Ahli Prediksi Kapan Manusia Punah Gara-gara Bumi Jadi 'Neraka'
CNN Indonesia
Jumat, 29 Sep 2023 07:49 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Pakar mengungkap prediksi kapan manusia bisa punah imbas terpanggang Matahari. (NASA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sebuah studi memprediksi kapan manusia bakal punah akibat perubahan struktur benua yang memicu panas yang belum pernah terjadi di Bumi akibat perubahan iklim.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience dan dipimpin oleh pakar dari University of Bristol, Inggris, ini memprediksi kepunahan massal berikutnya di Bumi usai kehancuran dinosaurus ini setidaknya terjadi dalam waktu 250 juta tahun lagi.
Peneliti menggunakan pemodelan iklim superkomputer pertama ini menunjukkan bagaimana iklim ekstrem akan meningkat secara dramatis saat benua-benua di dunia akhirnya bergabung membentuk satu benua super (super-kontinen) yang panas, kering, dan sebagian besar tidak dapat dihuni.
Temuan ini memproyeksikan bagaimana suhu tinggi ini akan terus meningkat, karena Matahari menjadi lebih terang, memancarkan lebih banyak energi dan menghangatkan Bumi.
Proses tektonik yang terjadi di kerak Bumi dan menghasilkan pembentukan superkontinen juga akan menyebabkan letusan gunung berapi yang lebih sering terjadi yang menghasilkan pelepasan karbon dioksida dalam jumlah besar ke atmosfer.
Dengan begitu mengakibatkan akan semakin menghangatkan planet ini, seperti dikutip dari halaman resmi University of Bristol.
Penulis utama Alexander Farnsworth, Senior Research Associate di University of Bristol, mengatakan benua super yang baru muncul secara efektif akan menciptakan trio kenahasan (triple whammy).
Itu terdiri dari efek kontinental, Matahari yang lebih panas, dan lebih banyak CO2 di atmosfer.
"Akibatnya adalah lingkungan yang sebagian besar tidak bersahabat, tanpa sumber makanan dan air bagi mamalia," ujar dia.
"Suhu yang naik antara 40 hingga 50 derajat Celcius, dan bahkan suhu harian yang lebih ekstrem, diperparah dengan tingkat kelembapan yang tinggi pada akhirnya akan menyegel nasib kita," kata dia.
Adaptasi manusia
Mamalia, termasuk manusia, bisa bertahan dalam sejarah berkat kemampuannya menyesuaikan diri dengan cuaca ekstrem. Di antaranya, melalui adaptasi seperti bulu dan hibernasi dalam cuaca dingin, serta hibernasi cuaca hangat dalam waktu singkat.
Meski mamalia telah berevolusi untuk menurunkan batas ketahanan suhu dingin mereka, toleransi suhu atas mereka pada umumnya tetap konstan.
Fenomena benua super ini pun membuat paparan panas yang berlebihan dalam waktu lama menjadi lebih sulit untuk diatasi dan simulasi iklim pada akhirnya akan terbukti membuat manusia tidak dapat bertahan.
"Manusia, dan banyak spesies lainnya, akan mati karena ketidakmampuan mereka mengeluarkan panas melalui keringat, sehingga mendinginkan tubuh mereka," kata Farnsworth.
Peneliti menyebut perubahan iklim yang saat ini terjadi akibat ulah manusia memang masih memberi celah pada planet ini untuk tetap layak huni.
Namun, ketika superkontinen itu terbentuk, studi menunjukkan bahwa hanya sekitar 8 hingga 16 persen daratan yang dapat dihuni oleh mamalia.
Farnsworth, Profesor tamu di Tibetan Plateau Earth System, Environment and Resources (TPESER), mengatakan prospek di masa depan saat benua super terbentuk sangatlah suram.
"Tingkat karbon dioksida bisa dua kali lipat dari tingkat saat ini. Dengan Matahari yang juga diperkirakan akan memancarkan sekitar 2,5 persen lebih banyak radiasi dan superkontinen yang sebagian besar terletak di daerah tropis yang panas dan lembab," ungkapnya.
"Sebagian besar planet ini akan menghadapi suhu antara 40 hingga 70 derajat C," lanjut Farnsworth.
Krisis iklim di halaman berikutnya...
Penelitian yang merupakan bagian dari proyek yang didanai oleh UK Research and Innovation Natural Environment Research Council (UKRI NERC) ini juga menyebut pentingnya tata letak benua ketika melakukan penelitian planet di luar tata surya kita, exoplanet;
Apakah benua-benua itu tersebar, seperti yang kita miliki saat ini, atau berada dalam satu superkontinen besar.
Saat ini, penelitian soal planet ekstrasurya tersebut masih terus digeber dengan tujuan mencari planet layak huni alternatif buat manusia.
Meski masih panjang, peneliti mengungkap pentingnya mencegah krisis iklim berlanjut dari sekarang.
Rekan penulis Eunice Lo, Peneliti Perubahan Iklim dan Kesehatan di University of Bristol, menilai saat ini kondisi panas ekstrem buntut krisis iklim yang merupakan hasil dari emisi gas rumah kaca yang dihasilkan manusia mesti tetap diperhatikan.
"Sementara kita memprediksi planet ini tidak dapat dihuni dalam 250 juta tahun lagi, saat ini kita sudah mengalami panas ekstrem yang merugikan kesehatan manusia. Oleh karena itu, sangat penting untuk mencapai emisi nol nol sesegera mungkin," tuturnya.
Tim ilmuwan internasional menerapkan model iklim, mensimulasikan tren suhu, angin, hujan, dan kelembapan untuk superkontinen berikutnya, yang disebut Pangea Ultima, yang diperkirakan akan terbentuk dalam 250 juta tahun mendatang.
Untuk memperkirakan tingkat CO2 di masa depan, tim menggunakan model pergerakan lempeng tektonik, kimia dan biologi lautan untuk memetakan masukan dan keluaran CO2.
Perhitungan CO2 di masa depan dipimpin oleh Profesor Benjamin Mills dari University of Leeds, Inggris mengatakan CO2 dapat meningkat dari sekitar 400 parts per million (ppm), dan saat ini menjadi lebih dari 600 ppm jutaan tahun di masa depan.
"Tentu saja, hal ini mengasumsikan bahwa manusia akan berhenti membakar bahan bakar fosil, jika tidak, kita akan melihat angka-angka itu jauh lebih cepat," tuturnya.
Sebuah studi memprediksi kapan manusia bakal punah akibat perubahan struktur benua yang memicu panas yang belum pernah terjadi di Bumi akibat perubahan iklim.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience dan dipimpin oleh pakar dari University of Bristol, Inggris, ini memprediksi kepunahan massal berikutnya di Bumi usai kehancuran dinosaurus ini setidaknya terjadi dalam waktu 250 juta tahun lagi.
Peneliti menggunakan pemodelan iklim superkomputer pertama ini menunjukkan bagaimana iklim ekstrem akan meningkat secara dramatis saat benua-benua di dunia akhirnya bergabung membentuk satu benua super (super-kontinen) yang panas, kering, dan sebagian besar tidak dapat dihuni.
Temuan ini memproyeksikan bagaimana suhu tinggi ini akan terus meningkat, karena Matahari menjadi lebih terang, memancarkan lebih banyak energi dan menghangatkan Bumi.
Proses tektonik yang terjadi di kerak Bumi dan menghasilkan pembentukan superkontinen juga akan menyebabkan letusan gunung berapi yang lebih sering terjadi yang menghasilkan pelepasan karbon dioksida dalam jumlah besar ke atmosfer.
Dengan begitu mengakibatkan akan semakin menghangatkan planet ini, seperti dikutip dari halaman resmi University of Bristol.
Penulis utama Alexander Farnsworth, Senior Research Associate di University of Bristol, mengatakan benua super yang baru muncul secara efektif akan menciptakan trio kenahasan (triple whammy).
Itu terdiri dari efek kontinental, Matahari yang lebih panas, dan lebih banyak CO2 di atmosfer.
"Akibatnya adalah lingkungan yang sebagian besar tidak bersahabat, tanpa sumber makanan dan air bagi mamalia," ujar dia.
"Suhu yang naik antara 40 hingga 50 derajat Celcius, dan bahkan suhu harian yang lebih ekstrem, diperparah dengan tingkat kelembapan yang tinggi pada akhirnya akan menyegel nasib kita," kata dia.
Adaptasi manusia
Mamalia, termasuk manusia, bisa bertahan dalam sejarah berkat kemampuannya menyesuaikan diri dengan cuaca ekstrem. Di antaranya, melalui adaptasi seperti bulu dan hibernasi dalam cuaca dingin, serta hibernasi cuaca hangat dalam waktu singkat.
Meski mamalia telah berevolusi untuk menurunkan batas ketahanan suhu dingin mereka, toleransi suhu atas mereka pada umumnya tetap konstan.
Fenomena benua super ini pun membuat paparan panas yang berlebihan dalam waktu lama menjadi lebih sulit untuk diatasi dan simulasi iklim pada akhirnya akan terbukti membuat manusia tidak dapat bertahan.
"Manusia, dan banyak spesies lainnya, akan mati karena ketidakmampuan mereka mengeluarkan panas melalui keringat, sehingga mendinginkan tubuh mereka," kata Farnsworth.
Peneliti menyebut perubahan iklim yang saat ini terjadi akibat ulah manusia memang masih memberi celah pada planet ini untuk tetap layak huni.
Namun, ketika superkontinen itu terbentuk, studi menunjukkan bahwa hanya sekitar 8 hingga 16 persen daratan yang dapat dihuni oleh mamalia.
Farnsworth, Profesor tamu di Tibetan Plateau Earth System, Environment and Resources (TPESER), mengatakan prospek di masa depan saat benua super terbentuk sangatlah suram.
"Tingkat karbon dioksida bisa dua kali lipat dari tingkat saat ini. Dengan Matahari yang juga diperkirakan akan memancarkan sekitar 2,5 persen lebih banyak radiasi dan superkontinen yang sebagian besar terletak di daerah tropis yang panas dan lembab," ungkapnya.
"Sebagian besar planet ini akan menghadapi suhu antara 40 hingga 70 derajat C," lanjut Farnsworth.
Krisis iklim di halaman berikutnya...
Pentingnya Mengatasi Krisis Iklim
Peneliti menemukan gletser di Swiss makin mencair. Pemanasan global kini makin nyata. (AP/Matthias Schrader)
Penelitian yang merupakan bagian dari proyek yang didanai oleh UK Research and Innovation Natural Environment Research Council (UKRI NERC) ini juga menyebut pentingnya tata letak benua ketika melakukan penelitian planet di luar tata surya kita, exoplanet;
Apakah benua-benua itu tersebar, seperti yang kita miliki saat ini, atau berada dalam satu superkontinen besar.
Saat ini, penelitian soal planet ekstrasurya tersebut masih terus digeber dengan tujuan mencari planet layak huni alternatif buat manusia.
Meski masih panjang, peneliti mengungkap pentingnya mencegah krisis iklim berlanjut dari sekarang.
Rekan penulis Eunice Lo, Peneliti Perubahan Iklim dan Kesehatan di University of Bristol, menilai saat ini kondisi panas ekstrem buntut krisis iklim yang merupakan hasil dari emisi gas rumah kaca yang dihasilkan manusia mesti tetap diperhatikan.
"Sementara kita memprediksi planet ini tidak dapat dihuni dalam 250 juta tahun lagi, saat ini kita sudah mengalami panas ekstrem yang merugikan kesehatan manusia. Oleh karena itu, sangat penting untuk mencapai emisi nol nol sesegera mungkin," tuturnya.
Tim ilmuwan internasional menerapkan model iklim, mensimulasikan tren suhu, angin, hujan, dan kelembapan untuk superkontinen berikutnya, yang disebut Pangea Ultima, yang diperkirakan akan terbentuk dalam 250 juta tahun mendatang.
Untuk memperkirakan tingkat CO2 di masa depan, tim menggunakan model pergerakan lempeng tektonik, kimia dan biologi lautan untuk memetakan masukan dan keluaran CO2.
Perhitungan CO2 di masa depan dipimpin oleh Profesor Benjamin Mills dari University of Leeds, Inggris mengatakan CO2 dapat meningkat dari sekitar 400 parts per million (ppm), dan saat ini menjadi lebih dari 600 ppm jutaan tahun di masa depan.
"Tentu saja, hal ini mengasumsikan bahwa manusia akan berhenti membakar bahan bakar fosil, jika tidak, kita akan melihat angka-angka itu jauh lebih cepat," tuturnya.