Bibit Siklon Tropis 92S Aktif Dekat Banten, Waspada Dampaknya
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau kemunculan Bibit Siklon Tropis 92S yang aktif di Samudra Hindia sebelah barat daya Banten atau selatan Sumatra. BMKG minta warga mewaspadai dampak yang ditimbulkan.
"Terpantau Bibit Siklon Tropis 92S mulai terbentuk pada 14 April 2026 di dalam wilayah monitoring TCWC Jakarta dan saat ini, posisi berda di sekitar Samudra Hindia barat daya Banten," kata BMKG di Instagramnya, Rabu (15/4).
Bibit siklon tropis ini diperkirakan berpeluang rendah untuk menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan. Dalam periode tersebut, BMKG memperkirakan bibit siklon ini akan bergerak ke arah barat.
Meski potensi untuk menjadi siklon tropis rendah, bibit siklon ini memberikan dampak tidak langsung terhadap gelombang laut di sekitarnya.
BMKG menyebut Bibit Siklon Tropis 92S berpotensi memicu gelombang tinggi 1,25-2,5 meter di Samudra Hindia barat Kepulauan Nias hingga Lampung serta Samudra Hindia selatan Banten hingga Nusa Tenggara Barat.
Apa beda bibit siklon dan siklon tropis?
BMKG, dalam keterangannya, menjelaskan siklon tropis merupakan badai dengan kekuatan yang besar dengan radius rata-rata mencapai 150 hingga 200 km.
Siklon tropis, kata BMKG, dikenal dengan berbagai istilah, yaitu 'badai tropis' atau 'typhoon' atau 'topan' jika terbentuk di Samudra Pasifik Barat, 'siklon' atau 'cyclone' jika terbentuk di sekitar India atau Australia, dan 'hurricane' jika terbentuk di Samudra Atlantik.
"Secara teknis, siklon tropis didefinisikan sebagai sistem tekanan rendah non-frontal yang berskala sinoptik yang tumbuh di atas perairan hangat dengan wilayah perawanan konvektif dan kecepatan angin maksimum setidaknya mencapai 34 knot pada lebih dari setengah wilayah yang melingkari pusatnya, serta bertahan setidaknya enam jam," urai BMKG.
Meski begitu, ukurannya bisa amat bervariasi, mulai dari 50 km (Cyclone Tracy, 1977) hingga 1100 km (Typhoon Tip, 1979).
Royal Meteorological Society, di situsnya, menyebut siklon tropis punya tahapan pertumbuhan, tak langsung jadi besar. Tahap awal dimulai dengan fase gangguan yang baru muncul (Incipient Disturbances). Pada tahapan inilah bibit siklon tropis mulai lahir.
"Siklon tropis tidak akan berkembang secara instan: diperlukan gangguan tingkat menengah yang lebih lemah untuk menyediakan 'bibit' yang darinya siklon tropis dapat berkembang," menurut lembaga tersebut.
Berbeda dengan siklon tropis, fase awal ini bisa "sangat asimetris." Ia bisa berkembang jika memenuhi semua kondisi yang diperlukan, yakni:
- sirkulasi siklon di atmosfer tingkat rendah.
- geseran angin vertikal yang lemah.
- asosiasi dengan konveksi dalam.
Contohnya, gabungan antara gelombang atmosfer Rossby ekuatorial dan gelombang gravitasi Rossby di kawasan khatulistiwa.
(lom/dmi)