Ahli Temukan Bukti Kuat Penggunaan Feses untuk Obat di Era Romawi
Sekelompok ilmuwan dari Turki mengaku menemukan bukti arkeologis yang menunjukkan bahwa bangsa Romawi kuno menggunakan kotoran manusia sebagai pengobatan medis.
Temuan bukti baru ini menguatkan praktik tersebut, setelah sebelumnya teks-teks Romawi menggambarkan hal ini. Menurut para peneliti, ini adalah kali pertama bukti fisik mengenai praktik tersebut terdokumentasikan dalam makalah Journal of Archaeological Science: Reports. Studi ini terbit pada 19 Januari lalu.
Cenker Atila, arkeolog dari Universitas Sivas Cumhuriyet di Turki sekaligus penulis utama dalam penelitian ini, mengatakan bahwa ia menemukan sisa-sisa zat di beberapa botol kaca Romawi, yang dikenal sebagai unguentaria, di Museum Bergama selama penelitian untuk buku 'Glass Objects from Bergama Museum'.
Atila menemukan sisa-sisa di tujuh wadah yang berbeda, tetapi hanya mendapatkan hasil yang pasti dari satu artefak yang digali di kota kuno Pergamon yang berasal dari abad kedua.
Setelah mengangkat tutup tanah liat dan mengambil sampel serpihan kecokelatan di dalam botol, Atila menemukan bahwa isinya terdiri dari kotoran manusia, konsentrasi tinggi thyme, dan minyak zaitun.
"Karena kami sudah familiar dengan sumber teks kuno, kami langsung mengenali ini sebagai ramuan obat yang digunakan oleh dokter Romawi terkenal Galen," kata Atila, melansir CNN, Selasa (10/2).
Galen merupakan pionir anatomi yang teks-teks medisnya memiliki pengaruh kuat selama 1.500 tahun. Lahir dari keluarga kaya di Pergamon, ia tercatat telah melayani tiga kaisar Romawi.
"Menemukan obat yang tepat seperti yang dijelaskan oleh Galen sendiri adalah kejutan besar dan sumber kegembiraan yang luar biasa bagi kami," tambah Atila.
Pengobatan kuno
Para penulis, dalam studinya, mengungkap bahwa merujuk teks-teks kuno, feses manusia dan hewan dikenal sebagai pengobatan untuk berbagai kondisi, mulai dari peradangan dan infeksi hingga gangguan reproduksi.
"Meskipun sering dibahas dengan eufemisme atau kehati-hatian, zat-zat tersebut tidak selalu dianggap menjijikkan atau irasional. Sebaliknya, mereka menempati ruang liminal dalam farmakologi kuno, dianggap kuat dan efektif, namun juga sarat dengan makna simbolis dan sensori," kata para penulis.
Atila mengatakan hasil analisis studi tersebut menunjukkan bahwa praktik medis yang sebelumnya hanya diketahui dari sumber tertulis kuno kini telah dibuktikan secara fisik melalui benda arkeologi.
"Pada saat yang sama, temuan kami memberikan bukti bahwa 'transfer feses,' yang memegang peran penting dalam kedokteran modern saat ini, sudah dikenal sejak zaman kuno," katanya.
Hal ini merujuk pada praktik mengumpulkan sampel feses dari donor yang sehat dan mentransplantasikannya ke pasien untuk memanfaatkan manfaat mikrobiota.
Atila mengatakan, meskipun botol kaca biasanya digunakan untuk menyimpan parfum, botol ini tampaknya telah diubah fungsi menjadi botol obat. Sementara, thyme digunakan karena sifat antibakterinya dan untuk menekan bau feses.
"Ketika kami membuka botolnya, kami tidak mencium bau yang mencolok," katanya.
Nicholas Purcell, profesor emeritus sejarah kuno di Universitas Oxford, Inggris, yang tidak terlibat dalam studi ini mengatakan bahwa penemuan ini sangat solid secara ilmiah.
Menurutnya temuan ini tidak mengejutkan, karena terapi semacam ini sering disebutkan dalam teks-teks Romawi kuno, tapi sangat menarik untuk mengaitkan tradisi tersebut dengan materi arkeologis.
"Saya sangat tertarik dengan konteks di mana benda ini ditemukan, sebelum sampai ke gudang museum," jelas Purcell.
Ia menyebut ada kemungkinan bahwa botol kaca itu ditemukan di sebuah makam yang dikubur bersama seorang dokter atau pasien.
"Selama ini, kita cenderung berpikir bahwa wadah kaca kecil di makam berisi barang-barang mewah, terutama parfum dan kosmetik, tapi kontribusi utama dari penelitian ini mungkin adalah untuk memperluas penelitian tersebut," lanjut dia.
(dmi)