Ahli Ungkap Cara Ciptakan Naga yang Bisa Semburkan Api di Dunia Nyata
CNN Indonesia
Kamis, 11 Jul 2024 17:01 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Jika naga memang ada di kehidupan nyata, bagaimana mereka dapat menyemburkan api dari mulutnya? (Foto: HBO via YouTube)
Jakarta, CNN Indonesia --
Naga, makhluk mitologi yang kerap muncul di dongeng hingga film fiksi, sering digambarkan sebagai makhluk mirip ular dan di beberapa cerita bisa menyemburkan api dari mulutnya. Lalu, jika naga memang ada di kehidupan nyata, bagaimana mereka dapat menyemburkan api dari mulutnya?
Pertanyaan ini kemudian coba dijawab oleh Mark Lorch, Profesor Komunikasi Sains dan Kimia, Universitas Hull.
Mark sempat berkontemplasi, jika naga memang ada mekanisme biologis dan reaksi kimia apa yang mungkin mereka gunakan untuk bisa menyemburkan api di kehidupan nyata. Ia pun mencoba menganalisis hal tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mark, dalam tulisannya di The Conversation, menjelaskan untuk menyalakan dan mempertahankan nyala api membutuhkan tiga komponen; bahan bakar, zat pengoksidasi dan sumber panas untuk memulai dan mempertahankan pembakaran.
"Mari kita mulai dengan bahan bakar. Metana bisa menjadi kandidat. Hewan memproduksinya selama proses pencernaan," kata Mark dalam tulisan di The Conversation, dikutip Kamis (11/7).
Menurut dia, naga berbahan bakar metana perlu memiliki pola makan dan sistem pencernaan yang lebih mirip dengan sapi untuk menghasilkan gas yang cukup untuk membakar sebuah kota.
Di sisi lain, terdapat masalah terkait penyimpanan gas metana. Menurut Mark sebuah tabung metana biasa mungkin memiliki tekanan 150 atmosfer, sementara usus hewan hanya dapat mentolerir sedikit di atas satu atmosfer.
Oleh karena itu, menurutnya, tidak ada dasar biologis bagi hewan non-laut untuk menyimpan gas di bawah tekanan tinggi.
Mark menjelaskan opsi yang lebih baik adalah cairan, dengan etanol bisa menjadi pilihan.
"Mungkin naga tersebut bisa menyimpan tong berisi ragi yang difermentasi di dalam usus mereka, atau bisa memiliki sistem metabolisme yang mirip dengan anak ikan Devil's Hole, yang hidup di sumber air panas di Nevada, Amerika Serikat. Dalam kondisi oksigen rendah, ikan-ikan ini beralih ke bentuk respirasi yang menghasilkan etanol," jelas Mark.
Kendati begitu, penyimpanan sekali lagi menjadi masalah. Menurut Mark etanol bisa dengan cepat melewati membran biologis, sehingga menjaganya tetap pada konsentrasi tinggi dan siap untuk digunakan pada sinyal "api naga" akan membutuhkan biologi dunia lain.
Oleh karena itu, jika tetap berpegang pada penjelasan dengan satu pijakan biologi dunia nyata, pilihannnya adalah sesuatu yang berbasis minyak. Menurutnya minyak bisa menjadi sumber api yang menderu-deru dan ada dasar biologis untuk hal ini pada burung camar jenis fulmar.
Mark mengatakan burung-burung ini menghasilkan minyak perut yang kaya energi yang dimuntahkan untuk memberi makan anak-anak mereka. Minyak tersebut juga berfungsi sebagai pencegah.
Saat terancam, fulmar memuntahkan minyak yang lengket dan berbau itu ke arah predator. Untungnya, burung camar belum berevolusi untuk menyalakan muntahannya.
Proses naga menyalakan api di halaman berikutnya...
Setelah memiliki sumber bahan bakar, langkah berikutnya zat pengoksidasi. Seperti pembakaran pada umumnya, oksigen memiliki peran penting.
Namun, butuh lebih dari oksigen di udara sekitar untuk menghasilkan semburan minyak api bertekanan yang cukup panas. Dan itu harus tercampur dengan baik dengan bahan bakar, karena semakin baik pasokan oksigen, semakin panas apinya.
"Seekor naga dapat memanfaatkan bahan kimia yang digunakan oleh kumbang pembom. Serangga ini telah berevolusi dan beradaptasi untuk menyimpan hidrogen peroksida (bahan yang mungkin Anda gunakan untuk memutihkan rambut)," kata Mark.
"Ketika terancam, kumbang mendorong hidrogen peroksida ke dalam ruang depan yang mengandung enzim yang dengan cepat menguraikan hidrogen peroksida menjadi air dan oksigen," lanjutnya.
Mark menjelaskan ini adalah reaksi eksotermik, yang mentransfer energi ke sekelilingnya, dan dalam hal ini menaikkan suhu campuran hingga hampir mencapai titik didih. Reaksi ini sangat agresif sehingga terkadang digunakan untuk mendorong roket.
Peningkatan tekanan yang disebabkan oleh produksi oksigen yang cepat dan air yang mendidih memaksa campuran berbahaya tersebut keluar dari lubang di perut kumbang dan menuju mangsa atau musuhnya.
Ia meyakini, jika digunakan oleh naga, reaksi ini memiliki beberapa fitur yang bagus. Reaksi ini akan menciptakan tekanan tinggi yang dibutuhkan untuk mendorong semburan bahan bakar berminyak, reaksi eksotermik akan memanaskan minyak sehingga lebih siap untuk dibakar, dan yang paling penting, reaksi ini akan menghasilkan oksigen yang akan mendorong reaksi pembakaran.
"Yang dibutuhkan naga itu hanyalah semacam karburator mesin bensin yang setara secara biologis untuk mencampur minyak dengan oksigen dan menciptakan campuran yang eksplosif. Sebagai bonus, campuran yang meletus mungkin akan membentuk kabut halus dari tetesan minyak, seperti aerosol, yang akan menyalakan api dengan lebih baik," tuturnya.
Percikan api
Setelah bahan bakar dan pemantik siap, terakhir yang dibutuhkan adalah percikan api untuk menyalakan campuran tersebut. Untuk hal ini, Mark mengusulkan bahwa naga telah berevolusi dengan organ listrik yang mirip dengan yang ditemukan pada banyak ikan, khususnya belut listrik.
Organ ini dapat menghasilkan tegangan pendek hingga 600 volt, cukup mudah untuk menciptakan percikan api di celah udara yang pendek.
"Jika percikan api ini melintasi saluran di bagian belakang mulut naga, percikan api ini dapat menyulut semburan minyak dan oksigen bertekanan tinggi," pungkas Mark.
Jakarta, CNN Indonesia --
Naga, makhluk mitologi yang kerap muncul di dongeng hingga film fiksi, sering digambarkan sebagai makhluk mirip ular dan di beberapa cerita bisa menyemburkan api dari mulutnya. Lalu, jika naga memang ada di kehidupan nyata, bagaimana mereka dapat menyemburkan api dari mulutnya?
Pertanyaan ini kemudian coba dijawab oleh Mark Lorch, Profesor Komunikasi Sains dan Kimia, Universitas Hull.
Mark sempat berkontemplasi, jika naga memang ada mekanisme biologis dan reaksi kimia apa yang mungkin mereka gunakan untuk bisa menyemburkan api di kehidupan nyata. Ia pun mencoba menganalisis hal tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mark, dalam tulisannya di The Conversation, menjelaskan untuk menyalakan dan mempertahankan nyala api membutuhkan tiga komponen; bahan bakar, zat pengoksidasi dan sumber panas untuk memulai dan mempertahankan pembakaran.
"Mari kita mulai dengan bahan bakar. Metana bisa menjadi kandidat. Hewan memproduksinya selama proses pencernaan," kata Mark dalam tulisan di The Conversation, dikutip Kamis (11/7).
Menurut dia, naga berbahan bakar metana perlu memiliki pola makan dan sistem pencernaan yang lebih mirip dengan sapi untuk menghasilkan gas yang cukup untuk membakar sebuah kota.
Di sisi lain, terdapat masalah terkait penyimpanan gas metana. Menurut Mark sebuah tabung metana biasa mungkin memiliki tekanan 150 atmosfer, sementara usus hewan hanya dapat mentolerir sedikit di atas satu atmosfer.
Oleh karena itu, menurutnya, tidak ada dasar biologis bagi hewan non-laut untuk menyimpan gas di bawah tekanan tinggi.
Mark menjelaskan opsi yang lebih baik adalah cairan, dengan etanol bisa menjadi pilihan.
"Mungkin naga tersebut bisa menyimpan tong berisi ragi yang difermentasi di dalam usus mereka, atau bisa memiliki sistem metabolisme yang mirip dengan anak ikan Devil's Hole, yang hidup di sumber air panas di Nevada, Amerika Serikat. Dalam kondisi oksigen rendah, ikan-ikan ini beralih ke bentuk respirasi yang menghasilkan etanol," jelas Mark.
Kendati begitu, penyimpanan sekali lagi menjadi masalah. Menurut Mark etanol bisa dengan cepat melewati membran biologis, sehingga menjaganya tetap pada konsentrasi tinggi dan siap untuk digunakan pada sinyal "api naga" akan membutuhkan biologi dunia lain.
Oleh karena itu, jika tetap berpegang pada penjelasan dengan satu pijakan biologi dunia nyata, pilihannnya adalah sesuatu yang berbasis minyak. Menurutnya minyak bisa menjadi sumber api yang menderu-deru dan ada dasar biologis untuk hal ini pada burung camar jenis fulmar.
Mark mengatakan burung-burung ini menghasilkan minyak perut yang kaya energi yang dimuntahkan untuk memberi makan anak-anak mereka. Minyak tersebut juga berfungsi sebagai pencegah.
Saat terancam, fulmar memuntahkan minyak yang lengket dan berbau itu ke arah predator. Untungnya, burung camar belum berevolusi untuk menyalakan muntahannya.
Proses naga menyalakan api di halaman berikutnya...
Proses Naga Menyalakan Api
Ilustrasi. Jika naga memang ada di kehidupan nyata, bagaimana mereka dapat menyemburkan api dari mulutnya? (Foto: AFP PHOTO / YE AUNG THU)
Setelah memiliki sumber bahan bakar, langkah berikutnya zat pengoksidasi. Seperti pembakaran pada umumnya, oksigen memiliki peran penting.
Namun, butuh lebih dari oksigen di udara sekitar untuk menghasilkan semburan minyak api bertekanan yang cukup panas. Dan itu harus tercampur dengan baik dengan bahan bakar, karena semakin baik pasokan oksigen, semakin panas apinya.
"Seekor naga dapat memanfaatkan bahan kimia yang digunakan oleh kumbang pembom. Serangga ini telah berevolusi dan beradaptasi untuk menyimpan hidrogen peroksida (bahan yang mungkin Anda gunakan untuk memutihkan rambut)," kata Mark.
"Ketika terancam, kumbang mendorong hidrogen peroksida ke dalam ruang depan yang mengandung enzim yang dengan cepat menguraikan hidrogen peroksida menjadi air dan oksigen," lanjutnya.
Mark menjelaskan ini adalah reaksi eksotermik, yang mentransfer energi ke sekelilingnya, dan dalam hal ini menaikkan suhu campuran hingga hampir mencapai titik didih. Reaksi ini sangat agresif sehingga terkadang digunakan untuk mendorong roket.
Peningkatan tekanan yang disebabkan oleh produksi oksigen yang cepat dan air yang mendidih memaksa campuran berbahaya tersebut keluar dari lubang di perut kumbang dan menuju mangsa atau musuhnya.
Ia meyakini, jika digunakan oleh naga, reaksi ini memiliki beberapa fitur yang bagus. Reaksi ini akan menciptakan tekanan tinggi yang dibutuhkan untuk mendorong semburan bahan bakar berminyak, reaksi eksotermik akan memanaskan minyak sehingga lebih siap untuk dibakar, dan yang paling penting, reaksi ini akan menghasilkan oksigen yang akan mendorong reaksi pembakaran.
"Yang dibutuhkan naga itu hanyalah semacam karburator mesin bensin yang setara secara biologis untuk mencampur minyak dengan oksigen dan menciptakan campuran yang eksplosif. Sebagai bonus, campuran yang meletus mungkin akan membentuk kabut halus dari tetesan minyak, seperti aerosol, yang akan menyalakan api dengan lebih baik," tuturnya.
Percikan api
Setelah bahan bakar dan pemantik siap, terakhir yang dibutuhkan adalah percikan api untuk menyalakan campuran tersebut. Untuk hal ini, Mark mengusulkan bahwa naga telah berevolusi dengan organ listrik yang mirip dengan yang ditemukan pada banyak ikan, khususnya belut listrik.
Organ ini dapat menghasilkan tegangan pendek hingga 600 volt, cukup mudah untuk menciptakan percikan api di celah udara yang pendek.
"Jika percikan api ini melintasi saluran di bagian belakang mulut naga, percikan api ini dapat menyulut semburan minyak dan oksigen bertekanan tinggi," pungkas Mark.