Ahli Ungkap Penjajahan Israel Bikin Krisis Iklim Palestina Makin Ngeri
CNN Indonesia
Senin, 06 Nov 2023 12:48 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Pakar dan sejumlah studi mengungkap agresi Israel ke Palestina memperburuk krisis iklim. (Foto: via REUTERS/IDF)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah pakar mengatakan bahwa agresi Israel ke Palestina, dan khususnya serangan ke Gaza, menimbulkan konsekuensi lingkungan yang serius dalam jangka panjang.
Koordinator Jaringan LSM Lingkungan Palestina, Abeer Butmeh, mengatakan Jalur Gaza terguncang oleh dampak krisis iklim global, terutama kekeringan.
Selain ribuan warga sipil tewas di Gaza imbas agresi Israel sejak 7 Oktober, kehancuran di wilayah tersebut juga menimbulkan bencana lingkungan dan kesehatan masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penduduk di Gaza, yang telah terkena dampak buruk perubahan iklim selama bertahun-tahun, makin kesulitan dalam mengakses sumber daya air.
Sebuah studi berjudul "Restructuring the Israel-Palestine Joint Water Committee," yang disusun oleh para ahli dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada 2019 menemukan curah hujan tahunan rata-rata di wilayah tersebut akan turun 10 hingga 30 persen pada 2100.
Selain itu, studi tersebut memprediksi suhu akan meningkat 3 hingga 5 derajat Celsius, dan akan mempengaruhi produktivitas pertanian dan pasokan makanan di wilayah tersebut, yang menyebabkan ketidakstabilan harga dan kelangkaan pangan imbas agresi Israel.
Dalam studi lain, "Options and Strategies for Planning Water and Climate Security in the Occupied Palestinian Territories," yang diterbitkan tahun lalu oleh para akademisi United Nations University, ditemukan bahwa wilayah Palestina, yang digambarkan sebagai wilayah yang menderita panas, kekeringan, dan kelangkaan air, dan secara geografis rentan karena perubahan iklim.
Studi ini juga mengatakan kebutuhan air sebagian besar dipenuhi oleh akuifer gunung dan pantai serta cekungan Sungai Yordan.
Namun, sebagian besar sumber daya berada di bawah kendali Israel, dan diperkirakan sekitar 80 persen dari cekungan tersebut akan mengering dalam beberapa dekade.
Memperparah kekeringan
Penelitian ini menunjukkan bahwa konflik yang sedang berlangsung di wilayah tersebut dapat memperburuk kekeringan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Konflik ini juga mengganggu kelangsungan kegiatan pertanian dan peternakan, serta menyebabkan peningkatan serangga dan parasit berbahaya.
Menurut para ahli yang terlibat dalam penelitian, Israel secara khusus menargetkan pembangkit listrik, sistem pemurnian air, dan sumber daya air di Gaza.
Akibatnya, air limbah yang tidak diolah atau diolah sebagian dibuang langsung ke Laut Mediterania, sehingga menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, mengutip Anadolu.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat batas bawah air per orang per hari adalah 100 liter (26 galon), angkanya turun menjadi 45 liter di Gaza, 50 liter di Yerusalem dan Tepi Barat, serta 20 liter di beberapa daerah di bawah kendali Israel.
Rata-rata orang Israel mengkonsumsi 369,5 liter air per hari. Akibatnya, 660.000 warga Palestina yang tinggal di Yerusalem dan Tepi Barat tidak memiliki akses yang cukup untuk mendapatkan air, sementara 1 juta orang di Gaza mengalami kelangkaan air.
Studi tersebut juga menunjukkan bahwa kelangkaan air di Gaza mendorong penduduk untuk membeli lebih banyak air dari perusahaan swasta, dan 97 persen penduduk mencoba memenuhi kebutuhan air mereka dari tanker air swasta yang tidak diatur dan pabrik pengolahan skala kecil dan tidak resmi.
Studi itu menunjukkan Rumah tangga menghabiskan sepertiga, dan dalam beberapa periode, setengah dari pendapatan mereka untuk membeli air, dan mencatat bahwa 64 persen penduduk berada dalam kemiskinan dan air minum menjadi mahal.
Kamus Pemanasan Global (Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian)
Perjuangan melawan kekeringan dan penjajahan di halaman berikutnya...
Butmeh mengatakan Palestina sedang berjuang melawan kekeringan dan kurangnya curah hujan karena perubahan iklim, dan suhu naik sangat tinggi di musim panas dan turun sangat rendah di musim dingin.
Ia mencatat bahwa telah terjadi penurunan intensitas curah hujan dalam 14 tahun terakhir, dan perubahan suhu serta curah hujan berdampak pada tanaman dan tingkat air tanah.
Menurut Butmen, penjajahan dan pembatasan Israel telah meningkatkan kerentanan di wilayah tersebut terhadap perubahan iklim.
"Israel membatasi sumber daya air di wilayah yang berada di bawah kendali pemerintahan Palestina, meskipun mereka tidak memiliki otoritas. Izin harus diperoleh dari Israel untuk kegiatan-kegiatan seperti pengeboran sumur air di wilayah tersebut dan membangun pabrik pengolahan," jelas dia.
Ia menambahkan sebagian besar permintaan tersebut ditolak. Dia mencatat Israel mengizinkan sejumlah kecil bahan bakar masuk ke Gaza, yang berada di bawah blokade.
"Karena kebutuhan energi untuk fasilitas pengolahan air tidak dapat dipenuhi, fasilitas-fasilitas ini tidak dapat selalu beroperasi. Ini berarti air limbah dibuang ke laut tanpa pengolahan. Sebagai akibat dari air limbah yang dibuang menembus ke dalam akuifer pesisir, 96 persen air di wilayah tersebut tidak memenuhi kriteria yang layak untuk diminum," katanya.
Tidak hanya itu, Butmeh juga mengungkap bahwa pemerintah Israel telah membangun sebuah bendungan di perbatasan timur Gaza. Mereka tiba-tiba membuka bendungan tersebut, menyebabkan lahan pertanian terendam banjir.
Menurut dia hal ini menyebabkan kerusakan pada sebagian besar lahan pertanian dan tanaman di Gaza. Krisis iklim tidak hanya bersifat alamiah, tetapi juga politis di Palestina.
"Ketika perubahan iklim dikombinasikan dengan serangan Israel, lahan pertanian mengering karena tidak ada air untuk mengairi tanaman yang ditanam di sana, dan oleh karena itu, orang-orang berhenti mengolah tanah mereka," tambahnya.
Lebih lanjut pejabat tersebut menggarisbawahi bahwa produksi gandum sangat terpengaruh, dengan penurunan produksi sebesar 10 persen antara tahun 2010 dan 2020.
Butmeh mengatakan bahwa serangan terbaru ini akan menimbulkan dampak lingkungan yang serius dalam jangka panjang.
"Kita akan melihat dampaknya terhadap tanah, air, habitat laut, udara dan yang paling penting, kesehatan manusia. Saat ini, Israel telah memutus sumber air di Gaza dan Gaza telah kehabisan air yang dapat diminum," katanya.
"Warga Palestina hidup di bawah dua ancaman, pendudukan Israel dan perubahan iklim," katanya.
"Kami tidak dapat memerangi dampak perubahan iklim selama Israel melakukan pembatasan. Sebagai warga Palestina, kami berusaha mencari solusi yang berbeda untuk beradaptasi dengan perubahan iklim. Sebagai warga Palestina, kami memiliki hak untuk mendapatkan air dari sumber daya air kami sendiri.
"Kami sedang berjuang untuk mencapai hal ini. Terlepas dari semua pembatasan ini, kami akan terus bekerja untuk menemukan solusi. Kami melakukan yang terbaik untuk mencapai keadilan iklim di Palestina, tetapi tidak ada keadilan iklim di bawah penjajahan," tambahnya.
Sejumlah pakar mengatakan bahwa agresi Israel ke Palestina, dan khususnya serangan ke Gaza, menimbulkan konsekuensi lingkungan yang serius dalam jangka panjang.
Koordinator Jaringan LSM Lingkungan Palestina, Abeer Butmeh, mengatakan Jalur Gaza terguncang oleh dampak krisis iklim global, terutama kekeringan.
Selain ribuan warga sipil tewas di Gaza imbas agresi Israel sejak 7 Oktober, kehancuran di wilayah tersebut juga menimbulkan bencana lingkungan dan kesehatan masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penduduk di Gaza, yang telah terkena dampak buruk perubahan iklim selama bertahun-tahun, makin kesulitan dalam mengakses sumber daya air.
Sebuah studi berjudul "Restructuring the Israel-Palestine Joint Water Committee," yang disusun oleh para ahli dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada 2019 menemukan curah hujan tahunan rata-rata di wilayah tersebut akan turun 10 hingga 30 persen pada 2100.
Selain itu, studi tersebut memprediksi suhu akan meningkat 3 hingga 5 derajat Celsius, dan akan mempengaruhi produktivitas pertanian dan pasokan makanan di wilayah tersebut, yang menyebabkan ketidakstabilan harga dan kelangkaan pangan imbas agresi Israel.
Dalam studi lain, "Options and Strategies for Planning Water and Climate Security in the Occupied Palestinian Territories," yang diterbitkan tahun lalu oleh para akademisi United Nations University, ditemukan bahwa wilayah Palestina, yang digambarkan sebagai wilayah yang menderita panas, kekeringan, dan kelangkaan air, dan secara geografis rentan karena perubahan iklim.
Studi ini juga mengatakan kebutuhan air sebagian besar dipenuhi oleh akuifer gunung dan pantai serta cekungan Sungai Yordan.
Namun, sebagian besar sumber daya berada di bawah kendali Israel, dan diperkirakan sekitar 80 persen dari cekungan tersebut akan mengering dalam beberapa dekade.
Memperparah kekeringan
Penelitian ini menunjukkan bahwa konflik yang sedang berlangsung di wilayah tersebut dapat memperburuk kekeringan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Konflik ini juga mengganggu kelangsungan kegiatan pertanian dan peternakan, serta menyebabkan peningkatan serangga dan parasit berbahaya.
Menurut para ahli yang terlibat dalam penelitian, Israel secara khusus menargetkan pembangkit listrik, sistem pemurnian air, dan sumber daya air di Gaza.
Akibatnya, air limbah yang tidak diolah atau diolah sebagian dibuang langsung ke Laut Mediterania, sehingga menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, mengutip Anadolu.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat batas bawah air per orang per hari adalah 100 liter (26 galon), angkanya turun menjadi 45 liter di Gaza, 50 liter di Yerusalem dan Tepi Barat, serta 20 liter di beberapa daerah di bawah kendali Israel.
Rata-rata orang Israel mengkonsumsi 369,5 liter air per hari. Akibatnya, 660.000 warga Palestina yang tinggal di Yerusalem dan Tepi Barat tidak memiliki akses yang cukup untuk mendapatkan air, sementara 1 juta orang di Gaza mengalami kelangkaan air.
Studi tersebut juga menunjukkan bahwa kelangkaan air di Gaza mendorong penduduk untuk membeli lebih banyak air dari perusahaan swasta, dan 97 persen penduduk mencoba memenuhi kebutuhan air mereka dari tanker air swasta yang tidak diatur dan pabrik pengolahan skala kecil dan tidak resmi.
Studi itu menunjukkan Rumah tangga menghabiskan sepertiga, dan dalam beberapa periode, setengah dari pendapatan mereka untuk membeli air, dan mencatat bahwa 64 persen penduduk berada dalam kemiskinan dan air minum menjadi mahal.
Kamus Pemanasan Global (Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian)
Perjuangan melawan kekeringan dan penjajahan di halaman berikutnya...
Palestina Berjuang Lawan Kekeringan
Ilustrasi. Pakar dan sejumlah studi mengungkap agresi Israel ke Palestina memperburuk krisis iklim. (Foto: REUTERS/MOHAMMED SALEM)
Butmeh mengatakan Palestina sedang berjuang melawan kekeringan dan kurangnya curah hujan karena perubahan iklim, dan suhu naik sangat tinggi di musim panas dan turun sangat rendah di musim dingin.
Ia mencatat bahwa telah terjadi penurunan intensitas curah hujan dalam 14 tahun terakhir, dan perubahan suhu serta curah hujan berdampak pada tanaman dan tingkat air tanah.
Menurut Butmen, penjajahan dan pembatasan Israel telah meningkatkan kerentanan di wilayah tersebut terhadap perubahan iklim.
"Israel membatasi sumber daya air di wilayah yang berada di bawah kendali pemerintahan Palestina, meskipun mereka tidak memiliki otoritas. Izin harus diperoleh dari Israel untuk kegiatan-kegiatan seperti pengeboran sumur air di wilayah tersebut dan membangun pabrik pengolahan," jelas dia.
Ia menambahkan sebagian besar permintaan tersebut ditolak. Dia mencatat Israel mengizinkan sejumlah kecil bahan bakar masuk ke Gaza, yang berada di bawah blokade.
"Karena kebutuhan energi untuk fasilitas pengolahan air tidak dapat dipenuhi, fasilitas-fasilitas ini tidak dapat selalu beroperasi. Ini berarti air limbah dibuang ke laut tanpa pengolahan. Sebagai akibat dari air limbah yang dibuang menembus ke dalam akuifer pesisir, 96 persen air di wilayah tersebut tidak memenuhi kriteria yang layak untuk diminum," katanya.
Tidak hanya itu, Butmeh juga mengungkap bahwa pemerintah Israel telah membangun sebuah bendungan di perbatasan timur Gaza. Mereka tiba-tiba membuka bendungan tersebut, menyebabkan lahan pertanian terendam banjir.
Menurut dia hal ini menyebabkan kerusakan pada sebagian besar lahan pertanian dan tanaman di Gaza. Krisis iklim tidak hanya bersifat alamiah, tetapi juga politis di Palestina.
"Ketika perubahan iklim dikombinasikan dengan serangan Israel, lahan pertanian mengering karena tidak ada air untuk mengairi tanaman yang ditanam di sana, dan oleh karena itu, orang-orang berhenti mengolah tanah mereka," tambahnya.
Lebih lanjut pejabat tersebut menggarisbawahi bahwa produksi gandum sangat terpengaruh, dengan penurunan produksi sebesar 10 persen antara tahun 2010 dan 2020.
Butmeh mengatakan bahwa serangan terbaru ini akan menimbulkan dampak lingkungan yang serius dalam jangka panjang.
"Kita akan melihat dampaknya terhadap tanah, air, habitat laut, udara dan yang paling penting, kesehatan manusia. Saat ini, Israel telah memutus sumber air di Gaza dan Gaza telah kehabisan air yang dapat diminum," katanya.
"Warga Palestina hidup di bawah dua ancaman, pendudukan Israel dan perubahan iklim," katanya.
"Kami tidak dapat memerangi dampak perubahan iklim selama Israel melakukan pembatasan. Sebagai warga Palestina, kami berusaha mencari solusi yang berbeda untuk beradaptasi dengan perubahan iklim. Sebagai warga Palestina, kami memiliki hak untuk mendapatkan air dari sumber daya air kami sendiri.
"Kami sedang berjuang untuk mencapai hal ini. Terlepas dari semua pembatasan ini, kami akan terus bekerja untuk menemukan solusi. Kami melakukan yang terbaik untuk mencapai keadilan iklim di Palestina, tetapi tidak ada keadilan iklim di bawah penjajahan," tambahnya.