Pakar Blak-blakan Pemicu Karhutla di Jawa, Ada Peran El Nino?
CNN Indonesia
Senin, 11 Sep 2023 16:29 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Total lahan terdampak kebakaran di Gunung Arjono, Jawa Timur mencapai 4.403 hektare. (Foto: ANTARA FOTO/Umarul Faruq)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sejumlah wilayah Indonesia, mulai dari Pulau Sumatera, Kalimantan, hingga Jawa. Belakangan, kebakaran di Pulau Jawa juga semakin masif, lalu apa penyebabnya?
Kebakaran hutan dan lahan memang tengah melanda sejumlah gunung di pulau Jawa, khususnya di Jawa Timur. Kebakaran di Gunung Arjono misalnya, sampai dengan pekan lalu setidaknya 4.403 hektare lahan terbakar.
Kemudian, kebakaran juga terjadi di Gunung Bromo dan sampai Jumat (8/9) belum berhasil dipadamkan. Luas lahan yang terdampak mencapai 274 hektare.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Klimatolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin mengatakan karhutla di Pulau Jawa disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya karena ada peningkatan suhu di pegunungan-pegunungan di bagian wilayah selatan Pulau Jawa.
"Ini perlu dipahami dulu, Jawanya di mana? Di sekitar wilayah-wilayah bagian selatan, di mana di sana topografinya tinggi, daerah-daerah pegunungan ada di sana, itu peningkatan suhunya besar dan memang konsentrasi di wilayah tersebut," kata Erma dalam rekaman audio wawancaranya bersama RRI PRO 3 yang diunggah di akun Twitternya, Kamis (7/9). Erma sudah mengizinkan CNNIndonesia.com untuk mengutip rekaman suara tersebut.
"Itu fakta pertama berkaitan dengan anomali suhu di Indonesia ya, karena data kami khusus regional Indonesia," ungkapnya menambahkan.
Erma menyebutkan faktor lain yang menyebabkan maraknya karhutla di Pulau Jawa adalah kemunculan fenomena El Nino. Ia menyebut fenomena 'pengering hujan' itu pada tahun ini mengakibatkan suhu di Indonesia naik sampai 4 derajat Celsius.
"Kedua, kita baru bicara fenomena El Nino. jadi secara alam memang bulan ini kan udah Agustus, Juli-Agustus hampir sama, peningkatan suhunya tertinggi dari sebelum-sebelumnya. Kalau sebelumnya itu 0,5 sampai 1 derajat peningkatannya, ini sudah sampai 4. Anda bayangkan 4 ini bisa men-trigger apapun secara alamiah," tuturnya.
El Nino menguat
Tidak hanya itu, menurut Erma juga terdapat faktor interannual atau variasi antar tahunan yang terjadi di Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Menurutnya hal ini juga erat kaitannya dengan keberadaan El Nino yang semakin kuat.
Merujuk Ikhtisar Cuaca Harian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Minggu (10/9), Indeks Nino 3.4 yang mengindikasikan tingkat El Nino berada pada angka +1,32 alias tidak signifikan. Indikator El Nino lainnya, Dipole Mode Index (DMI), ada pada angka +1,05 (IOD Positif) alias tidak signifikan.
Kendati begitu, dua indeks El Nino tersebut naik dari awal Agustus yang cuma +1,0 dan +0,01.
Menurut Erma hal ini sebetulnya tidak berdampak pada peningkatan suhu di sejumlah wilayah RI. Erma menjelaskan fenomena El Nino itu membuat beberapa wilayah Indonesia jadi tidak berawan.
"Apa efeknya? Sebenarnya bukan pada peningkatan panasnya, suhunya terus naik, bukan. Tapi pada minim awan dan kering, jadi panasnya itu berasal dari anomali suhu, kemudian itu panas. Keringnya karena IOD positif dan El Nino ini membuat wilayah di Indonesia itu menjadi tidak ada awan, sehingga kering kondisinya. Jadi ada panas dan kering," tutur Erma.
Kendati begitu, Erma mengungkapkan bahwa dalam dinamika cuaca, awan-awan itu bukan kemudian menghilang sama sekali dari langit Indonesia. Menurut dia kekeringan di Jawa itu akibat awan hujan hanya terkonsentrasi di bagian utara garis ekuator.
"Yang menjadi pembeda dia si awan-awan itu, dan juga hujannya, kemungkinan besar atau potensinya itu terkonsentrasi hanya di garis ekuator ke utara. Jadi pembedanya, batasnya itu garis ekuator itu," jelas Erma.
"Jadi wilayah di selatan ekuator ini yang minim [hujan] itu dan ini konsisten karena kita sudah melihat dua bulan ini konsisten terus nih, enggak bisa awan ini tertarik ke selatan," imbuhnya.
Menurut Erma ini membuat sejumlah wilayah di pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua masih kerap diguyur hujan, bahkan dengan intensitas lebat. Sementara, sebagian besar wilayah di Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara masih mengalami kekeringan ekstrem.
"Tapi beda dengan Sumatera yang dekat dengan Laut Cina Selatan, termasuk Kalimantan juga yang kondisinya malah banyak banget hujan di sana karena awan juga sedang marak terbentuk di sana. Ini beda. Karena memang, saya melihat begini, ini adalah fakta ekstrem yang juga harus kita waspadai," ujar dia.
Menurut Erma fakta ekstrem ini adalah sebagian wilayah di Indonesia bagian utara ekuator bisa mengalami hujan ekstrem atau terus menerus. Sementara, di bagian selatan ekuator mengalami kekeringan ekstrem.
"Kalau kita melintas ke selatan ekuator, yang terjadi sebaliknya, kering terus menerus. Di utara ekuator basah terus menerus. Jadi basah dan kering yang berdampingan sangat dekat ini, itu kan jarang terjadi, itu namanya front, berarti ada massa uap air yang beda banget, yang di utara lembap, di Pulau Jawa kering. Itu ekstrem itu, harusnya kan enggak gitu, harusnya gradual," jelas dia.
Ia menyebutkan bahwa hal itu bisa terjadi karena faktor perubahan iklim.
"Ini fakta dari apa? Efek dari apa? Ya perubahan iklim. Perubahan iklim itu faktanya adalah, ada garis demarkasi yang bernama garis ekuator itu, di mana di utara hujan deras karena lembap banget, sementara ketika masuk laut Jawa itu luar biasa kering, apalagi kondisinya suhu permukaan laut di selatan Jawa itu dingin banget dan meluas. Itu artinya sama sekali awan susah terbentuk," papar dia.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sejumlah wilayah Indonesia, mulai dari Pulau Sumatera, Kalimantan, hingga Jawa. Belakangan, kebakaran di Pulau Jawa juga semakin masif, lalu apa penyebabnya?
Kebakaran hutan dan lahan memang tengah melanda sejumlah gunung di pulau Jawa, khususnya di Jawa Timur. Kebakaran di Gunung Arjono misalnya, sampai dengan pekan lalu setidaknya 4.403 hektare lahan terbakar.
Kemudian, kebakaran juga terjadi di Gunung Bromo dan sampai Jumat (8/9) belum berhasil dipadamkan. Luas lahan yang terdampak mencapai 274 hektare.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Klimatolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin mengatakan karhutla di Pulau Jawa disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya karena ada peningkatan suhu di pegunungan-pegunungan di bagian wilayah selatan Pulau Jawa.
"Ini perlu dipahami dulu, Jawanya di mana? Di sekitar wilayah-wilayah bagian selatan, di mana di sana topografinya tinggi, daerah-daerah pegunungan ada di sana, itu peningkatan suhunya besar dan memang konsentrasi di wilayah tersebut," kata Erma dalam rekaman audio wawancaranya bersama RRI PRO 3 yang diunggah di akun Twitternya, Kamis (7/9). Erma sudah mengizinkan CNNIndonesia.com untuk mengutip rekaman suara tersebut.
"Itu fakta pertama berkaitan dengan anomali suhu di Indonesia ya, karena data kami khusus regional Indonesia," ungkapnya menambahkan.
Erma menyebutkan faktor lain yang menyebabkan maraknya karhutla di Pulau Jawa adalah kemunculan fenomena El Nino. Ia menyebut fenomena 'pengering hujan' itu pada tahun ini mengakibatkan suhu di Indonesia naik sampai 4 derajat Celsius.
"Kedua, kita baru bicara fenomena El Nino. jadi secara alam memang bulan ini kan udah Agustus, Juli-Agustus hampir sama, peningkatan suhunya tertinggi dari sebelum-sebelumnya. Kalau sebelumnya itu 0,5 sampai 1 derajat peningkatannya, ini sudah sampai 4. Anda bayangkan 4 ini bisa men-trigger apapun secara alamiah," tuturnya.
El Nino menguat
Tidak hanya itu, menurut Erma juga terdapat faktor interannual atau variasi antar tahunan yang terjadi di Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Menurutnya hal ini juga erat kaitannya dengan keberadaan El Nino yang semakin kuat.
Merujuk Ikhtisar Cuaca Harian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Minggu (10/9), Indeks Nino 3.4 yang mengindikasikan tingkat El Nino berada pada angka +1,32 alias tidak signifikan. Indikator El Nino lainnya, Dipole Mode Index (DMI), ada pada angka +1,05 (IOD Positif) alias tidak signifikan.
Kendati begitu, dua indeks El Nino tersebut naik dari awal Agustus yang cuma +1,0 dan +0,01.
Menurut Erma hal ini sebetulnya tidak berdampak pada peningkatan suhu di sejumlah wilayah RI. Erma menjelaskan fenomena El Nino itu membuat beberapa wilayah Indonesia jadi tidak berawan.
"Apa efeknya? Sebenarnya bukan pada peningkatan panasnya, suhunya terus naik, bukan. Tapi pada minim awan dan kering, jadi panasnya itu berasal dari anomali suhu, kemudian itu panas. Keringnya karena IOD positif dan El Nino ini membuat wilayah di Indonesia itu menjadi tidak ada awan, sehingga kering kondisinya. Jadi ada panas dan kering," tutur Erma.
Kenapa Kondisi Cuaca di Bagian Utara dan Selatan Indonesia Berbeda?
Api membakar hutan dan lahan (karhutla) kawasan Gunung Bromo terlihat di Pos Jemplang, Malang, Jawa Timur. (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Mada)
Kendati begitu, Erma mengungkapkan bahwa dalam dinamika cuaca, awan-awan itu bukan kemudian menghilang sama sekali dari langit Indonesia. Menurut dia kekeringan di Jawa itu akibat awan hujan hanya terkonsentrasi di bagian utara garis ekuator.
"Yang menjadi pembeda dia si awan-awan itu, dan juga hujannya, kemungkinan besar atau potensinya itu terkonsentrasi hanya di garis ekuator ke utara. Jadi pembedanya, batasnya itu garis ekuator itu," jelas Erma.
"Jadi wilayah di selatan ekuator ini yang minim [hujan] itu dan ini konsisten karena kita sudah melihat dua bulan ini konsisten terus nih, enggak bisa awan ini tertarik ke selatan," imbuhnya.
Menurut Erma ini membuat sejumlah wilayah di pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua masih kerap diguyur hujan, bahkan dengan intensitas lebat. Sementara, sebagian besar wilayah di Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara masih mengalami kekeringan ekstrem.
"Tapi beda dengan Sumatera yang dekat dengan Laut Cina Selatan, termasuk Kalimantan juga yang kondisinya malah banyak banget hujan di sana karena awan juga sedang marak terbentuk di sana. Ini beda. Karena memang, saya melihat begini, ini adalah fakta ekstrem yang juga harus kita waspadai," ujar dia.
Menurut Erma fakta ekstrem ini adalah sebagian wilayah di Indonesia bagian utara ekuator bisa mengalami hujan ekstrem atau terus menerus. Sementara, di bagian selatan ekuator mengalami kekeringan ekstrem.
"Kalau kita melintas ke selatan ekuator, yang terjadi sebaliknya, kering terus menerus. Di utara ekuator basah terus menerus. Jadi basah dan kering yang berdampingan sangat dekat ini, itu kan jarang terjadi, itu namanya front, berarti ada massa uap air yang beda banget, yang di utara lembap, di Pulau Jawa kering. Itu ekstrem itu, harusnya kan enggak gitu, harusnya gradual," jelas dia.
Ia menyebutkan bahwa hal itu bisa terjadi karena faktor perubahan iklim.
"Ini fakta dari apa? Efek dari apa? Ya perubahan iklim. Perubahan iklim itu faktanya adalah, ada garis demarkasi yang bernama garis ekuator itu, di mana di utara hujan deras karena lembap banget, sementara ketika masuk laut Jawa itu luar biasa kering, apalagi kondisinya suhu permukaan laut di selatan Jawa itu dingin banget dan meluas. Itu artinya sama sekali awan susah terbentuk," papar dia.