Lenovo Sebut Agentic AI Bukan Cuma Hype, Bagaimana di Indonesia?

CNN Indonesia
Rabu, 14 Jan 2026 10:30 WIB
Lenovo menilai agentic AI bukan sekadar hype, dengan investasi yang meningkat di Indonesia. 96% organisasi berencana tingkatkan belanja AI dalam 12 bulan.
Lenovo menilai agentic AI bukan sekadar hype, dengan investasi yang meningkat di Indonesia. 96% organisasi berencana tingkatkan belanja AI dalam 12 bulan. (Foto: CNN Indonesia/Loamy N)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lenovo menyebut agentic AI bukan sekadar hype, karena mereka melihat peningkatan investasi pada sektor ini. Di Indonesia antusiasme terhadap agentic AI dinilai cukup tinggi.

Agentic AI adalah bagian dari AI generatif yang fokus pada orkestrasi dan eksekusi agen yang menggunakan Large Language Model (LLM) sebagai 'otak' untuk melakukan tindakan melalui alat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Industri dan banyak liputan media mengatakan bahwa apakah agentic AI cuma hype? Apakah ini investasi berlebihan? Pemahaman kami tentang pasar menunjukkan bahwa ini lebih nyata daripada sekadar hype," ujar Fan Ho, ED & GM, Solutions & Services Group Lenovo Asia Pacific dalam acara Lenovo Tech Day 2026, Jakarta, Selasa (13/1)."

"Karena kami dapat melihat pergeseran investasi ke bidang ini," imbuhnya.

Agentic AI menjadi salah satu isu yang disoroti dalam CIO Playbook 2026 yang dirilis Lenovo berdasarkan insight riset dari IDC.

Dalam Playbook ini disebutkan bahwa sebanyak 96 persen organisasi berencana meningkatkan investasi AI dalam 12 bulan ke depan. Secara rata-rata, organisasi memperkirakan belanja AI akan tumbuh sebesar 15 persen, mencakup GenAI dan Agentic AI, layanan AI berbasis cloud publik, infrastruktur AI on-premise, serta solusi keamanan
AI.

Minat terhadap Agentic AI sendiri diperkirakan akan meningkat dua kali lipat dalam 12 bulan ke depan. Saat ini, 21 persen organisasi di Asia Pasifik melaporkan penggunaan yang signifikan, sementara hampir 60 persenlainnya sedang menjajaki atau merencanakan penerapan terbatas, terutama di sektor telekomunikasi, layanan kesehatan, dan pemerintahan, di mana kompleksitas operasional dan skalanya berada pada tingkat tertinggi.

Meskipun minat terus tumbuh, tingkat kesiapan organisasi dinilai masih belum merata. Hanya 10 persen organisasiyang menganggap diri mereka siap untuk implementasi Agentic AI dalam skala besar, sementara 41 persen lainnya membutuhkan waktu lebih dari 12 bulan untuk dapat meningkatkannya secara signifikan.

Keamanan, tata kelola, kualitas data, serta kompleksitas integrasi dinilai menjadi hambatan utama.

"Agentic AI merepresentasikan pergeseran fundamental dalam cara kecerdasan ditanamkan ke dalam perusahaan," kata Fan Ho.

"Dengan hampir 60 persen organisasi yang telah menjajaki Agentic AI dan mayoritas memilih jalur yang terukur untuk memperluas skalanya, hal ini mencerminkan bahwa perusahaan menginginkan AI yang beroperasi di dalam alur kerja inti, memenuhi ekspektasi keamanan dan tata kelola, serta memberikan hasil yang konsisten," tambahnya.

Lanskap Indonesia

Ketika ditanya soal lanskap agentic AI di Indonesia, Fan Ho menyebut ada beberapa keunggulan yang dimiliki Tanah Air, salah satunya pengembangan sovereign AI yang didukung oleh pemerintah.

Menurutnya, tidak banyak negara yang memutuskan untuk melokalisasi fundamental AI, yakni LLM. Hal ini dinilai berperan sangat signifikan terhadap pasar Indonesia.

"Banyak pengetahuan, banyak aspek bisnis, dan juga lanskap pasar akan memerlukan dukungan dari model bahasa besar yang disesuaikan untuk masyarakat, untuk komunitas, dan untuk bahasa yang kita gunakan. Jadi, menurut saya, itu adalah salah satu keunggulan besar," tutur Fan Ho.

Ia kemudian menyinggung soal kunjungan Chairman Lenovo ke Indonesia beberapa waktu lalu. Kunjungan tersebut, katanya, menunjukkan bagaimana Indonesia dipandang memiliki momentum dan ketertarikan tinggi terhadap AI.

Dalam momen kunjungan tersebut, Fan Ho juga bertemu sejumlah pelanggan Lenovo yang berasal dari konglomerasi besar Indonesia. Ia menyebut para pelanggan sangat antusias terhadap pembicaraan soal AI.

"Hal baik yang juga saya lihat adalah minat dan antusiasme mereka yang sangat tinggi dalam percakapan tentang kecerdasan buatan (AI). Hal ini juga memberi saya perasaan bahwa Indonesia mungkin juga merupakan pasar yang akan mengalami pertumbuhan yang baik dan adopsi AI yang baik," terangnya.

(lom/dmi)


[Gambas:Video CNN]