AS Diduga Pakai 'Senjata' Canggih Ini Bunuh 170 Siswi SD Iran

dmi | CNN Indonesia
Jumat, 13 Mar 2026 14:47 WIB
Dugaan AS menggunakan AI dalam serangan ke sekolah di Iran menewaskan 170 siswi dan staf. Pentagon menolak berkomentar.
Amerika Serikat (AS) diduga menggunakan sistem kecerdasan buatan (AI) ketika menghancurkan sekolah di Iran yang menewaskan 170 siswa dan staf. (Foto: AFP/ALI NAJAFI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat (AS) diduga menggunakan sistem kecerdasan buatan (AI) ketika menghancurkan sekolah di Iran yang menewaskan 170 siswi dan staf.

Merespons dugaan tersebut, Pentagon menolak untuk menjawab apakah serangan itu direkomendasikan oleh sistem AI.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Laporan dari Wall Street Journal menyebut Pentagon menggunakan model AI Claude milik Anthropic dalam perencanaan serangan militer ke Iran akhir pekan lalu. Bahkan diduga sistem serupa masih digunakan saat serangan pemerintahan Trump berlanjut.

Dalam serangan pembuka yang dilakukan AS, Sekolah Shajareh Tayyebeh di Kota Minab hancur lebur. Al Jazeera melaporkan sebagian besar korban tewas adalah siswi usia 7 hingga 12 tahun, dan setidaknya 95 orang lainnya mengalami luka-luka.

Laporan lain dari Middle East Eye mengatakan sekolah tersebut terkena serangan kedua setelah dihantam rudal pertama. Akibatnya, petugas pertolongan pertama dan orang tua yang datang menjemput anak-anak ikut menjadi korban.

Dikutip dari Futurism, praktik "double tap" ini mengingatkan pada pengeboman AS terhadap kapal sipil di Venezuela era Donald Trump dan serangan udara di Pakistan era Barack Obama.

Ketika dihubungi terkait penggunaan AI dalam operasi militer terkini, khususnya penargetan Sekolah Shajareh Tayyebeh, Pentagon mengarahkan pertanyaan ke CENTCOM.

"Kami tidak memiliki informasi apa pun untuk Anda saat ini," kata CENTCOM.

Hasil investigasi terbaru Kementerian Pertahanan AS mengungkap serangan militer ke Iran salah sasaran hingga menewaskan lebih dari 170 siswi dan staf.

Dikutip dari Reuters, berdasarkan hasil investigasi terbaru yang dilakukan Pentagon (Kemhan AS), Rabu (11/3), militer AS kemungkinan menggunakan data penargetan yang sudah usang dalam mempersiapkan serangan tersebut.

Investigasi militer internal AS sudah berlangsung sejak pekan lalu. Investigasi yang masih berlangsung menunjukkan bahwa pasukan AS kemungkinan bertanggung jawab atas serangan terhadap sekolah putri di Minab.

Militer AS disebut menggunakan rudal Tomahawk AS menghantam daerah tersebut. Menurut salinan arsip situs web resmi sekolah, sekolah tersebut berdekatan dengan kompleks yang dioperasikan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), pasukan militer yang berada di bawah pimpinan tertinggi Iran.

AI dan senjata

Seorang pejabat Departemen Pertahanan AS mengungkapkan bahwa militer AS kemungkinan menggunakan sistem AI generatif untuk memeringkat daftar target dan memberikan rekomendasi target mana yang harus diserang lebih dulu.

Rekomendasi tersebut kemudian akan diperiksa oleh manusia.

Cara kerja sistem ini adalah daftar target potensial dimasukkan ke sistem AI generatif yang digunakan Pentagon untuk pengaturan rahasia.

Manusia kemudian meminta sistem menganalisis informasi dan memprioritaskan target dengan mempertimbangkan faktor seperti lokasi pesawat. Manusia bertugas memeriksa dan mengevaluasi hasil serta rekomendasi tersebut.

Pejabat itu menekankan ini baru sebatas contoh cara kerja, bukan konfirmasi bahwa sistem tersebut saat ini digunakan.

Sejak 2017, militer AS sebenarnya sudah mengembangkan inisiatif "big data" bernama Maven. Sistem ini menggunakan AI jenis lama, terutama computer vision, untuk menganalisis lautan data dan citra yang dikumpulkan Pentagon.

Dikutip dari MIT Technology Review, Maven di antaranya bisa mengambil ribuan jam rekaman drone dan mengidentifikasi target secara algoritmik.

Laporan Georgetown University 2024 menunjukkan tentara menggunakan sistem ini untuk memilih target dan memeriksanya, yang mempercepat proses persetujuan.

Tentara berinteraksi dengan Maven melalui antarmuka peta medan perang dan dasbor yang menyorot target potensial dengan warna tertentu dan pasukan sahabat dengan warna lain.

Kini AI generatif ditambahkan sebagai lapisan chatbot percakapan, yang digunakan militer untuk menemukan dan menganalisis data lebih cepat saat membuat keputusan seperti target mana yang diprioritaskan.

Lebih lanjut, The New York Times melaporkan penyelidikan awal menemukan data target yang kadaluarsa menjadi salah satu penyebab serangan.

Sekolah Shajareh Tayyebeh dulunya merupakan bagian dari kompleks militer Islamic Revolutionary Guard Corps (IRCC), namun telah dipisahkan dan difungsikan sebagai sekolah hampir satu dekade lalu.

Tembok pemisah dibangun pada 2017, menara pengawas dibongkar, dan dinding sekolah dicat dengan warna-warna cerah khas fasilitas pendidikan.

Secara visual, seharusnya fasilitas itu mudah dikenali sebagai sekolah. Bahkan peta online dan situs web sekolah dengan jelas menampilkan informasi tentang kampus dan para siswi.

(lom/dmi) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]