Gas Rumah Kaca Tetap Pekat Meski Ada Pandemi, Ahli Ungkap Sumbernya
CNN Indonesia
Rabu, 26 Jul 2023 06:57 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Jalanan sepi pada masa pandemi membuat emisi CO2 menurun. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia membuat banyak aktivitas berhenti ternyata tak otomatis menurunkan kepekatan gas rumah kaca pemicu pemanasan global. Apa sebabnya?
Sebelumnya, viral video yang menampilkan Senator asal Queensland, Australia, Malcolm Roberts yang mengklaim berkurangnya aktivitas karena pandemi tak serta merta membuat tingkat pemanasan global menurun.
"Apa yang terjadi pada tahun 2020 ketika kita mengalami resesi besar, hampir depresi di seluruh dunia sebagai akibat dari pembatasan Covid yang dilakukan oleh pemerintah?" kata Roberts dalam sebuah unggahan dari akun Twitter @goddeketal, Selasa (25/7).
"Kita melihat pengurangan yang sama dalam penggunaan bahan bakar hidrokarbon oleh manusia, pengurangan yang sama dalam produksi karbon dioksida dari manusia, namun karbon dioksida di atmosfer terus meningkat," cetusnya.
"Manusia tidak dapat dan tidak mempengaruhi tingkat karbon dioksida di atmosfer. Hal ini sepenuhnya dikendalikan oleh alam," tambahnya.
Roberts menyebut apa yang terjadi saat pandemi sama dengan yang terjadi pada 2009 ketika penggunaan bahan bakar hidrokarbon berkurang karena resesi yang terjadi setelah krisis keuangan global.
Saat itu lebih sedikit karbon dioksida yang dihasilkan dari penggunaan hidrokarbon oleh manusia, tetapi tingkat karbon dioksida di atmosfer tetap meningkat.
Masalah pemanasan global pun diragukannya. Apa benar demikian korelasinya?
Gas rumah kaca merupakan sebutan untuk Karbon Dioksida (CO2), Nitrogen Oksida (NOx), hingga Metana (CH4), yang berkumpul di atmosfer yang memerangkap panas Matahari di Bumi, tak terlepas ke angkasa.
Hal ini menyebabkan Bumi makin panas seperti kondisi dalam oven tertutup.
Dalam sebuah studi yang dilakukan peneliti NASA pada 2021, pandemi memang menurunkan emisi (pelepasan gas ke atmosfer) karbon. Contohnya pada 2020, emisi karbon dioksida turun 5,4 persen.
Di saat yang sama, jumlah CO2 di atmosfer malah terus bertambah dengan kecepatan yang hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya.
"Selama gangguan sosio-ekonomi sebelumnya, seperti [di era] kekurangan minyak pada 1973, Anda dapat segera melihat perubahan dalam tingkat pertumbuhan CO2," kata David Schimel, kepala kelompok karbon Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA dan salah satu penulis studi tersebut.
"Kita semua berharap untuk melihatnya kali ini (masa pandemi) juga," imbuhnya.
Dengan menggunakan data dari satelit Orbiting Carbon Observatory-2 milik NASA yang diluncurkan pada 2014 dan model atmosfer NASA Goddard Earth Observing System, para peneliti mengidentifikasi beberapa alasan untuk hasil tersebut.
Pertama, meskipun penurunan emisi sebesar 5,4 persen cukup signifikan, pertumbuhan konsentrasi atmosfer masih berada dalam kisaran normal dari tahun ke tahun yang disebabkan oleh proses alami.
Selain itu, peneliti mendeteksi lautan tidak menyerap CO2 dari atmosfer sebanyak yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Pakar jelaskan penyebab GRK tetap tinggi di halaman berikutnya...
Apa sebabnya?
Pandemi juga menyebabkan penurunan Nitrogen Oksida (NOx), yang biasanya dihasilkan dari industri kimia.
Masalahnya, studi baru yang menggunakan pengukuran satelit dari berbagai polutan, mengungkap pembatasan NOx sebenarnya tak terlalu positif.
Polutan-polutan itu bereaksi membentuk molekul berumur pendek yang disebut radikal hidroksil. Zat ini berperan penting dalam memecah gas berumur panjang di atmosfer.
Meski membersihkan polusi udara, berkurangnya emisi NOx di saat yang sama juga membatasi kemampuan atmosfer untuk membersihkan diri dari gas rumah kaca penting lainnya: metana.
Masalahnya, metana jauh lebih efektif daripada CO2 dalam memerangkap panas di atmosfer.
NASA mengakui perkiraan jumlah emisi metana yang turun selama pandemi tidak pasti karena beberapa penyebab manusia, seperti pemeliharaan infrastruktur ladang minyak yang buruk, dokumentasi yang kurang baik.
Namun, sebuah studi menghitung bahwa pengurangannya adalah 10 persen.
Seperti CO2, penurunan emisi tidak serta-merta menurunkan konsentrasi metana di atmosfer. Sebaliknya, metana tumbuh sebesar 0,3 persen pada 2020. Ini lebih cepat daripada periode lainnya dalam dekade terakhir.
"Dengan lebih sedikit NOx, ada lebih sedikit radikal hidroksil untuk menghilangkan metana, sehingga metana bertahan lebih lama di atmosfer," jelas JPL NASA.
Walhasil, gas rumah kaca pun masih pekat meski penggunaan kendaraan dan industri berkurang jauh saat pandemi.
Aktivitas normal
Terlebih, aktivitas berangsur normal buntut peralihan pandemi ke endemi di seluruh dunia. Hal ini memicu emisi gas rumah kaca ini kembali meningkat.
Menurut data Badan Moneter Internasional (IMF) pada 2022, emisi gas rumah kaca global tahunan meningkat 6,4 persen tahun lalu ke rekor baru, melampaui puncak pra-pandemi karena aktivitas ekonomi global telah kembali pulih.
Berdasarkan grafik IMF, data emisi itu anjlok tajam pada 2020. Namun, angkanya melonjak lagi setelah 2021. Penyumbang utamanya adalah sektor manufaktur, suplai energi, pertanian, transportasi, dan rumah tangga.
Studi NASA juga mengakui emisi kembali ke tingkat mendekati pra-pandemi pada akhir 2020, meskipun aktivitas di banyak sektor ekonomi berkurang.
Lalu apa yang harus dilakukan jika pandemi saja tak mengurangi GRK?
Para penulis menilai "mengurangi aktivitas di sektor industri dan perumahan ini tidak praktis dalam jangka pendek" sebagai cara untuk mengurangi emisi."
"Mengurangi emisi sektor-sektor ini secara permanen akan membutuhkan transisi mereka ke teknologi emisi rendah karbon," tandas penulis studi.
Jakarta, CNN Indonesia --
Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia membuat banyak aktivitas berhenti ternyata tak otomatis menurunkan kepekatan gas rumah kaca pemicu pemanasan global. Apa sebabnya?
Sebelumnya, viral video yang menampilkan Senator asal Queensland, Australia, Malcolm Roberts yang mengklaim berkurangnya aktivitas karena pandemi tak serta merta membuat tingkat pemanasan global menurun.
"Apa yang terjadi pada tahun 2020 ketika kita mengalami resesi besar, hampir depresi di seluruh dunia sebagai akibat dari pembatasan Covid yang dilakukan oleh pemerintah?" kata Roberts dalam sebuah unggahan dari akun Twitter @goddeketal, Selasa (25/7).
"Kita melihat pengurangan yang sama dalam penggunaan bahan bakar hidrokarbon oleh manusia, pengurangan yang sama dalam produksi karbon dioksida dari manusia, namun karbon dioksida di atmosfer terus meningkat," cetusnya.
"Manusia tidak dapat dan tidak mempengaruhi tingkat karbon dioksida di atmosfer. Hal ini sepenuhnya dikendalikan oleh alam," tambahnya.
Roberts menyebut apa yang terjadi saat pandemi sama dengan yang terjadi pada 2009 ketika penggunaan bahan bakar hidrokarbon berkurang karena resesi yang terjadi setelah krisis keuangan global.
Saat itu lebih sedikit karbon dioksida yang dihasilkan dari penggunaan hidrokarbon oleh manusia, tetapi tingkat karbon dioksida di atmosfer tetap meningkat.
Masalah pemanasan global pun diragukannya. Apa benar demikian korelasinya?
Gas rumah kaca merupakan sebutan untuk Karbon Dioksida (CO2), Nitrogen Oksida (NOx), hingga Metana (CH4), yang berkumpul di atmosfer yang memerangkap panas Matahari di Bumi, tak terlepas ke angkasa.
Hal ini menyebabkan Bumi makin panas seperti kondisi dalam oven tertutup.
Dalam sebuah studi yang dilakukan peneliti NASA pada 2021, pandemi memang menurunkan emisi (pelepasan gas ke atmosfer) karbon. Contohnya pada 2020, emisi karbon dioksida turun 5,4 persen.
Di saat yang sama, jumlah CO2 di atmosfer malah terus bertambah dengan kecepatan yang hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya.
"Selama gangguan sosio-ekonomi sebelumnya, seperti [di era] kekurangan minyak pada 1973, Anda dapat segera melihat perubahan dalam tingkat pertumbuhan CO2," kata David Schimel, kepala kelompok karbon Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA dan salah satu penulis studi tersebut.
"Kita semua berharap untuk melihatnya kali ini (masa pandemi) juga," imbuhnya.
Dengan menggunakan data dari satelit Orbiting Carbon Observatory-2 milik NASA yang diluncurkan pada 2014 dan model atmosfer NASA Goddard Earth Observing System, para peneliti mengidentifikasi beberapa alasan untuk hasil tersebut.
Pertama, meskipun penurunan emisi sebesar 5,4 persen cukup signifikan, pertumbuhan konsentrasi atmosfer masih berada dalam kisaran normal dari tahun ke tahun yang disebabkan oleh proses alami.
Selain itu, peneliti mendeteksi lautan tidak menyerap CO2 dari atmosfer sebanyak yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Pakar jelaskan penyebab GRK tetap tinggi di halaman berikutnya...
Penyebab Hingga Solusi Jangka Panjang
Ilustrasi. Salah satu penyumbang besar gas rumah kaca, indutri. (morgueFile/click)
Apa sebabnya?
Pandemi juga menyebabkan penurunan Nitrogen Oksida (NOx), yang biasanya dihasilkan dari industri kimia.
Masalahnya, studi baru yang menggunakan pengukuran satelit dari berbagai polutan, mengungkap pembatasan NOx sebenarnya tak terlalu positif.
Polutan-polutan itu bereaksi membentuk molekul berumur pendek yang disebut radikal hidroksil. Zat ini berperan penting dalam memecah gas berumur panjang di atmosfer.
Meski membersihkan polusi udara, berkurangnya emisi NOx di saat yang sama juga membatasi kemampuan atmosfer untuk membersihkan diri dari gas rumah kaca penting lainnya: metana.
Masalahnya, metana jauh lebih efektif daripada CO2 dalam memerangkap panas di atmosfer.
NASA mengakui perkiraan jumlah emisi metana yang turun selama pandemi tidak pasti karena beberapa penyebab manusia, seperti pemeliharaan infrastruktur ladang minyak yang buruk, dokumentasi yang kurang baik.
Namun, sebuah studi menghitung bahwa pengurangannya adalah 10 persen.
Seperti CO2, penurunan emisi tidak serta-merta menurunkan konsentrasi metana di atmosfer. Sebaliknya, metana tumbuh sebesar 0,3 persen pada 2020. Ini lebih cepat daripada periode lainnya dalam dekade terakhir.
"Dengan lebih sedikit NOx, ada lebih sedikit radikal hidroksil untuk menghilangkan metana, sehingga metana bertahan lebih lama di atmosfer," jelas JPL NASA.
Walhasil, gas rumah kaca pun masih pekat meski penggunaan kendaraan dan industri berkurang jauh saat pandemi.
Aktivitas normal
Terlebih, aktivitas berangsur normal buntut peralihan pandemi ke endemi di seluruh dunia. Hal ini memicu emisi gas rumah kaca ini kembali meningkat.
Menurut data Badan Moneter Internasional (IMF) pada 2022, emisi gas rumah kaca global tahunan meningkat 6,4 persen tahun lalu ke rekor baru, melampaui puncak pra-pandemi karena aktivitas ekonomi global telah kembali pulih.
Berdasarkan grafik IMF, data emisi itu anjlok tajam pada 2020. Namun, angkanya melonjak lagi setelah 2021. Penyumbang utamanya adalah sektor manufaktur, suplai energi, pertanian, transportasi, dan rumah tangga.
Studi NASA juga mengakui emisi kembali ke tingkat mendekati pra-pandemi pada akhir 2020, meskipun aktivitas di banyak sektor ekonomi berkurang.
Lalu apa yang harus dilakukan jika pandemi saja tak mengurangi GRK?
Para penulis menilai "mengurangi aktivitas di sektor industri dan perumahan ini tidak praktis dalam jangka pendek" sebagai cara untuk mengurangi emisi."
"Mengurangi emisi sektor-sektor ini secara permanen akan membutuhkan transisi mereka ke teknologi emisi rendah karbon," tandas penulis studi.