Jam Kiamat Maju 85 Detik: Kiamat Semakin Dekat Gara-gara Ini

CNN Indonesia
Rabu, 28 Jan 2026 13:19 WIB
Ilustrasi. Para ilmuwan atom kembali memajukan Doomsday Clock atau Jam Kiamat, 85 detik menuju tengah malam, titik terdekat dengan tengah malam sepanjang sejarah. (Foto: REUTERS/LEAH MILLIS)
Jakarta, CNN Indonesia --

Para ilmuwan atom kembali memajukan Doomsday Clock atau Jam Kiamat, 85 detik menuju tengah malam, titik terdekat dengan tengah malam sepanjang sejarah.

Hal ini diakibatkan meningkatnya ancaman dari senjata nuklir, perubahan iklim, dan disinformasi.

Jam Kiamat adalah sebuah jam simbolik yang dibuat untuk menunjukkan seberapa dekat manusia dengan kehancuran global, terutama akibat perang nuklir, krisis iklim, ancaman biologi, dan risiko kecerdasan buatan, serta disinformasi.

Bulletin of the Atomic Scientists, yang menciptakan jam metaforis ini pada awal Perang Dingin, memajukan waktunya menjadi 85 detik menuju tengah malam, empat detik lebih dekat dibandingkan tahun lalu.

Melansir Euronews, pengumuman ini disampaikan setahun setelah masa jabatan kedua Presiden AS Donald Trump, yang selama ini melanggar norma-norma global, termasuk memerintahkan serangan sepihak dan menarik diri dari sejumlah organisasi internasional.

Rusia, China, Amerika Serikat, dan negara-negara besar lainnya menjadi semakin agresif, konfrontatif, dan nasionalistis, demikian pernyataan yang mengumumkan perubahan waktu jam tersebut, yang ditetapkan setelah konsultasi dengan dewan yang mencakup delapan peraih Nobel.

"Pemahaman global yang diperjuangkan dengan susah payah kini runtuh, mempercepat persaingan kekuatan besar dengan pendekatan pemenang mengambil semua, serta melemahkan kerja sama internasional yang sangat penting untuk mengurangi risiko perang nuklir, perubahan iklim, penyalahgunaan bioteknologi, potensi ancaman kecerdasan buatan, dan bahaya apokaliptik lainnya," kata para peneliti, melansir Euronews, Selasa (27/1).

Dewan Jam Kiamat memperingatkan meningkatnya risiko perlombaan senjata nuklir, dengan perjanjian pengurangan senjata New START antara Washington dan Moskow yang akan berakhir minggu depan, serta dorongan Trump terhadap sistem pertahanan rudal mahal bernama "Golden Dome" yang akan semakin memiliterisasi ruang angkasa.

Kelompok tersebut juga menyoroti kekeringan, gelombang panas, dan banjir yang terkait dengan pemanasan global, serta kegagalan negara-negara untuk mengadopsi perjanjian yang bermakna guna mengatasinya.

"Kita sedang hidup dalam Armageddon informasi - krisis di balik semua krisis - yang didorong oleh teknologi ekstraktif dan predatoris yang menyebarkan kebohongan lebih cepat daripada fakta dan mengambil keuntungan dari perpecahan kita," kata Maria Ressa, jurnalis investigatif asal Filipina dan peraih Nobel Perdamaian.

Para anggota dewan juga memperingatkan terpecahnya kepercayaan global. "Jika dunia terbelah menjadi pendekatan 'kami versus mereka' yang bersifat zero-sum, kemungkinan besar kita semua akan kalah," ujar Daniel Holz, ketua dewan sains dan keamanan kelompok tersebut.

Bulletin of the Atomic Scientists didirikan oleh tokoh-tokoh seperti Albert Einstein, Robert Oppenheimer, dan ilmuwan nuklir Proyek Manhattan lainnya seperti Eugene Rabinowitch dan Hyman Goldsmith pada akhir tahun 1945.

Sejak 1947, kelompok advokasi ini menggunakan sebuah jam untuk melambangkan potensi - bahkan kemungkinan - manusia melakukan sesuatu yang dapat mengakhiri umat manusia.

Pada akhir Perang Dingin tahun 1991, Jam Kiamat berada pada posisi terjauhnya dari tengah malam, yakni 17 menit menuju tengah malam. Dalam beberapa tahun terakhir, untuk menanggapi perubahan global yang cepat, kelompok ini beralih dari menghitung menit menuju tengah malam menjadi hitungan detik.

Kelompok tersebut menyatakan bahwa jam ini dapat diputar mundur jika para pemimpin dan negara-negara bekerja sama untuk mengatasi risiko-risiko eksistensial.

(dmi/dmi)


Saksikan Video di Bawah Ini:

VIDEO: Kekhawatiran Dunia Usaha di WEF 2026

KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK