Belajar dari Hawaii, Teori Konspirasi Cepat Menyebar saat Bencana

CNN Indonesia
Jumat, 01 Sep 2023 14:02 WIB
Sejumlah video teori konspirasi viral di media sosial usai kebakaran hutan di Hawaii. Simak penjelasan pakar.
Ilustrasi. Sejumlah video teori konspirasi viral di media sosial usai kebakaran hutan di Hawaii. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)

Platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube telah mengambil langkah-langkah untuk meredam penyebaran teori konspirasi dan informasi yang salah. Namun acapkali beberapa video dapat lolos dari pengawasan.

Banyak platform menggunakan gabungan alat pemantauan teknologi dan peninjau manusia, untuk menegakkan pedoman komunitas mereka.

TikTok menghapus beberapa video teori konspirasi yang dianggap melanggar pedoman komunitasnya dan digolongkan sebagai "konten yang tidak akurat, menyesatkan, atau salah yang dapat menyebabkan kerugian signifikan bagi individu atau masyarakat, apa pun niatnya"

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Juru bicara perusahaan mengatakan bahwa lebih dari 40 ribu profesional di bidang kepercayaan dan keamanan di seluruh dunia, meninjau dan memoderasi konten setiap saat sepanjang hari.

Sementara itu juru bicara YouTube Elena Hernandez mengatakan platform ini menggunakan bagian yang berbeda, seperti berita utama, berita yang sedang berkembang, dan panel pengecekan fakta.

Hal ini bertujuan untuk memberikan konteks dan informasi latar belakang sebanyak mungkin kepada pengguna, mengenai topik-topik yang sedang hangat dibicarakan dan akan menghapus konten jika diperlukan.

"Selama peristiwa berita besar, seperti kebakaran yang mengerikan di Hawaii, sistem kami dirancang untuk memunculkan konten dari sumber-sumber yang otoritatif dalam hasil pencarian dan rekomendasi," kata Hernandez.

Instagram juga mempekerjakan pemeriksa fakta pihak ketiga untuk menghubungi sumber, memeriksa data publik dan bekerja untuk memverifikasi gambar dan video pada konten yang meragukan.

Mereka kemudian menilai dan memberikan label pada konten yang dipermasalahkan, seperti "salah", "diubah" atau "konteks yang hilang", untuk mendorong pemirsa agar berpikir kritis tentang apa yang akan mereka lihat.

Tantangan perusahaan media sosial

Michael Inouye, analis utama di perusahaan riset pasar ABI Research mengatakan perusahaan media sosial berada dalam posisi yang menantang.

Menurutnya, platform ingin menegakkan kebebasan berpendapat, tetapi melakukan sensor di postingan yang paling banyak 'dishare dan dilike' sering kali muncul di bagian atas feed pengguna.

Ini berarti unggahan yang membagikan teori konspirasi, memicu ketakutan dan emosi dapat tampil lebih sering dibandingkan unggahan yang membagikan informasi yang lugas dan akurat.

"Pada akhirnya, media sosial harus memutuskan apakah mereka ingin menjadi organisasi berita yang lebih baik atau tetap menjadi platform 'terbuka' untuk berekspresi yang dapat bertentangan dengan etika dan standar yang dibutuhkan oleh pelaporan berita," kata Inouye.

"Masalahnya adalah, bahkan jika sesuatu tidak dilabeli sebagai 'berita', beberapa orang masih akan menafsirkan opini pribadi sebagai kebenaran, yang menempatkan kita kembali pada posisi yang sama." tutupnya.



(can/dmi)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
TERPOPULER