Perang Iran Lawan AS dan Israel, Bumi Makin Dekat 'Kiamat'
CNN Indonesia
Kamis, 09 Apr 2026 13:59 WIB
Bagikan:
url telah tercopy
Jakarta, CNN Indonesia --
Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel tidak hanya meninggalkan jejak kehancuran bangunan dan korban jiwa, tapi juga mempercepat datangnya 'kiamat' iklim. Perang ini terbukti menjadi bencana ganda, menghancurkan kemanusiaan sekaligus tempat tinggal manusia.
Analisis terbaru menunjukkan bahwa dalam 14 hari pertama saja, perang ini sudah menghasilkan sekitar 5 juta ton emisi gas rumah kaca. Selain itu, perang ini juga menguras anggaran karbon global lebih cepat daripada gabungan 84 negara.
"Setiap serangan rudal merupakan langkah lain menuju planet yang lebih panas dan tidak stabil, dan tak satu pun dari itu membuat siapa pun lebih aman," kata Patrick Bigger, direktur penelitian di Climate and Community Institute, mengutip The Guardian, Sabtu (21/3).
Kerusakan bangunan menjadi penyumbang emisi terbesar, mencapai 2,4 juta ton CO2. Konsumsi bahan bakar militer menyumbang sekitar 529.000 ton, sementara kebakaran depot minyak menghasilkan hingga 1,88 juta ton CO2.
Secara total, dua minggu pertama perang menghasilkan 5.055.016 ton CO2e-setara emisi tahunan negara seperti Kuwait, atau gabungan 84 negara dengan emisi terendah.
Fred Otu-Larbi, penulis utama analisis ini, memperkirakan emisi akan meningkat pesat seiring berlanjutnya konflik, terutama karena fasilitas minyak menjadi sasaran serangan.
"Kita semua harus menghadapi dampak perubahan iklim. Berapa biayanya, tidak ada yang benar-benar tahu, itulah mengapa studi seperti ini sangat penting. Membakar emisi tahunan Islandia dalam dua minggu adalah sesuatu yang benar-benar tidak bisa kita tanggung," kata Fred.
Para ilmuwan memperkirakan manusia hanya memiliki "jatah karbon" sekitar 130 miliar ton CO2 untuk menjaga peluang 50 persen membatasi pemanasan global di bawah 1,5 derajat Celsius. Dengan laju emisi saat ini, batas ini bisa habis pada 2028.
Bigger juga memperingatkan bahwa perang dapat memperparah ketergantungan pada bahan bakar fosil.
"Secara historis, setiap guncangan energi yang dipicu oleh AS selalu diikuti oleh lonjakan pengeboran baru, terminal LNG baru, dan infrastruktur bahan bakar fosil baru. Perang ini berisiko mengunci ketergantungan pada karbon untuk satu generasi lagi," katanya.
Ia menilai perang ini bukanlah demi keamanan, melainkan demi kepentingan ekonomi politik bahan bakar fosil, dan yang menanggung akibatnya adalah warga sipil Iran serta komunitas kelas pekerja di seluruh dunia.
Di tengah kerusakan tersebut, energi terbarukan menjadi harapan. Sumber seperti matahari dan angin tidak bergantung pada jalur distribusi yang rentan konflik, serta lebih sulit diserang dibandingkan infrastruktur energi terpusat.
Sistem energi ter-desentralisasi seperti panel surya atap dan jaringan lokal, dapat menjaga layanan penting tetap berjalan saat krisis.
Merusak sistem vital di halaman berikutnya...
Perang tidak hanya menewaskan manusia dan menghancurkan rumah, tetapi juga merusak sistem-sistem vital bagi kehidupan mulai dari jaringan air, instalasi pengolahan limbah, lahan pertanian, pelabuhan, depot bahan bakar, hingga infrastruktur listrik.
Greenpeace, dalam laman resminya, menyatakan perang berkepanjangan mengakibatkan udara menjadi tercemar, tanah terkontaminasi, dan air tidak lagi aman dikonsumsi, bahkan lama setelah pertempuran berakhir. Berbagai penelitian konflik menunjukkan pola yang sama kebakaran, puing-puing beracun, sistem sanitasi yang rusak, serta runtuhnya sistem kesehatan masyarakat dan ekosistem.
Kerusakan lingkungan ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari bagaimana perang mengubah kehidupan sehari-hari.
Beberapa hari setelah serangan pertama AS-Israel ke Iran, sektor energi langsung menjadi medan pertempuran. Serangan dan balasan menargetkan infrastruktur bahan bakar fosil, sementara Selat Hormuz berubah menjadi titik panas yang membuat puluhan kapal tanker terdampar di Teluk Persia.
Greenpeace Jerman memperingatkan bahwa satu tumpahan minyak saja di kawasan ini dapat menghancurkan habitat laut secara permanen, berdampak besar bagi masyarakat, flora, dan fauna.
Analisis Greenpeace Middle East and North Africa (MENA) menemukan kerusakan signifikan pada sistem air, sanitasi, pertanian, dan perikanan di Gaza. Dalam 120 hari pertama konflik saja, diperkirakan lebih dari setengah juta ton karbon dioksida dihasilkan.
Contoh lain terlihat di Sudan. Penelitian dari Conflict and Environment Observatory (CEOBS) menunjukkan perang memicu deforestasi, penurunan produktivitas pertanian, polusi industri, serta runtuhnya sistem kesehatan dan sanitasi, yang pada akhirnya mengganggu akses masyarakat terhadap pangan, air, dan energi.
Dampak perang tidak berhenti di medan tempur. Militer secara global menyumbang sekitar 5,5 persen emisi gas rumah kaca. Konflik memperparah angka ini melalui kebakaran, konsumsi bahan bakar, rekonstruksi, dan hilangnya infrastruktur publik.
Dengan kata lain, biaya lingkungan dari perang bersifat kumulatif merusak ekosistem hari ini sekaligus melemahkan kemampuan masyarakat menghadapi krisis iklim di masa depan.
Pelajaran dari sejarah
Sejarah menunjukkan bahwa dampak lingkungan akibat perang dapat berlangsung puluhan tahun.
Dalam Perang Vietnam, hampir 80 juta liter herbisida seperti Agent Orange disemprotkan, merusak sekitar 2,9 juta hektare lahan dan meninggalkan racun di tanah, air, serta rantai makanan. Di Irak, Program Lingkungan PBB (UNEP) memperingatkan risiko jangka panjang dari kontaminasi uranium dan racun perang lainnya.
Pelajaran dari Vietnam, Irak, Gaza, dan Ukraina jelas perang mencemari elemen dasar kehidupan tanah, air, udara dengan dampak lintas generasi.
Ukraina menjadi contoh nyata bagaimana perang modern merusak lingkungan. Bersama organisasi Ecoaction, Greenpeace memetakan hampir 900 kasus kerusakan lingkungan, termasuk yang diverifikasi melalui citra satelit.
Serangan rudal memicu kebakaran hutan, kebocoran racun dari lokasi industri, serta pencemaran tanah dan air. Lahan yang terdampak bahkan bisa menjadi tidak layak huni atau ditanami.
Selain itu, pendudukan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia memicu kekhawatiran global. Greenpeace memperingatkan bahwa pengoperasian kembali reaktor di bawah kontrol militer berisiko besar menyebabkan bencana nuklir.