Awal April Panas Menyengat atau Masih Hujan? Ini Prediksi BMKG

CNN Indonesia
Selasa, 31 Mar 2026 06:55 WIB
Hujan masih melanda Indonesia hingga akhir Maret 2026. BMKG memprediksi cuaca awal April dengan potensi hujan sedang hingga lebat sebelum musim kemarau tiba.
Ilustrasi. Hujan masih melanda Indonesia hingga akhir Maret 2026. BMKG memprediksi cuaca awal April dengan potensi hujan sedang hingga lebat sebelum musim kemarau tiba. (Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hujan masih membasahi sejumlah wilayah Indonesia pada akhir Maret 2026 ini, meski diprediksi musim kemarau akan segera tiba. Lantas, bagaimana prediksi cuaca awal April 2026?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan hujan dengan intensitas lebat terpantau masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 26-29 Maret 2026. Curah hujan tertinggi terpantau di Papua Selatan sebesar 140.0 mm/hari, Sumatra Utara 105,2 mm/hari, Jawa Tengah 94,1 mm/hari, Aceh 92 mm/hari, dan Papua 78,6 mm/hari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut BMKG, dalam laman resminya, kondisi ini dipicu oleh aktivitas gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial dan Kelvin yang masih berpengaruh di sejumlah wilayah serta diperkuat oleh mulai beralihnya dominasi monsun Asia menuju monsun Australia yang memicu terbentuknya pola sirkulasi dan konvergensi di beberapa wilayah.

Lantas, bagaimana potensi cuaca sepekan ke depan atau awal April 2026?

Menurut BMKG dalam sepekan ke depan, kondisi cuaca di Indonesia masih dipengaruhi oleh dinamika atmosfer skala global, regional, dan lokal.

Pada skala global, fenomena El Niño-Southern Oscillation (ENSO) berada pada fase netral terlihat dari indeks NINO 3.4 sebesar -0,51, yang tidak memberikan peningkatan signifikan terhadap aktivitas konvektif di wilayah Indonesia. Sementara itu, nilai Dipole Mode Index (DMI) sebesar -0,13 dan berada pada fase netral menunjukkan tidak ada aliran udara signifikan dari Samudra Hindia timur Afrika ke wilayah Indonesia, khususnya bagian barat, sehingga pengaruhnya terhadap distribusi curah hujan di Indonesia juga masih terbatas.

Pada skala regional, monsun Australia terpantau menguat dan kondisi ini diprakirakan akan terus terjadi dalam beberapa hari ke depan. Penguatan monsun ini berkontribusi meningkatkan aliran massa udara dari wilayah Australia menuju Indonesia, yang umumnya bersifat lebih kering.

Hasil analisis angin zonal menunjukkan dominasi angin timuran di sebagian besar wilayah Indonesia yang menjadi salah satu indikasi bahwa sebagian wilayah mulai memasuki periode peralihan menuju musim kemarau.

Aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) secara spasial juga diprakirakan melintasi wilayah Sumatera bagian utara hingga tengah serta sebagian Papua, sehingga berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut. Selain itu, Gelombang Rossby Ekuatorial yang berpropagasi ke arah barat juga diprakirakan aktif melintasi sejumlah wilayah Indonesia.

Menurut BMKG sistem-sistem ini membentuk daerah konvergensi dan konfluensi di Aceh, Laut Natuna, Kalimantan Barat, dan Samudera Pasifik utara Papua sehingga meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah tersebut.

BMKG memprakirakan pada periode 31 Maret hingga 6 April, cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan sedang. Namun, perlu diwaspadai peningkatan hujan dengan intensitas sedang-lebat di sejumlah wilayah.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang berpotensi terjadi di Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Sulawesi Barat.

BMKG memprakirakan musim kemarau mulai berlangsung pada April 2026 di 114 ZOM atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia. Wilayah yang diperkirakan lebih dulu memasuki musim kemarau antara lain pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Bali, serta Nusa Tenggara.

Kemudian pada Mei 2026, sebanyak 184 zona musim atau 26,3 persen wilayah diprediksi mulai memasuki musim kemarau. Selanjutnya pada Juni 2026, sebanyak 163 zona musim atau sekitar 23,3 persen wilayah akan menyusul mengalami kemarau.

Pergerakan awal musim kemarau diprakirakan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara, kemudian bergerak ke arah barat secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya.

(dmi/dmi) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]