59 Rentetan Gempa Kecil Guncang Selat Lombok, Warga Bali Wajib Waspada
Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Bali, mencatat 59 rentetan gempa bumi tektonik dengan magnitudo kecil di wilayah Selat Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dwi Hartanto selaku Ketua Kelompok Kerja Informasi Dini Gempa Bumi dan Tsunami BBMKG Wilayah III Denpasar, mengatakan rentetan gempa di Selat Lombok itu juga harus diwaspadai oleh warga Bali, terutama di Bali bagian timur seperti di Kabupaten Karangasem.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dwi mengatakan, kendati sampai saat ini rentetan gempa itu tidak dirasakan hingga Pulau Bali, tetapi harus diwaspadai karena bisa saja itu memicu gempa yang lebih besar.
"Sampai saat ini tidak dirasakan di Bali, dari gempa yang sebanyak itu 59 kali itu kan letaknya di tengah laut, terus agak jauh juga dari darat. Jadi, gempanya magnitude-nya paling besar 2,8. Jadi tidak ada yang dirasakan itu," kata Dwi, saat dikonfirmasi Rabu (7/12).
"Tapi kami buat press rilis agar masyarakat mewaspadai. Gempa itu ada tipenya, gempa pembuka dulu, kemudian ada gempa utamanya (gempa besar)," imbuhnya.
Kendati demikian, pihaknya belum bisa memprediksi terkait rentetan gempa yang terjadi di Selat Lombok itu, apakah hanya gempa kecil biasa atau gempa pembuka untuk terjadi gempa besar.
"Karena sampai saat ini, kami belum bisa memprediksi gempa kecil ini apakah dia gempa pembuka dulu, atau memang hanya rentetan gempa saja. Bisa jadi dia hanya rentetan gempa saja, kalau rentetan gempa saja iya masyarakat tidak perlu khawatir," jelasnya.
"Tapi yang kami takutkan nanti tiba-tiba dia muncul gempa utamanya yang lebih besar, dan berdampak di bagian utamanya daerah Bali Timur, di Karangasem," lanjutnya.
Rentetan gempa di Selat Lombok terjadi dari tanggal 5-7 Januari 2025 dan terakhir tadi pagi pukul 07.47 WITA. Wilayah Selat Lombok mengalami peningkatan aktivitas gempa bumi tektonik.
Berdasarkan hasil analisis BMKG, tercatat sebanyak 59 kejadian gempa bumi dengan episenter di laut dan magnitudo berkisar antara 1,4 hingga 2,8 magnitudo.
Kemudian, ditinjau dari lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, rangkaian gempa bumi tersebut tergolong gempa bumi dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif di dasar laut.
Selain itu, mengingat dinamika bumi yang kompleks, gempa bumi hingga saat ini belum dapat diprediksi secara pasti. Oleh karena itu, peningkatan pemahaman masyarakat melalui sosialisasi dan simulasi kebencanaan sangat diperlukan guna mengurangi risiko kerugian dan korban jiwa.
Dwi juga menyampaikan, rentetan gempa di Selat Lombok tersebut bukan aktivitas normal dan tidak seperti biasanya.
"Enggak normal. Karena dia sering sekali. Ini kan sudah sampai dua hari ini sudah puluhan kali, di tempat yang hampir sama. Biasanya, kalau gempa-gempa biasa, sekali (gempa) terus pindah lagi (titik gempanya)," ungkapnya.
Ia kembali menegaskan, bahwa peristiwa gempa itu tidak bisa diprediksi tetapi ia berharap rentetan gempa itu hanya aktivitas gempa kecil saja dan tidak terjadi gempa besar.
"Gempa tidak diprediksi. Makanya kami informasikan bahwa sudah terjadi rentetan gempa selama dua hari ini, supaya masyarakat lebih waspada saja. Nanti, takutnya tiba-tiba ada gempa yang lebih besar. Tapi, syukur sih tidak ada gempa yang lebih besar, mudah-mudahan tidak ada," ujarnya.
Selain itu, sebagai upaya mendukung program zero victim, masyarakat diimbau untuk menerapkan langkah mitigasi mandiri saat merasakan gempa bumi kuat dan lama, seperti melindungi kepala, menjauhi kaca dan bangunan rapuh, menjauhi wilayah pantai, serta menuju area terbuka untuk mengantisipasi adanya gempa bumi susulan.
"Jadi kalau misalnya masyarakat merasakan gempa bumi yang kuat dan lama, segera saja untuk melakukan evakuasi mandiri keluar rumah. Kalau yang dekat pantai segera
saja menjauhi pantai," ujarnya.
[Gambas:Video CNN]

