Ilustrasi. Simpanse merupakan binatang yang sangat cerdas, bahkan hampir setara manusia. (Foto: iStockphoto/DeepGreen)
Jakarta, CNN Indonesia --
Simpanse merupakan binatang yang sangat cerdas, bahkan hampir setara manusia, hingga menginspirasi sejumlah karya fiksi. Dari mana sebetulnya kecerdasan mereka?
Simpanse dan kera besar lainnya dikenal karena kecerdasannya. Mereka dapat mempelajari kata-kata, bermain dengan benda-benda, dan bahkan terlihat berduka atas kematian temannya.
Salah satu film yang terinspirasi kecerdasan primata ini adalah Kingdom of the Planet of the Apes (2024), yang merupakan bagian saga reboot Planet of the Apes.
Kritikus menyebut film ini, terutama bagian pertarungan akhirnya, lebih banyak otak dibanding otot, meski mengakui ini bukan resep sukses box office.
Lalu kenapa simpanse bisa punya kecerdasan semacam ini?
Dalam salah satu studi yang pernah dilakukan pada kognisi simpanse, para peneliti melaporkan perbedaan individu tersebut tidak terlepas dari susunan genetik.
Studi yang terbit di Current Biology pada 2014 mengungkap gen menentukan sekitar setengah dari variabilitas kecerdasan simpanse dan separuhnya lagi ditentukan oleh faktor lingkungan.
Penelitian mengenai hewan selama ini lebih banyak fokus pada kontribusi lingkungan. Hampir sepanjang abad ke-20, para ilmuwan berpendapat hewan seperti robot, berperilaku dengan cara yang dapat diprediksi hanya berdasarkan isyarat lingkungan, seperti hadiah dan hukuman.
Sementara itu, studi yang dilakukan William Hopkins, ahli primata dari Pusat Penelitian Primata Nasional Yerkes, dan rekan-rekannya ini menambah bukti bahwa hewan bukanlah 'mesin' yang pasif, melainkan pemikir yang tajam dan aktif.
Penelitian pada manusia menghasilkan perkiraan yang serupa dengan penelitian pada primata, yang menunjukkan kecerdasan sekitar 50 persen dapat diturunkan.
Namun, menurut Hopkins, perkembangan manusia sangat dipengaruhi oleh faktor budaya, seperti sistem pendidikan formal, sehingga alam dan lingkungan sulit untuk dipisahkan.
"Sebagai salah satu kerabat terdekat manusia, simpanse menawarkan cara yang lebih sederhana untuk memikirkan pertanyaan itu," kata Hopkins, melansir National Geographic.
Hopkins mengatakan simpanse bisa mengejutkan dalam kemampuan kognitif mereka. Beberapa dekade lalu, seekor simpanse yang diteliti Hopkins ternyata dapat menonton video dirinya secara real-time di monitor televisi terdekat.
Simpanse yang bernama Austin itu membuka mulutnya lebar-lebar untuk melihat giginya, tapi tidak bisa melihatnya dengan jelas.
"Jadi dia mengambil senter dan menyorotkannya ke dalam mulutnya untuk melihat lebih jauh ke dalam tenggorokannya," kata Hopkins.
Austin adalah simpanse terpintar yang pernah ditemui Hopkins, tapi dia juga melihat banyak keragaman di antara hewan-hewan tersebut.
"Ketika Anda berada di luar sana bekerja dengan mereka sepanjang waktu, Anda pasti membentuk beberapa opini tentang apakah Anda pikir mereka pintar atau tidak begitu pintar," katanya.
Untuk mengetahui seberapa besar variabilitas tersebut disebabkan oleh genetika, Hopkins dan timnya menilai kemampuan kognitif 99 simpanse dalam kurungan.
Mereka menggunakan 13 tes yang mengukur berbagai manifestasi kecerdasan, seperti bagaimana hewan-hewan itu berurusan dengan dunia fisik, bereaksi terhadap suara, dan menggunakan alat.
Pengaruh lingkungan di halaman berikutnya...
Kelompok simpanse yang diuji memiliki silsilah keluarga yang luas, mulai dari saudara kandung hingga sepupu keempat dan kelima. Hal ini memungkinkan para peneliti untuk menghitung seberapa baik skor pada sifat-sifat kognitif yang selaras dengan keterkaitan genetik.
Dua kategori aktivitas yang dapat diwariskan secara signifikan adalah aktivitas yang berkaitan dengan kognisi spasial, seperti mempelajari lokasi fisik, dan aktivitas yang membutuhkan kognisi sosial, seperti menarik perhatian seseorang.
Beberapa simpanse cukup pintar, membuat suara ciuman atau bertepuk tangan untuk menarik perhatian peneliti.
Kinerja pada dua jenis aktivitas tersebut tidak berkorelasi dengan jenis kelamin atau apakah simpanse dibesarkan oleh induknya atau pengasuh manusia, demikian temuan para peneliti.
Temuan ini memberikan dukungan pada apa yang disebut hipotesis otak sosial, yang mendalilkan bahwa kecerdasan manusia berevolusi karena membantu nenek moyang kita untuk mengelola hubungan dalam kelompok yang besar dan kompleks.
Josep Call, psikolog komparatif di University of St Andrews yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan studi ini menemukan kognisi spasial dapat diwariskan juga masuk akal.
"Berpikir tentang ruang sangat penting bagi sejumlah hewan. Hal ini secara evolusioner merupakan hal yang kuno," kata Call.
Menurut dia yang membingungkan, penelitian ini menemukan keterampilan kognitif lainnya, seperti memahami kausalitas dan menggunakan alat, tidak dapat diwariskan.
"Mengapa mereka menemukannya untuk ruang angkasa, mengapa mereka menemukannya untuk kognisi sosial, tapi mereka tidak menemukannya untuk penggunaan alat?" ujar Call.
Pengaruh lingkungan
Meskipun Hopkins dan rekan-rekannya menemukan komponen genetik yang kuat pada kecerdasan simpanse, ada efek yang sama kuatnya dari pengaruh lingkungan, yang dapat berubah dari waktu ke waktu.
Hasil ini serupa dengan penelitian pada manusia, kata Ajit Varki, profesor kedokteran terkemuka di University of California, San Diego, yang tidak terlibat dalam studi tersebut. Menurut dia kekuatan lingkungan mungkin diremehkan oleh studi seperti ini.
"Dalam kondisi penangkaran jangka panjang yang miskin dan stereotip," katanya, dikutip dari National Geographic.
"pengaruh penting dari variabilitas lingkungan bisa sangat tumpul," lanjut Varki.
Jakarta, CNN Indonesia --
Simpanse merupakan binatang yang sangat cerdas, bahkan hampir setara manusia, hingga menginspirasi sejumlah karya fiksi. Dari mana sebetulnya kecerdasan mereka?
Simpanse dan kera besar lainnya dikenal karena kecerdasannya. Mereka dapat mempelajari kata-kata, bermain dengan benda-benda, dan bahkan terlihat berduka atas kematian temannya.
Salah satu film yang terinspirasi kecerdasan primata ini adalah Kingdom of the Planet of the Apes (2024), yang merupakan bagian saga reboot Planet of the Apes.
Kritikus menyebut film ini, terutama bagian pertarungan akhirnya, lebih banyak otak dibanding otot, meski mengakui ini bukan resep sukses box office.
Lalu kenapa simpanse bisa punya kecerdasan semacam ini?
Dalam salah satu studi yang pernah dilakukan pada kognisi simpanse, para peneliti melaporkan perbedaan individu tersebut tidak terlepas dari susunan genetik.
Studi yang terbit di Current Biology pada 2014 mengungkap gen menentukan sekitar setengah dari variabilitas kecerdasan simpanse dan separuhnya lagi ditentukan oleh faktor lingkungan.
Penelitian mengenai hewan selama ini lebih banyak fokus pada kontribusi lingkungan. Hampir sepanjang abad ke-20, para ilmuwan berpendapat hewan seperti robot, berperilaku dengan cara yang dapat diprediksi hanya berdasarkan isyarat lingkungan, seperti hadiah dan hukuman.
Sementara itu, studi yang dilakukan William Hopkins, ahli primata dari Pusat Penelitian Primata Nasional Yerkes, dan rekan-rekannya ini menambah bukti bahwa hewan bukanlah 'mesin' yang pasif, melainkan pemikir yang tajam dan aktif.
Penelitian pada manusia menghasilkan perkiraan yang serupa dengan penelitian pada primata, yang menunjukkan kecerdasan sekitar 50 persen dapat diturunkan.
Namun, menurut Hopkins, perkembangan manusia sangat dipengaruhi oleh faktor budaya, seperti sistem pendidikan formal, sehingga alam dan lingkungan sulit untuk dipisahkan.
"Sebagai salah satu kerabat terdekat manusia, simpanse menawarkan cara yang lebih sederhana untuk memikirkan pertanyaan itu," kata Hopkins, melansir National Geographic.
Hopkins mengatakan simpanse bisa mengejutkan dalam kemampuan kognitif mereka. Beberapa dekade lalu, seekor simpanse yang diteliti Hopkins ternyata dapat menonton video dirinya secara real-time di monitor televisi terdekat.
Simpanse yang bernama Austin itu membuka mulutnya lebar-lebar untuk melihat giginya, tapi tidak bisa melihatnya dengan jelas.
"Jadi dia mengambil senter dan menyorotkannya ke dalam mulutnya untuk melihat lebih jauh ke dalam tenggorokannya," kata Hopkins.
Austin adalah simpanse terpintar yang pernah ditemui Hopkins, tapi dia juga melihat banyak keragaman di antara hewan-hewan tersebut.
"Ketika Anda berada di luar sana bekerja dengan mereka sepanjang waktu, Anda pasti membentuk beberapa opini tentang apakah Anda pikir mereka pintar atau tidak begitu pintar," katanya.
Untuk mengetahui seberapa besar variabilitas tersebut disebabkan oleh genetika, Hopkins dan timnya menilai kemampuan kognitif 99 simpanse dalam kurungan.
Mereka menggunakan 13 tes yang mengukur berbagai manifestasi kecerdasan, seperti bagaimana hewan-hewan itu berurusan dengan dunia fisik, bereaksi terhadap suara, dan menggunakan alat.
Pengaruh lingkungan di halaman berikutnya...
Pengaruh Lingkungan
Film Kingdom of the Planet of the Apes menggambarkan kecerdasan bangsa primata. (20th Century Studios)
Kelompok simpanse yang diuji memiliki silsilah keluarga yang luas, mulai dari saudara kandung hingga sepupu keempat dan kelima. Hal ini memungkinkan para peneliti untuk menghitung seberapa baik skor pada sifat-sifat kognitif yang selaras dengan keterkaitan genetik.
Dua kategori aktivitas yang dapat diwariskan secara signifikan adalah aktivitas yang berkaitan dengan kognisi spasial, seperti mempelajari lokasi fisik, dan aktivitas yang membutuhkan kognisi sosial, seperti menarik perhatian seseorang.
Beberapa simpanse cukup pintar, membuat suara ciuman atau bertepuk tangan untuk menarik perhatian peneliti.
Kinerja pada dua jenis aktivitas tersebut tidak berkorelasi dengan jenis kelamin atau apakah simpanse dibesarkan oleh induknya atau pengasuh manusia, demikian temuan para peneliti.
Temuan ini memberikan dukungan pada apa yang disebut hipotesis otak sosial, yang mendalilkan bahwa kecerdasan manusia berevolusi karena membantu nenek moyang kita untuk mengelola hubungan dalam kelompok yang besar dan kompleks.
Josep Call, psikolog komparatif di University of St Andrews yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan studi ini menemukan kognisi spasial dapat diwariskan juga masuk akal.
"Berpikir tentang ruang sangat penting bagi sejumlah hewan. Hal ini secara evolusioner merupakan hal yang kuno," kata Call.
Menurut dia yang membingungkan, penelitian ini menemukan keterampilan kognitif lainnya, seperti memahami kausalitas dan menggunakan alat, tidak dapat diwariskan.
"Mengapa mereka menemukannya untuk ruang angkasa, mengapa mereka menemukannya untuk kognisi sosial, tapi mereka tidak menemukannya untuk penggunaan alat?" ujar Call.
Pengaruh lingkungan
Meskipun Hopkins dan rekan-rekannya menemukan komponen genetik yang kuat pada kecerdasan simpanse, ada efek yang sama kuatnya dari pengaruh lingkungan, yang dapat berubah dari waktu ke waktu.
Hasil ini serupa dengan penelitian pada manusia, kata Ajit Varki, profesor kedokteran terkemuka di University of California, San Diego, yang tidak terlibat dalam studi tersebut. Menurut dia kekuatan lingkungan mungkin diremehkan oleh studi seperti ini.
"Dalam kondisi penangkaran jangka panjang yang miskin dan stereotip," katanya, dikutip dari National Geographic.
"pengaruh penting dari variabilitas lingkungan bisa sangat tumpul," lanjut Varki.