Misi Artemis II Dicap Hoaks, Kenapa Teori Konspirasi Bulan Masih Laku?

CNN Indonesia
Kamis, 09 Apr 2026 11:32 WIB
Misi Artemis II dituduh hoaks oleh para skeptis di media sosial. Teori konspirasi lama kembali muncul, menyoroti tantangan literasi sains di era digital. (Foto: via REUTERS/NASA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Misi Artemis II yang baru saja melintasi orbit Bulan dibayangi tudingan miring dan banjir teori konspirasi. Foto-foto hingga rekaman para astronaut dari antariksa dituduh cuma rekayasa dan hasil CGI.

Narasi bahwa kembalinya manusia ke satelit alami Bumi merupakan hoaks tetap laku keras di media sosial. Tidak sedikit yang skeptis dengan keberhasilan NASA mengirim manusia ke sisi terjauh Bulan.

Di platform X (sebelumnya Twitter) milik Elon Musk, banyak pengguna yang menyangkal keberhasilan NASA mengirim manusia kembali ke Bulan. Mereka beranggapan bahwa misi ini adalah sebuah rekayasa.

Setali tiga uang, netizen Indonesia juga termakan narasi bahwa misi antariksa ini sekadar syuting di sebuah studio. Hal ini terpampang jelas dari komentar-komentar yang ada di kolom komentar unggahan di video mengenai percakapan kru Artemis II dengan Presiden AS Donald Trump yang diunggah di Instagram CNN Indonesia beberapa hari lalu.

Pantauan kami, tidak sedikit orang yang menghujani unggahan tersebut dengan tudingan kebohongan hingga klaim bahwa video itu merupakan hasil syuting di studio.

Skeptisme terhadap misi Artemis II sebenarnya bukan fenomena baru, melainkan kelanjutan dari 'warisan' teori konspirasi pendaratan Bulan pada misi Apollo 11 tahun 1969. Selama lebih dari setengah abad, para penganut teori konspirasi terus memelihara narasi bahwa rekaman Neil Armstrong dan Buzz Aldrin hanya rekayasa.

Argumen klasik seperti bendera yang tampak berkibar di ruang hampa, ketiadaan bintang di latar belakang foto, hingga radiasi sabuk Van Allen kini diproduksi ulang untuk menyerang misi Artemis II.

Kenapa banyak orang percaya teori konspirasi?

Meski NASA telah berkali-kali memberikan klarifikasi ilmiah, narasi skeptis tersebut justru bertransformasi di era digital, ketika algoritma media sosial membuat teori konspirasi lawas ini menemukan audiens baru yang lebih luas dan militan.

Lantas, mengapa setelah puluhan tahun dan teknologi sudah jauh berkembang, argumen yang sama masih laku?

Marshall Shepherd, anggota National Academy of Sciences Amerika Serikat, menyebut orang-orang cenderung mempercayai teori konspirasi karena berbagai alasan, termasuk rasa takut, kurangnya literasi sains, bias kognitif, tantangan pribadi, dan ketidakmampuan untuk mengenali informasi yang menyesatkan di internet.

Menurut Marshall, mereka juga menunjukkan bias keyakinan, yang berarti jika suatu hal mendukung apa yang sudah mereka yakini atau ingin mereka yakini, mereka akan membenarkannya dengan segala cara.

"Penelitian lain menunjukkan bahwa orang-orang mudah terpengaruh oleh berita palsu karena sesuatu yang disebut 'reflexive open-mindedness' atau gampang percaya sesuatu dan tidak mampu menolak klaim yang lemah," tulis Marshall dalam sebuah artikel yang tayang di Forbes, Jumat (3/4).

"Media sosial dan internet memperparah hal ini karena membuat semua informasi tampak 'sama' atau 'dapat dipercaya'," lanjut dia.

Teori konspirasi ini muncul bersamaan dengan maraknya hoaks dan narasi yang menyesatkan. 

Bias kognitif

Eli Elster, kandidat Doctor di Universitas California, juga mengungkap hal serupa. Menurutnya penjelasan umum mengapa orang masih memercayai teori konspirasi adalah bias kognitif.

Ia menjelaskan banyak psikolog berpendapat bahwa manusia memiliki jalan pintas mental untuk memahami cara kerja dunia. Misalnya, orang cenderung melihat niat dan kecerdasan di balik peristiwa-peristiwa acak.

Melansir Space, bias semacam ini mungkin bisa menjelaskan mengapa orang sering percaya bahwa dewa-dewa mengendalikan fenomena seperti cuaca atau penyakit.

Faktor lainnya adalah dinamika sosial. Menurut dia, orang-orang mengadopsi keyakinan tertentu bukan karena mereka yakin bahwa keyakinan itu benar, tetapi karena orang lain memegang keyakinan tersebut, atau mereka ingin menunjukkan sesuatu tentang diri mereka kepada orang lain.

Misalnya, beberapa ahli teori konspirasi mungkin mengadopsi keyakinan aneh karena keyakinan tersebut disertai dengan komunitas yang terdiri dari sesama penganut yang setia dan saling mendukung.

"Kedua pendekatan ini dapat menjelaskan sebagian bagaimana orang-orang sampai pada keyakinan yang luar biasa. Namun, keduanya mengabaikan tiga cara di mana pengalaman, bersama dengan dua faktor lainnya, dapat membentuk keyakinan yang luar biasa," ujar Eli.

(dmi/dmi)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK