Bobol Super Komputer China, Hacker Colong Data Sensitif Ini
Hofer, yang menelaah sampel data, mengaku berhasil menghubungi seseorang di Telegram yang mengklaim sebagai pelaku peretasan. Menurut pengakuan tersebut, akses diperoleh melalui domain VPN yang telah diretas.
Setelah masuk, penyerang menyebarkan "botnet," jaringan program otomatis yang mampu menyusup ke sistem NSCC, mengekstrak data, dan menyimpannya. Proses pencurian 10 petabyte data itu disebut berlangsung selama sekitar enam bulan.
Namun demikian, klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cary menilai metode tersebut lebih berkaitan dengan arsitektur sistem dibanding kecanggihan teknis.
"Kamu bisa membayangkannya seperti memiliki sejumlah server berbeda yang bisa kamu akses, dan kamu mengambil data melalui celah keamanan di NSCC - mengunduh sebagian ke satu server, sebagian lagi ke server berikutnya," jelasnya.
Dengan mendistribusikan proses ekstraksi ke banyak sistem, pelaku dapat meminimalkan risiko terdeteksi. Menurut Cary, sistem pertahanan cenderung kurang sensitif terhadap aliran data kecil yang tersebar dibandingkan dengan transfer data besar ke satu lokasi.
Ia juga menambahkan bahwa metode ini bukan hal yang luar biasa.
"Menurut saya, setidaknya, tidak ada yang terlalu luar biasa dalam cara mereka memperoleh informasi ini," katanya.
Kerentanan keamanan siber
Jika benar, insiden ini menunjukkan kerentanan serius dalam infrastruktur teknologi China, di tengah persaingannya dengan Amerika Serikat dalam bidang inovasi dan kecerdasan buatan.
Menurut Cary, keamanan siber telah lama menjadi titik lemah di berbagai sektor di China, baik pemerintah maupun swasta.
Pada 2021, sebuah basis data daring yang berisi informasi pribadi hingga satu miliar warga China diketahui dibiarkan tanpa pengamanan dan dapat diakses publik selama lebih dari satu tahun. Kasus tersebut baru terungkap pada 2022 ketika seorang pengguna anonim mencoba menjual data tersebut di forum peretas.
"Keamanan siber mereka memang sudah sangat buruk sejak lama di berbagai sektor dan organisasi," kata Cary.
"Jika kita melihat apa yang dikatakan para pembuat kebijakan China sendiri, keamanan siber di China memang belum baik. Mereka akan mengatakan bahwa saat ini kondisinya masih terus membaik," lanjutnya.
Pemerintah China telah mengakui tantangan tersebut. Dalam Buku Putih Keamanan Nasional 2025, disebutkan bahwa pembangunan "penghalang keamanan yang kokoh untuk sektor jaringan, data, dan kecerdasan buatan" menjadi prioritas utama.
Dokumen itu juga menegaskan bahwa "China terus memperkuat pengembangan mekanisme, sarana, dan platform keamanan siber yang terkoordinasi guna memastikan keamanan dan keandalan infrastruktur informasi utama."
(wpj/dmi) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]