Studi Ungkap Efek Dahsyat Badai Matahari Besar jika Hantam Bumi
CNN Indonesia
Rabu, 27 Mar 2024 12:01 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Badai Matahari merupakan salah satu fenomena yang bisa memberikan dampak langsung bagi kehidupan di Bumi. (Foto: NASA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Badai Matahari merupakan salah satu fenomena yang bisa memberikan dampak langsung bagi kehidupan di Bumi. Lalu, apa jadinya jika badai Matahari besar menghantam Bumi?
Sebuah studi pada tahun 2013 dari perusahaan asuransi raksasa Inggris, Lloyd's of London, memperkirakan pemadaman listrik akibat badai Matahari besar dapat mengakibatkan berkurangnya pendapatan hingga US$2,6 triliun untuk industri listrik di Amerika Utara saja.
Studi ini juga menemukan bahwa pemadaman listrik secara global hingga bertahun-tahun. Pasalnya, kejadian seperti itu dapat merusak beberapa transformator tegangan ekstra tinggi secara bersamaan yang sulit untuk diganti, mengutip Live Science.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini juga bakal menimbulkan efek domino pada pasar keuangan, perbankan, telekomunikasi, transaksi bisnis, layanan darurat dan rumah sakit, pemompaan air dan bahan bakar, serta transportasi makanan.
Sebuah studi tahun 2017 di jurnal Space Weather juga menemukan dalam skenario pemadaman listrik yang paling ekstrem, yang berdampak pada 66 persen populasi AS, kerugian ekonomi domestik harian dapat mencapai US$41,5 miliar ditambah kerugian lainnya sebesar US$7 miliar karena gangguan rantai pasokan global.
Sebaliknya, jika hanya berdampak pada negara-negara bagian utara yang ekstrem, yang merupakan rumah bagi 8 persen populasi AS, kerugian ekonomi per hari dapat mencapai US$6,2 miliar ditambah dengan kerugian rantai pasokan internasional sebesar US$0,8 miliar.
Badai Matahari terbesar tercatat pernah terjadi di Bumi pada 2 September 1895 atau yang dikenal sebagai Peristiwa Carrington.
Sensor magnetik di Kew Observatory di London mendeteksi gangguan magnetik yang luar biasa di Bumi dari 28 Agustus hingga 7 September tahun itu, terutama pada 28 Agustus dan 2 September.
Badai Matahari yang terjadi saat itu juga menghasilkan cahaya yang begitu terang. Bahkan, menurut Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA), cahaya terang itu membuat sebagian orang mengira dini hari sebagai pagi.
Selain itu, jalur telegraf mengalami salah satu fenomena listrik yang paling mengejutkan sekaligus unik ketika arus listrik yang melimpah memungkinkan mesin telegraf mengirim pesan dari New York ke Pittsburgh tanpa bantuan baterai.
Secara keseluruhan, Peristiwa Carrington memengaruhi hampir setengah dari stasiun telegraf di Amerika Serikat, menurut penelitian tahun 2016.
Hugh Hudson, fisikawan matahari di University of Glasgow di Skotlandia, dalam sebuah studi tahun 2021 di jurnal Annual Review of Astronomy and Astrophysics menjelaskan Matahari melepaskan solar flare ketika energi magnetik yang menumpuk tiba-tiba dilepaskan.
Solar flare sering kali disertai dengan pelepasan gelembung raksasa materi matahari, yang dikenal sebagai lontaran massa korona (CME). Letusan ini kemungkinan mengandung miliaran ton awan partikel bermuatan listrik yang dapat melesat dengan kecepatan jutaan mil per jam.
Studi Hudson pada tahun 2021 memperkirakan radiasi dari flare peristiwa Carrington kemungkinan besar membawa sekitar 4 X 10^32 erg energi, atau kira-kira setara dengan 10 miliar bom nuklir berkekuatan 1 megaton.
Ia juga memperkirakan CME dari peristiwa tersebut kemungkinan besar membawa sekitar 3 X 10^32 erg energi kinetik.
Solar flare juga dapat memicu arus listrik yang kuat di magnetosfer, menurut NOAA. Arus ini pada gilirannya dapat menimbulkan gangguan magnetik di dalam tanah di Bumi, yang dapat menghasilkan arus listrik pada bentangan panjang bahan konduktif listrik, seperti kabel listrik, kabel telekomunikasi, dan jaringan pipa.
Badai geomagnetik juga dapat mengganggu komunikasi radio dan navigasi GPS dengan membengkokkan atmosfer dengan cara mengubah jalur sinyal radio, kata NOAA.
Baju Astronaut untuk Misi Luar Angkasa (Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian)
Bukan ancaman di halaman berikutnya...
Bukan ancaman
Hudson mengatakan, meskipun Peristiwa Carrington sangat dahsyat, "kami telah melihat peristiwa yang sebanding sejak saat itu." Ia mencontohkan solar flare Halloween tahun 2003 mungkin telah memancarkan jumlah energi radiasi yang sebanding dengan Peristiwa Carrington.
Oleh karena itu, menurutnya solar flare pada tingkat Peristiwa Carrington kemungkinan tidak akan menjadi ancaman besar bagi umat manusia seperti yang dikhawatirkan.
Namun, Peristiwa Carrington yang mengarah ke Bumi saat ini "akan memiliki dampak yang besar, terutama pada aktivitas manusia di luar angkasa."
"Kami tidak memiliki banyak latihan untuk peristiwa seperti itu, karena aset ruang angkasa belum pernah terpapar peristiwa sebesar ini," jelas dia.
Selain itu, ada bukti Matahari mungkin mampu menghasilkan "superflare" yang dapat melepaskan energi 10 kali lipat atau lebih besar daripada Peristiwa Carrington.
Sebagai contoh, dalam sebuah studi tahun 2021 di Astrophysical Journal, para ilmuwan yang menggunakan teleskop ruang angkasa Kepler NASA menemukan bahwa selama empat tahun, 15 bintang yang mirip Matahari melepaskan 26 suar super yang memiliki kekuatan hingga 100 kali lebih besar dari Peristiwa Carrington.
Selain itu, para ilmuwan yang menganalisis cincin pohon mendeteksi bukti atom karbon-14 radioaktif dari ledakan Matahari. Menurut Hudson lonjakan karbon-14 yang terlihat pada tahun 660 SM, 774 M, dan 994 M mungkin berasal dari ledakan super yang secara signifikan lebih kuat daripada Peristiwa Carrington.
"Hal yang perlu dicatat adalah bahwa bahkan peristiwa Carrington, atau peristiwa normal yang sebanding dengan peristiwa besar, tidak dapat dideteksi oleh teknik karbon-14," kata Hudson.
Sebuah studi yang terbit 29 Februari 2024, dalam jurnal Space Weather mengamati salinan digital rekaman medan magnet dari tahun 1859 untuk memperkirakan kekuatan Peristiwa Carrington.
Berdasarkan hasil pembacaan, para peneliti menyimpulkan peristiwa setingkat Carrington kemungkinan besar terjadi setiap 100 hingga 1000 tahun sekali. Namun, para ilmuwan tidak mengetahui secara pasti seberapa kuat peristiwa tersebut.
Mereka hanya dapat memprediksi tentang seberapa umum semburan matahari semacam itu.
Studi Jurnal Astrofisika 2021 yang menganalisis data Kepler menunjukkan suar matahari yang 10 kali lebih energetik daripada Peristiwa Carrington dapat terjadi setiap 3.000 tahun, dan yang 100 kali lebih energetik dapat terjadi setiap 6.000 tahun.
Namun, menurut Hudson kecepatan Matahari melepaskan flare yang mirip Carrington atau yang lebih kuat belum dipahami dengan baik.
Badai Matahari merupakan salah satu fenomena yang bisa memberikan dampak langsung bagi kehidupan di Bumi. Lalu, apa jadinya jika badai Matahari besar menghantam Bumi?
Sebuah studi pada tahun 2013 dari perusahaan asuransi raksasa Inggris, Lloyd's of London, memperkirakan pemadaman listrik akibat badai Matahari besar dapat mengakibatkan berkurangnya pendapatan hingga US$2,6 triliun untuk industri listrik di Amerika Utara saja.
Studi ini juga menemukan bahwa pemadaman listrik secara global hingga bertahun-tahun. Pasalnya, kejadian seperti itu dapat merusak beberapa transformator tegangan ekstra tinggi secara bersamaan yang sulit untuk diganti, mengutip Live Science.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini juga bakal menimbulkan efek domino pada pasar keuangan, perbankan, telekomunikasi, transaksi bisnis, layanan darurat dan rumah sakit, pemompaan air dan bahan bakar, serta transportasi makanan.
Sebuah studi tahun 2017 di jurnal Space Weather juga menemukan dalam skenario pemadaman listrik yang paling ekstrem, yang berdampak pada 66 persen populasi AS, kerugian ekonomi domestik harian dapat mencapai US$41,5 miliar ditambah kerugian lainnya sebesar US$7 miliar karena gangguan rantai pasokan global.
Sebaliknya, jika hanya berdampak pada negara-negara bagian utara yang ekstrem, yang merupakan rumah bagi 8 persen populasi AS, kerugian ekonomi per hari dapat mencapai US$6,2 miliar ditambah dengan kerugian rantai pasokan internasional sebesar US$0,8 miliar.
Badai Matahari terbesar tercatat pernah terjadi di Bumi pada 2 September 1895 atau yang dikenal sebagai Peristiwa Carrington.
Sensor magnetik di Kew Observatory di London mendeteksi gangguan magnetik yang luar biasa di Bumi dari 28 Agustus hingga 7 September tahun itu, terutama pada 28 Agustus dan 2 September.
Badai Matahari yang terjadi saat itu juga menghasilkan cahaya yang begitu terang. Bahkan, menurut Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA), cahaya terang itu membuat sebagian orang mengira dini hari sebagai pagi.
Selain itu, jalur telegraf mengalami salah satu fenomena listrik yang paling mengejutkan sekaligus unik ketika arus listrik yang melimpah memungkinkan mesin telegraf mengirim pesan dari New York ke Pittsburgh tanpa bantuan baterai.
Secara keseluruhan, Peristiwa Carrington memengaruhi hampir setengah dari stasiun telegraf di Amerika Serikat, menurut penelitian tahun 2016.
Hugh Hudson, fisikawan matahari di University of Glasgow di Skotlandia, dalam sebuah studi tahun 2021 di jurnal Annual Review of Astronomy and Astrophysics menjelaskan Matahari melepaskan solar flare ketika energi magnetik yang menumpuk tiba-tiba dilepaskan.
Solar flare sering kali disertai dengan pelepasan gelembung raksasa materi matahari, yang dikenal sebagai lontaran massa korona (CME). Letusan ini kemungkinan mengandung miliaran ton awan partikel bermuatan listrik yang dapat melesat dengan kecepatan jutaan mil per jam.
Studi Hudson pada tahun 2021 memperkirakan radiasi dari flare peristiwa Carrington kemungkinan besar membawa sekitar 4 X 10^32 erg energi, atau kira-kira setara dengan 10 miliar bom nuklir berkekuatan 1 megaton.
Ia juga memperkirakan CME dari peristiwa tersebut kemungkinan besar membawa sekitar 3 X 10^32 erg energi kinetik.
Solar flare juga dapat memicu arus listrik yang kuat di magnetosfer, menurut NOAA. Arus ini pada gilirannya dapat menimbulkan gangguan magnetik di dalam tanah di Bumi, yang dapat menghasilkan arus listrik pada bentangan panjang bahan konduktif listrik, seperti kabel listrik, kabel telekomunikasi, dan jaringan pipa.
Badai geomagnetik juga dapat mengganggu komunikasi radio dan navigasi GPS dengan membengkokkan atmosfer dengan cara mengubah jalur sinyal radio, kata NOAA.
Baju Astronaut untuk Misi Luar Angkasa (Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian)
Bukan ancaman di halaman berikutnya...
Bukan ancaman
Badai Matahari merupakan salah satu fenomena yang bisa memberikan dampak langsung bagi kehidupan di Bumi. (Foto: NASA)
Bukan ancaman
Hudson mengatakan, meskipun Peristiwa Carrington sangat dahsyat, "kami telah melihat peristiwa yang sebanding sejak saat itu." Ia mencontohkan solar flare Halloween tahun 2003 mungkin telah memancarkan jumlah energi radiasi yang sebanding dengan Peristiwa Carrington.
Oleh karena itu, menurutnya solar flare pada tingkat Peristiwa Carrington kemungkinan tidak akan menjadi ancaman besar bagi umat manusia seperti yang dikhawatirkan.
Namun, Peristiwa Carrington yang mengarah ke Bumi saat ini "akan memiliki dampak yang besar, terutama pada aktivitas manusia di luar angkasa."
"Kami tidak memiliki banyak latihan untuk peristiwa seperti itu, karena aset ruang angkasa belum pernah terpapar peristiwa sebesar ini," jelas dia.
Selain itu, ada bukti Matahari mungkin mampu menghasilkan "superflare" yang dapat melepaskan energi 10 kali lipat atau lebih besar daripada Peristiwa Carrington.
Sebagai contoh, dalam sebuah studi tahun 2021 di Astrophysical Journal, para ilmuwan yang menggunakan teleskop ruang angkasa Kepler NASA menemukan bahwa selama empat tahun, 15 bintang yang mirip Matahari melepaskan 26 suar super yang memiliki kekuatan hingga 100 kali lebih besar dari Peristiwa Carrington.
Selain itu, para ilmuwan yang menganalisis cincin pohon mendeteksi bukti atom karbon-14 radioaktif dari ledakan Matahari. Menurut Hudson lonjakan karbon-14 yang terlihat pada tahun 660 SM, 774 M, dan 994 M mungkin berasal dari ledakan super yang secara signifikan lebih kuat daripada Peristiwa Carrington.
"Hal yang perlu dicatat adalah bahwa bahkan peristiwa Carrington, atau peristiwa normal yang sebanding dengan peristiwa besar, tidak dapat dideteksi oleh teknik karbon-14," kata Hudson.
Sebuah studi yang terbit 29 Februari 2024, dalam jurnal Space Weather mengamati salinan digital rekaman medan magnet dari tahun 1859 untuk memperkirakan kekuatan Peristiwa Carrington.
Berdasarkan hasil pembacaan, para peneliti menyimpulkan peristiwa setingkat Carrington kemungkinan besar terjadi setiap 100 hingga 1000 tahun sekali. Namun, para ilmuwan tidak mengetahui secara pasti seberapa kuat peristiwa tersebut.
Mereka hanya dapat memprediksi tentang seberapa umum semburan matahari semacam itu.
Studi Jurnal Astrofisika 2021 yang menganalisis data Kepler menunjukkan suar matahari yang 10 kali lebih energetik daripada Peristiwa Carrington dapat terjadi setiap 3.000 tahun, dan yang 100 kali lebih energetik dapat terjadi setiap 6.000 tahun.
Namun, menurut Hudson kecepatan Matahari melepaskan flare yang mirip Carrington atau yang lebih kuat belum dipahami dengan baik.