Belajar dari Hawaii, Teori Konspirasi Cepat Menyebar saat Bencana
CNN Indonesia
Jumat, 01 Sep 2023 14:02 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Sejumlah video teori konspirasi viral di media sosial usai kebakaran hutan di Hawaii. (Foto: AFP/YUKI IWAMURA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah video teori konspirasi viral di media sosial dan membuat klaim yang tidak berdasar bahwa kebakaran hutan di Maui, Hawaii dibakar dengan sengaja.
Meskipun penyebab kebakaran belum diketahui, Hawaiian Electric, perusahaan listrik utama di Maui, berada di bawah pengawasan karena tidak mematikan saluran listrik ketika angin kencang menciptakan kondisi kebakaran yang berbahaya.
Hawaiian Electric sebelumnya mengatakan perusahaan dan negara bagian sedang melakukan investigasi atas apa yang terjadi.
Maui mengalami angin kencang akibat Badai Dora di selatan dan juga mengalami kekeringan. Kebakaran hutan di seluruh wilayah ini telah lama menjadi perhatian.
Namun, teori konspirasi terus beredar karena hampir 400 orang masih belum ditemukan. Bukan hal yang aneh jika teori konspirasi muncul setelah terjadi krisis nasional.
Menurut Renee DiResta, seorang manajer riset di Universitas Stanford yang mempelajari misinformasi, orang sering mencari cara untuk memahami dunia ketika mereka cemas atau merasa tidak berdaya.
"Teori-teori yang mengaitkan penyebab krisis dengan aktor jahat tertentu menawarkan penjahat untuk disalahkan, seseorang yang berpotensi bertanggung jawab," kata DiResta.
Menurutnya, teori konspirasi yang paling efektif dan masuk akal biasanya didasarkan pada beberapa butir kebenaran. Hal ini biasanya berhubungan dengan sejumlah kepercayaan yang ada tentang kondisi dunia.
Sebagai contoh, orang yang tidak mempercayai pemerintah mungkin akan cenderung mempercayai seseorang yang memposting hal negatif tentang lembaga pemerintah ketimbang yang positif.
Para penganut teori konspirasi di berbagai platform media sosial mengklaim kebakaran yang menewaskan sedikitnya 114 orang pada awal bulan ini direncanakan sebagai upaya strategis untuk menyingkirkan penduduk yang kurang mampu di Maui, sehingga memberikan ruang untuk pembangunan bernilai jutaan dolar.
Teori konspirasi merebak
Dalam sebuah video, pengguna mengklaim bahwa seorang teman mengiriminya video sinar laser yang "keluar dari langit, langsung menyasar kota."
"Ini adalah serangan senjata energi langsung," katanya.
Video tersebut tetap diposting, tetapi sekarang disertai label dari Instagram sebagai "informasi palsu." Gambar tersebut tampaknya berasal dari peluncuran SpaceX di California.
Teori-teori tersebut mengatakan bahwa "sinar laser" diduga diprogram untuk tidak mengenai apa pun yang berwarna biru, yang menjelaskan mengapa begitu banyak payung pantai berwarna biru yang tidak rusak akibat kebakaran.
Pengguna media sosial lainnya menuduh penduduk elit Maui berada di balik kebakaran tersebut, sehingga mereka dapat membeli tanah yang hancur dengan harga diskon dan membangun kembali sebagai "kota pintar".
"Anda mengatakan kepada saya bahwa rumah-rumah kelas menengah ke bawah yang lebih murah ini terbakar tepat di seberang jalan dan semua rumah mewah masih berdiri?" Kata seorang pengguna YouTube, merujuk pada citra udara dari bekas kebakaran.
Dikutip dari CNN, ketika sebuah teori konspirasi mendapatkan daya tarik di dunia maya, orang lain mungkin akan ikut menambahkan dan memberikan penjelasan atas detail yang tidak dibahas dalam postingan aslinya.
Algoritme media sosial juga dianggap dapat memperkuat teori-teori ini berdasarkan perhatian dan interaksi pengguna.
"Media sosial sangat berharga dalam peristiwa krisis karena orang-orang di lapangan dapat melaporkan fakta-fakta secara langsung, tetapi kegunaannya terbatas, dan bisa berbahaya, jika klaim yang menyesatkan berkembang biak terutama setelah kejadian," kata DiResta.
Platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube telah mengambil langkah-langkah untuk meredam penyebaran teori konspirasi dan informasi yang salah. Namun acapkali beberapa video dapat lolos dari pengawasan.
Banyak platform menggunakan gabungan alat pemantauan teknologi dan peninjau manusia, untuk menegakkan pedoman komunitas mereka.
TikTok menghapus beberapa video teori konspirasi yang dianggap melanggar pedoman komunitasnya dan digolongkan sebagai "konten yang tidak akurat, menyesatkan, atau salah yang dapat menyebabkan kerugian signifikan bagi individu atau masyarakat, apa pun niatnya"
Juru bicara perusahaan mengatakan bahwa lebih dari 40 ribu profesional di bidang kepercayaan dan keamanan di seluruh dunia, meninjau dan memoderasi konten setiap saat sepanjang hari.
Sementara itu juru bicara YouTube Elena Hernandez mengatakan platform ini menggunakan bagian yang berbeda, seperti berita utama, berita yang sedang berkembang, dan panel pengecekan fakta.
Hal ini bertujuan untuk memberikan konteks dan informasi latar belakang sebanyak mungkin kepada pengguna, mengenai topik-topik yang sedang hangat dibicarakan dan akan menghapus konten jika diperlukan.
"Selama peristiwa berita besar, seperti kebakaran yang mengerikan di Hawaii, sistem kami dirancang untuk memunculkan konten dari sumber-sumber yang otoritatif dalam hasil pencarian dan rekomendasi," kata Hernandez.
Instagram juga mempekerjakan pemeriksa fakta pihak ketiga untuk menghubungi sumber, memeriksa data publik dan bekerja untuk memverifikasi gambar dan video pada konten yang meragukan.
Mereka kemudian menilai dan memberikan label pada konten yang dipermasalahkan, seperti "salah", "diubah" atau "konteks yang hilang", untuk mendorong pemirsa agar berpikir kritis tentang apa yang akan mereka lihat.
Michael Inouye, analis utama di perusahaan riset pasar ABI Research mengatakan perusahaan media sosial berada dalam posisi yang menantang.
Menurutnya, platform ingin menegakkan kebebasan berpendapat, tetapi melakukan sensor di postingan yang paling banyak 'dishare dan dilike' sering kali muncul di bagian atas feed pengguna.
Ini berarti unggahan yang membagikan teori konspirasi, memicu ketakutan dan emosi dapat tampil lebih sering dibandingkan unggahan yang membagikan informasi yang lugas dan akurat.
"Pada akhirnya, media sosial harus memutuskan apakah mereka ingin menjadi organisasi berita yang lebih baik atau tetap menjadi platform 'terbuka' untuk berekspresi yang dapat bertentangan dengan etika dan standar yang dibutuhkan oleh pelaporan berita," kata Inouye.
"Masalahnya adalah, bahkan jika sesuatu tidak dilabeli sebagai 'berita', beberapa orang masih akan menafsirkan opini pribadi sebagai kebenaran, yang menempatkan kita kembali pada posisi yang sama." tutupnya.
Sejumlah video teori konspirasi viral di media sosial dan membuat klaim yang tidak berdasar bahwa kebakaran hutan di Maui, Hawaii dibakar dengan sengaja.
Meskipun penyebab kebakaran belum diketahui, Hawaiian Electric, perusahaan listrik utama di Maui, berada di bawah pengawasan karena tidak mematikan saluran listrik ketika angin kencang menciptakan kondisi kebakaran yang berbahaya.
Hawaiian Electric sebelumnya mengatakan perusahaan dan negara bagian sedang melakukan investigasi atas apa yang terjadi.
Maui mengalami angin kencang akibat Badai Dora di selatan dan juga mengalami kekeringan. Kebakaran hutan di seluruh wilayah ini telah lama menjadi perhatian.
Namun, teori konspirasi terus beredar karena hampir 400 orang masih belum ditemukan. Bukan hal yang aneh jika teori konspirasi muncul setelah terjadi krisis nasional.
Menurut Renee DiResta, seorang manajer riset di Universitas Stanford yang mempelajari misinformasi, orang sering mencari cara untuk memahami dunia ketika mereka cemas atau merasa tidak berdaya.
"Teori-teori yang mengaitkan penyebab krisis dengan aktor jahat tertentu menawarkan penjahat untuk disalahkan, seseorang yang berpotensi bertanggung jawab," kata DiResta.
Menurutnya, teori konspirasi yang paling efektif dan masuk akal biasanya didasarkan pada beberapa butir kebenaran. Hal ini biasanya berhubungan dengan sejumlah kepercayaan yang ada tentang kondisi dunia.
Sebagai contoh, orang yang tidak mempercayai pemerintah mungkin akan cenderung mempercayai seseorang yang memposting hal negatif tentang lembaga pemerintah ketimbang yang positif.
Para penganut teori konspirasi di berbagai platform media sosial mengklaim kebakaran yang menewaskan sedikitnya 114 orang pada awal bulan ini direncanakan sebagai upaya strategis untuk menyingkirkan penduduk yang kurang mampu di Maui, sehingga memberikan ruang untuk pembangunan bernilai jutaan dolar.
Teori konspirasi merebak
Dalam sebuah video, pengguna mengklaim bahwa seorang teman mengiriminya video sinar laser yang "keluar dari langit, langsung menyasar kota."
"Ini adalah serangan senjata energi langsung," katanya.
Video tersebut tetap diposting, tetapi sekarang disertai label dari Instagram sebagai "informasi palsu." Gambar tersebut tampaknya berasal dari peluncuran SpaceX di California.
Teori-teori tersebut mengatakan bahwa "sinar laser" diduga diprogram untuk tidak mengenai apa pun yang berwarna biru, yang menjelaskan mengapa begitu banyak payung pantai berwarna biru yang tidak rusak akibat kebakaran.
Pengguna media sosial lainnya menuduh penduduk elit Maui berada di balik kebakaran tersebut, sehingga mereka dapat membeli tanah yang hancur dengan harga diskon dan membangun kembali sebagai "kota pintar".
"Anda mengatakan kepada saya bahwa rumah-rumah kelas menengah ke bawah yang lebih murah ini terbakar tepat di seberang jalan dan semua rumah mewah masih berdiri?" Kata seorang pengguna YouTube, merujuk pada citra udara dari bekas kebakaran.
Dikutip dari CNN, ketika sebuah teori konspirasi mendapatkan daya tarik di dunia maya, orang lain mungkin akan ikut menambahkan dan memberikan penjelasan atas detail yang tidak dibahas dalam postingan aslinya.
Algoritme media sosial juga dianggap dapat memperkuat teori-teori ini berdasarkan perhatian dan interaksi pengguna.
"Media sosial sangat berharga dalam peristiwa krisis karena orang-orang di lapangan dapat melaporkan fakta-fakta secara langsung, tetapi kegunaannya terbatas, dan bisa berbahaya, jika klaim yang menyesatkan berkembang biak terutama setelah kejadian," kata DiResta.
Platform Media Sosial Turun Tangan
Ilustrasi. Sejumlah video teori konspirasi viral di media sosial usai kebakaran hutan di Hawaii. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube telah mengambil langkah-langkah untuk meredam penyebaran teori konspirasi dan informasi yang salah. Namun acapkali beberapa video dapat lolos dari pengawasan.
Banyak platform menggunakan gabungan alat pemantauan teknologi dan peninjau manusia, untuk menegakkan pedoman komunitas mereka.
TikTok menghapus beberapa video teori konspirasi yang dianggap melanggar pedoman komunitasnya dan digolongkan sebagai "konten yang tidak akurat, menyesatkan, atau salah yang dapat menyebabkan kerugian signifikan bagi individu atau masyarakat, apa pun niatnya"
Juru bicara perusahaan mengatakan bahwa lebih dari 40 ribu profesional di bidang kepercayaan dan keamanan di seluruh dunia, meninjau dan memoderasi konten setiap saat sepanjang hari.
Sementara itu juru bicara YouTube Elena Hernandez mengatakan platform ini menggunakan bagian yang berbeda, seperti berita utama, berita yang sedang berkembang, dan panel pengecekan fakta.
Hal ini bertujuan untuk memberikan konteks dan informasi latar belakang sebanyak mungkin kepada pengguna, mengenai topik-topik yang sedang hangat dibicarakan dan akan menghapus konten jika diperlukan.
"Selama peristiwa berita besar, seperti kebakaran yang mengerikan di Hawaii, sistem kami dirancang untuk memunculkan konten dari sumber-sumber yang otoritatif dalam hasil pencarian dan rekomendasi," kata Hernandez.
Instagram juga mempekerjakan pemeriksa fakta pihak ketiga untuk menghubungi sumber, memeriksa data publik dan bekerja untuk memverifikasi gambar dan video pada konten yang meragukan.
Mereka kemudian menilai dan memberikan label pada konten yang dipermasalahkan, seperti "salah", "diubah" atau "konteks yang hilang", untuk mendorong pemirsa agar berpikir kritis tentang apa yang akan mereka lihat.
Michael Inouye, analis utama di perusahaan riset pasar ABI Research mengatakan perusahaan media sosial berada dalam posisi yang menantang.
Menurutnya, platform ingin menegakkan kebebasan berpendapat, tetapi melakukan sensor di postingan yang paling banyak 'dishare dan dilike' sering kali muncul di bagian atas feed pengguna.
Ini berarti unggahan yang membagikan teori konspirasi, memicu ketakutan dan emosi dapat tampil lebih sering dibandingkan unggahan yang membagikan informasi yang lugas dan akurat.
"Pada akhirnya, media sosial harus memutuskan apakah mereka ingin menjadi organisasi berita yang lebih baik atau tetap menjadi platform 'terbuka' untuk berekspresi yang dapat bertentangan dengan etika dan standar yang dibutuhkan oleh pelaporan berita," kata Inouye.
"Masalahnya adalah, bahkan jika sesuatu tidak dilabeli sebagai 'berita', beberapa orang masih akan menafsirkan opini pribadi sebagai kebenaran, yang menempatkan kita kembali pada posisi yang sama." tutupnya.