Asosiasi Ungkap Dampak Perang Iran ke Material Fiber Optik

CNN Indonesia
Jumat, 10 Apr 2026 14:42 WIB
APJATEL mengungkap dampak perang Iran-AS pada harga material fiber optik, mendorong sinergi pemerintah dan industri untuk perkuat infrastruktur telekomunikasi.
Ilustrasi. APJATEL mengungkap dampak perang Iran-AS pada harga material fiber optik, mendorong sinergi pemerintah dan industri untuk perkuat infrastruktur telekomunikasi. (Foto: ANTARA FOTO/Basri Marzuki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi Indonesia (APJATEL) mengungkap perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel tak hanya berdampak pada krisis energi, tetapi juga peningkatan harga material fiber optik yang menjadi tulang punggung koneksi fixed broadband.

"Saat ini ada efek kurang lebih harga material naik antara 15-17 persen secara nasional, baik kelangkaan corning sebagai bahan baku fiber optik dan juga harga-harga ADP, termasuk aksesoris-aksesoris," kata Ketua Umum APJATEL Jerry Mangasas Swandy dalam acara FGD Nasional APJATEL 2026, Jakarta, Kamis (9/4).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, isu ini perlu direspons dengan kerja sama berbagai pihak demi memperkuat industri telekomunikasi Tanah Air.

"Kami berharap dari APJATEL mampu mendorong itu menjadi suatu legacy yang nantinya dapat lebih mempererat selain konsolidasi market itu sendiri yang mungkin akan terpengaruh dengan kejadian di Iran," katanya.

Menurut Jerry, infrastruktur telekomunikasi saat ini tidak lagi dapat dipandang sebagai sekadar fasilitas teknis, melainkan sebagai infrastruktur vital nasional yang menjadi fondasi utama transformasi digital Indonesia.

Ia mengatakan infrastruktur telekomunikasi merupakan tulang punggung ekonomi digital dan layanan publik modern.

Oleh karena itu, diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah dan industri untuk memastikan pengelolaannya tidak hanya efisien, tetapi juga berorientasi pada kepentingan publik dan kedaulatan nasional.

Dalam acara tersebut, APJATEL menyoroti sejumlah tantangan pada pembangunan infrastruktur telekomunikasi, seperti tingginya biaya regulasi, duplikasi pembangunan jaringan, serta kesenjangan digital antara wilayah perkotaan dan daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).

APJATEL sendiri mendorong pembentukan Operating Vehicle Company (OVC) sebagai entitas netral yang mengelola infrastruktur telekomunikasi pasif secara bersama.

Konsep ini mengusung prinsip open access yang memungkinkan pemanfaatan infrastruktur secara efisien oleh berbagai operator, sekaligus menekan biaya investasi dan mempercepat perluasan jaringan secara nasional.

OVC diharapkan dapat menjadi game changer dalam ekosistem telekomunikasi nasional dengan mendorong efisiensi biaya hingga 40-60 persen, mengurangi duplikasi pembangunan, serta meningkatkan pemerataan konektivitas di seluruh wilayah Indonesia.

Jangkauan fiber optik

Dalam acara yang sama, Direktur Akselerasi Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Mulyadi menyebut pada 2025 jaringan fiber optik pada 2025 telah mencapai 72,12 persen di skala kecamatan. Pada 2029, angka tersebut ditargetkan naik hingga 90 persen.

Penetrasi fixed broadband di rumah tangga sendiri berada di angka 20,83 persen dengan target pada 2029 mencapai 50 persen.

Selain itu, ia mengungkap kecepatan fixed broadband pada 2025 mencapai 32,1 Mbps dengan target 100 Mbps pada 2029.

Selain variabel-variabel tersebut, Mulyadi menyebut aspek lain yang tak kalah penting adalah rasio harga layanan fixed broadband.

"Menurut saya aspek penting adalah rasio harga layanan atau harga yang dibayarkan oleh penduduk jika kota-kota tersebut dibandingkan dengan pendapatan pekerjaan mereka," katanya.

Saat ini, rata-rata rasio harga layanan berada di angka 4,5 persen dan ditargetkan menjadi hanya 2,5 persen pada 2029.

Beberapa kota yang sudah memiliki rasio harga layanan yang baik di antaranya adalah Jakarta (1,08 persen) dan Surabaya (1,16 persen).

(lom/dmi) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]