Jakarta, CNN Indonesia -- Kebakaran hutan dan lahan melanda Maui, Hawaii sejak Selasa (8/8). Sedikitnya 67 orang meninggal dunia imbas kebakaran dahsyat itu.
Kebakaran hebat yang melanda Hawaii dalam beberapa hari terakhir itu membuat rasa penasaran ilmuwan. Jennifer Marlon, seorang ilmuwan dan dosen di Yale Shcool of the Environment mengaku heran mendengar kebakaran hutan yang parah di Hawaii.
"Sangat aneh mendengar kebakaran hutan yang parah di Hawaii, sebuah pulau iklim tropis basah, tapi keanehan itu menjadi lebih umum karena perubahan iklim," kata Merlon, mengutip CNN, Sabtu (12/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebakaran ini dipicu oleh kombinasi angin kencang dan kondisi kering, dan dipersulit oleh geografis pulau itu. Kebakaran ini merupakan salah satu yang paling mematikan dalam sejarah modern Amerika Serikat.
Kebakaran hutan di Maui telah menempati peringkat kedua paling mematikan dalam 100 tahun terakhir, setelah kebakaran Camp di California, yang menewaskan 85 orang pada November 2018.
"Bagi kami yang menangani masalah ini, hal ini hanya membuat kami muak," kata Clay Trauernicht, asisten spesialis yang mempelajari kebakaran tropis di Universitas Hawaii di Manoa.
Hawaii merupakan salah satu negara beriklim tropis basah di dunia dan bisa dikatakan jarang mengalami kebakaran hutan dahsyat. Lalu, apa sebetulnya faktor-faktor yang membuat kebakaran hutan hebat di Maui baru-baru ini?
Kekeringan parah
Salah satu faktor yang membuat kebakaran di Maui kian hebat adalah kekeringan yang berkontribusi menyebarkan api. Monitor Kekeringan AS menyebutkan kekeringan di Hawaii selama seminggu terakhir semakin memburuk dan menyebabkan kebakaran kian menyebar.
Kondisi kekeringan parah di Maui meningkat menjadi 16 persen dari 5 persen minggu lalu, sementara tingkat kekeringan sedang di seluruh negara bagian melonjak menjadi 14 persen dari 6 persen.
Mengutip CNN, lahan dan vegetasi yang kering dapat menjadi bahan bakar bagi kebakaran hutan, yang kemudian dapat dengan cepat berubah menjadi mematikan jika angin kencang menghembuskan kobaran api ke arah masyarakat.
"Ini lebih merupakan masalah (lahan dan vegetasi yang menjadi) bahan bakar daripada masalah iklim, yang berarti itu adalah masalah yang dapat kita atasi," kata Trauernicht, Jumat (11/8).
"Ada tindakan nyata yang bisa kami ambil yang akan mengurangi risiko sesuatu seperti ini terjadi di masa depan," tambahnya.
Menurutnya ada langkah-langkah seperti mengurangi vegetasi yang rentan api dan dukungan untuk penggunaan lahan pertanian.
"Ini adalah prioritas ketika api sedang berkobar. Namun pada saat itu, sudah terlambat," ujar dia.
Para ilmuwan sedang mencari tahu bagaimana krisis iklim akan mempengaruhi kondisi Hawaii, sementara mereka mengatakan kekeringan akan menjadi lebih buruk seiring meningkatnya suhu global. Suhu yang lebih hangat meningkatkan jumlah air yang dapat diserap atmosfer dan kemudian membuat kering lahan.
Merujuk Penilaian Iklim Nasional AS Keempat yang terbit 2018, kekeringan akan menjadi lebih ekstrem dan umum terjadi di Hawaii dan pulau-pulau Pasifik lainnya. Curah hujan secara umum telah menurun di Hawaii dari waktu ke waktu, dengan jumlah hari kering meningkat.
Para ilmuwan pada 2021 menyatakan krisis iklim menyebabkan kekeringan yang sebelumnya mungkin hanya terjadi setiap satu dekade sekali, kini terjadi 70 persen lebih sering.
[Gambas:Video CNN]
Efek Badai Dora hingga Penggunaan Lahan yang Berubah
Ilustrasi. Kebakaran di Maui turut diperparah dengan kehadiran Badai Dora. (Foto: REUTERS/MARCO GARCIA)
Diperparah Badai Dora
Kebakaran di Maui diperparah dengan kemunculan Badai Dora, badai kategori 4 yang bergerak cepat dan kuat dengan angin berkecepatan 225 km per jam.
Layanan Cuaca Nasional menyebutkan saat badai menerjang selatan Hawaii, sistem tekanan tinggi yang kuat tetap berada di utara, dengan dua kekuatan yang bergabung untuk menghasilkan angin yang sangat kuat dan merusak.
"Angin kencang ini ditambah dengan tingkat kelembaban yang rendah menghasilkan kondisi cuaca kebakaran yang berbahaya" kata Layanan Cuaca Nasional.
Ahli meteorologi CNN, Derek Van Dam menjelaskan angin kencang, kondisi kekeringan yang sedang berlangsung dan kelembaban relatif yang kering adalah bahan untuk memicu kebakaran dan mengipasi api.
"Masalahnya adalah angin ini mirip dengan Santa Ana di California Selatan, yang mengering dan menghangat saat bergerak menuruni pegunungan dan menciptakan kondisi yang sangat kering," kata Derek.
Abby Frazier, ahli klimatologi dan geografi di Universitas Clark di Massachusetts. mengatakan Badai Lane pada 2018 lalu juga dikaitkan dengan kebakaran hebat di Maui dan Oahu.
"Selama musim hujan, bahan yang mudah terbakar menumpuk dan kemudian mengering selama musim kemarau," kata Frazier.
"Ketika Anda menggabungkan bahan bakar kering ini dengan angin kencang dan kelembapan rendah yang kita alami saat ini akibat Badai Dora, kita akan mengalami cuaca kebakaran yang sangat berbahaya," imbuhnya.
Fenomena iklim El Nino juga memperburuk kondisi ini. Pola iklim ini berasal dari Samudera Pasifik di sepanjang garis Khatulistiwa dan berdampak pada cuaca di seluruh dunia.
"Ini berarti aktivitas badai yang lebih tinggi dari biasanya di Pasifik tengah pada musim panas ini," ujar dia.
"Meskipun kita cenderung melihat kondisi yang lebih basah selama musim panas El Nino (yang menumpuk bahan bakar kebakaran), Hawaii akan mengalami kondisi kekeringan pada musim dingin ini, yang akan mengeringkan bahan bakar dan biasanya akan menyebabkan awal yang lebih awal untuk musim kebakaran tahun depan," tambahnya.
Penggunaan lahan berubah
Trauernicht mengatakan spesies tanaman non-pribumi kini menempati seperempat dari total luas lahan di Hawaii, dan rumput serta semak-semak invasif menjadi sangat mudah terbakar pada musim kemarau.
Ia melanjutkan Hawaii juga kehilangan perkebunan dan peternakan besar, dengan rumput-rumput yang mudah terbakar mengambil alih lahan-lahan kosong.
"Ketika lahan perkebunan masih aktif, petugas pemadam kebakaran akan muncul di lokasi dan orang-orang akan berada di sana membuka gerbang, semua jalan dipelihara, ada infrastruktur dan peralatan air. Dan mereka akan mendapat dukungan dari orang-orang yang bekerja di perkebunan ini," kata Trauernicht.
"Karena hal itu telah berubah, dan penggunaan lahan telah berubah. Semuanya ada di dilakukan para petugas pemadam kebakaran saat ini," lanjut dia.
Menurut Trauernicht Hawaii juga mengalami perubahan pola curah hujan yang dramatis. Area yang terbakar setiap tahunnya di Hawaii kini mencapai sekitar 1 persen dari total luas daratan negara bagian tersebut, sebanding dengan dan sering kali melebihi 12 negara bagian Barat di daratan, di mana kebakaran paling sering terjadi.
 Kamus Pemanasan Global (Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian) |