Ahli Bicara Hubungan Kelahiran Yesus dan Hari Natal
CNN Indonesia
Senin, 25 Des 2023 08:19 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Banyak pakar ragu 25 Desember bukan tanggal lahir Yesus Kristus. Lalu, kapan Yesus lahir? (Foto: Alexas_Fotos/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --
Perayaan Natal tanggal 25 Desember diperingati di seluruh dunia sebagai peringatan kelahiran Yesus Kristus. Namun, sejumlah pakar menganggap tanggal tersebut bukan tanggal lahir Yesus Kristus. Lalu, kapan tanggal kelahirannya?
Hingga saat ini tidak ada seorang pun yang mengetahui secara pasti kapan Yesus dilahirkan. Beberapa ahli percaya bahwa Ia lahir antara tahun 6 SM dan 4 SM, sebagian didasarkan pada kisah Alkitab Raja Herodes Agung.
Dalam Alkitab, disebutkan bahwa sebagai upaya membunuh Yesus, raja diduga memerintahkan kematian semua bayi laki-laki di bawah usia 2 tahun yang tinggal di sekitar Betlehem. Ini juga dikenal sebagai peristiwa Pembantaian Orang Tak Bersalah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini terjadi tidak lama sebelum kematian Herodes, dengan tanggal yang masih diperdebatkan.
Namun, sebagian besar ilmuwan, termasuk Peter Richardson dan Amy Marie Fisher dalam buku mereka "Herod: King of the Jews and Friend of the Romans: Second edition", mengikuti tanggal yang digunakan oleh sejarawan Romawi yang percaya bahwa Herodes meninggal pada tahun 4 SM.
Para sejarawan tidak sepakat mengenai tahun kematian Herodes yang sebenarnya. Tidak hanya itu, banyak yang berpendapat bahwa pembunuhan bayi massal tidak lebih dari sebuah legenda, mengutip Live Science.
Reza Aslan, seorang Ahli Alktab, dalam bukunya berjudul 'Zealot: The Life and Times of Jesus of Nazareth' menulis bahwa pembantaian Herodes adalah "sebuah peristiwa tanpa ada sedikit pun bukti yang menguatkan dalam kronik atau sejarah apapun pada masa itu, baik sejarah Yahudi, Kristen, maupun Romawi."
Para ahli lain mencoba menghubungkan 'Bintang Betlehem', yang konon menandakan kelahiran Yesus, dengan peristiwa astronomi yang sebenarnya untuk menentukan tahun kelahiran-Nya.
Sebagai contoh, dalam sebuah artikel di Quarterly Journal of the Royal Astronomical Society pada 1991, astronom Colin Humphreys mengusulkan bahwa bintang dongeng tersebut sebenarnya adalah komet yang bergerak lambat, yang dicatat oleh para pengamat Tiongkok pada tahun 5 SM.
Bulan kelahiran Yesus juga menjadi perdebatan, dengan satu teori yang menyatakan bahwa Bintang Betlehem mungkin adalah Venus dan Jupiter yang bersatu membentuk cahaya terang di langit, sebuah peristiwa langka yang terjadi pada bulan Juni tahun 2 SM.
Kemungkinan lain adalah konjungsi serupa antara Saturnus dan Jupiter, yang terjadi pada bulan Oktober tahun 7 SM.
Ada juga spekulasi yang mengatakan bahwa Yesus adalah bayi musim semi. Pakar Ignacio L. Gotz berpendapat bahwa Yesus bisa saja lahir "pada akhir musim semi tahun itu karena kehamilan dimulai pada musim gugur setelah panen dan ada cukup uang untuk pesta pernikahan."
Lalu, kenapa tanggal 25 Desember diperingati sebagai hari kelahiran Yesus Kristus?
Para peneliti berspekulasi Gereja Katolik Roma memilih tanggal 25 Desember karena bertepatan dengan titik balik Matahari musim dingin dan Saturnalia, sebuah festival yang didedikasikan untuk dewa Romawi Saturnus.
Gotz dalam bukunya berjudul "Jesus the Jew: Reality, Politics, and Myth-A Personal Encouter" menjelaskan pihak Gereja menggabungkan festival pagan yang populer ini dengan perayaan musim dingin agama pagan lainnya, dengan memilih hari ini untuk merayakan hari lahir Yesus.
Sebuah teori yang dikenal dengan 'Sejarah Agama' juga menyatakan, Natal mengambil dari hari libur kaum pagan.
Sementara, satu teori lainnya yang disebut 'komputasi' atau 'kalkulasi' menyebut, kaum Kristiani awal menggunakan semacam perhitungan untuk memilih tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus Kristus.
Infografis Tadisi Natal. (CNN Indonesia)
Festival penyembah berhala di halaman berikutnya...
Ahli dari University of Oxford Philipp Nothaft menyebut dua teori itu tidak saling bertentangan. "Dua hipotesis itu tidak terpisah satu sama lain," kata dia, yang meriset sejarah astronomi dan kronologi dan pernah meneliti serta menulis soal tanggal Natal.
Pada teori 'Sejarah Agama' disebutkan bahwa umat Kristiani awal mengambil tanggal 25 Desember berdasarkan hari raya yang ditujukan untuk Dewa Matahari, Sol Invictus, yang dirayakan pada era Kekaisaran Romawi.
Kemudian, ada pula festival pagan yang disebut Saturnalia pada pertengahan Desember yang berlangsung selama beberapa hari. Namun demikian, terdapat beberapa masalah dengan teori tersebut.
"Umat Kristiani mungkin telah merayakan hari ulang tahun Yesus pada 25 Desember sebelum perayaan Sol Invictus dibuat," tulis Paul Bradshaw, Profesor Emeritus dari University of Notre Dame, yang menulis artikel dalam buku The Oxford Handbook of Christmas.
Pendapat Bradshaw disetujui oleh Nothaft. "Banyak hal yang berkaitan dengan kapan tanggal 25 Desember menjadi pesta bangsa Romawi yang berkaitan dengan Sol Invictus," katanya.
"Kebanyakan ilmuwan mungkin setuju bahwa pesta itu cenderung bukan berasal dari sebelum tahun 274 Masehi, ketika Kaisar Aurelian mendedikasikan kuil baru untuk Sol Invictus di Roma. Kita hanya punya sedikit pengetahuan soal pesta ini untuk membuat pernyataan publik," kata Nothaft.
Di sisi lain, dalam artikel berjudul Solstice Determination at Moon, seorang astronom Anglo-Australia David A. Allen menulis Hari Natal "secara tradisional merupakan tanggal di mana para pengamat di Bumi bagian utara bisa untuk pertama kali mendeteksi pergerakan ke arah utara dari Matahari setelah titik baliknya di pertengahan musim dingin."
Allen menyebut, tanggal itu diperkenalkan ke dalam kalender Kristiani pada Abad ke-4 Masehi oleh Kaisar Roma, Konstantin yang "membaurkan agama Kristen yang masih muda, dengan agama Mithraisme yang lebih tua dan pemujaan terhadap Sol Invictus"
"Pada waktu itu, 25 Desember dikenal sebagai Nativis Invictus, hari kelahiran kembali Matahari. Sebelum era Konstantin, hari ulang tahun Yesus dirayakan setiap 6 Januari," tulis Allen.
Kemungkinan lain menyebut, umat Kristiani awal percaya bahwa hari penyaliban Yesus terjadi pada 25 Maret dan mereka menambahkan sembilan bulan untuk sampai pada tanggal 25 Desember. Itu artinya, umat Kristiani awal menimbang tanggal penyaliban Yesus untuk menjadi tanggal konsepsinya.
Namun teori komputasi ini juga menyisakan masalah. Pasalnya, alasan di balik mengasosiasikan tanggal 25 Maret sebagai tanggal konsepsi sekaligus penyaliban Yesus tidaklah jelas.
"Ada semacam ketidakpastian dalam kedua teori itu. Tetapi saya benar-benar berpikir teori komputasi punya sedikit keunggulan," tulis Bradshaw, mengutip LiveScience.
Jakarta, CNN Indonesia --
Perayaan Natal tanggal 25 Desember diperingati di seluruh dunia sebagai peringatan kelahiran Yesus Kristus. Namun, sejumlah pakar menganggap tanggal tersebut bukan tanggal lahir Yesus Kristus. Lalu, kapan tanggal kelahirannya?
Hingga saat ini tidak ada seorang pun yang mengetahui secara pasti kapan Yesus dilahirkan. Beberapa ahli percaya bahwa Ia lahir antara tahun 6 SM dan 4 SM, sebagian didasarkan pada kisah Alkitab Raja Herodes Agung.
Dalam Alkitab, disebutkan bahwa sebagai upaya membunuh Yesus, raja diduga memerintahkan kematian semua bayi laki-laki di bawah usia 2 tahun yang tinggal di sekitar Betlehem. Ini juga dikenal sebagai peristiwa Pembantaian Orang Tak Bersalah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini terjadi tidak lama sebelum kematian Herodes, dengan tanggal yang masih diperdebatkan.
Namun, sebagian besar ilmuwan, termasuk Peter Richardson dan Amy Marie Fisher dalam buku mereka "Herod: King of the Jews and Friend of the Romans: Second edition", mengikuti tanggal yang digunakan oleh sejarawan Romawi yang percaya bahwa Herodes meninggal pada tahun 4 SM.
Para sejarawan tidak sepakat mengenai tahun kematian Herodes yang sebenarnya. Tidak hanya itu, banyak yang berpendapat bahwa pembunuhan bayi massal tidak lebih dari sebuah legenda, mengutip Live Science.
Reza Aslan, seorang Ahli Alktab, dalam bukunya berjudul 'Zealot: The Life and Times of Jesus of Nazareth' menulis bahwa pembantaian Herodes adalah "sebuah peristiwa tanpa ada sedikit pun bukti yang menguatkan dalam kronik atau sejarah apapun pada masa itu, baik sejarah Yahudi, Kristen, maupun Romawi."
Para ahli lain mencoba menghubungkan 'Bintang Betlehem', yang konon menandakan kelahiran Yesus, dengan peristiwa astronomi yang sebenarnya untuk menentukan tahun kelahiran-Nya.
Sebagai contoh, dalam sebuah artikel di Quarterly Journal of the Royal Astronomical Society pada 1991, astronom Colin Humphreys mengusulkan bahwa bintang dongeng tersebut sebenarnya adalah komet yang bergerak lambat, yang dicatat oleh para pengamat Tiongkok pada tahun 5 SM.
Bulan kelahiran Yesus juga menjadi perdebatan, dengan satu teori yang menyatakan bahwa Bintang Betlehem mungkin adalah Venus dan Jupiter yang bersatu membentuk cahaya terang di langit, sebuah peristiwa langka yang terjadi pada bulan Juni tahun 2 SM.
Kemungkinan lain adalah konjungsi serupa antara Saturnus dan Jupiter, yang terjadi pada bulan Oktober tahun 7 SM.
Ada juga spekulasi yang mengatakan bahwa Yesus adalah bayi musim semi. Pakar Ignacio L. Gotz berpendapat bahwa Yesus bisa saja lahir "pada akhir musim semi tahun itu karena kehamilan dimulai pada musim gugur setelah panen dan ada cukup uang untuk pesta pernikahan."
Lalu, kenapa tanggal 25 Desember diperingati sebagai hari kelahiran Yesus Kristus?
Para peneliti berspekulasi Gereja Katolik Roma memilih tanggal 25 Desember karena bertepatan dengan titik balik Matahari musim dingin dan Saturnalia, sebuah festival yang didedikasikan untuk dewa Romawi Saturnus.
Gotz dalam bukunya berjudul "Jesus the Jew: Reality, Politics, and Myth-A Personal Encouter" menjelaskan pihak Gereja menggabungkan festival pagan yang populer ini dengan perayaan musim dingin agama pagan lainnya, dengan memilih hari ini untuk merayakan hari lahir Yesus.
Sebuah teori yang dikenal dengan 'Sejarah Agama' juga menyatakan, Natal mengambil dari hari libur kaum pagan.
Sementara, satu teori lainnya yang disebut 'komputasi' atau 'kalkulasi' menyebut, kaum Kristiani awal menggunakan semacam perhitungan untuk memilih tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus Kristus.
Infografis Tadisi Natal. (CNN Indonesia)
Festival penyembah berhala di halaman berikutnya...
Festival Pagan Era Kekaisaran Romawi
Ilustrasi. Beberapa ahli menilai 25 Desember terinsipirasi dari kepercayaan kuno. (Foto: Plixs/publicdomainpictures)
Ahli dari University of Oxford Philipp Nothaft menyebut dua teori itu tidak saling bertentangan. "Dua hipotesis itu tidak terpisah satu sama lain," kata dia, yang meriset sejarah astronomi dan kronologi dan pernah meneliti serta menulis soal tanggal Natal.
Pada teori 'Sejarah Agama' disebutkan bahwa umat Kristiani awal mengambil tanggal 25 Desember berdasarkan hari raya yang ditujukan untuk Dewa Matahari, Sol Invictus, yang dirayakan pada era Kekaisaran Romawi.
Kemudian, ada pula festival pagan yang disebut Saturnalia pada pertengahan Desember yang berlangsung selama beberapa hari. Namun demikian, terdapat beberapa masalah dengan teori tersebut.
"Umat Kristiani mungkin telah merayakan hari ulang tahun Yesus pada 25 Desember sebelum perayaan Sol Invictus dibuat," tulis Paul Bradshaw, Profesor Emeritus dari University of Notre Dame, yang menulis artikel dalam buku The Oxford Handbook of Christmas.
Pendapat Bradshaw disetujui oleh Nothaft. "Banyak hal yang berkaitan dengan kapan tanggal 25 Desember menjadi pesta bangsa Romawi yang berkaitan dengan Sol Invictus," katanya.
"Kebanyakan ilmuwan mungkin setuju bahwa pesta itu cenderung bukan berasal dari sebelum tahun 274 Masehi, ketika Kaisar Aurelian mendedikasikan kuil baru untuk Sol Invictus di Roma. Kita hanya punya sedikit pengetahuan soal pesta ini untuk membuat pernyataan publik," kata Nothaft.
Di sisi lain, dalam artikel berjudul Solstice Determination at Moon, seorang astronom Anglo-Australia David A. Allen menulis Hari Natal "secara tradisional merupakan tanggal di mana para pengamat di Bumi bagian utara bisa untuk pertama kali mendeteksi pergerakan ke arah utara dari Matahari setelah titik baliknya di pertengahan musim dingin."
Allen menyebut, tanggal itu diperkenalkan ke dalam kalender Kristiani pada Abad ke-4 Masehi oleh Kaisar Roma, Konstantin yang "membaurkan agama Kristen yang masih muda, dengan agama Mithraisme yang lebih tua dan pemujaan terhadap Sol Invictus"
"Pada waktu itu, 25 Desember dikenal sebagai Nativis Invictus, hari kelahiran kembali Matahari. Sebelum era Konstantin, hari ulang tahun Yesus dirayakan setiap 6 Januari," tulis Allen.
Kemungkinan lain menyebut, umat Kristiani awal percaya bahwa hari penyaliban Yesus terjadi pada 25 Maret dan mereka menambahkan sembilan bulan untuk sampai pada tanggal 25 Desember. Itu artinya, umat Kristiani awal menimbang tanggal penyaliban Yesus untuk menjadi tanggal konsepsinya.
Namun teori komputasi ini juga menyisakan masalah. Pasalnya, alasan di balik mengasosiasikan tanggal 25 Maret sebagai tanggal konsepsi sekaligus penyaliban Yesus tidaklah jelas.
"Ada semacam ketidakpastian dalam kedua teori itu. Tetapi saya benar-benar berpikir teori komputasi punya sedikit keunggulan," tulis Bradshaw, mengutip LiveScience.