Daftar Misi Antariksa 2024, Menuju Bulan dan Lebih Jauh Lagi
CNN Indonesia
Minggu, 14 Jan 2024 06:54 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Sejumlah misi antariksa dijadwalkan meluncur ke ruang angkasa pada tahun 2024 ini. (Foto: AP/Malcolm Denemark)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah misi antariksa dijadwalkan meluncur ke ruang angkasa pada tahun 2024 ini, termasuk wahana dengan tujuan ke Bulan, Venus, hingga Jupiter.
Untuk semester pertama tahun ini saja ada empat rencana pendaratan di Bulan. Dua misi digagas Amerika Serikat (AS), dan dua lainnya dari Jepang dan China.
Sementara, pada semester kedua tahun 2024, Roket Ariane 6 Eropa bakal melakoni debutnya ke ruang angkasa menuju asteroid Dimorphos. Misi ini bertujuan untuk meneliti kelayak hunian bulan es Jupiter, Europa.
Berikut adalah misi luar angkasa sepanjang 2024, melansir LiveScience:
1. Pendarat Bulan Peregrine
Untuk pertama kalinya sejak program Apollo berakhir lebih dari 50 tahun lalu, pesawat ruang angkasa akan mendarat di bulan.
Dua perusahaan swasta, Astrobotic yang berbasis di Pittsburgh dan Intuitive Machines yang berbasis di Houston, masing-masing berencana untuk mendaratkan pesawat ruang angkasa di bulan awal tahun ini.
Jika semuanya berjalan sesuai rencana, pesawat ruang angkasa itu akan mendarat pada 23 Februari di Sinus Viscositatis dan beroperasi selama delapan hari.
Dilengkapi dengan 20 muatan dari berbagai entitas pemerintah dan swasta, pesawat ruang angkasa ini akan menjadi yang pertama mempelajari wilayah misterius yang dikenal sebagai Gruithuisen Domes, wilayah yang berdekatan dengan lokasi pendaratannya.
Misi AS yang kedua adalah IM-1 dari Intuitive Machines yang bakal diluncurkan pertengahan Februari.
Misi ini sedianya meluncur antara tanggal 12-16 Januari, tapi ditunda karena masalah cuaca. Misi tersebut akan mengantarkan pendarat Nova-C ke tepi kawah Malapert A dekat kutub selatan bulan.
2. 'Sniper Bulan' dari Jepang
Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang (JAXA) berencana untuk mendaratkan robot pendarat Smart Lander for Investigating Moon (SLIM), yang dijuluki "sniper Bulan", di sisi dekat Bulan pada 20 Januari.
Tujuannya adalah untuk tiba dalam jarak 100 meter dari lokasi pendaratan targetnya, di tepi kawah tumbukan Shioli, yang dapat mengungkap lebih banyak wawasan tentang bagaimana bulan terbentuk.
Jika berhasil, Jepang akan menjadi negara kelima yang mendaratkan pesawat ruang angkasa di bulan, menyusul kesuksesan Uni Soviet, AS, China, dan India.
China berencana meluncurkan wahana antariksa mereka, Chang'e 6, ke Bulan pada Mei untuk mengumpulkan batu dari sisi jauh bulan.
Badan antariksa China belum mengungkapkan secara pasti lokasi pendaratan pesawat ruang angkasa tersebut.
Namun, wahana ini diperkirakan akan mendarat di Cekungan Kutub Selatan-Aitken, sebuah cekungan hasil tabrakan berusia 4 miliar tahun dan merupakan wilayah terbesar yang terpelihara dengan baik di sisi jauh Bulan
Sampel yang dikumpulkan di wilayah ini diperkirakan berasal dari mantel Bulan dan mungkin memberikan petunjuk tentang evolusi awal Bulan, Bumi, dan bahkan mungkin tata surya.
4. Peluncuran perdana Ariane 6
Badan Antariksa Eropa pada November tahun lalu mengumumkan peluncuran perdana Ariane 6 yang telah tertunda bakal dilaksanakan antara 15 Juni dan 31 Juli.
Eropa saat ini tidak memiliki akses independen terhadap ruang angkasa. Pendahulu Ariane 6, Ariane 5, dihentikan pada Juli 2022, dan roket lain yang lebih kecil, Vega-C, tetap tidak dapat terbang karena mengalami masalah teknis.
Keberhasilan peluncuran Ariane 6 akan menjadi momen penting bagi Eropa, sehingga memungkinkannya untuk sekali lagi meluncurkan satelit secara mandiri ke orbit.
Pada bulan September 2022, pesawat ruang angkasa Double Asteroid Redirection Test (DART) menguji metode pertahanan planet dengan menabrak asteroid Dimorphos, yang terletak sekitar 6,8 juta mil (11 juta km) dari Bumi, memperpendek orbitnya sebanyak 32 menit.
Untuk mempelajari dampak tabrakan ini, misi lanjutan Eropa, Hera, akan diluncurkan pada bulan Oktober, dengan tujuan untuk bertemu dengan Dimorphos pada akhir tahun 2026 atau awal tahun 2027.
Misi ini dirancang untuk mempelajari kawah yang ditinggalkan DART dan mendokumentasikan kondisi fisiknya Dimorphos dan pendamping asteroidnya, Didymos.
Baju Astronaut untuk Misi Luar Angkasa (Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian)
Pencarian samudera di bulannya Jupiter di halaman berikutnya...
6. Misi Jepang kembalikan sampel dari Phobos
Selama beberapa dekade, para ilmuwan masih mencari tahu asal-usul kedua bulan Mars; Phobos dan Deimos.
Bulan-bulan tersebut bisa jadi merupakan asteroid yang tertangkap--atau, bisa juga merupakan pecahan Mars yang menyatu menjadi bulan setelah asteroid menghantam permukaan Mars di masa lalu.
Untuk mempelajari lebih lanjut, Jepang berencana meluncurkan misi pengembalian sampel, Martian Moon eXploration (atau MMX), pada September untuk mempelajari Phobos, bulan yang lebih besar di antara kedua bulan tersebut.
Wahana antariksa dengan tiga modul ini pertama-tama akan tiba di orbit di sekitar Planet Merah pada tahun 2025.
Kemudian, wahana ini diharapkan akan bergerak ke orbit di sekitar Phobos dan mendaratkan modul pengumpul sampel di bulan selama beberapa jam untuk mengambil sekitar 0,02 pon (10 gram) material dari permukaannya.
Rencananya, pesawat ruang angkasa MMX akan kembali dengan sampel yang dikumpulkan dan mendarat pada tahun 2029 di fasilitas militer Australia yang disebut Zona Terlarang Woomera.
Bulan milik Jupiter, Europa, diperkirakan memiliki lautan air asin di bawah cangkang esnya, dengan jumlah air dua kali lebih banyak daripada lautan di Bumi, meskipun ukurannya lebih kecil dari bulan kita,
Untuk mengetahui apakah dunia kecil ini ramah terhadap kehidupan, NASA berencana meluncurkan Europa Clipper pada bulan Oktober sebagai misi pertama untuk menjelajahi dunia samudera selain Bumi.
Alih-alih mengorbit Europa secara langsung, wahana antariksa ini akan memasuki orbit di sekitar Jupiter pada tahun 2030 sehingga ia akan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menghindari radiasi kuat raksasa gas tersebut dan sesekali terbang melintasi Europa untuk mengamati struktur lautan dan komposisi kimianya.
Untuk mempelajari bagaimana dan kapan Mars kehilangan atmosfernya, NASA mengirimkan dua satelit yang dijuluki "Blue and Golden" sesuai dengan warna Universitas California, Berkeley yang memimpin misi mengelilingi Planet Merah pada Oktober.
Satelit tersebut merupakan bagian dari misi Escape and Plasma Acceleration and Dynamics Explorers (EscaPADE) untuk mempelajari bagaimana atmosfer Mars berinteraksi dengan angin matahari.
Sesuai rencana misi saat ini, satelit akan menyediakan data simultan dari berbagai posisi orbit di sekitar Mars mulai tahun 2026.
Misi Artemis II NASA, yang pertama mengirim astronaut ke dekat Bulan sejak 1972, dapat diluncurkan paling cepat pada November 2024 dari Kennedy Space Center di Florida.
Selama 10 hari perjalanan mengelilingi bulan, empat astronot (tiga dari NASA dan satu dari Badan Antariksa Kanada) akan menguji fungsionalitas pesawat ruang angkasa Orion untuk menentukan kesiapan program Artemis untuk misi berawak jangka panjang ke permukaan bulan.
Meski begitu, ada keraguan soal kesiapan misi berdasarkan pengawas program yang diprediksi memicu penundaan misi berbulan-bulan.
Menutup tahun 2024 akan menjadi misi Rocket Lab ke Venus. Misi ini dirancang untuk mencari bahan organik, yang mungkin merupakan indikator kehidupan, di atmosfer planet.
Pesawat luar angkasa Venus Life Finder, dilengkapi dengan wahana berukuran 16 inci (40 sentimeter) yang dibangun atas kerja sama dengan Institut Teknologi Massachusetts, akan terbang pada 30 Desember dan mencapai Venus 1,5 tahun kemudian.
Sesampainya di sana, pesawat ruang angkasa akan menjatuhkan instrumen tunggal ke awan Venus. Wahana ini akan membuat katalog molekul selama tiga hingga lima menit dan menentukan apakah ada indikator kehidupan atau tidak.
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah misi antariksa dijadwalkan meluncur ke ruang angkasa pada tahun 2024 ini, termasuk wahana dengan tujuan ke Bulan, Venus, hingga Jupiter.
Untuk semester pertama tahun ini saja ada empat rencana pendaratan di Bulan. Dua misi digagas Amerika Serikat (AS), dan dua lainnya dari Jepang dan China.
Sementara, pada semester kedua tahun 2024, Roket Ariane 6 Eropa bakal melakoni debutnya ke ruang angkasa menuju asteroid Dimorphos. Misi ini bertujuan untuk meneliti kelayak hunian bulan es Jupiter, Europa.
Berikut adalah misi luar angkasa sepanjang 2024, melansir LiveScience:
1. Pendarat Bulan Peregrine
Untuk pertama kalinya sejak program Apollo berakhir lebih dari 50 tahun lalu, pesawat ruang angkasa akan mendarat di bulan.
Dua perusahaan swasta, Astrobotic yang berbasis di Pittsburgh dan Intuitive Machines yang berbasis di Houston, masing-masing berencana untuk mendaratkan pesawat ruang angkasa di bulan awal tahun ini.
Jika semuanya berjalan sesuai rencana, pesawat ruang angkasa itu akan mendarat pada 23 Februari di Sinus Viscositatis dan beroperasi selama delapan hari.
Dilengkapi dengan 20 muatan dari berbagai entitas pemerintah dan swasta, pesawat ruang angkasa ini akan menjadi yang pertama mempelajari wilayah misterius yang dikenal sebagai Gruithuisen Domes, wilayah yang berdekatan dengan lokasi pendaratannya.
Misi AS yang kedua adalah IM-1 dari Intuitive Machines yang bakal diluncurkan pertengahan Februari.
Misi ini sedianya meluncur antara tanggal 12-16 Januari, tapi ditunda karena masalah cuaca. Misi tersebut akan mengantarkan pendarat Nova-C ke tepi kawah Malapert A dekat kutub selatan bulan.
2. 'Sniper Bulan' dari Jepang
Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang (JAXA) berencana untuk mendaratkan robot pendarat Smart Lander for Investigating Moon (SLIM), yang dijuluki "sniper Bulan", di sisi dekat Bulan pada 20 Januari.
Tujuannya adalah untuk tiba dalam jarak 100 meter dari lokasi pendaratan targetnya, di tepi kawah tumbukan Shioli, yang dapat mengungkap lebih banyak wawasan tentang bagaimana bulan terbentuk.
Jika berhasil, Jepang akan menjadi negara kelima yang mendaratkan pesawat ruang angkasa di bulan, menyusul kesuksesan Uni Soviet, AS, China, dan India.
China berencana meluncurkan wahana antariksa mereka, Chang'e 6, ke Bulan pada Mei untuk mengumpulkan batu dari sisi jauh bulan.
Badan antariksa China belum mengungkapkan secara pasti lokasi pendaratan pesawat ruang angkasa tersebut.
Namun, wahana ini diperkirakan akan mendarat di Cekungan Kutub Selatan-Aitken, sebuah cekungan hasil tabrakan berusia 4 miliar tahun dan merupakan wilayah terbesar yang terpelihara dengan baik di sisi jauh Bulan
Sampel yang dikumpulkan di wilayah ini diperkirakan berasal dari mantel Bulan dan mungkin memberikan petunjuk tentang evolusi awal Bulan, Bumi, dan bahkan mungkin tata surya.
4. Peluncuran perdana Ariane 6
Badan Antariksa Eropa pada November tahun lalu mengumumkan peluncuran perdana Ariane 6 yang telah tertunda bakal dilaksanakan antara 15 Juni dan 31 Juli.
Eropa saat ini tidak memiliki akses independen terhadap ruang angkasa. Pendahulu Ariane 6, Ariane 5, dihentikan pada Juli 2022, dan roket lain yang lebih kecil, Vega-C, tetap tidak dapat terbang karena mengalami masalah teknis.
Keberhasilan peluncuran Ariane 6 akan menjadi momen penting bagi Eropa, sehingga memungkinkannya untuk sekali lagi meluncurkan satelit secara mandiri ke orbit.
Pada bulan September 2022, pesawat ruang angkasa Double Asteroid Redirection Test (DART) menguji metode pertahanan planet dengan menabrak asteroid Dimorphos, yang terletak sekitar 6,8 juta mil (11 juta km) dari Bumi, memperpendek orbitnya sebanyak 32 menit.
Untuk mempelajari dampak tabrakan ini, misi lanjutan Eropa, Hera, akan diluncurkan pada bulan Oktober, dengan tujuan untuk bertemu dengan Dimorphos pada akhir tahun 2026 atau awal tahun 2027.
Misi ini dirancang untuk mempelajari kawah yang ditinggalkan DART dan mendokumentasikan kondisi fisiknya Dimorphos dan pendamping asteroidnya, Didymos.
Baju Astronaut untuk Misi Luar Angkasa (Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian)
Pencarian samudera di bulannya Jupiter di halaman berikutnya...
Pencarian Samudera di Bulannya Jupiter hingga Artemis II
Pesawat Oriun dari Program Artemis jadi salah misi antariksa yang bakals meluncur ke ruang angkasa tahun ini. (Tangkapan layar web nasa.gov)
6. Misi Jepang kembalikan sampel dari Phobos
Selama beberapa dekade, para ilmuwan masih mencari tahu asal-usul kedua bulan Mars; Phobos dan Deimos.
Bulan-bulan tersebut bisa jadi merupakan asteroid yang tertangkap--atau, bisa juga merupakan pecahan Mars yang menyatu menjadi bulan setelah asteroid menghantam permukaan Mars di masa lalu.
Untuk mempelajari lebih lanjut, Jepang berencana meluncurkan misi pengembalian sampel, Martian Moon eXploration (atau MMX), pada September untuk mempelajari Phobos, bulan yang lebih besar di antara kedua bulan tersebut.
Wahana antariksa dengan tiga modul ini pertama-tama akan tiba di orbit di sekitar Planet Merah pada tahun 2025.
Kemudian, wahana ini diharapkan akan bergerak ke orbit di sekitar Phobos dan mendaratkan modul pengumpul sampel di bulan selama beberapa jam untuk mengambil sekitar 0,02 pon (10 gram) material dari permukaannya.
Rencananya, pesawat ruang angkasa MMX akan kembali dengan sampel yang dikumpulkan dan mendarat pada tahun 2029 di fasilitas militer Australia yang disebut Zona Terlarang Woomera.
Bulan milik Jupiter, Europa, diperkirakan memiliki lautan air asin di bawah cangkang esnya, dengan jumlah air dua kali lebih banyak daripada lautan di Bumi, meskipun ukurannya lebih kecil dari bulan kita,
Untuk mengetahui apakah dunia kecil ini ramah terhadap kehidupan, NASA berencana meluncurkan Europa Clipper pada bulan Oktober sebagai misi pertama untuk menjelajahi dunia samudera selain Bumi.
Alih-alih mengorbit Europa secara langsung, wahana antariksa ini akan memasuki orbit di sekitar Jupiter pada tahun 2030 sehingga ia akan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menghindari radiasi kuat raksasa gas tersebut dan sesekali terbang melintasi Europa untuk mengamati struktur lautan dan komposisi kimianya.
Untuk mempelajari bagaimana dan kapan Mars kehilangan atmosfernya, NASA mengirimkan dua satelit yang dijuluki "Blue and Golden" sesuai dengan warna Universitas California, Berkeley yang memimpin misi mengelilingi Planet Merah pada Oktober.
Satelit tersebut merupakan bagian dari misi Escape and Plasma Acceleration and Dynamics Explorers (EscaPADE) untuk mempelajari bagaimana atmosfer Mars berinteraksi dengan angin matahari.
Sesuai rencana misi saat ini, satelit akan menyediakan data simultan dari berbagai posisi orbit di sekitar Mars mulai tahun 2026.
Misi Artemis II NASA, yang pertama mengirim astronaut ke dekat Bulan sejak 1972, dapat diluncurkan paling cepat pada November 2024 dari Kennedy Space Center di Florida.
Selama 10 hari perjalanan mengelilingi bulan, empat astronot (tiga dari NASA dan satu dari Badan Antariksa Kanada) akan menguji fungsionalitas pesawat ruang angkasa Orion untuk menentukan kesiapan program Artemis untuk misi berawak jangka panjang ke permukaan bulan.
Meski begitu, ada keraguan soal kesiapan misi berdasarkan pengawas program yang diprediksi memicu penundaan misi berbulan-bulan.
Menutup tahun 2024 akan menjadi misi Rocket Lab ke Venus. Misi ini dirancang untuk mencari bahan organik, yang mungkin merupakan indikator kehidupan, di atmosfer planet.
Pesawat luar angkasa Venus Life Finder, dilengkapi dengan wahana berukuran 16 inci (40 sentimeter) yang dibangun atas kerja sama dengan Institut Teknologi Massachusetts, akan terbang pada 30 Desember dan mencapai Venus 1,5 tahun kemudian.
Sesampainya di sana, pesawat ruang angkasa akan menjatuhkan instrumen tunggal ke awan Venus. Wahana ini akan membuat katalog molekul selama tiga hingga lima menit dan menentukan apakah ada indikator kehidupan atau tidak.