Jakarta, CNN Indonesia -- Para pakar mengungkap sejumlah fakta unik tentang cuaca ekstrem yang merusak di kawasan Sumedang-Bandung yang sempat diklaim sebagai tornado.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Barat sebelumnya mengungkap dua bencana angin puting beliung terjadi di Sumedang-Bandung, Rabu (21/2).
Wilayah yang terdampak di Kabupaten Bandung meliputi Cicalengka, Cileunyi, dan Rancaekek, kata Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat. Efeknya, empat pabrik kena dampak, 47 rumah rusak ringan, 13 rusak sedang, dan 26 rumah warga rusak berat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wilayah terdampak di Kabupaten Sumedang meliputi Kecamatan Jatinangor dan Kecamatan Cimanggung. Kerusakannya berupa 13 unit bangunan pabrik, 10 rumah warga rusak sedang.
Erma Yulihastin, pakar klimatologi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pun menyebut pusaran angin di wilayah itu sebagai tornado yang diklaimnya perdana di Indonesia.
"Jadi bagaimana, kalian sudah percaya sekarang kalau badai tornado bisa terjadi di Indonesia? KAMAJAYA sudah memprediksi "extreme event" 21 Februari 2023," kicau dia, dalam unggahannya di Twitter, Rabu (21/1).
"Kronologi foto-foto dan video dari masyarakat dan media sangat membantu periset dalam mendokumentasikan extreme event yg tercatat sebagai tornado pertama ini."
Keterangannya ini memicu kehebohan dunia maya. Perbincangan terkait kata kunci 'Tornado' dan 'Rancaekek' masuk sepuluh besar trending topic Twitter atau X, Kamis (22/2).
Banyak netizen yang risau soal bencana yang makin dahsyat imbas krisis iklim.
Untuk lebih menenangkan, meski tanpa mengendurkan kewaspadaan, berikut fakta-fakta soal 'tornado' Rancaekek tersebut:
Puting beliung kata BMKG
Alih-alih sepakat dengan Erma, Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengungkap bencana di sekitar Rancaekek itu sebagai "fenomena cuaca ekstrem puting beliung."
Sebagai bukti, BMKG menyebut dampak angin kencang yang melanda hingga sekitar wilayah Jatinagor, Sumedang, terukur pada saat jam kejadian mencapai 36,8 km per jam.
Berdasarkan Skala Fujita, tornado paling lemah (angin topan/puting beliung/tornado gale) atau F0 memiliki kecepatan angin 64-116 km per jam.
Sementara, Skala Fujita yang Ditingkatkan (Enhanced Fujita Scale), tornado terlemah (F0) punya kecepatan angin 105–137 km per jam.
Beda kelaziman istilah
Guswanto mengakui pada dasarnya fenomena tornado dan puting beliung punya kemiripan.
"Puting beliung secara visual merupakan fenomena angin kencang yang bentuknya berputar kencang menyerupai belalai dan biasanya dapat menimbulkan kerusakan di sekitar lokasi kejadian."
"Secara esensial fenomena puting beliung dan tornado memang merujuk pada fenomena alam yang memiliki beberapa kemiripan visual yaitu pusaran angin yang kuat, berbahaya dan berpotensi merusak," jelasnya.
Istilah Tornado, kata dia, biasa dipakai di wilayah Amerika. Ketika intensitasnya meningkat lebih dahsyat dengan kecepatan angin hingga ratusan km per jam dengan dimensi yang sangat besar hingga puluhan kilometer, kerusakan yang luar biasa bisa ditimbulkan.
Sementara, Indonesia menamai fenomena yang mirip tersebut dengan istilah puting beliung. Karakteristik kecepatan angin dan dampaknya relatif tidak sekuat tornado besar yang terjadi di wilayah Amerika.
"Sehingga kami mengimbau bagi siapapun yang berkepentingan, untuk tidak menggunakan istilah yang dapat menimbulkan kehebohan di masyarakat, cukuplah dengan menggunakan istilah yang sudah familiar di masyarakat Indonesia, sehingga masyarakat dapat memahaminya dengan lebih mudah," urai Guswanto.
Penyebab puting beliung Rancaekek
Analisis BMKG Jabar mengungkap sejumlah penyebab utama fenomena ini.
Pertama, suhu muka laut di sekitar wilayah Indonesia relatif hangat, yang mendukung penambahan suplai uap air ke wilayah Indonesia, termasuk wilayah Jawa Barat dan sekitarnya. Hal ini selaras dengan kelembapan udara di lapisan 850-500 mb yang relatif basah, yakni antara 45-95 persen.
Kedua, keberadaan sirkulasi siklonik di Samudera Hindia barat Pulau Sumatra yang mengakibatkan terbentuknya area netral poin dengan area pertemuan dan perlambatan angin (konvergensi) serta belokan angin (shearline) berada di sekitar wilayah Jawa Barat.
Kondisi ini, kata BMKG Jabar, mampu meningkatkan pertumbuhan awan di sekitar wilayah konvergensi dan belokan angin tersebut.
Ketiga, indeks labilitas berada pada kategori labil sedang hingga tinggi di sebagian wilayah Jawa Barat berpotensi meningkatkan aktivitas pertumbuhan awan konvektif pada skala lokal.
Beda puting beliung-tornado hingga potensi cuaca ekstrem berikutnya di halaman selanjutnya...
Kategori Badai Hingga Potensi Cuaca Ekstrem
Pakar klimatologi BRIN Erma Yulihastin mengungkap angin kencang Rancaekek sebagai tornado pertama di RI. (Arsip Pribadi)
Beda tornado dan puting beliung
BMKG, dikutip dari situsnya, mengungkap puting beliung serta tornado, dan juga siklon hingga water spout, sama-sama merupakan pusaran atmosfer. Bedanya ada pada ukuran.
"Ukuran diameter tornado, puting beliung dan water spout sama-sama berkisar pada ratusan meter, sedangkan ukuran diameter siklon dapat mencapai ratusan kilometer," kata lembaga.
Khusus tornado, BMKG menyebut diameternya bisa mencapai ratusan meter dengan durasi 3 menit hingga lebih dari satu jam.
"Puting beliung merupakan sebutan lokal untuk tornado skala kecil yang terjadi di Indonesia, dan water spout merupakan tornado yang terjadi di atas perairan, (dapat berupa danau maupun laut)," lanjut BMKG.
Peneliti Meteorologi di Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Deni Septiadi pun mengungkap fenomena angin kencang di sekitar Rancaekek ini sebagai tornado skala kecil.
Hal ini terkait mekanisme pemicunya. Yakni, fenomena Sea Breeze Front (SBF) yang mencapai daratan yang memicu wind shear (angin yang berubah arah dan kecepatan dalam tempo singkat) di selatan Jawa bagian barat.
"Aliran ini kemudian dimodulasi oleh topografi atau kekasaran permukaan menjadi 'wind shear' kuat dan bersinergi dengan thunderstorm menghasilkan touch down rotation flow ke permukaan yang disebut sebagai puting beliung (small scale tornado)," tutur Deni, Kamis (22/2).
[Gambas:Photo CNN]
Terbentuknya puting beliung
Puting beliung, kata Guswanto, terbentuk dari sistem Awan Cumulonimbus (CB) yang memiliki karakteristik menimbulkan terjadinya cuaca ekstrem.
"Meskipun begitu tidak setiap ada awan CB dapat terjadi fenomena puting beliung dan itu tergantung bagaimana kondisi labilitas atmosfernya," tukasnya.
Kejadian angin puting beliung dapat terjadi dalam periode waktu yang singkat dengan durasi kejadian umumnya kurang dari 10 menit.
Menurut dia, fenomena puting beliung umumnya bisa lebih sering terjadi pada periode peralihan musim, "dan dan tidak menutup kemungkinan terjadi juga di periode musim hujan."
Jejak panjang puting beliung Bandung
Menurut catatan BMKG, fenomena puting beliung terjadi beberapa kali di wilayah Bandung dan sekitarnya.
Pertama, 5 Juni 2023 di Bojongmalaka, Rancamanyar, dan Andir, Kecamatan Baleendah. Fenomena tersebut membuat 110 rumah rusak di Bojongmalaka, 20 rumah rusak di Kelurahan Andir, dan 11 rumah rusak di Rancamayar.
Kedua, puting beliung di Banjaran Oktober 2023. Ketiga, puting beliung di Ciparay, Desember 2023. Fenomena terakhir membuat bangunan rusak dan pohon tumbang.
Keempat, puting beliung di Parongpong, Bandung Barat, pada 18 Februari.
[Gambas:Infografis CNN]
Potensi cuaca ekstrem
BMKG pun mengeluarkan peringatan potensi cuaca esktrem berupa hujan sedang hingga lebat yang disertai pembentukan awan CB, yang bisa memicu puting beliung berikutnya, di sejumlah wilayah hingga 25 Februari.
Berikut rincian wilayahnya:
- Sumatra Utara
- Sumatra Barat
- Riau
- Jambi
- Bengkulu
- Jambi
- Sumatra Selatan
- Lampung
- Banten
- Jawa Barat
- Jawa Tengah
- Jawa Timur
- Bali
- Nusa Tenggara Barat
- Nusa Tenggara Timur
- Kalimantan Barat
- Kalimantan Tengah
- Kalimantan Timur
- Kalimantan Selatan
- Sulawesi Utara
- Gorontalo
- Sulawesi Tengah
- Sulawesi Selatan
- Sulawesi Tenggara
- Papua