Pesawat Antariksa Mampir ke Bumi Usai 17 Tahun 'Memburu' Matahari
Mampirnya STEREO-A ke Bumi tidak sekadar mencari tahu apa yang wahana itu lihat, tapi juga apa yang mereka rasakan dan hal ini dapat mengarah pada sebuah penemuan besar.
Ketika material-material matahari yang dikenal sebagai coronal mass ejection atau CME, tiba di Bumi, hal itu dapat mengganggu sinyal satelit dan radio, bahkan menyebabkan melonjaknya jaringan listrik di Bumi, atau mungkin saja hampir tidak memiliki pengaruh sama sekali.
Itu semua tergantung pada medan magnet yang tertanam di dalamnya, yang dapat berubah secara dramatis dalam jarak 149 juta mil antara Matahari dan Bumi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk memahami bagaimana medan magnet CME berevolusi dalam perjalanannya menuju Bumi, para ilmuwan membuat model komputer dari letusan Matahari, dan memperbaruinya dengan setiap kali ada pengamatan pesawat ruang angkasa baru. Namun, data dari satu wahana antariksa hanya dapat memberi sedikit informasi.
"Itulah yang kami hadapi saat ini dengan CME, karena kami biasanya hanya memiliki satu atau dua wahana antariksa yang bersebelahan untuk mengukurnya," ungkap Toni Galvin, profesor di University of New Hampshire dan peneliti utama untuk salah satu instrumen STEREO-A.
Selama beberapa bulan sebelum dan sesudah STEREO-A melintasi Bumi, CME yang mengarah ke Bumi akan melintas di atas STEREO-A dan wahana antariksa dekat Bumi lainnya, sehingga para peneliti dapat melakukan pengukuran multipoint yang sangat dibutuhkan dalam CME.
Matahari yang berbeda secara fundamental
STEREO-A juga pernah mendekati Bumi pada 2006, tak lama setelah diluncurkan. Peristiwa itu terjadi selama "Solar Minimum", titik terendah dalam siklus aktivitas tinggi dan rendah Matahari yang berlangsung sekitar 11 tahun.
"Matahari begitu sunyi pada saat itu. Saya melihat kembali data dan saya berkata 'Oh ya, saya mengenali wilayah aktif itu' ada satu, dan kami mempelajarinya," kata Kucera.
Sekarang, saat kita mendekati ramalan fenomena Matahari Maksimal atau Solar Maximum yang akan terjadi pada 2025, Matahari tidak lagi seperti dulu. Fenomena ini menandai puncak aktivitas Matahari ketika medan magnetnya mencapai titik terkuat dan paling tidak teratur alias dinamis.
"Dalam fase siklus Matahari ini, STEREO-A akan mengalami Matahari yang berbeda secara fundamental. Banyak ilmu yang bisa didapat dari situ," kata Guhathakurta.
[Gambas:Video CNN]
Pesawat antariksa yang "memburu" Matahari, STEREO-A bakal mampir ke Bumi pada Sabtu (12/8). Ini merupakan kunjungan pertama kalinya pesawat milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) itu ke Bumi setelah 17 tahun mengorbit di Matahari.
Mampirnya STEREO-A ke Bumi ini bakal membawa kesempatan khusus bagi pesawat ruang angkasa untuk berkolaborasi dengan misi NASA di dekat Bumi dan mengungkap wawasan baru tentang bintang terdekat dari planet Bumi.
STEREO (Solar TERrestrial RElations Observatory) meluncur pada 25 Oktober 2006, dari Stasiun Angkatan Udara Cape Canaveral di Florida. STEREO terdiri dari dua wahana antariksa, yakni STEREO-A yang berada di depan dan STEREO-B di belakang, keduanya memetakan orbit mirip Bumi mengelilingi Matahari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada tahun-tahun pertama setelah meluncur, wahana antariksa ini berhasil mencapai tujuan utamanya, yakni memberikan pemandangan stereoskopik, atau pandangan multi-perspektif pertama dari bintang terdekat kita.
Kemudian, pada 6 Februari 2011, misi ini meraih pencapaian penting lainnya, STEREO-A dan -B mencapai pemisahan 180 derajat dalam orbitnya dan untuk pertama kalinya, manusia dapat melihat Matahari sebagai sebuah bola yang utuh.
"Sebelumnya, kita terikat pada garis Matahari-Bumi, kita hanya melihat satu sisi Matahari dalam satu waktu. STEREO memutus ikatan tersebut dan memberi kita pandangan Matahari sebagai objek tiga dimensi," kata Lika Guhathakurta, ilmuwan program STEREO, mengutip laman resmi NASA, Jumat (11/8).
Pada 12 Agustus 2023, jarak STEREO-A dengan Bumi bertambah menjadi satu revolusi penuh saat wahana antariksa ini "mengitari" Bumi di orbitnya mengelilingi Matahari. Dalam beberapa minggu sebelum dan sesudah terbang lintas STEREO-A, para ilmuwan berkesempatan mengajukan sejumlah pertanyaan yang biasanya tidak bisa dijawab oleh misi ini.
Penampakan Matahari 3 dimensi
Selama melintasi Bumi, STEREO-A akan menyatukan pandangan untuk mendapat penglihatan stereoskopik. Penglihatan stereoskopik memungkinkan NASA mendapat informasi 3 dimensi (3D) dari gambar 2 dimensi atau datar.
Ini merupakan cara dua bola mata, melihat dunia dari lokasi berbeda, menciptakan persepsi kedalaman. Otak akan membandingkan gambar dari masing-masing mata, dan sedikit perbedaan di antara gambar-gambar tersebut mengungkapkan objek mana yang lebih dekat atau lebih jauh.
STEREO-A memungkinkan tampilan 3D tersebut itu dengan memadukan pandangannya dengan Solar and Heliospheric Observatory (SOHO) NASA dan European Space Agency dan Solar Dynamics Observatory (SDO) NASA. Jarak STEREO-A dari Bumi berubah selama melintas, sehingga mengoptimalkan penglihatan stereo untuk fitur-fitur Matahari pada waktu yang berbeda. Seolah-olah para ilmuwan sedang menyesuaikan fokus pada teleskop selebar jutaan kilometer.
Para ilmuwan STEREO menggunakan kesempatan untuk melakukan pengukuran yang sangat dibutuhkan. Mereka mengidentifikasi wilayah aktif, wilayah kompleks magnetis yang mendasari bintik Matahari, dan berharap mendapat informasi 3D tentang strukturnya yang biasanya hilang dalam gambar 2D. Mereka juga akan menguji teori baru bahwa lingkaran koronal --lengkungan raksasa yang sering terlihat pada gambar Matahari jarak dekat-- tidak seperti yang terlihat.
"Ada gagasan terbaru bahwa lingkaran koronal mungkin hanya ilusi optik," kata Terry Kucera, ilmuwan proyek STEREO di Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA di Greenbelt, Maryland.
Beberapa peneliti berpendapat sudut pandang yang terbatas membuat Matahari tampak memiliki bentuk yang sebenarnya tidak mereka miliki. "Jika Anda melihatnya dari berbagai sudut pandang, itu akan menjadi lebih jelas," tambah Kucera.
Memantau Letusan Matahari dari Jarak Dekat
Ilustrasi. (Foto: NASA)
Mampirnya STEREO-A ke Bumi tidak sekadar mencari tahu apa yang wahana itu lihat, tapi juga apa yang mereka rasakan dan hal ini dapat mengarah pada sebuah penemuan besar.
Ketika material-material matahari yang dikenal sebagai coronal mass ejection atau CME, tiba di Bumi, hal itu dapat mengganggu sinyal satelit dan radio, bahkan menyebabkan melonjaknya jaringan listrik di Bumi, atau mungkin saja hampir tidak memiliki pengaruh sama sekali.
Itu semua tergantung pada medan magnet yang tertanam di dalamnya, yang dapat berubah secara dramatis dalam jarak 149 juta mil antara Matahari dan Bumi.
Untuk memahami bagaimana medan magnet CME berevolusi dalam perjalanannya menuju Bumi, para ilmuwan membuat model komputer dari letusan Matahari, dan memperbaruinya dengan setiap kali ada pengamatan pesawat ruang angkasa baru. Namun, data dari satu wahana antariksa hanya dapat memberi sedikit informasi.
"Itulah yang kami hadapi saat ini dengan CME, karena kami biasanya hanya memiliki satu atau dua wahana antariksa yang bersebelahan untuk mengukurnya," ungkap Toni Galvin, profesor di University of New Hampshire dan peneliti utama untuk salah satu instrumen STEREO-A.
Selama beberapa bulan sebelum dan sesudah STEREO-A melintasi Bumi, CME yang mengarah ke Bumi akan melintas di atas STEREO-A dan wahana antariksa dekat Bumi lainnya, sehingga para peneliti dapat melakukan pengukuran multipoint yang sangat dibutuhkan dalam CME.
Matahari yang berbeda secara fundamental
STEREO-A juga pernah mendekati Bumi pada 2006, tak lama setelah diluncurkan. Peristiwa itu terjadi selama "Solar Minimum", titik terendah dalam siklus aktivitas tinggi dan rendah Matahari yang berlangsung sekitar 11 tahun.
"Matahari begitu sunyi pada saat itu. Saya melihat kembali data dan saya berkata 'Oh ya, saya mengenali wilayah aktif itu' ada satu, dan kami mempelajarinya," kata Kucera.
Sekarang, saat kita mendekati ramalan fenomena Matahari Maksimal atau Solar Maximum yang akan terjadi pada 2025, Matahari tidak lagi seperti dulu. Fenomena ini menandai puncak aktivitas Matahari ketika medan magnetnya mencapai titik terkuat dan paling tidak teratur alias dinamis.
"Dalam fase siklus Matahari ini, STEREO-A akan mengalami Matahari yang berbeda secara fundamental. Banyak ilmu yang bisa didapat dari situ," kata Guhathakurta.