Apakah Musim Kemarau 2026 Terparah Dalam 30 Tahun? Ini Kata BMKG

CNN Indonesia
Rabu, 15 Apr 2026 11:01 WIB
Ilustrasi. BMKG menyebut musim kemarau 2026 bersifat lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya yang dicatatkan dalam periode 30 tahunan. (Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut musim kemarau 2026 bersifat lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya yang dicatatkan dalam periode 30 tahunan.

Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Rajab mengatakan selain lebih kering, musim kemarau tahun ini juga diperkirakan datang lebih awal dengan durasi yang lebih panjang.

"Bila dibandingkan dengan rata-ratanya selama 30 tahun, musim kemarau tahun ini relatif lebih kering. Namun perlu digarisbawahi, maksudnya adalah lebih kering dari rata-rata, bukan musim kemarau terparah sepanjang 30 tahun," kata Fachri dalam diskusi memperingati Hari Meteorologi Dunia ke-76 Stasiun Klimatologi Jawa Barat "Observing Today, Protecting Tomorrow" di Jakarta, Selasa (14/4), dikutip dari Antara.

Saat ini, BMKG menggunakan acuan rata-rata klimatologis periode 1991-2020.

Dalam kesempatan tersebut, Fachri turut meluruskan informasi di ruang publik belakangan yang menyebutkan kemarau 2026 sebagai yang paling ekstrem, bahkan sejumlah pihak memberikan sebutan yang terkesan sangat mengerikan seperti 'Kemarau Godzila' atau 'Godzila El Nino'.

Menurutnya, BMKG tidak menggunakan istilah tersebut, dan menilai fenomena yang digambarkan itu tidak sepenuhnya benar, bahkan cenderung berlebihan untuk disampaikan kepada publik.

Jika dibandingkan tahun per tahun, katanya, kemarau tahun 1997 dan 2015 masih jauh lebih dahsyat, tetapi kondisi tahun ini diprediksi memang lebih kering dibandingkan tahun 2023.

Kondisi kemarau tahun ini menjadi lebih kering karena dipengaruhi oleh aktifnya fenomena El Nino yang mulai muncul pada akhir April hingga awal Mei 2026. kehadiran fenomena ini disebut yang berpengaruh pada berkurangnya intensitas curah hujan di wilayah Indonesia

"Perlu pula diketahui El Nino dan musim kemarau itu kedua barang yang berbeda gitu ya. Walaupun El Nino mempengaruhi intensitas dari musim kemarau, tapi musim kemarau bukan karena ada El Nino, bukan gitu ya," katanya.

Ia menjelaskan bahwa ada atau tidak ada El Nino, musim kemarau akan terjadi setiap tahun di Indonesia karena negara ini beriklim tropis yang hanya ada musim hujan dan kemarau.

"Karena kemarau tahun ini berbarengan dengan aktifnya El Nino, sehingga curah hujannya relatif lebih sedikit. Saat ini intensitas El Nino masih dalam kategori lemah," jelas Fachri.

Hal serupa juga disampaikan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam kesempatan terpisah.

Faisal menjelaskan bahwa kondisi iklim global saat ini masih berada pada fase netral, dengan indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) sekitar +0,28. Namun demikian, pada semester kedua 2026 kondisi tersebut diprakirakan berkembang menuju fase El Nino lemah hingga moderat dengan peluang 50-80 persen.

Ia menekankan bahwa El Nino dan kemarau adalah dua fenomena yang terpisah.

"Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino itu adalah dua fenomena yang berbeda dan tidak selalu terjadi bersamaan. Kemarau tetap akan datang setiap tahun di Indonesia. Tapi jika El Nino terjadi bertepatan dengan musim kemarau, maka kemaraunya akan menjadi jauh lebih kering," kata Faisal dalam keterangannya, Senin (13/4).

(lom/dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK