BMKG Ungkap Alasan Hawa Panas di Jakarta Sepekan Terakhir

CNN Indonesia
Senin, 16 Mar 2026 09:51 WIB
Ilustrasi. Jakarta mengalami peningkatan suhu setelah hujan, dipicu oleh pergeseran fenomena atmosfer. BMKG menjelaskan potensi hujan lokal tetap ada meski cuaca terik. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Setelah musim hujan membasahi wilayah Jakarta dalam beberapa bulan terakhir, hawa panas tiba-tiba muncul dan membuat situasi cenderung gerah yang dirasakan sejumlah warga Jakarta selama sepekan terakhir. Lantas, apa pemicu kondisi ini?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap bahwa fenomena ini dipicu oleh sejumlah pergeseran sejumlah fenomena atmosfer.

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengonfirmasi terjadinya peningkatan suhu maksimum di wilayah Jakarta pada awal pekan lalu dibandingkan dengan pekan sebelumnya.

"Data dari Pos Pengamatan Kemayoran, Tanjung Priok, dan Halim Perdana Kusuma menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan suhu maksimum, dari kisaran 29-30 derajat Celcius pada periode 5-8 Maret 2026 menjadi sekitar 31-33 derajat Celcius pada periode 9-11 Maret 2026," katanya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (12/3).

Menurut Andri, kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor dinamika atmosfer, seperti aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang sebelumnya berada di sekitar wilayah Indonesia kini bergerak ke arah timur. Dengan demikian, pengaruh pembentukan awan hujan di wilayah Jakarta berkurang.

Kemudian, Monsun Asia juga disebut cenderung melemah, sehingga suplai massa udara lembap yang memicu pembentukan awan hujan tidak sekuat sebelumnya.

"Akibatnya, pada siang hari radiasi Matahari lebih dominan sehingga suhu terasa lebih panas," terangnya.

Meski demikian, Andri mengatakan kelembapan udara di wilayah Jakarta masih relatif tinggi, sehingga pembentukan awan dan hujan tetap terjadi namun tidak merata.

Berdasarkan data BMKG, hujan masih tercatat terutama pada siang hingga sore hari. Misalnya, pada 10 Maret curah hujan tertinggi terjadi di Jakarta Selatan sebesar 40 mm/hari, dan pada 11 Maret di Jakarta Timur sebesar 18,8 mm/hari.

Menurutnya, pola hujan yang cenderung terjadi pada siang-sore hari seperti ini merupakan salah satu indikasi awal periode peralihan musim.

Lebih lanjut, ia mengatakan wilayah Jakarta secara umum masih berpotensi mengalami hujan untuk hingga pekan ini.

"Oleh karena itu, meskipun pada siang hari cuaca dapat terasa cukup terik, potensi hujan lokal pada sore atau malam hari masih tetap ada," tandasnya.

(lom/dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK