Mengenal Apa Itu Siklon Tropis dan Mengapa Makin Sering Terjadi?
CNN Indonesia
Selasa, 16 Des 2025 08:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Selain deforestasi, Siklon Tropis Senyar disebut-sebut sebagai pemicu bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar. (Foto: dok Earthdata NASA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat awal Desember lalu mengungkap soal dampak mengerikan Siklon Tropis Senyar.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Sabtu (13/12), korban jiwa akibat banjir bandang dan longsor di Sumatra mencapai 1.006 jiwa dengan 212 orang masih hilang.
Selain deforestasi di wilayah Sumatra, Siklon Tropis Senyar disebut-sebut sebagai pemicu hujan lebat di sekitar wilayah tersebut. Lalu, apa sebenarnya siklon tropis?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan siklon tropis adalah badai dengan kekuatan yang besar. Radius rata-rata siklon tropis mencapai 150 hingga 200 kilometer.
Siklon tropis terbentuk di atas lautan luas yang umumnya memiliki permukaan air laut hangat, lebih dari 26,5 derajat Celsius. Angin kencang yang berputar di dekat pusatnya mempunyai kecepatan angin lebih dari 63 km/jam.
"Secara teknis, siklon tropis didefinisikan sebagai sistem tekanan rendah non-frontal yang berskala sinoptik yang tumbuh di atas perairan hangat dengan wilayah perawanan konvektif dan kecepatan angin maksimum setidaknya mencapai 34 knot pada lebih dari setengah wilayah yang melingkari pusatnya, serta bertahan setidaknya enam jam," demikian keterangan BMKG dalam laman resminya, dikutip Senin (15/12).
Terkadang, di pusat siklon tropis terbentuk satu wilayah dengan kecepatan angin relatif rendah dan tanpa awan yang disebut dengan mata siklon. Diameter mata siklon ini bervariasi, mulai dari 10 hingga 100 km.
Mata siklon ini dikelilingi dengan dinding mata, yakni wilayah berbentuk cincin yang dapat mencapai ketebalan 16 km, yang merupakan wilayah kecepatan angin tertinggi dan curah hujan terbesar.
Menurut BMKG masa hidup suatu siklon tropis rata-rata berkisar antara 3 hingga 18 hari. Siklon tropis akan melemah atau punah ketika bergerak dan memasuki wilayah perairan yang dingin atau memasuki daratan, karena energi mereka berasal dari lautan hangat.
Siklon Tropis Senyar yang menyapu daratan Aceh, Sumut, dan Sumbar awal bulan ini disebut-sebut sebagai anomali. Siklon ini berasal dari Bibit Siklon 95B yang terbentuk di perairan sempit dan dangkal di Selat Malak.
Kemunculan siklon ini sekaligus menandai babak baru dinamika cuaca ekstrem di kawasan Benua Maritim Nusantara (BMN). Pasalnya, wilayah yang selama ini dianggap mustahil menjadi lokasi lahirnya badai tropis, seperti Selat Malaka, ternyata menyimpan kejutan ilmiah.
"Dalam catatan meteorologi, hanya sedikit badai yang mampu terbentuk di wilayah sempit dekat ekuator. Kasus serupa terakhir terjadi pada Tropical Storm Vamei (2001) yang lahir di Laut Natuna," kata Deni Septiadi, Klimatologi BMKG, dalam keterangannya, Kamis (27/11).
Siklon tropis bisa dibilang fenomena yang jarang terjadi di Indonesia. Sebelum Siklon Tropis Senyar, tercatat ada Siklon Tropis Seroja yang juga menghancurkan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2021 lalu.
Saat kejadian tersebut, tercatat sebanyak 181 korban meninggal di seluruh wilayah NTT akibat dampak Siklon Tropis Seroja.
Ada alasan tersendiri mengapa siklon tropis di seluruh dunia jarang terjadi di Indonesia. Salah satunya adalah karena Indonesia merupakan negara khatulistiwa.
Menurut BMKG siklon tropis seperti enggan mendekati khatulistiwa karena disebabkan Gaya Coriolis yang muncul akibat pengaruh rotasi Bumi. Hal ini dikarenakan Bumi berputar lebih cepat di khatulistiwa daripada di kutub.
Melansir Detik, diameter Bumi lebih lebar di wilayah khatulistiwa, sehingga untuk melakukan rotasi dalam satu periode 24 jam, daerah khatulistiwa berpacu hampir 1.600 km per jam.
Sementara di dekat kutub, Bumi berputar dengan kecepatan 0,00008 km per jam, seperti kincir air. Perbedaan kecepatan itulah yang menghasilkan efek Coriolis.
Tak lagi aman dari lintasan siklon tropis di halaman berikutnya...
Meski secara umum jarang dilalui siklon tropis, cuaca di wilayah Indonesia ternyata turut dipengaruhi oleh keadaan siklon tropis. Siklon tropis yang berada dekat dengan wilayah Indonesia memberikan dampak tidak langsung berupa cuaca buruk, antara lain hujan ekstrem, peningkatan kecepatan angin pemrukaan, dan gelombang tinggi.
Hal ini dikarenakan siklon tropis memicu faktor skala sinoptik di wilayah sekitarnya yang dapat membentuk daerah konvergen maupun menginduksi peningkatan kecepatan angin di darat maupun di laut.
Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani juga mengungkap bahwa saat ini Indonesia tak benar-benar aman dari bahaya siklon tropis.
"Dengan seiring terus menghangatnya perairan Indonesia yang tadi menyuburkan tekanan rendah yang menjadi pemicu adanya bibit siklon, maupun siklon, maupun pola tekanan rendah, ini tentunya kita harus waspada bahwa tidak bisa lagi, artinya memandang bahwa Indonesia akan aman dari lintasan siklon," ujar Andri.
Andri menyebut kehadiran Siklon Tropis Senyar di wilayah Indonesia adalah kejadian langka. Secara teori, katanya, Indonesia adalah wilayah yang tidak akan dilintasi siklon tropis, karena berada di wilayah ekuator.
Namun, ia menyebut catatan lima tahun terakhir tidak menunjukkan demikian. Menurutnya, banyak siklon tropis yang mulai mendekat ke wilayah Indonesia.
"Sebagai contoh pada 2021 dengan siklon Seroja, itu benar-benar masuk ke wilayah daratan. Kemudian juga ada siklon tropis Cempaka di selatan Yogyakarta. Lalu juga Dahlia," tuturnya.
Pada awal Oktober lalu, mantan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkap bahwa suhu air laut perairan Indonesia yang semakin hangat memicu cuaca ekstrem menjadi lebih parah.
Ia menjelasakan, suhu muka air yang hangat akan membuat penguapan menjadi lebih cepat. Akselerasi siklus hidrologi ini membuat awan-awan yang terbentuk semakin masif dan cepat.
Tidak hanya mempercepat siklus hidrologi, permukaan air yang hangat akan menyebabkan kesenjangan suhu dengan Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.
"Jadi perbedaan suhu muka air laut antara Samudera Hindia dengan kepulauan Indonesia, maka terjadilah aliran massa udara basah dari Samudera Hindia ke Indonesia," kata Dwikorita dalam acara Insight with Desi Anwar di CNN Indonesia, Minggu (5/10).
"Demikian juga, dari Samudera Pasifik ke Indonesia," tambahnya.
Massa udara basah ini dari kedua samudera ini, kata Dwikorita, akan semakin menguatkan proses pembentukan awan-awan di wilayah Indonesia.
Ketika wilayah perairan Indonesia semakin hangat, proses pembentukan awan juga semakin masif. Kondisi cuaca ekstrem ini juga bisa diperparah oleh fenomena regional seperti Madden-Julian Oscillation.
"Belum lagi kalau secara regional, ada Madden-Julian Oscillation yaitu pergerakkan arak-arakan awan hujan sepanjang khatulistiwa melintasi Samudera Hindia dari sebelah timur Afrika," terangnya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat awal Desember lalu mengungkap soal dampak mengerikan Siklon Tropis Senyar.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Sabtu (13/12), korban jiwa akibat banjir bandang dan longsor di Sumatra mencapai 1.006 jiwa dengan 212 orang masih hilang.
Selain deforestasi di wilayah Sumatra, Siklon Tropis Senyar disebut-sebut sebagai pemicu hujan lebat di sekitar wilayah tersebut. Lalu, apa sebenarnya siklon tropis?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan siklon tropis adalah badai dengan kekuatan yang besar. Radius rata-rata siklon tropis mencapai 150 hingga 200 kilometer.
Siklon tropis terbentuk di atas lautan luas yang umumnya memiliki permukaan air laut hangat, lebih dari 26,5 derajat Celsius. Angin kencang yang berputar di dekat pusatnya mempunyai kecepatan angin lebih dari 63 km/jam.
"Secara teknis, siklon tropis didefinisikan sebagai sistem tekanan rendah non-frontal yang berskala sinoptik yang tumbuh di atas perairan hangat dengan wilayah perawanan konvektif dan kecepatan angin maksimum setidaknya mencapai 34 knot pada lebih dari setengah wilayah yang melingkari pusatnya, serta bertahan setidaknya enam jam," demikian keterangan BMKG dalam laman resminya, dikutip Senin (15/12).
Terkadang, di pusat siklon tropis terbentuk satu wilayah dengan kecepatan angin relatif rendah dan tanpa awan yang disebut dengan mata siklon. Diameter mata siklon ini bervariasi, mulai dari 10 hingga 100 km.
Mata siklon ini dikelilingi dengan dinding mata, yakni wilayah berbentuk cincin yang dapat mencapai ketebalan 16 km, yang merupakan wilayah kecepatan angin tertinggi dan curah hujan terbesar.
Menurut BMKG masa hidup suatu siklon tropis rata-rata berkisar antara 3 hingga 18 hari. Siklon tropis akan melemah atau punah ketika bergerak dan memasuki wilayah perairan yang dingin atau memasuki daratan, karena energi mereka berasal dari lautan hangat.
Siklon Tropis Senyar yang menyapu daratan Aceh, Sumut, dan Sumbar awal bulan ini disebut-sebut sebagai anomali. Siklon ini berasal dari Bibit Siklon 95B yang terbentuk di perairan sempit dan dangkal di Selat Malak.
Kemunculan siklon ini sekaligus menandai babak baru dinamika cuaca ekstrem di kawasan Benua Maritim Nusantara (BMN). Pasalnya, wilayah yang selama ini dianggap mustahil menjadi lokasi lahirnya badai tropis, seperti Selat Malaka, ternyata menyimpan kejutan ilmiah.
"Dalam catatan meteorologi, hanya sedikit badai yang mampu terbentuk di wilayah sempit dekat ekuator. Kasus serupa terakhir terjadi pada Tropical Storm Vamei (2001) yang lahir di Laut Natuna," kata Deni Septiadi, Klimatologi BMKG, dalam keterangannya, Kamis (27/11).
Siklon tropis bisa dibilang fenomena yang jarang terjadi di Indonesia. Sebelum Siklon Tropis Senyar, tercatat ada Siklon Tropis Seroja yang juga menghancurkan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2021 lalu.
Saat kejadian tersebut, tercatat sebanyak 181 korban meninggal di seluruh wilayah NTT akibat dampak Siklon Tropis Seroja.
Ada alasan tersendiri mengapa siklon tropis di seluruh dunia jarang terjadi di Indonesia. Salah satunya adalah karena Indonesia merupakan negara khatulistiwa.
Menurut BMKG siklon tropis seperti enggan mendekati khatulistiwa karena disebabkan Gaya Coriolis yang muncul akibat pengaruh rotasi Bumi. Hal ini dikarenakan Bumi berputar lebih cepat di khatulistiwa daripada di kutub.
Melansir Detik, diameter Bumi lebih lebar di wilayah khatulistiwa, sehingga untuk melakukan rotasi dalam satu periode 24 jam, daerah khatulistiwa berpacu hampir 1.600 km per jam.
Sementara di dekat kutub, Bumi berputar dengan kecepatan 0,00008 km per jam, seperti kincir air. Perbedaan kecepatan itulah yang menghasilkan efek Coriolis.
Tak lagi aman dari lintasan siklon tropis di halaman berikutnya...
Tak Lagi Aman dari Lintasan Siklon Tropis
Warga mencari benda berharga di desa yang luluh lantak di Desa Lubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, Aceh, Selasa (9/12). (Foto: ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S)
Meski secara umum jarang dilalui siklon tropis, cuaca di wilayah Indonesia ternyata turut dipengaruhi oleh keadaan siklon tropis. Siklon tropis yang berada dekat dengan wilayah Indonesia memberikan dampak tidak langsung berupa cuaca buruk, antara lain hujan ekstrem, peningkatan kecepatan angin pemrukaan, dan gelombang tinggi.
Hal ini dikarenakan siklon tropis memicu faktor skala sinoptik di wilayah sekitarnya yang dapat membentuk daerah konvergen maupun menginduksi peningkatan kecepatan angin di darat maupun di laut.
Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani juga mengungkap bahwa saat ini Indonesia tak benar-benar aman dari bahaya siklon tropis.
"Dengan seiring terus menghangatnya perairan Indonesia yang tadi menyuburkan tekanan rendah yang menjadi pemicu adanya bibit siklon, maupun siklon, maupun pola tekanan rendah, ini tentunya kita harus waspada bahwa tidak bisa lagi, artinya memandang bahwa Indonesia akan aman dari lintasan siklon," ujar Andri.
Andri menyebut kehadiran Siklon Tropis Senyar di wilayah Indonesia adalah kejadian langka. Secara teori, katanya, Indonesia adalah wilayah yang tidak akan dilintasi siklon tropis, karena berada di wilayah ekuator.
Namun, ia menyebut catatan lima tahun terakhir tidak menunjukkan demikian. Menurutnya, banyak siklon tropis yang mulai mendekat ke wilayah Indonesia.
"Sebagai contoh pada 2021 dengan siklon Seroja, itu benar-benar masuk ke wilayah daratan. Kemudian juga ada siklon tropis Cempaka di selatan Yogyakarta. Lalu juga Dahlia," tuturnya.
Pada awal Oktober lalu, mantan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkap bahwa suhu air laut perairan Indonesia yang semakin hangat memicu cuaca ekstrem menjadi lebih parah.
Ia menjelasakan, suhu muka air yang hangat akan membuat penguapan menjadi lebih cepat. Akselerasi siklus hidrologi ini membuat awan-awan yang terbentuk semakin masif dan cepat.
Tidak hanya mempercepat siklus hidrologi, permukaan air yang hangat akan menyebabkan kesenjangan suhu dengan Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.
"Jadi perbedaan suhu muka air laut antara Samudera Hindia dengan kepulauan Indonesia, maka terjadilah aliran massa udara basah dari Samudera Hindia ke Indonesia," kata Dwikorita dalam acara Insight with Desi Anwar di CNN Indonesia, Minggu (5/10).
"Demikian juga, dari Samudera Pasifik ke Indonesia," tambahnya.
Massa udara basah ini dari kedua samudera ini, kata Dwikorita, akan semakin menguatkan proses pembentukan awan-awan di wilayah Indonesia.
Ketika wilayah perairan Indonesia semakin hangat, proses pembentukan awan juga semakin masif. Kondisi cuaca ekstrem ini juga bisa diperparah oleh fenomena regional seperti Madden-Julian Oscillation.
"Belum lagi kalau secara regional, ada Madden-Julian Oscillation yaitu pergerakkan arak-arakan awan hujan sepanjang khatulistiwa melintasi Samudera Hindia dari sebelah timur Afrika," terangnya.