Timur. Hal ini membentuk daerah perlambatan kecepatan angin dan pertemuan angin di Samudra Hindia Barat Daya Bengkulu, dan dari Samudra Hindia Selatan Bali hingga Jawa Timur.
"Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar bibit siklon/sirkulasi siklonik/konvergensi dan di sepanjang daerah konfluensi tersebut."
Ketujuh, daerah konvergensi atau perlambatan kecepatan angin terpantau memanjang di Teluk Thailand, di Laut Cina Selatan, dari pesisir barat Bengkulu hingga Sumatra Utara, dari Pesisir Utara Jawa Timur hingga Laut Jawa Bagian Barat.
Selain itu, dari Laut Seram hingga Sulawesi Tengah, dari Teluk Carpentaria hingga Laut Arafuru, dan dari Papua Tengah hingga Papua Barat.
Ada pula daerah pertemuan angin (konfluensi) di Laut Cina Selatan, Laut Banda, Laut Flores hingga Laut Jawa, Samudra Hindia Selatan NTT hingga Bali, dan dari Laut Arafuru hingga Laut Aru.
"Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sepanjang daerah konvergensi/konfluensi tersebut."
Kedelapan, intrusi udara kering (Dry Intrusion). Fenomena ini melintasi Samudra Hindia selatan Jawa Timur hingga Barat Daya Lampung. Hal ini mampu mengangkat uap air basah di Samudera Hindia Selatan Jawa.
Kondisi lokal
BMKG menyebut "Labilitas Lokal Kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal" terdapat di wilayah Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, dan Papua Barat.
"Hasil analisis kondisi lokal/mikro menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan aktivitas konvektif akibat kondisi labilitas yang kuat di wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kep. Riau, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Maluku dan Papua," tandas BMKG.
Dengan faktor-faktor ini, BMKG pun mengeluarkan peringatan potensi hujan lebat di banyak wilayah, Selasa (27/6).
Yakni, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat dan Papua.
(arh)
Jakarta, CNN Indonesia --
Fenomena lautan yang memicu penurunan curah hujan dunia, El Nino, terdeteksi belum signifikan di saat faktor iklim lokal masih kuat. Alhasil, hujan masih banyak melanda.
Sebelumnya, Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Urip Haryoko mengungkap peluang besar peralihan ke El Nino pada Juni.
"Dengan peluang >80%, ENSO Netral diprediksi mulai beralih menuju fase El Niño pada periode Juni 2023 dan diprediksi akan berlangsung dengan intensitas lemah hingga moderat," ujarnya, beberapa waktu lalu.
Per pertengahan Juni, Koordinator Bidang Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Hary Tirto Djatmiko mengungkap lebih dari separuh wilayah RI sudah masuk musim kemarau.
"Berdasarkan jumlah ZOM (zona musim), sebanyak 51 persen wilayah Indonesia masuk musim kemarau," katanya, dalam keterangan tertulis, Kamis (15/6).
Namun demikian, hujan masih berlangsung di banyak daerah, Aceh hingga Papua. Ada apa?
Faktor global
Dalam Ikhtisar Cuaca Harian Minggu 29 Juni, BMKG mengungkapkan seluruh faktor global yang bisa memengaruhi cuaca RI dalam kondisi tak signifikan.
Dalam catatan BMKG, indeks SOI mencapai -8.8 atau tidak signifikan.
SOI, kependekan dari Southern Oscillation Index (SOI), adalah indeks standar perbedaan tekanan permukaan laut (SLP) di Pasifik barat dan timur, antara Tahiti dan Darwin, Australia.
Selain itu, indeks NINO 3.4 mencapai +0.89, "tidak signifikan."
Indeks ini mengukur kondisi angin dan suhu permukaan laut di Pasifik yang memengaruhi curah hujan global. Makin positif, El Nino makin kuat. Jika sebaliknya, maka La Nina makin hadir.
BMKG juga menyebut Indeks DMI mencapai angka +0.00 yang masuk kategori tidak signifikan.
DMI, yang adalah kependekan dari Dipole Mode Index, menunjukkan indikasi kehadiran Indian Ocean Dipole (IOD) atau fenomena pemanasan permukaan laut di Samudera Hindia yang juga berpengaruh pada curah hujan.
Kondisi ketiga indeks yang tak signifikan itu, tulis BMKG, "secara umum tidak signifikan terhadap peningkatan hujan di wilayah Indonesia."
Faktor regional
Otoritas cuaca juga mengungkap beberapa faktor regional menunjukkan variasi. Pertama, fenomena atmosfer Madden Jullian Oscillation (MJO) kurang berkontribusi terhadap proses pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.
Namun, kata BMKG, "gangguan fenomena MJO secara spasial terpantau aktif di wilayah Maluku Utara, Laut Halmahera, Papua Barat bagian tengah dan utara, Papua bagian utara, dan Samudera Pasifik utara Halmahera hingga Papua."
Hal ini disebut berpotensi menyebabkan peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.
Kedua, gelombang ekuator. Itu terdiri dari:
a. Gelombang Rossby Ekuator merambat ke arah barat mencakup wilayah Samudera Hindia barat daya Lampung, Samudera Pasifik sebelah timur Filipina, Selat Torres, dan Laut Coral bagian utara, berpotensi menyebabkan peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.
b. Gelombang Kelvin merambat ke arah timur terpantau di Laut Andaman, Samudera Hindia sebelah barat aceh hingga Sumatera Barat, dan Samudera Pasifik timur Filipina hingga timur laut Papua. Ini berpotensi menyebabkan peningkatan pertumbuhan awan hujan di daerah-daerah itu.
c. Gelombang dengan low frequency yang cenderung persisten mencakup wilayah Filipina, Samudera Pasifik timur Filipina hingga utara Papua, dan Papua Nugini.
d. Kombinasi antara MJO, gelombang tipe Low Frequency, gelombang Kelvin, dan gelombang Rossby Ekuator pada wilayah dan periode yang sama yaitu di wilayah Samudera Pasifik sebelah timur Filipina hingga timur laut Papua. Itu dapat meningkatkan aktivitas konvektif serta pembentukan pola sirkulasi siklonik di wilayah tersebut.
Faktor lokal di halaman berikutnya...
Suhu Muka Laut Hingga Faktor Lokal
Ilustrasi. Meski belum meluas, kekeringan sudah melanda sejumlah daerah termasuk sebagian Jateng. (AP/John Locher)
Ketiga, suhu muka laut atau sea surface temperature (SST) mencapai anomali +0.5 ⁰C sampai +1.7 ⁰C.
BMKG menyebut ini dapat meningkatkan potensi penguapan (penambahan massa uap air) di Samudra Hindia barat Aceh, Selat Malaka, Laut Natuna, Selat Sunda, Laut Jawa, Selat Madura, Laut Bali, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Teluk Bone, Teluk Tomini, Laut Flores, Laut Seram, Teluk Cendrawasih dan Samudra Pasifik utara Papua.
Keempat, Indeks Seruakan Dingin (Cold Surge), yang merupakan massa udara dingin dari Asia, mencapai -2.4 yang berarti tidak signifikan.
Kelima, Bibit Siklon Tropis 93W terpantau berada di Samudera Pasifik sebelah utara Papua. Kecepatan angin maksimum mencapai 15 knots, dan tekanan udara minimum 1007.0 mb.
Meski potensinya menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan dalam kategori rendah, nibit siklon tersebut membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) dan pertemuan angin (konfluensi) memanjang di Samudra Pasifik Utara Pulau Halmahera, dan Samudra Pasifik Timur Filipina.
Keenam, Sirkulasi Siklonik terpantau di Samudra Hindia Barat Sumatra Barat, dan di Samudra Hindia Selatan Jawa Timur. Hal ini membentuk daerah perlambatan kecepatan angin dan pertemuan angin di Samudra Hindia Barat Daya Bengkulu, dan dari Samudra Hindia Selatan Bali hingga Jawa Timur.
"Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar bibit siklon/sirkulasi siklonik/konvergensi dan di sepanjang daerah konfluensi tersebut."
Ketujuh, daerah konvergensi atau perlambatan kecepatan angin terpantau memanjang di Teluk Thailand, di Laut Cina Selatan, dari pesisir barat Bengkulu hingga Sumatra Utara, dari Pesisir Utara Jawa Timur hingga Laut Jawa Bagian Barat.
Selain itu, dari Laut Seram hingga Sulawesi Tengah, dari Teluk Carpentaria hingga Laut Arafuru, dan dari Papua Tengah hingga Papua Barat.
Ada pula daerah pertemuan angin (konfluensi) di Laut Cina Selatan, Laut Banda, Laut Flores hingga Laut Jawa, Samudra Hindia Selatan NTT hingga Bali, dan dari Laut Arafuru hingga Laut Aru.
"Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sepanjang daerah konvergensi/konfluensi tersebut."
Kedelapan, intrusi udara kering (Dry Intrusion). Fenomena ini melintasi Samudra Hindia selatan Jawa Timur hingga Barat Daya Lampung. Hal ini mampu mengangkat uap air basah di Samudera Hindia Selatan Jawa.
Kondisi lokal
BMKG menyebut "Labilitas Lokal Kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal" terdapat di wilayah Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, dan Papua Barat.
"Hasil analisis kondisi lokal/mikro menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan aktivitas konvektif akibat kondisi labilitas yang kuat di wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kep. Riau, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Maluku dan Papua," tandas BMKG.
Dengan faktor-faktor ini, BMKG pun mengeluarkan peringatan potensi hujan lebat di banyak wilayah, Selasa (27/6).
Yakni, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat dan Papua.