Studi Ungkap Sesar Lembang Terbagi 3 Segmen, Waspada Gempa Besar

CNN Indonesia
Kamis, 26 Feb 2026 14:53 WIB
Ilustrasi. Sesar Lembang yang membentang di utara Bandung Raya dipastikan terbagi menjadi tiga segmen berbeda dan berpotensi memicu gempa hingga magnitudo 6,5. (Foto: dok. Eka Santhika)
Jakarta, CNN Indonesia --

Patahan aktif Sesar Lembang yang membentang di utara Bandung Raya dipastikan terbagi menjadi tiga segmen berbeda dan berpotensi memicu gempa hingga magnitudo 6,5.

Temuan ini merupakan hasil survei terpadu geologi dan geofisika yang dilakukan Badan Geologi Kementerian ESDM bersama akademisi dan peneliti BRIN pada akhir 2023.

"Sesar lembang merupakan salah satu sesar aktif yang ada di Jawa Barat, bentangan 29 kilometer dengan arah relatif barat-timur di sekitar Bandung Raya,"ujar Kepala Pusat Survei Geologi Badan Geologi Edy Slameto dalam forum 'Kupas Tuntas Sesar Lembang Berbasis Geologi dan Geofisika untuk Mitigasi Gempa Bumi' yang digelar secara daring, Kamis (26/2).

Ia mengatakan studi terbaru ini dilakukan untuk memperbarui pemahaman struktur bawah permukaan sesar yang berada 'di beranda rumah' masyarakat Bandung Raya.

"Kami mengintegrasikan penginderaan jauh, survei lapangan, hingga perekaman bawah permukaan dengan metode geofisika dangkal dan dalam," katanya.

Mengacu pada publikasi peneliti BRIN, laju geser (slip rate) Sesar Lembang diperkirakan berkisar 1,95-3,45 milimeter per tahun dengan periode ulang gempa antara 170 hingga 670 tahun. Studi paleoseismologi juga mengindikasikan gempa besar pernah terjadi sekitar abad ke-15.

"Di salah satu hasil itu ada offset vertikal 40 cm dan prediksi maksimum gempanya 6,5 magnitudo. Jadi itu dengan asumsi jika patahan Lembang itu bergerak secara keseluruhan sepanjang 29 kilometer," ujar Sukahar Eka Adi Saputra, salah satu peneliti di Badan Geologi.

Aktivitas sesar ini diperkuat oleh data kegempaan dari BMKG yang mencatat sejumlah gempa kecil di sekitar jalur patahan dengan kedalaman mencapai sekitar 10 kilometer.

"Gempa-gempa kecil itu merupakan signature dari sesar aktif," katanya.

Tiga segmen berbeda karakter

Dari sisi geologi, tim menemukan pembagian struktur menjadi tiga segmen utama. Pertama yakni Segmen Timur, dengan gawir sesar yang jelas dan indikasi pergeseran mengiri pada periode lebih muda.

Kedua, Segmen Tengah yang relatif tegak dan menunjukkan karakter sesar mendatar. Ketiga, Segmen Barat yang memiliki indikasi kemiringan berbeda di kedalaman dan diduga dipengaruhi struktur regional seperti Sesar Cimandiri-Rajamandala.

"Setiap segmen menunjukkan signature geometri yang berbeda, baik dari data geologi permukaan maupun hasil pemodelan geofisika," kata Hidayat, peneliti geofisika Badan Geologi.

Menurutnya, survei dilakukan menggunakan Ground Penetrating Radar (GPR), geolistrik, geomagnetik detail, gravitasi, hingga pemantauan 121 kejadian micro-earthquake selama satu bulan.

"Survei dangkal mengonfirmasi tarikan sesar di permukaan, sedangkan survei dalam membantu kami melihat geometri hingga beberapa kilometer ke bawah," ujarnya.

Implikasi mitigasi

Pakar mitigasi gempa Badan Geologi Supartoyo menekankan bahwa temuan ini harus menjadi dasar penguatan kesiapsiagaan.

"Mitigasi harus dilakukan sebelum gempa besar terjadi. Penguatan bangunan tahan gempa dan pengaturan tata ruang menjadi kunci," katanya.

Ia menyinggung pengalaman gempa Cianjur 2022 berkekuatan magnitudo 5,6 yang menghasilkan intensitas hingga VIII MMI dan menimbulkan kerugian sekitar Rp4 triliun.

"Gempa tidak harus besar untuk merusak. Intensitas guncangan dan kerentanan bangunan sangat menentukan," ujarnya.

Badan Geologi berharap hasil studi ini dapat menjadi rujukan pemerintah daerah dalam perencanaan pembangunan dan pengurangan risiko bencana di wilayah Bandung Raya yang padat penduduk dan infrastruktur vital.

"Semoga ini menjadi kontribusi nyata untuk mitigasi gempa bumi di kawasan Sesar Lembang dan sekitarnya," ungkap Edy.

(wpj/dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK